"Astaghfirullah,"
Zahra memegang dadanya saking terkejutnya karena mendengar suara seorang lelaki yang berdiri tak jauh dari dirinya. Lelaki itu tersenyum saat Zahra menoleh kepada dirinya.
"Assalamu'alaikum, perkenalkan namaku Fathir, abang ketiga Zayn."
Lelaki itu mengulurkan tangannya, namun Zahra menautkan kedua tangannya di depan dada tanpa menyambut tangan Fathir. Fathir pun menarik kembali tangannya sembari menggaruk punggung lehernya yang tak gatal.
"Wa'alaikumsalam, Saya Zahra."
Zahra terlihat canggung saat berkenalan dengan iparnya itu. Ia memang tidak terbiasa berhadapan dengan seorang lelaki.
Ekhem..
Suara dehaman membuat Zahra dan Fathir menoleh bersamaan ke sumber suara. Ternyata Zayn melihat dari atas jika abangnya itu sedang mengajak istrinya berkenalan. Ia segera menuruni anak tangga saat melihat sang istri begitu canggung dengan Abang ketiganya.
"Wah pengantin baru. Selamat ya Zay atas pernikahan kamu dan Zahra. Maaf Abang kemarin tidak bisa datang, karena masih banyak yang harus di urus di luar negeri. Ini saja Abang minta sama papa agar bisa kembali ke Indonesia hari ini. Karena tidak sabar untuk berkenalan dengan ipar Abang. Pasti istri kamu cantik, terlihat dari matanya."
Fathir berbicara panjang kali lebar. Zayn dan Zahra hanya diam mendengarkan. Hingga di ujung kalimat yang di ucapkan oleh Fathir membuat Zayn cemburu karena abangnya memuji istrinya. Padahal ia juga belum tahu mengenai perasaannya yang sebenarnya kepada Zahra. Bagaimana tidak, pernikahan mereka baru dua hari berjalan.
"Jangan macam-macam sama istri aku bang. Dia seorang Ning, anak dari seorang Kiai. Jadi tolong hargai Zahra di rumah ini. Jangan suka seenaknya. Jangan sampai Zahra tidak nyaman di rumah ini."
Zayn berbisik di telinga Fathir. Fathir sampai speechless karena mendengar nasehat dari adik bungsunya itu dengan sebuah kalimat yang bisa membuat orang lain baper. Ternyata adik bungsunya yang super dingin itu bisa juga mengatakan hal-hal romantis seperti itu.
"Oh iya, kalau kamu mau istirahat langsung saja ke kamar. Kamar kita yang disana, saya mau bertemu papa sebentar."
Zayn masih saja kaku berbicara sama istrinya itu. Padahal mereka sudah sah menjadi suami istri. Maklum saja karena mereka menikah tanpa mengenal satu sama lain. Zahra pun hanya menganggukkan kepalanya, dan segera pamit menuju kamar Zayn yang sudah pasti kini juga menjadi kamar miliknya.
"Kaku banget kamu sama istri kamu itu. Kurang-kurangin gengsi mu Zay, Zahra itu Istri kamu. Sudah sepatutnya kamu bersikap manis sama dia. Belajar untuk memahami seorang wanita mulai sekarang. Jangan cuma mengingat wanita yang entah pergi kemana, lupakan dia, dan fokus hanya kepada istri kamu. Kamu sendiri kan yang bilang jangan membuat Zahra tidak nyaman, dengan sikap kamu seperti ini saja, sama saja membuat istri kamu tidak nyaman dengan sikap kamu. Ingat, kamu yang meminta Zahra kepada orang tuanya untuk kamu jadikan istri, apapun alasan kamu saat memberanikan diri melamarnya. Belajar lah mencintai istri kamu mulai dari sekarang."
Sebelum Fathir meninggalkan sang adik, Fathir terlebih dahulu memberikan nasehat panjang kali lebar. Ia sangat memahami adik bungsunya itu. Walaupun Zayn kini sudah menikah, ia yakin Zayn masih terjebak dengan masa lalunya. Walaupun ia tahu alasan adiknya itu menikahi Zahra hanya karena membalas Budi kebaikan Kiai Hanan dan keluarganya, tentu saja Fathir juga tidak menginginkan jika sang adik menyakiti iparnya. Menurut Fathir, Zahra adalah wanita yang baik dan sholehah, jelas terlihat saat ia mengajak Zahra berkenalan.
Kini Zahra telah menyelesaikan mandinya, ia juga sudah mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat ashar. Selesai shalat fardhu empat raka'at, Zahra segera memasang hijab dan cadarnya. Turun kebawah untuk menemui ibu mertuanya.
"Ada yang bisa bibi bantu non?"
Asisten rumah tangga itu menghampiri Zahra karena melihat menantu dari majikannya itu terlihat kebingungan, seperti mencari seseorang.
"Mama mana Bi?"
"Ibu di dapur non. Seperti biasa ibu membuat makan malam untuk semuanya."
"Ya sudah kalau begitu antarkan Zahra ke dapur ya bi, Zahra juga mau membantu mama untuk membuat makan malam."
Asisten rumah tangga itu mengantarkan Zahra ke dapur. Harap maklum kediaman rumah Azzam sangat besar dan mewah, Zahra saja saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mertuanya itu sempat speechless karena ternyata Zayn suaminya terlahir dari orang tua yang kaya.
"Assalamu'alaikum ma."
"Wa'alaikumsalam sayang, kamu tidak istirahat? Istirahat saja di kamar, pasti kamu lelah karena lama di perjalanan. Oh iya, suami kamu mana sayang?"
Ternyata Aisyahrani adalah ibu mertua yang pengertian. Zahra sendiri tidak menyangka bisa diterima dengan baik dengan keluarga suaminya itu. Padahal ia tahu sendiri jika Zayn dan Zahra tidak lah saling mengenal sebelumnya. Namun mereka bisa menerima keputusan Zayn untuk menikahinya.
"Tidak apa-apa ma. Zahra tidak capek. Mas Zayn katanya ketemu papa, tapi sampai sekarang masih belum kembali ke kamar. Mungkin ada hal yang di bahas mas Zayn dengan Papa. Zahra bantu masak ya ma."
Zahra pun ikut berkecimpung di dapur bersama ibu mertuanya serta satu orang asisten rumah tangga. Aisyahrani tak menyangka jika menantu perempuan nya itu cukup lihai dalam masak-memasak. Terlihat dari cara ia memotong bahan masakan serta mengenali rempah-rempah.
"Oh iya Zahra, kamu sudah tahu kan kalau suami kamu alergi bawang putih dan juga kentang?"
"Iya ma sudah tahu, mas Zayn sendiri yang memberitahukan kepada Zahra."
Aisyahrani tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Apa putranya itu sudah mulai membuka hatinya untuk sang istri? Sehingga ia sudah mau terbuka dengan Zahra. Tanpa ia tahu jika Zayn sempat memakan donat kentang yang memicu ia sakit perut, makanya Zahra jadi tahu jika Zayn memiliki alergi.
"Kamu harus banyak bersabar ke depannya ya nak menghadapi suamimu itu. Kalau sampai Zayn menyakiti kamu, sampaikan sama Mama."
Zahra hanya tersenyum menanggapi perkataan ibu mertuanya itu. Disaat mereka lagi sibuk-sibuknya, Abang kedua Zayn pun menghampiri Aisyahrani di dapur dan juga berkenalan dengan iparnya itu.
"Ma, lagi buat apa? Eh ada adik ipar, Hello adik ipar. Kemarin sewaktu acara pernikahan kamu dan Zayn, aku belum memperkenalkan diri dengan baik. Perkenalkan aku Emyr, putra kedua dari mama dan papa.
"Jangan kamu ganggu adik ipar kamu, Zahra sedang menyesuaikan diri disini. Jangan sampai kamu membuat Zahra tidak nyaman tinggal di sini."
Aisyahrani tahu sekali jika anak keduanya itu sangat jahil. Apalagi Zahra baru saja tinggal di kediaman mereka. Takut-takut menantu sekaligus anak dari sahabat suaminya itu malah tidak betah dan ingin pindah. Walupun ia tahu Emyr tidak akan melewati batasan sebagai ipar, hanya mewanti-wanti saja.
"Ya Allah mama, su'udzon banget sama anak sendiri. Aku hanya ingin lebih akrab dengan adik ipar aku Ma. Lagian aku sudah menganggap Zahra seperti adik sendiri mulai sekarang, jadi mama jangan khawatir.
"Tidak yakin aku bang."
Suara Zayn menghentikan obrolan anak dan ibu itu. Sedangkan Zahra memang belum sempat berbicara sejak tadi.
"Nah pawangnya muncul. Zahra, abang pamit dulu ya, kamu hati-hati sama suami kamu. Nanti di terkam."
Emyr segera meninggalkan dapur itu. Zahra hanya terkekeh mendengar perkataan iparnya. Zayn tak lepas atensinya dari memandang wanita yang halal baginya. Ternyata Zahra bisa tertawa juga. Tapi kenapa dengan dirinya Zahra sangat tertutup, begitu pikirnya. Tidak tahu saja dia, bagaimana istrinya bisa nyaman. Lah yang jadi suaminya saja seperti kulkas dua belas pintu, hihi.
...----------------...
...To Be Continued...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 113 Episodes
Comments
YLR
Pingin tau deh reaksi zayn jika ada yang mendekati Zahra, apakah masih bisa jadi kulkas dua belas pintu, hihi.
2023-10-14
3
Gagah Gue
Sebelum bucin mah gitu, sok gengsi. Ntar kalau udah bucin pasti gk mau lepas sama istrinya🤭🤭🤭
2023-10-14
7
Uswatul Khasana
lanjut
2023-10-14
5