"Aisha, aku mungkin tidak langsung pulang. Apa kamu mau ikut denganku?" tanya Ghibran.
Aisha memandangi wajah suaminya itu. Memangnya mau kemana Ghibran.
"Aisha, aku bertanya denganmu, Sayang. Apa kamu mau ikut denganku atau langsung pulang?" tanya Ghibran lagi dengan lembut.
"Eh ... Mas mau kemana?" tanya Aisha.
"Kebiasaan banget, ditanya bukannya menjawab tapi bertanya balik," ucap Ghibran, dan mengusap kepala istrinya dengan penuh kelembutan.
Ghibran menggenggam tangan istrinya sambil menyetir dengan tangan yang satu. Dia lalu mengecupnya.
"Aku harus tahu Mas mau kemana, baru bisa menjawabnya," ujar Aisha.
"Annisa mengajak bertemu, kamu mau ikut?" Ketiga kalinya Ghibran bertanya dengan sang istri.
"Annisa ... sepertinya tak perlu, Mas. Dia hanya ingin bertemu dengan Mas. Nanti jika aku ikut, dia jadi canggung. Mungkin ada yang mau dia bicarakan hanya dengan Mas saja," jawab Aisha.
Aisha menunduk setelah mengucapkan itu. Bukannya dia berprasangka buruk, tapi dia yakin jika Annisa ingin mengatakan sesuatu tentang dirinya pada Ghibran. Gadis itu tampak menarik napasnya.
Ghibran yang dari tadi memperhatikan sang istri menepikan mobilnya di jalan yang sepi. Dia lalu menghentikan jalannya mobil.
"Sayang, aku tahu apa yang ada dalam pikiran kamu saat ini. Percayalah, aku tidak akan terpengaruh apa pun yang akan orang katakan padaku tentang kamu. Aku telah mendengar semua dari kamu. Aku percaya padamu dari siapa pun." Ghibran berucap dengan tersenyum.
"Mas, aku takut ...," ucap Aisha terbata. Air matanya telah tumpah membasahi pipi. Ghibran menghapus air mata istrinya dan memeluk erat.
"Kamu ikut saja. Jika kamu tidak mau bergabung, kamu duduk di meja yang berbeda. Setelah dari sana, kita langsung melihat apartemen untuk kita tinggal," ucap Ghibran.
"Apartemen ...?" tanya Aisha. Dia tidak berpikir jika Ghibran akan mengajaknya pindah secepat ini.
"Iya, Sayang. Apa kamu mau tinggal di apartemen yang dekat dengan usahaku?" tanya Ghibran.
"Sebagai seorang istri aku akan ikut kemana pun kamu pergi, Mas," jawab Aisha.
"Kalau begitu kita sekarang temui Annisa dulu," ucap Ghibran.
"Seperti kata Mas tadi, aku duduk di meja yang berbeda ya, Mas. Aku tidak mau dia canggung dan tidak jadi mengobrol dengan Mas," balas Aisha.
Ghibran kembali menjalankan mobilnya menuju tempat yang di janjikan dengan Annisa. Sepanjang perjalanan Aisha hanya diam saja. Walaupun Ghibran berkata percaya dengan apa pun yang dia katakan, tapi tetap rasa takut itu ada. Takut suatu saat suaminya itu percaya dengan yang orang katakan.
Setengah jam perjalanan, mobil memasuki halaman restoran. Aisha dan Ghibran berjalan dengan bergandengan tangan.
"Mas, aku duduk di sini saja."
"Kamu pesan apa saja yang kamu mau. Ini kartuku bisa kamu gunakan. PIN-nya tanggal lahir kamu!" ucap Ghibran.
"Tanggal lahirku?" tanya Aisha.
"Iya, Sayang. Aku pamit ya. Jangan kemana-mana. Tunggu aku di sini," jawab Ghibran. Dia lalu mengecup dahi Aisha dengan lembut.
Wajah Aisha memerah karena malu. Dia melihat ada banyak pengunjung di restoran. Setelah melakukan itu, Ghibran lalu berjalan masuk ke rumah VIP. Tempat dia janjian dengan Annisa.
Aisha memegang kartu yang diberikan Ghibran. Wanita itu berpikir, kenapa bisa PIN nya tanggal kelahiran dirinya. Apakah benar yang pernah pria itu katakan, jika sejak pertama melihat Aisha dia sudah tertarik dan mencari tahu apa pun tentang dirinya.
Ghibran tersenyum saat melihat Annisa, begitu juga dengan saudaranya itu, membalas senyumannya ketika melihat dirinya dari kejauhan.
Sampai dihadapan Annisa, wanita itu menyalami dan mencium tangan Ghibran. Di atas meja telah banyak makanan yang dia pesan.
"Banyak banget makanannya?" tanya Ghibran melihat begitu banyak menu di meja.
"Aku lapar dan juga Kak Ghibran lama banget datangnya. Dari pada bengong, ya aku pesan aja makanan yang banyak," jawab Annisa.
"Jangan sampai mubazir. Harus dihabiskan," ujar Ghibran lagi.
Annisa mengaruk kepalanya yang tertutup hijab. Dia memang selalu diingatkan sama Ikhbar jangan pernah mubazir, karena kebiasaan Annisa yang selalu pesan makanan dalam jumlah banyak.
Ghibran ikut menyantap makanan yang telah di pesan. Annisa menarik napas dalam. Tak tahu memulai dari mana obrolan ini.
"Kak, apa aku boleh bertanya sesuatu? Ini sedikit pribadi sebenarnya," ucap Annisa dengan pelan.
Ghibran menaikan alisnya mendengar pertanyaan sang adik. Dia menganggukan kepala tanda setuju. Annisa membalas dengan senyuman.
"Apa aku boleh tahu, di mana Kak Ghibran mengenal Aisha?" tanya Annisa.
"Di mesjid!" Ghibran menjawab dengan singkat.
Annisa tampak memainkan jarinya. Sebenarnya dia juga ragu untuk mengatakan tentang hubungan Ikhbar dan Aisha. Jika dia mengatakan semua itu, berarti aib suaminya ikut di katakan dan nama baik suaminya akan dipertaruhkan.
"Sebelum Kak Ghibran menikah; apakah Kakak sudah mencari tahu siapa calon istri Kakak?" Kembali Annisa bertanya.
Ghibran yang kali ini menarik napas. Dia juga tidak mungkin menikahi wanita tanpa tahu asal usulnya. Kembali pria itu menjawab hanya dengan menganggukan kepalanya.
Annisa memandangi Ghibran tanpa kedip. Melihat reaksi Kakak nya itu, dia cukup terkejut. Berarti Ghibran tahu tentang masa lalu istrinya itu.
"Tentang masa lalu Aisha sebelum dia di pesantren, apakah Kak Ghibran juga tahu?" Lagi-lagi Annisa bertanya. Seperti sebelumnya jawaban yang dia berikan hanya berupa anggukan kepala .
"Dan kakak tahu siapa pria masa lalu, Aisha?" Lagi-lagi pertanyaan yang diajukan Annisa dijawab anggukan kepala sama Ghibran.
"Kak, aku tidak tahu harus memulai dari mana. Aku hanya ingin meminta pada Kak Ghibran untuk tidak mengatakan pada siapa pun dalam keluarga kita tentang masa lalu Mas Ikhbar dan Aisha. Aku juga akan melakukan hal yang sama, akan menutupi semua terkait masa lalu Aisha," ucap Annisa.
"Tanpa kamu minta, Kakak pasti akan melakukan itu. Membuka aib suamimu sama saja membuka aib istriku," jawab Ghibran. Akhirnya dia bersuara juga.
"Terima kasih, Kak."
"Tidak perlu berterima kasih. Aku melakukan ini hanya untuk Aisha. Aku akan melindunginya," ucap Ghibran lagi.
"Kakak sepertinya sangat mencintai Aisha sehingga mau menerimanya," ujar Annisa.
"Sama seperti kamu. Mau menerima Ikhbar walau tahu masa lalunya."
"Tapi ini beda, Kak. Mas Ikhbar itu laki-laki, tidak ada bedanya pernah melakukan atau pun belum," ucap Annisa.
"Apa bedanya? Sama-sama berdosa. Lagi pula aku mau menerimanya, karena aku tahu dia telah bertaubat," ujar Ghibran.
"Kamu harus tahu Annisa, Allah bukan mencintai orang yang tidak berdosa, tapi mencintai yang bertaubat dan menyucikan diri, sulit orang untuk tidak berbuat dosa, yang penting kalau berbuat dosa tapi mau bertobat. Beruntunglah orang yang menyucikan diri, rugi/celakalah orang mengotorinya, syurga bagi orang yang menyucikan dirinya," ucap Ghibran lagi.
Kedua nya lalu terdiam, larut dengan pikiran masing-masing. Hingga Ghibran membuka suara. Dia ingat Aisha. Tidak ingin wanitanya menunggu lebih lama lagi.
"Kakak rasa tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan, Kakak pamit dulu. Ini untuk bayar makanan yang kamu pesan." Ghibran memberikan beberapa lembar uang.
Dia langsung berdiri dan berjalan cepat keluar dari ruangan. Annisa cukup heran melihatnya. Setelah membayar makanan dia juga ikut keluar.
Alangkah terkejutnya Annisa melihat Ghibran yang sedang duduk bersama Aisha. "Jadi Kak Ghibran datang dengan Aisha.Kenapa tak terus terang," gumam Annisa dalam hatinya.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛
laki laki langka gibran
2024-04-20
3
revinurinsani
hiihhh semoga Anisa ga kerasukan jin Tomang yang merusak hubungan orang lain hanya karena iri
2023-12-22
0
deon agriche's wife
annisa kyk ngeselin
2023-12-18
0