Bab 20. Meminta Hak

"Ada apa? Kenapa kamu kelihatannya sangat kesel?" tanya Ikhbar.

Annisa berdiri dari duduknya. Menghampiri suaminya. Dia lalu mendorong tubuh Ikhbar, membuat pria itu makin heran.

"Pergilah dulu, Mas. Aku ingin sendiri. Satu jam saja," ucap Annisa. Dia menutup dan mengunci pintu kamar.

Annisa duduk di tepi ranjang. Air mata jatuh membasahi pipinya. Dia memukul kepalanya. Menyalahkan dirinya atas ucapan dan tindakan tadi di saat bersama Aisha.

"Kenapa aku jadi begini? Ya Allah, maafkan aku. Hilangkan sifat iri pada diriku ini. Semua sudah menjadi takdirmu. Aku seharusnya tidak boleh menjatuhkan seseorang. Benar kata Kak Ghibran, Allah lebih menyukai umatnya yang bertaubat," ucap Annisa.

Dia terduduk di lantai. Semua rasa irinya karena mengetahui sang suami yang masih saja mencintai Aisha. Padahal apa kurangnya dari wanita itu. Dia juga telah menerima Ikhbar apa adanya. Namun, sakit hatinya makin terasa saat tanpa sengaja dia menemukan foto Ikhbar berdua Aisha di laci kerja sang suami.

Selama ini dia pikir Ikhbar telah melupakan sang mantan. Bukankah dia telah hijrah, tapi kenapa cintanya juga tidak ikut hijrah dari Aisha ke dirinya.

Hijrah menurut bahasa memiliki dua arti, pertama secara zhahiriy, yaitu perpindahan dari suatu tempat menuju ke tempat yang lebih baik. Dan kedua secara ma'nawiy, yaitu perubahan dari satu kondisi kepada kondisi yang lebih baik. Hijrah yang berakar kata hajara juga memiliki arti meninggalkan/menjauhkan diri.

"Ya Allah bukalah hati suamiku, karena hanya Engkaulah yang bisa membolak balikan hati seseorang," doa Annisa.

Setelah puas menangis, Annisa keluar dari kamar. Dia melihat anak dan suaminya sedang bermain.

"Mas, apa nanti malam kamu ada pengajian?" tanya Annisa.

Annisa duduk di samping suaminya. Mengajak anaknya bermain. Dari tadi dia telah meninggalkan sang anak.

"Ada di mesjid R, kenapa?" tanya Ikhbar dengan suara datar.

Annisa menarik napas dalam. Telah dua tahun lebih pernikahan mereka, tapi tak pernah Ikhbar memanggil sayang, ucapnya dalam hati.

"Mungkin malam ini aku tidak ikut denganmu, Mas. Aku merasa kurang enak badan," jawab Annisa.

"Tak apa, kamu istirahat saja di rumah. Aku bisa pergi sendiri," ucap Ikhbar.

Annisa lalu pergi ke dapur ingin memasak buat makan malam mereka. Dia merasa sedikit hampa sejak melihat kemesraan dan perlakuan Ghibran pada Aisha.

**

Di apartemen yang baru Ghibran beli, tampak Aisha sedang mencuci piring bekas makan siang mereka tadi. Setelah membersihkan kamar, Ghibran keluar. Dia melihat sang istri yang sedang di dapur.

Ghibran berjalan pelan agar istrinya tidak menyadari kedatangannya. Dia langsung memeluk pinggang Aisha dari belakang. Mengecup tengkuk istrinya. Kebetulan dia sudah tidak menggunakan hijab.

"Mas, kamu mau apa?" tanya Aisha.

"Mau kamu, kamu dan kamu," jawab Ghibran.

Ghibran lalu mengangkat tubuh sang istri ke wastafel. Memandangi tanpa kedip. Wajah Aisha jadi memerah karena dilihat seperti itu.

"Aku ingin minta hak ku sekarang, apa kamu siap?" tanya Ghibran dengan suara serak karena menahan hasrat.

"Aku siap kapan pun, Mas," jawab Aisha dengan menunduk. Detak jantungnya terasa lebih kencang.

Ghibran lalu menggendong Aisha menuju kamar yang telah dia bersihkan. Tubuh sang istri diturunkan perlahan ke atas ranjang.

"Apa kamu suka dengan kamar ini?" tanya Ghibran. Dia tidak tahu harus memulai dari mana.

"Suka, Mas. Kamar ini sangat indah," jawab Aisha sambil meremas tangan Ghibran.

Ghibran mengangguk perlahan dan tersenyum. Dia menggenggam tangan Aisha dan menarik pinggangnya agar makin merapat.

"Sayang, kamu benar-benar cantik sore ini," bisiknya perlahan.

"Mas, kamu bisa saja gombalnya," ucap Aisha dengan wajah memerah karena malu.

"Aku serius, Sayang. Kamu terlihat sangat cantik. Mulai saat ini kamu adalah milikku seutuhnya, Aisha."

Ghibran lalu mencium perlahan di bibir, dan Aisha merasa gemetar. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, dan seluruh tubuhnya terasa menegang dengan harapan dan kecemasan yang bercampur.

Padahal ini bukan pertama kali dia melakukan hubungan, tapi kali ini dia merasa sangat gugup. Takut Ghibran kecewa setelah melakukannya.

"Apakah kamu siap, Sayang?" tanya Ghibran sambil memandang mata istrinya dengan lembut. Aisha mengangguk perlahan dan tersenyum kecil.

"Sudah aku katakan, kapan pun kamu inginkan, aku siap, Mas," jawab Aisha.

Ghibran tersenyum dan mulai membuka lengan bajunya. Perlahan-lahan, tubuhnya terkuak, dan Aisha bisa melihat rahasia bagaimana tubuh Ghibran. Dia menggigit bibirnya dan memindai tubuh Ghibran dengan rasa ingin tahu, ingin mengetahui segala detail tentang suaminya.

Ketika dia akhirnya mencapai baju dalamnya dan menyingkapkan saja celananya, Aisha merasa hatinya berdegup kencang. Dia tahu ada banyak tekanan yang ditumpahkan padanya untuk hari ini, tapi dia ingin membuat Ghibran merasa senang. Dia ingin memberikan semua yang paling indah dalam hidupnya.

"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Ghibran sambil mengamati wajah Aisha yang berseri-seri.

"Tidak ada, Mas," jawab Aisha.

Dia merasa kebahagiaan yang tak terukur saat Ghibran membalas genggamannya dan merencanakan ciumannya pada bibir yang baru terbuka itu. Dia merasa nyaman dan berada dalam situasi sebagaimana di tempat yang nyaman, siap untuk melakukan apa saja yang diinginkan suaminya.

Ghibran menatap Aisha dengan binar mata teduh. Jemarinya menyentuh lembut wajah istrinya itu. Seolah dia meminta persetujuan untuk memulai hubungan. Anggukan kecil dari wanita itu sebagai bukti atas jawaban yang diberikan.

Entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Kini dua tubuh itu telah menyatu dalam kehangatan. Berbagi apa yang seharusnya dibagi oleh dua insan yang telah sah dalam ikatan pernikahan.

Setelah beberapa saat, Ghibran akhirnya menumpahkan sesuatu dzat murni ke dalam rahim sang istri sebagai pelepasan. Menuju puncak paling nikmat yang belum pernah pria itu bayangkan sebelumnya.

"Terima kasih, Sayang. Mulai hari ini dan selamanya, aku akan mencintaimu dengan sepenuh hati dan jiwaku," bisik Ghibran melengkapi kalimat-kalimatnya dengan bayangan cinta yang tak terukur.

Sore itu tanpa batas dan tanpa penghalang. Sepanjang waktu, Aisha dan Ghibran saling memuaskan hasrat mereka, merajut kisah cinta baru antara dua insan yang menemukan takdir dan kehidupan yang tulus dalam hubungan mereka.

**

Malam hari setelah melaksanakan solat magrib, Ghibran mengajak sang istri untuk ikut pengajian dekat dari apartemen.

Sampai di mesjid keduanya masuk dari pintu berbeda. Saat melihat siapa yang akan menjadi penceramah, Aisha menjadi terkejut, dia yakin Ghibran juga pasti merasakan hal yang sama.

...----------------...

Terpopuler

Comments

guntur 1609

guntur 1609

kenapa.kau belum sadar juga

2024-01-02

1

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

yah namanya juga lingkungannya masih dekat, intensitas ketemu mantan pasti ga bisa dielakan lagi yakan,,

2023-12-07

1

Ida Sriwidodo

Ida Sriwidodo

Klo kata irang bijak si.. perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan
Nah.. Annisa kan pen' dipanggil sayang sama mamas suami.. yaa Annisa ajaa yang duluan panggil sayang sama mamasnya
Ntar juga mamasnya ngikut
Itu pengalamanku.. 🤪🤪😅😅

2023-10-28

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!