"Ada apa? Kenapa kamu kelihatannya sangat kesel?" tanya Ikhbar.
Annisa berdiri dari duduknya. Menghampiri suaminya. Dia lalu mendorong tubuh Ikhbar, membuat pria itu makin heran.
"Pergilah dulu, Mas. Aku ingin sendiri. Satu jam saja," ucap Annisa. Dia menutup dan mengunci pintu kamar.
Annisa duduk di tepi ranjang. Air mata jatuh membasahi pipinya. Dia memukul kepalanya. Menyalahkan dirinya atas ucapan dan tindakan tadi di saat bersama Aisha.
"Kenapa aku jadi begini? Ya Allah, maafkan aku. Hilangkan sifat iri pada diriku ini. Semua sudah menjadi takdirmu. Aku seharusnya tidak boleh menjatuhkan seseorang. Benar kata Kak Ghibran, Allah lebih menyukai umatnya yang bertaubat," ucap Annisa.
Dia terduduk di lantai. Semua rasa irinya karena mengetahui sang suami yang masih saja mencintai Aisha. Padahal apa kurangnya dari wanita itu. Dia juga telah menerima Ikhbar apa adanya. Namun, sakit hatinya makin terasa saat tanpa sengaja dia menemukan foto Ikhbar berdua Aisha di laci kerja sang suami.
Selama ini dia pikir Ikhbar telah melupakan sang mantan. Bukankah dia telah hijrah, tapi kenapa cintanya juga tidak ikut hijrah dari Aisha ke dirinya.
Hijrah menurut bahasa memiliki dua arti, pertama secara zhahiriy, yaitu perpindahan dari suatu tempat menuju ke tempat yang lebih baik. Dan kedua secara ma'nawiy, yaitu perubahan dari satu kondisi kepada kondisi yang lebih baik. Hijrah yang berakar kata hajara juga memiliki arti meninggalkan/menjauhkan diri.
"Ya Allah bukalah hati suamiku, karena hanya Engkaulah yang bisa membolak balikan hati seseorang," doa Annisa.
Setelah puas menangis, Annisa keluar dari kamar. Dia melihat anak dan suaminya sedang bermain.
"Mas, apa nanti malam kamu ada pengajian?" tanya Annisa.
Annisa duduk di samping suaminya. Mengajak anaknya bermain. Dari tadi dia telah meninggalkan sang anak.
"Ada di mesjid R, kenapa?" tanya Ikhbar dengan suara datar.
Annisa menarik napas dalam. Telah dua tahun lebih pernikahan mereka, tapi tak pernah Ikhbar memanggil sayang, ucapnya dalam hati.
"Mungkin malam ini aku tidak ikut denganmu, Mas. Aku merasa kurang enak badan," jawab Annisa.
"Tak apa, kamu istirahat saja di rumah. Aku bisa pergi sendiri," ucap Ikhbar.
Annisa lalu pergi ke dapur ingin memasak buat makan malam mereka. Dia merasa sedikit hampa sejak melihat kemesraan dan perlakuan Ghibran pada Aisha.
**
Di apartemen yang baru Ghibran beli, tampak Aisha sedang mencuci piring bekas makan siang mereka tadi. Setelah membersihkan kamar, Ghibran keluar. Dia melihat sang istri yang sedang di dapur.
Ghibran berjalan pelan agar istrinya tidak menyadari kedatangannya. Dia langsung memeluk pinggang Aisha dari belakang. Mengecup tengkuk istrinya. Kebetulan dia sudah tidak menggunakan hijab.
"Mas, kamu mau apa?" tanya Aisha.
"Mau kamu, kamu dan kamu," jawab Ghibran.
Ghibran lalu mengangkat tubuh sang istri ke wastafel. Memandangi tanpa kedip. Wajah Aisha jadi memerah karena dilihat seperti itu.
"Aku ingin minta hak ku sekarang, apa kamu siap?" tanya Ghibran dengan suara serak karena menahan hasrat.
"Aku siap kapan pun, Mas," jawab Aisha dengan menunduk. Detak jantungnya terasa lebih kencang.
Ghibran lalu menggendong Aisha menuju kamar yang telah dia bersihkan. Tubuh sang istri diturunkan perlahan ke atas ranjang.
"Apa kamu suka dengan kamar ini?" tanya Ghibran. Dia tidak tahu harus memulai dari mana.
"Suka, Mas. Kamar ini sangat indah," jawab Aisha sambil meremas tangan Ghibran.
Ghibran mengangguk perlahan dan tersenyum. Dia menggenggam tangan Aisha dan menarik pinggangnya agar makin merapat.
"Sayang, kamu benar-benar cantik sore ini," bisiknya perlahan.
"Mas, kamu bisa saja gombalnya," ucap Aisha dengan wajah memerah karena malu.
"Aku serius, Sayang. Kamu terlihat sangat cantik. Mulai saat ini kamu adalah milikku seutuhnya, Aisha."
Ghibran lalu mencium perlahan di bibir, dan Aisha merasa gemetar. Dia tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, dan seluruh tubuhnya terasa menegang dengan harapan dan kecemasan yang bercampur.
Padahal ini bukan pertama kali dia melakukan hubungan, tapi kali ini dia merasa sangat gugup. Takut Ghibran kecewa setelah melakukannya.
"Apakah kamu siap, Sayang?" tanya Ghibran sambil memandang mata istrinya dengan lembut. Aisha mengangguk perlahan dan tersenyum kecil.
"Sudah aku katakan, kapan pun kamu inginkan, aku siap, Mas," jawab Aisha.
Ghibran tersenyum dan mulai membuka lengan bajunya. Perlahan-lahan, tubuhnya terkuak, dan Aisha bisa melihat rahasia bagaimana tubuh Ghibran. Dia menggigit bibirnya dan memindai tubuh Ghibran dengan rasa ingin tahu, ingin mengetahui segala detail tentang suaminya.
Ketika dia akhirnya mencapai baju dalamnya dan menyingkapkan saja celananya, Aisha merasa hatinya berdegup kencang. Dia tahu ada banyak tekanan yang ditumpahkan padanya untuk hari ini, tapi dia ingin membuat Ghibran merasa senang. Dia ingin memberikan semua yang paling indah dalam hidupnya.
"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?" tanya Ghibran sambil mengamati wajah Aisha yang berseri-seri.
"Tidak ada, Mas," jawab Aisha.
Dia merasa kebahagiaan yang tak terukur saat Ghibran membalas genggamannya dan merencanakan ciumannya pada bibir yang baru terbuka itu. Dia merasa nyaman dan berada dalam situasi sebagaimana di tempat yang nyaman, siap untuk melakukan apa saja yang diinginkan suaminya.
Ghibran menatap Aisha dengan binar mata teduh. Jemarinya menyentuh lembut wajah istrinya itu. Seolah dia meminta persetujuan untuk memulai hubungan. Anggukan kecil dari wanita itu sebagai bukti atas jawaban yang diberikan.
Entah siapa yang memulai terlebih dahulu. Kini dua tubuh itu telah menyatu dalam kehangatan. Berbagi apa yang seharusnya dibagi oleh dua insan yang telah sah dalam ikatan pernikahan.
Setelah beberapa saat, Ghibran akhirnya menumpahkan sesuatu dzat murni ke dalam rahim sang istri sebagai pelepasan. Menuju puncak paling nikmat yang belum pernah pria itu bayangkan sebelumnya.
"Terima kasih, Sayang. Mulai hari ini dan selamanya, aku akan mencintaimu dengan sepenuh hati dan jiwaku," bisik Ghibran melengkapi kalimat-kalimatnya dengan bayangan cinta yang tak terukur.
Sore itu tanpa batas dan tanpa penghalang. Sepanjang waktu, Aisha dan Ghibran saling memuaskan hasrat mereka, merajut kisah cinta baru antara dua insan yang menemukan takdir dan kehidupan yang tulus dalam hubungan mereka.
**
Malam hari setelah melaksanakan solat magrib, Ghibran mengajak sang istri untuk ikut pengajian dekat dari apartemen.
Sampai di mesjid keduanya masuk dari pintu berbeda. Saat melihat siapa yang akan menjadi penceramah, Aisha menjadi terkejut, dia yakin Ghibran juga pasti merasakan hal yang sama.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
guntur 1609
kenapa.kau belum sadar juga
2024-01-02
1
Sugiharti Rusli
yah namanya juga lingkungannya masih dekat, intensitas ketemu mantan pasti ga bisa dielakan lagi yakan,,
2023-12-07
1
Ida Sriwidodo
Klo kata irang bijak si.. perlakukan orang lain sebagaimana kamu ingin diperlakukan
Nah.. Annisa kan pen' dipanggil sayang sama mamas suami.. yaa Annisa ajaa yang duluan panggil sayang sama mamasnya
Ntar juga mamasnya ngikut
Itu pengalamanku.. 🤪🤪😅😅
2023-10-28
0