Ibu memandangi Ikhbar tanpa kedip. Dia pernah mendengar nama itu. Wanita itu bisa menebak siapa pria yang bertamu saat ini. Dada wanita itu terasa sesak. Apakah pria ini yang telah menghancurkan masa depan putrinya? Tanya ibu dalam hati.
"Apa kamu Ikhbar mantan kekasih Aisha yang telah merenggut kesuciannya?" tanya ibu pelan dan masih berharap jawaban pria itu tidak.
Bagaimana mungkin jika dia memang Ikhbar sang pria itu, dan kini datang dengan istrinya. Jadi selama ini dia meninggalkan Aisha dan menikah tanpa ada rasa penyesalan dan tanggung jawab.
Ikhbar berdiri dan berlutut dihadapan ibunya Aisha. Tampak wanita itu menarik napas dalam untuk meredakan emosi dalam dirinya.
"Maafkan aku, Bu. Aku memang Ikhbar, mantan kekasihnya Aisha. Aku mengaku bersalah karena telah merenggut kesucian Aisha. Aku datang saat ini untuk bertanggung jawab atas semua yang pernah aku lakukan pada Aisha. Istriku telah setuju untuk berpoligami," ucap Ikhbar sambil tetap berlutut.
Dada ibu nampak turun naik menahan emosi. Dia berdiri dari duduknya. Memandangi Ikhbar tanpa kedip.
"Sekarang kau baru datang untuk meminta maaf! Kemana saja kau selama ini. Apa kau tahu akibat dari perbuatanmu, suamiku, ayahnya Aisha sampai meninggal karena tahu apa yang kau dan Aisha lakukan. Dan apa kau tahu bagaimana Aisha melalui hari-hari dengan penuh penyesalan. Sedangkan kau berbahagia dengan keluargamu. Sekarang kau datang untuk meminta maaf dan ingin menjadikan anakku istri keduamu. Di mana pikiranmu!" ucap Ibu dengan suara yang tinggi penuh emosi.
Annisa yang mendengar itu menjadi terpejok karena namanya dibawa. Selama ini dia juga hidup dalam bayangan Aisha. Namanya masih selalu di sebut suaminya.
Apakah dia salah dalam hal ini? Annisa juga tidak mengenal Aisha dan tidak tahu jika ayah wanita itu sampai meninggal karena apa yang dilakukan suaminya. Dia menikah dengan Ikhbar karena berpikir jika pria itu telah menyelesaikan masalahnya.
"Bu, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak menyangka jika akibat dari perbuatanku, ayahnya Aisha sampai meninggal. Apa yang dapat aku lakukan untuk menebus semua salahku?" tanya Ikhbar.
Tanpa di duga semuanya, Aisha berdiri dan melayangkan tamparan ke wajah Ikhbar. Annisa yang melihat itu langsung mendekati suaminya dan memeluk tubuh pria itu.
"Apa kau pikir dengan kata maafmu itu bisa mengembalikan nyawa ayahku?" tanya Aisha dengan penuh emosi.
Annisa meminta suaminya berdiri. Dia lalu menatap Aisha dengan intens. Sepertinya tidak terima dengan apa yang Aisha lakukan pada Ikhbar.
"Maaf Mbak Aisha, aku terpaksa ikut campur. Aku dan Ikhbar datang ke sini dengan kerendahan hati untuk meminta maaf. Aku tahu Ikhbar salah, tapi Mbak juga salah. Kenapa sebagai wanita dengan mudahnya memberikan kehormatan pada pria yang bukan suaminya? Aku sebagai wanita dengan ikhlas juga menerima kamu sebagai madu sebagai bentuk tanggung jawab suamiku. Apa Mbak pikir ini mudah? Tidak. Tapi aku mengikhlaskan semuanya. Jika menurut Mbak ini belum cukup, apa lagi yang Mbak inginkan sebagai bentuk tanggung jawab Ikhbar?" Annisa bertanya dengan wajah tegang.
"Tidak ada yang perlu Ikhbar lakukan. Aku tahu jika ini salahku. Untuk itu aku menerima semua ini dengan ikhlas. Semoga keikhlasan aku menjalani semua cobaan ini dapat mengurangi dosa-dosaku yang begitu banyak," jawab Aisha dengan napas memburu karena menahan sebak di dada.
"Pergilah kalian sekarang dari sini. Kedatangan kalian tidak pernah kami harapkan. Itu hanya membuka luka lama. Aku jadi kembali teringat pada suamiku yang telah tiada," ucap Ibunya Aisha dengan suara tinggi karena emosi.
Ibu memegang dadanya yang kembali terasa sesak dan nyeri. Mengingat kejadian saat suaminya meninggal.
"Maafkan aku, Bu. Hanya itu yang bisa aku katakan. Aku benar-benar menyesal," ucap Ikhbar.
"Bu, Allah saja maha pemaaf. Aku sebagai istri Mas Ikhbar juga memohon maaf atas namanya. Meninggalnya ayah Aisha tidak sepenuhnya salah suamiku, itu semua memang telah menjadi takdir dari Allah. Ibu dan Aisha pasti tahu dan paham dengan itu," ujar Annisa membela suaminya.
"Karena aku sadar itu merupakan takdir dari Allah makanya tidak minta tanggung jawab suami kamu, Mbak. Aku juga mengerti, tidak ada seorang wanita pun yang mau berbagi suami, termasuk kamu dan aku. Itu juga alasan aku tidak mau dijadikan istri kedua. Sekarang semua telah paham aku minta pergilah dari rumahku," usir Aisha.
Ibu nampak memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Wanita itu duduk mencoba meredakan rasa nyeri di dada.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit. Kewajiban Mas Ikhbar untuk meminta maaf telah dia lakukan. Aku harap ibu dan Mbak Aisha menerima permintaan maaf dari suamiku. Jika suatu saat kamu berubah pikiran, bisa menghubungi kami."
Annisa menaruh satu lembar kertas alamat rumahnya. Dia lalu mengulurkan tangan untuk menyalami ibu, tapi tidak diterima wanita itu. Begitu pula yang Ikhbar lakukan, tetap ibu tidak menerimanya.
Ikhbar dan Annisa lalu meninggalkan rumah kediaman Aisha. Wanita itu lalu duduk di samping sang ibunda. Melihat wajah ibunya yang masih tegang, gadis itu menjadi kuatir.
"Ibu, apa ibu sakit?" tanya Aisha dengan suara lembut. Ibu hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Air mata jatuh membasahi pipi keriputnya. Menangkup wajah sang putri dengan kedua tangan yang gemetar.
"Kamu lihat, Nak. Pria itu telah bahagia dengan pasangannya. Kamu juga harus bahagia. Kenapa hanya dia yang bisa melupakan masa lalu kalian, kamu juga harus melakukan hal yang sama. Kamu juga berhak bahagia," ucap ibu dengan detak air mata.
"Bu, percayalah aku juga akan bahagia dengan doa yang selalu ibu panjatkan," jawab Aisha.
"Ibu mau istirahat, rasanya lelah sekali hari ini. Ingat pesan ibu, Nak. Kamu juga harus berbahagia," ucap Ibu.
"Ya, Bu." Hanya itu yang bisa Aisha jawab atas ucapan sang ibu.
Dia membantu ibu masuk ke kamar. Setelah ibu berbaring, dia menyelimuti tubuhnya. Sebelum pergi dari kamar Aisha mengecup dahi sang ibu.
Aisha masuk ke kamar dan tangisnya pecah. Dari tadi dia menahan agar air mata tidak tumpah. Dia tidak ingin terlihat rapuh di depan Ikhbar.
"Aku pernah mencintaimu dengan berlebihan. Sampai aku mengemis kepadamu untuk tidak meninggalkan aku. Sampai aku merendahkan harga diriku sendiri dihadapanmu. Aku sampai rela memberikan kehormatanku untukmu. Tapi tetap saja aku tidak ada artinya dimatamu. Ternyata sesakit ini perjuangan untuk mencintaimu. Dan aku bukanlah wanita bodoh seperti dulu lagi, aku tidak akan men3gulangi kisah lama dengan orang sepertimu. Lebih baik membuka lembaran baru," gumam Aisha pada dirinya sendiri.
Memaafkan tidak berarti melupakan. Itu adalah melepaskan sakit hati. Meminta maaf tak berarti salah. Mengalah bukan berarti kalah ataupun takut. Berikanlah pujian pada mereka yang menghina. Tebarkanlah senyuman mesti tak dibalas. Balaslah kebencian dengan kasih sayang. Bersabar bukan berarti tak mampu membalas. Buktikan pada mereka jika kamu bisa lebih baik lagi.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
luiya tuzahra
whaaatt....gilaa
2025-01-03
0
🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛
entah lah kadang napsu dan akal bertentangan semoga jadi pelajaran
2024-04-20
2
Amora
Sabar dan ikhlas dengan takdir Allah s.w.t
2024-03-19
0