Malam ini adalah malam pertama Zahra makan bersama dengan keluarga Zayn. Saat Zahra menuruni anak tangga, ia berpapasan dengan saudara iparnya. Zahra menyapa iparnya itu walaupun masih terasa canggung.
"Assalamu'alaikum bang Fathir,"
Zahra mengucapkan salam kepada iparnya itu. Namun ternyata Zahra salah menyapa, yang ia sapa ternyata bukan lah Fathir, melainkan Fathian saudara kembar dari Fathir, lebih tepatnya Abang ke empat Zayn.
"Zahra, Abang disini."
Zahra menoleh ke sumber suara, ia sempat mematung melihat Fathir dan Fathian secara bergantian, ia bingung kenapa dua orang yang ada di dihadapan nya memiliki wajah yang begitu mirip. Yang mana yang Fathir, begitu pikir Zahra.
"Loh bang Fathir yang mana?"
"Abang disini Zahra. Kamu bingung ya, kenalin ini saudara kembar Abang, namanya Fathian, kita memang memiliki wajah yang begitu mirip, tapi tidak dengan sikap dan perilaku kita. Kalau Fathian bisa kamu lihat sendiri, dingin seperti suami kamu Zayn. Seperti kulkas dua belas pintu."
Fathir merangkul saudara kembarnya itu. Namun seperti yang dikatakan Fathir kepada Zahra, bahwa Fathian memiliki sifat yang hampir sama dengan Zayn, cool seperti kulkas dua belas pintu. Fathian sama sekali tidak menanggapi perkataan Fathir, ia hanya diam tanpa ekspresi. Zahra sendiri merasa jika Fathian memang tipe orang yang tidak banyak berbicara.
"Eh, kok diam saja kamu Fathian, kenalan kek sama Zahra, sambut kedatangan ipar kita atau bagaimana gitu, ini malah diam seribu bahasa, mana wajah kamu datar seperti triplek lagi.
Fathian hanya memutar bola matanya malas mendengar perkataan saudara kembarnya. Fathir merasa geregetan dengan saudara kembarnya itu. Sudah di pancing begitu masih saja tidak merespon sama sekali, benar-benar irit berbicara, lebih parah dari pada Zayn. Zahra sendiri merasa bingung harus bersikap bagaimana, dan merasa teramat canggung saat ini dengan kedua ipar kembarnya itu.
"Mas kamu dimana sih, suka banget hilang-hilangan, aku bingung harus bersikap bagaimana dirumah kamu ini, mana saudara kamu lelaki semua."
Bathin Zahra berbicara, ia ingin meninggalkan dua saudara kembar itu dan menuju meja makan, namun ia merasa tidak enak hati untuk pergi lebih dulu. Ternyata situasi berpihak kepada Zahra, Zayn tiba-tiba saja datang menghampiri mereka dan ia segera menggenggam jari jemari lentik Zahra tanpa aba-aba. Zahra sendiri sempat terkejut dengan perlakuan Zayn. Kenapa Zayn tiba-tiba saja menggenggam tangannya dan menarik dirinya berlalu dari hadapan Fathir dan Fathian. Ia pun segera pamit dengan dua saudara kembar itu.
"Maaf bang, kita duluan ya."
Zahra menundukkan badannya sebelum Zayn benar-benar menarik dirinya dari hadapan Fathir dan Fathian. Fathir merasa aneh dengan sikap si adik bungsu, tanpa babibu Zayn langsung saja membawa Zahra meninggalkan mereka berdua, tapi tidak dengan Fathian, ekspresinya masih saja sama, sangat sulit dibaca.
"Eh Zayn, kamu tidak lihat kami gitu, main tarik istri kamu seenaknya saja."
Zayn tidak memperdulikan perkataan Fathir. Ia mengabaikan kedua abangnya itu. Ia melakukan itu tanpa sadar, murni karena keinginan dirinya. Merasa cemburu melihat saudara-saudaranya berbicara dengan Zahra. padahal Zahra hanya mengobrol biasa, tidak ada hal lain yang mereka bahas.
"Wah, dia semakin mirip seperti kamu bro, ini yang kembaran kamu, aku atau Zayn sih."
Fathir sempat heran dengan kedua saudaranya itu. Satu kembarannya, satu adik bungsunya. Bisa-bisanya mereka memiliki sifat yang hampir sama, sedangkan dia sendiri tipe lelaki yang tidak bisa diam.
"Aku lapar."
Hanya itu kata yang keluar dari mulut Fathian, ia meninggalkan Fathir begitu saja setelah ia mengucapkan dua kata tersebut. Fathir sempat terdiam sepersekian detik dengan sikap dingin sang saudara kembar.
"Ian, tungguin aku dong. Benar-benar ni anak. Masak gue kembarannya yang ganteng ini malah di tinggal."
Fathir pun menyusul Fathian menuju meja makan. Disana sudah berkumpul semuanya. Ada Azzam, Aisyahrani, Zayn dan Zahra, Emyr, dan terkahir menyusul Fathian dan Fathir. Malam itu mereka makan malam dengan penuh hikmat, hanya dentingan sendok dan garpu yang terdengar setelah semuanya menggumamkan doa sebelum makan. Pertama Fathir selesai dengan makanannya, dan disusul oleh yang lain.
"Ma, kok masakan mama malam ini berbeda sih."
Fathir mengatakan pendapatnya, Zahra yang lebih dominan memasak sore itu merasa was-was, takut-takut masakannya tidak sesuai dengan lidah keluarga dari suaminya itu.
"Beda bagaimana?"
Aisyahrani sebenarnya paham maksud dari Emyr putra keduanya itu. Pasti masakannya jauh lebih enak dari masakan sang mama. Namun ia sengaja memancing anaknya itu untuk mengatakan pendapatnya mengenai masakan yang dibuat oleh Zahra.
"Ya beda, Masakan mama kali ini jauh lebih enak dari makanan sebelum-sebelumnya. Resep baru ya ma?"
Ia tidak tahu saja jika yang masak untuk makan malam adalah iparnya. Sedangkan Zayn dan Emyr yang sore itu ikut nimbrung disaat Zahra dan mama mereka Aisyahrani masak berdua sore itu tahu jika masakan yang dimaksud Fathir adalah masakan Zahra. Karena mereka melihat sendiri Zahra lah masak sore itu. Sedangkan Aisyahrani lebih banyak memperhatikan, palingan hanya membantu mencuci bahan-bahan yang di gunakan.
"Tapi masakan mama memang beda dari biasanya ma, ini lebih maknyus."
Azzam suami dari Aisyahrani juga sependapat sama dengan Fathir putra ketiga nya itu. Aisyahrani tersenyum mendengar penuturan anak dan suaminya. Ia merasa bersyukur mendapat menantu yang bisa di andalkan untuk urusan dapur.
"Ini bukan mama yang masak, tapi ini Zahra yang masak, istri adik kalian. Kenapa? Apa sekarang masakan mama kalah enak dari masakan Zahra? Kalau begitu mama gak perlu repot-repot untuk masak dong."
Aisyahrani sengaja mengatakan demikian, untuk melihat respon suami dan anak-anaknya. Ternyata respon semuanya hampir sama, kecuali Fathian yang memang lebih irit berbicara.
"MasyaaAllah ternyata ini masakan adik ipar, wah bisa buka restauran ini, sungguh ini masakan terenak selain masakan mama. Kalau gitu boleh dong sering-sering masakan kita. Tapi masakan mama tepat best, love you mama."
Pandai sekali Fathir ini mengambil hati orang-orang, ya Fathir memang seperti itu sifatnya, dia akan memberikan pendapatnya sendiri jika memang menurutnya seperti itu, tidak pandai berbasa-basi.
"Kamu benar nak, masakan menantu papa memang sungguh enak, maaf ya ma, kali ini masakan mama ada yang nyaingin."
Azzam terkekeh saat mengatakan jika masakan istrinya sudah ada yang menyaingi, Zahra yang di puji perihal masakannya merasa malu dan menundukkan kepalanya.
"Nah benar kan, masakan menantu mama ini memang enak, lihat saja Zayn yang biasanya makan sedikit sekarang sungguh makan dengan lahap. Apa selama kamu tinggal di pesantren makan dengan lahap seperti malam ini nak? pantas saja seminggu tinggal dengan keluarga Abahnya Zahra berat badan kamu sedikit naik."
Ya, memang Zayn sedikit berisi, bukan gemuk ya, hanya saja sebelumnya agak sedikit kurus, namun sekarang badannya lebih bagus. Apalagi dengan postur tubuhnya yang gagah, sudah pasti akan semakin membuat ia semakin menawan.
"Kalau gitu aku juga sependapat dengan Fathir, dan papa. Boleh lah sering-sering yang masakin kita Zahra. Boleh kan ma? tapi tetap masakan mama is the best deh."
Emyr juga tak mau kalah berpendapat, sedangkan si kulkas du belas pintu hanya diam tanpa berkata, siapa lagi kalau bukan Zayn dan Fathian. Namun karena Zayn merasa cemburu, ia melarang Zahra untuk masak kedepannya.
"Memangnya Zahra pembantu, tidak ada yang boleh menyuruh Zahra masak selain aku suaminya."
Deg
Jantung Zahra tiba-tiba berdebar mendengar perkataan Zayn. Lagi dan lagi perkataan Zayn selalu membuat jantung Zahra tak beraturan. Zayn yang merasa tidak suka istrinya selalu di puji oleh abangnya langsung seketika berubah menjadi mode galak. Tanpa ia sadari ia tengah dalam mode posesif.
"Iya deh, hanya kamu yang berhak tentang istri kamu." ucap Fathir.
"Sudah, kok malah serius, padahal mama juga sependapat dengan putra-putra mama. Tapi kalau Zayn sudah berkata begitu mama tidak akan meminta Istri kamu untuk ikut membantu mama memasak."
Aisyahrani menyudahi pembicaraan malam itu, seketika ruang makan menjadi mode hening. Akhirnya mereka memutuskan untuk bangkit dari kursi masing-masing. Zahra pun pamit kepada kedua mertuanya serta ipar-iparnya untuk kekamar lebih dulu. Ia merasa lelah hari ini. Zayn mengikuti langkah Zahra menuju kamar.
"Pa, semoga dengan kehadiran Zahra, bisa benar-benar membuat Zayn kembali seperti dulu ya pa."
Aisyahrani menatap punggung anak dan menantunya yang tengah menaiki anak tangga. Ada segelintir harapan agar Zayn bisa kembali menjalankan kegiatan nya seperti dulu. Lelaki yang periang dan ceria dan kembali taat dalam ibadahnya.
"Aamiin, semoga ya ma, papa harap juga begitu."
...----------------...
...To Be Continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
YLR
Cie zayn sudah mulai posesif ni sama Zahra. Jangan terlalu gengsi mengakui perasaan sendiri zay, sama istri sendiri harus lebih lembut dan pengertian dong☺
2023-10-22
2
Ainun Humaira
Semoga dengan kehadiran zahra, bisa merubah zayn jadi lebih baik, kalau bisa dibuat buci thir, hihi
2023-10-21
5
Uswatul Khasana
lanjut
2023-10-16
7