Disepertiga malam Zahra terbangun dari tidurnya seperti biasa. Saat ia membuka mata hampir saja ia terkejut karena ada seorang lelaki yang tidur disamping nya, baru ia teringat bahwa ia telah menikah semalam. Ia tatap wajah suaminya itu dengan lekat. Entah apa yang ada dalam pikiran Zahra kini, yang pasti ia masih belum terbiasa berada satu kamar dengan suaminya itu, apalagi satu ranjang. Maklum saja, baru ketemu sudah diperistri, tentu saja akan banyak membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
Kemudian Zahra bangkit dari pembaringan, perlahan menuju kamar mandi untuk mandi shubuh dan mengambil air wudhu. Di sepertiga malam itu ia melaksanakan shalat sunnah tahajud dua raka'at dan sholat hajat. Dilanjutkan dengan membaca Al-Qur'an. Suaranya yang merdu memenuhi segala penjuru ruangan. Zahra memang lah seorang Qori, jadi tentu saja ia memiliki suara yang sangat merdu, siapa pun yang mendengar nya pasti akan terbawa suasana dan merasakan ketenangan di hati dan jiwa.
Mendengar suara mengaji sang istri, Zayn terbangun dari tidurnya, ia lihat kearah Zahra yang duduk di atas sajadah sedang membaca ayat suci Al-Qur'an. Ia tatap lekat istrinya itu. Ia pun ikut terhanyut dalam lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh Zahra. Tanpa ia sadari, air mata sudah menganak sungai di pipi mulusnya. Perlahan ia hapus buliran bening yang jatuh di pipinya itu, dan merenungi semua dosa-dosanya.
'Ya Allah, apa pantas hamba mendapatkan ampunan dari engkau ya Allah. Dosa hamba begitu besar, telah lama hamba meninggalkan engkau ya Allah. Telah lama hamba tidak menjalankan kewajiban hamba sebagai umat-Mu, jika kini hamba kembali pada Mu, apa engkau akan menerima semua taubat hambaMu ini. Ya Allah, hamba tidak tahu harus bersyukur atau bagaimana dengan pernikahan hamba sekarang. Hamba yang pendosa ini mendapatkan seorang istri sholehah, hamba malu ya Allah, malu kepada engkau dan juga malu kepada istri hamba.'
Bathin nya berdoa, mengingat telah lama ia jauh dari agamanya. Tidak pernah melaksanakan kewajiban nya sebagai umat Islam. Adapun ia shalat hanya karena malu dengan keluarga Kiai Hanan dan istrinya, bukan karena memang niatnya dari hati.
Tak lama azan shubuh berkumandang, melihat sang istri sudah menyelesaikan ngajinya. Ia kembali menutup matanya berpura-pura tidur. Zahra melihat ke arah ranjang dan mendapati Zayn masih menutup mata. Ia berdiri dan mendekati suaminya itu.
"Mas Zayn, sudah azan shubuh mas. Mas tidak shalat? Mas Zayn."
Zayn perlahan membuka kelopak matanya perlahan. Berpura-pura baru saja terbangun, meregangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri.
"Mas, ayo mas bangun. Sudah azan shubuh. Abah dan kak Ashraf pasti sekarang sedang menuju masjid, mas buruan wudhu agar tidak tertinggal shalat shubuh berjama'ah."
"Hhmm."
Hanya sebuah dehaman itu saja yang terdengar dari mulutnya. Lalu ia bangkit dari pembaringan nya dan melangkah menuju kamar mandi. Entah memang kali ini ia benar-benar berniat untuk shalat ataukah hanya karena malu dengan mertuanya. Yang pasti hanya dia dan Yang Maha Kuasa yang tahu. Melihat suaminya telah mengambil wudhu, Zahra menyiapkan pakaian untuk shalat suaminya, Tak lama Zayn telah keluar dari kamar mandi.
"Ini pakaian mas Zayn."
"Terimakasih. Kalau begitu saya ke masjid dulu."
Dengan wajah datar dan menjawab apa adanya. Zayn langsung keluar dari kamar setelah mengganti pakaiannya. Zahra sempat speechless dengan sikap sang suami. Apa memang sedingin itu sifat suaminya, kenapa dengan sang istri tidak ada lembut-lembutnya. Begitu pikir Zahra.
"Ucap salam dulu mas sebelum berangkat."
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam, hati-hati mas."
Lagi-lagi Zahra menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya. Mungkin ia akan banyak bersabar kedepannya. Sepertinya menangani suaminya itu memang lah tidak mudah. Kemudian ia lanjut melaksanakan salat sunnah qobliyah subuh dan shalat fardhu dua raka'at.
Setelah melaksanakan kewajiban kepada Yang Maha Kuasa. Zahra melepas mukenanya dan segera memasang kembali hijab dan cadarnya. Ia kini menuju dapur untuk membuat sarapan pagi itu. Ternyata disana sudah ada Umma dan bibi asisten rumah tangga mereka.
"Assalamu'alaikum,"
"Wa'alaikumsalam nak, mana suami mu? Apa suami mu sudah baikan?"
"Mas Zayn masih di masjid Ummi, Alhamdulillah sudah baikan. Ini Ummi mau buat apa?"
"Ummi hanya ingin membuat nasi goreng sayang. Oh iya, suami mu alergi bawang putih?"
"Iya Ummi, katanya begitu. Ya sudah kalau begitu Zahra mau buatkan makanan terpisah untuk mas Zayn."
Zahra berinisiatif membuat sarapan untuk suaminya yang tidak menggunakan bawang putih. Takut-takut nanti sang suami bisa lebih parah alerginya dari semalam.
"Tidak usah sayang. Ini saja, Ummi tidak ada menambahkan bawang putih. Kamu buatkan minuman saja untuk suami mu, Abah dan Ashraf."
"Begitu ya Ummi, baik Ummi."
Kini mereka membagi tugasnya. Ummi Khadijah membuat nasi goreng, Zahra membuat minuman. Tak memakan waktu lama, kegiatan di dapur itu selesai juga. Makanan kini juga sudah tertata rapi di meja makan. Ada nasi goreng kampung, irisan telur, risoles ayam tanpa kentang dan teh hangat.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam,"
"Wah kebetulan sarapan baru jadi, ayo bah, Ashraf, nak Zayn kita sarapan. Mumpung masih hangat."
Akhirnya pagi itu mereka sarapan seperti biasa. Zahra yang memang sudah di beritahukan oleh Ummu Khadijah tentang tugas-tugas sebagai istri, tanpa diminta ia langsung mengambil kan makanan untuk suaminya itu.
"Cukup mas? Atau mau tambah?"
"Cukup, terimakasih."
"Ya Allah, datar banget wajahnya, mana jawabnya singkat banget. Senyum kek, atau apa gitu, dasar suami dingin. Astaghfirullah, ampuni hamba ya Allah karena telah mengatai suami hamba walaupun di dalam hati."
Zahra kini berperang dengan pikirannya. Merasa kesal dengan jawaban singkat dan wajah datar tanpa ekspresi sang suami. Apa memang sehari-hari dia begitu? tapi dengan Abah, Ummi dan Ashraf dia tidak begitu. Begitulah kini yang ada dalam pikiran Zahra.
Setelah mereka semua menggumamkan do'a, kini mereka sarapan dengan penuh keheningan. Tak ada yang berbicara sama sekali. Hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar, hingga makanan itu habis tak bersisa dan mereka kembali menggumamkan do'a setelah makan.
Zahra yang tahu dengan tugasnya segera membawa piring kotor ke wastafel, membersihkan meja makan. Namun yang mencuci piring tetap di kerjakan oleh asisten rumah tangga.
"Maaf sebelumnya Bah, Ummi, Zayn ingin mengatakan sesuatu kepada Abah dan Ummi."
"Apa itu nak?" Tanya Abah Hanan.
"Seperti yang telah Zayn katakan kepada Abah semalam. Hari ini Zayn berniat membawa Zahra kerumah Zayn. Izin ya Abah, Ummi."
Uhuk.. uhuk..
Zahra sampai terbatuk mendengar penuturan suaminya itu. Mereka belum ada membahas sama sekali perkara ia akan dibawa oleh suaminya. Walaupun Zahra sendiri paham jika seorang istri harus mengikuti kemanapun suaminya akan membawanya.
"Minum pelan-pelan sayang." Ummu Khadijah memberikan segelas air putih kepada putrinya itu.
"Terimakasih Ummi."
"Apa tidak terlalu cepat nak?"
"Zayn juga ingin masih lama disini, tapi Zayn juga harus masuk ke kampus segera, apalagi sekarang Zayn sudah di semester akhir."
"Tapi Zahra juga kuliah mas, bagaimana dengan kuliah Zahra?"
"Bukan kah kita di satu kampus yang sama? Hanya saja kita berbeda fakultas, makanya selama ini kita tidak pernah bertemu."
"Apa? jadi mas juga kuliah di kampus yang sama dengan Zahra? dari mana mas tahu Zahra juga kuliah di tempat mas?"
Kalau sudah begini Zahra pasti akan sangat cerewet sekali. Apalagi dia belum siap berpisah dengan Ummi, Abah dan kakaknya.
"Kakak yang kasih tahu dek, kakak banyak menceritakan tentang kamu sama suamimu ini. Bagaimanapun suami mu juga harus tahu apa saja kegiatan kamu selama ini."
Zahra mengangguk paham. Ternyata suaminya tidak hanya diam. Dia juga mencari tahu tentang dirinya. Walaupun Zahra belum terlalu memahami sifat sang suami. Paling tidak bisa ia apresiasi suami dinginnya itu karena sudah mencari tahu tentang dirinya.
"Tapi aku belum siap pisah dengan Ummi, Abah dan kakak."
"Tapi sekarang kamu sudah jadi istri dari nak zayn sayang. Kemanapun suami mu membawa mu, kamu harus ikut suamimu. Nanti kan bisa main ke sini. Kamu juga bisa telfon Ummi kalau kangen."
Sebenarnya Ummu Khadijah juga berat melepas putri tercintanya. Namun harus bagaimana lagi, sang putri juga harus melakukan kewajiban nya sebagai istri, tentu saja kemanapun menantunya membawa sang putri ia harus bisa menerimanya.
"Harap maklum ya Zay, Zahra memang begitu, anaknya akan sangat manja jika sama keluarganya. Jadi nanti kamu harus siap jika mendapati istrimu ini manja."
"Apasih kakak. Jangan mulai deh."
Ashraf selalu saja menggoda adiknya itu. Mungkin nanti setelah Zahra dibawa adik iparnya. Suasana rumah tidak seramai seperti biasanya. Tidak akan ada lagi suara sang adik. Dimana setiap harinya mereka akan saling bercanda.
"Sudah toh, kalian ini kalau sudah berdua pasti ribut terus. Kamu juga Ashraf, suka sekali menggoda adikmu."
"Dengarin tu kata Abah. Kebiasaan ngata-ngatain Zahra sih. Kakak buruan gih cari kakak ipar untuk Zahra. Biar kakak nggak ngerecokin Zahra terus."
"Mulai deh,"
Ummu Khadijah, Abah Hanan dan Ashraf hanya terkekeh melihat pertengkaran dua saudara itu. Akhirnya pagi itu sudah diputuskan bahwa Zayn akan membawa Zahra kerumah orang tuanya.
...----------------...
...To Be Continued ...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
Ainun Humaira
Lanjut thor
2023-10-14
4
Wawa Sese
Jangan terlalu kaku Zayn, ntar istri kamu di curi orang lo🤭🤭🤭
2023-10-14
5
Gagah Gue
Paling ntar kalau udah cinta, zayn bakalan bucin😚
2023-10-14
5