Bab 18. Bertemu Annisa

"Aisha, aku mungkin tidak langsung pulang. Apa kamu mau ikut denganku?" tanya Ghibran.

Aisha memandangi wajah suaminya itu. Memangnya mau kemana Ghibran.

"Aisha, aku bertanya denganmu, Sayang. Apa kamu mau ikut denganku atau langsung pulang?" tanya Ghibran lagi dengan lembut.

"Eh ... Mas mau kemana?" tanya Aisha.

"Kebiasaan banget, ditanya bukannya menjawab tapi bertanya balik," ucap Ghibran, dan mengusap kepala istrinya dengan penuh kelembutan.

Ghibran menggenggam tangan istrinya sambil menyetir dengan tangan yang satu. Dia lalu mengecupnya.

"Aku harus tahu Mas mau kemana, baru bisa menjawabnya," ujar Aisha.

"Annisa mengajak bertemu, kamu mau ikut?" Ketiga kalinya Ghibran bertanya dengan sang istri.

"Annisa ... sepertinya tak perlu, Mas. Dia hanya ingin bertemu dengan Mas. Nanti jika aku ikut, dia jadi canggung. Mungkin ada yang mau dia bicarakan hanya dengan Mas saja," jawab Aisha.

Aisha menunduk setelah mengucapkan itu. Bukannya dia berprasangka buruk, tapi dia yakin jika Annisa ingin mengatakan sesuatu tentang dirinya pada Ghibran. Gadis itu tampak menarik napasnya.

Ghibran yang dari tadi memperhatikan sang istri menepikan mobilnya di jalan yang sepi. Dia lalu menghentikan jalannya mobil.

"Sayang, aku tahu apa yang ada dalam pikiran kamu saat ini. Percayalah, aku tidak akan terpengaruh apa pun yang akan orang katakan padaku tentang kamu. Aku telah mendengar semua dari kamu. Aku percaya padamu dari siapa pun." Ghibran berucap dengan tersenyum.

"Mas, aku takut ...," ucap Aisha terbata. Air matanya telah tumpah membasahi pipi. Ghibran menghapus air mata istrinya dan memeluk erat.

"Kamu ikut saja. Jika kamu tidak mau bergabung, kamu duduk di meja yang berbeda. Setelah dari sana, kita langsung melihat apartemen untuk kita tinggal," ucap Ghibran.

"Apartemen ...?" tanya Aisha. Dia tidak berpikir jika Ghibran akan mengajaknya pindah secepat ini.

"Iya, Sayang. Apa kamu mau tinggal di apartemen yang dekat dengan usahaku?" tanya Ghibran.

"Sebagai seorang istri aku akan ikut kemana pun kamu pergi, Mas," jawab Aisha.

"Kalau begitu kita sekarang temui Annisa dulu," ucap Ghibran.

"Seperti kata Mas tadi, aku duduk di meja yang berbeda ya, Mas. Aku tidak mau dia canggung dan tidak jadi mengobrol dengan Mas," balas Aisha.

Ghibran kembali menjalankan mobilnya menuju tempat yang di janjikan dengan Annisa. Sepanjang perjalanan Aisha hanya diam saja. Walaupun Ghibran berkata percaya dengan apa pun yang dia katakan, tapi tetap rasa takut itu ada. Takut suatu saat suaminya itu percaya dengan yang orang katakan.

Setengah jam perjalanan, mobil memasuki halaman restoran. Aisha dan Ghibran berjalan dengan bergandengan tangan.

"Mas, aku duduk di sini saja."

"Kamu pesan apa saja yang kamu mau. Ini kartuku bisa kamu gunakan. PIN-nya tanggal lahir kamu!" ucap Ghibran.

"Tanggal lahirku?" tanya Aisha.

"Iya, Sayang. Aku pamit ya. Jangan kemana-mana. Tunggu aku di sini," jawab Ghibran. Dia lalu mengecup dahi Aisha dengan lembut.

Wajah Aisha memerah karena malu. Dia melihat ada banyak pengunjung di restoran. Setelah melakukan itu, Ghibran lalu berjalan masuk ke rumah VIP. Tempat dia janjian dengan Annisa.

Aisha memegang kartu yang diberikan Ghibran. Wanita itu berpikir, kenapa bisa PIN nya tanggal kelahiran dirinya. Apakah benar yang pernah pria itu katakan, jika sejak pertama melihat Aisha dia sudah tertarik dan mencari tahu apa pun tentang dirinya.

Ghibran tersenyum saat melihat Annisa, begitu juga dengan saudaranya itu, membalas senyumannya ketika melihat dirinya dari kejauhan.

Sampai dihadapan Annisa, wanita itu menyalami dan mencium tangan Ghibran. Di atas meja telah banyak makanan yang dia pesan.

"Banyak banget makanannya?" tanya Ghibran melihat begitu banyak menu di meja.

"Aku lapar dan juga Kak Ghibran lama banget datangnya. Dari pada bengong, ya aku pesan aja makanan yang banyak," jawab Annisa.

"Jangan sampai mubazir. Harus dihabiskan," ujar Ghibran lagi.

Annisa mengaruk kepalanya yang tertutup hijab. Dia memang selalu diingatkan sama Ikhbar jangan pernah mubazir, karena kebiasaan Annisa yang selalu pesan makanan dalam jumlah banyak.

Ghibran ikut menyantap makanan yang telah di pesan. Annisa menarik napas dalam. Tak tahu memulai dari mana obrolan ini.

"Kak, apa aku boleh bertanya sesuatu? Ini sedikit pribadi sebenarnya," ucap Annisa dengan pelan.

Ghibran menaikan alisnya mendengar pertanyaan sang adik. Dia menganggukan kepala tanda setuju. Annisa membalas dengan senyuman.

"Apa aku boleh tahu, di mana Kak Ghibran mengenal Aisha?" tanya Annisa.

"Di mesjid!" Ghibran menjawab dengan singkat.

Annisa tampak memainkan jarinya. Sebenarnya dia juga ragu untuk mengatakan tentang hubungan Ikhbar dan Aisha. Jika dia mengatakan semua itu, berarti aib suaminya ikut di katakan dan nama baik suaminya akan dipertaruhkan.

"Sebelum Kak Ghibran menikah; apakah Kakak sudah mencari tahu siapa calon istri Kakak?" Kembali Annisa bertanya.

Ghibran yang kali ini menarik napas. Dia juga tidak mungkin menikahi wanita tanpa tahu asal usulnya. Kembali pria itu menjawab hanya dengan menganggukan kepalanya.

Annisa memandangi Ghibran tanpa kedip. Melihat reaksi Kakak nya itu, dia cukup terkejut. Berarti Ghibran tahu tentang masa lalu istrinya itu.

"Tentang masa lalu Aisha sebelum dia di pesantren, apakah Kak Ghibran juga tahu?" Lagi-lagi Annisa bertanya. Seperti sebelumnya jawaban yang dia berikan hanya berupa anggukan kepala .

"Dan kakak tahu siapa pria masa lalu, Aisha?" Lagi-lagi pertanyaan yang diajukan Annisa dijawab anggukan kepala sama Ghibran.

"Kak, aku tidak tahu harus memulai dari mana. Aku hanya ingin meminta pada Kak Ghibran untuk tidak mengatakan pada siapa pun dalam keluarga kita tentang masa lalu Mas Ikhbar dan Aisha. Aku juga akan melakukan hal yang sama, akan menutupi semua terkait masa lalu Aisha," ucap Annisa.

"Tanpa kamu minta, Kakak pasti akan melakukan itu. Membuka aib suamimu sama saja membuka aib istriku," jawab Ghibran. Akhirnya dia bersuara juga.

"Terima kasih, Kak."

"Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan ini hanya untuk Aisha. Aku akan melindunginya," ucap Ghibran lagi.

"Kakak sepertinya sangat mencintai Aisha sehingga mau menerimanya," ujar Annisa.

"Sama seperti kamu. Mau menerima Ikhbar walau tahu masa lalunya."

"Tapi ini beda, Kak. Mas Ikhbar itu laki-laki, tidak ada bedanya pernah melakukan atau pun belum," ucap Annisa.

"Apa bedanya? Sama-sama berdosa. Lagi pula aku mau menerimanya, karena aku tahu dia telah bertaubat," ujar Ghibran.

"Kamu harus tahu Annisa, Allah bukan mencintai orang yang tidak berdosa, tapi mencintai yang bertaubat dan menyucikan diri, sulit orang untuk tidak berbuat dosa, yang penting kalau berbuat dosa tapi mau bertobat. Beruntunglah orang yang menyucikan diri, rugi/celakalah orang mengotorinya, syurga bagi orang yang menyucikan dirinya," ucap Ghibran lagi.

Kedua nya lalu terdiam, larut dengan pikiran masing-masing. Hingga Ghibran membuka suara. Dia ingat Aisha. Tidak ingin wanitanya menunggu lebih lama lagi.

"Kakak rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Kakak pamit dulu. Ini untuk bayar makanan yang kamu pesan." Ghibran memberikan beberapa lembar uang.

Dia langsung berdiri dan berjalan cepat keluar dari ruangan. Annisa cukup heran melihatnya. Setelah membayar makanan dia juga ikut keluar.

Alangkah terkejutnya Annisa melihat Ghibran yang sedang duduk bersama Aisha. "Jadi Kak Ghibran datang dengan Aisha.Kenapa tak terus terang," gumam Annisa dalam hatinya.

...----------------...

Terpopuler

Comments

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

laki laki langka gibran

2024-04-20

3

revinurinsani

revinurinsani

hiihhh semoga Anisa ga kerasukan jin Tomang yang merusak hubungan orang lain hanya karena iri

2023-12-22

0

deon agriche's wife

deon agriche's wife

annisa kyk ngeselin

2023-12-18

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!