Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!

Ibu memandangi Ikhbar tanpa kedip. Dia pernah mendengar nama itu. Wanita itu bisa menebak siapa pria yang bertamu saat ini. Dada wanita itu terasa sesak. Apakah pria ini yang telah menghancurkan masa depan putrinya? Tanya ibu dalam hati.

"Apa kamu Ikhbar mantan kekasih Aisha yang telah merenggut kesuciannya?" tanya ibu pelan dan masih berharap jawaban pria itu tidak.

Bagaimana mungkin jika dia memang Ikhbar sang pria itu, dan kini datang dengan istrinya. Jadi selama ini dia meninggalkan Aisha dan menikah tanpa ada rasa penyesalan dan tanggung jawab.

Ikhbar berdiri dan berlutut dihadapan ibunya Aisha. Tampak wanita itu menarik napas dalam untuk meredakan emosi dalam dirinya.

"Maafkan aku, Bu. Aku memang Ikhbar, mantan kekasihnya Aisha. Aku mengaku bersalah karena telah merenggut kesucian Aisha. Aku datang saat ini untuk bertanggung jawab atas semua yang pernah aku lakukan pada Aisha. Istriku telah setuju untuk berpoligami," ucap Ikhbar sambil tetap berlutut.

Dada ibu nampak turun naik menahan emosi. Dia berdiri dari duduknya. Memandangi Ikhbar tanpa kedip.

"Sekarang kau baru datang untuk meminta maaf! Kemana saja kau selama ini. Apa kau tahu akibat dari perbuatanmu, suamiku, ayahnya Aisha sampai meninggal karena tahu apa yang kau dan Aisha lakukan. Dan apa kau tahu bagaimana Aisha melalui hari-hari dengan penuh penyesalan. Sedangkan kau berbahagia dengan keluargamu. Sekarang kau datang untuk meminta maaf dan ingin menjadikan anakku istri keduamu. Di mana pikiranmu!" ucap Ibu dengan suara yang tinggi penuh emosi.

Annisa yang mendengar itu menjadi terpejok karena namanya dibawa. Selama ini dia juga hidup dalam bayangan Aisha. Namanya masih selalu di sebut suaminya.

Apakah dia salah dalam hal ini? Annisa juga tidak mengenal Aisha dan tidak tahu jika ayah wanita itu sampai meninggal karena apa yang dilakukan suaminya. Dia menikah dengan Ikhbar karena berpikir jika pria itu telah menyelesaikan masalahnya.

"Bu, aku benar-benar minta maaf. Aku tidak menyangka jika akibat dari perbuatanku, ayahnya Aisha sampai meninggal. Apa yang dapat aku lakukan untuk menebus semua salahku?" tanya Ikhbar.

Tanpa di duga semuanya, Aisha berdiri dan melayangkan tamparan ke wajah Ikhbar. Annisa yang melihat itu langsung mendekati suaminya dan memeluk tubuh pria itu.

"Apa kau pikir dengan kata maafmu itu bisa mengembalikan nyawa ayahku?" tanya Aisha dengan penuh emosi.

Annisa meminta suaminya berdiri. Dia lalu menatap Aisha dengan intens. Sepertinya tidak terima dengan apa yang Aisha lakukan pada Ikhbar.

"Maaf Mbak Aisha, aku terpaksa ikut campur. Aku dan Ikhbar datang ke sini dengan kerendahan hati untuk meminta maaf. Aku tahu Ikhbar salah, tapi Mbak juga salah. Kenapa sebagai wanita dengan mudahnya memberikan kehormatan pada pria yang bukan suaminya? Aku sebagai wanita dengan ikhlas juga menerima kamu sebagai madu sebagai bentuk tanggung jawab suamiku. Apa Mbak pikir ini mudah? Tidak. Tapi aku mengikhlaskan semuanya. Jika menurut Mbak ini belum cukup, apa lagi yang Mbak inginkan sebagai bentuk tanggung jawab Ikhbar?" Annisa bertanya dengan wajah tegang.

"Tidak ada yang perlu Ikhbar lakukan. Aku tahu jika ini salahku. Untuk itu aku menerima semua ini dengan ikhlas. Semoga keikhlasan aku menjalani semua cobaan ini dapat mengurangi dosa-dosaku yang begitu banyak," jawab Aisha dengan napas memburu karena menahan sebak di dada.

"Pergilah kalian sekarang dari sini. Kedatangan kalian tidak pernah kami harapkan. Itu hanya membuka luka lama. Aku jadi kembali teringat pada suamiku yang telah tiada," ucap Ibunya Aisha dengan suara tinggi karena emosi.

Ibu memegang dadanya yang kembali terasa sesak dan nyeri. Mengingat kejadian saat suaminya meninggal.

"Maafkan aku, Bu. Hanya itu yang bisa aku katakan. Aku benar-benar menyesal," ucap Ikhbar.

"Bu, Allah saja maha pemaaf. Aku sebagai istri Mas Ikhbar juga memohon maaf atas namanya. Meninggalnya ayah Aisha tidak sepenuhnya salah suamiku, itu semua memang telah menjadi takdir dari Allah. Ibu dan Aisha pasti tahu dan paham dengan itu," ujar Annisa membela suaminya.

"Karena aku sadar itu merupakan takdir dari Allah makanya tidak minta tanggung jawab suami kamu, Mbak. Aku juga mengerti, tidak ada seorang wanita pun yang mau berbagi suami, termasuk kamu dan aku. Itu juga alasan aku tidak mau dijadikan istri kedua. Sekarang semua telah paham aku minta pergilah dari rumahku," usir Aisha.

Ibu nampak memegang dadanya yang terasa sangat sesak. Wanita itu duduk mencoba meredakan rasa nyeri di dada.

"Baiklah, kalau begitu aku pamit. Kewajiban Mas Ikhbar untuk meminta maaf telah dia lakukan. Aku harap ibu dan Mbak Aisha menerima permintaan maaf dari suamiku. Jika suatu saat kamu berubah pikiran, bisa menghubungi kami."

Annisa menaruh satu lembar kertas alamat rumahnya. Dia lalu mengulurkan tangan untuk menyalami ibu, tapi tidak diterima wanita itu. Begitu pula yang Ikhbar lakukan, tetap ibu tidak menerimanya.

Ikhbar dan Annisa lalu meninggalkan rumah kediaman Aisha. Wanita itu lalu duduk di samping sang ibunda. Melihat wajah ibunya yang masih tegang, gadis itu menjadi kuatir.

"Ibu, apa ibu sakit?" tanya Aisha dengan suara lembut. Ibu hanya menjawab dengan gelengan kepala.

Air mata jatuh membasahi pipi keriputnya. Menangkup wajah sang putri dengan kedua tangan yang gemetar.

"Kamu lihat, Nak. Pria itu telah bahagia dengan pasangannya. Kamu juga harus bahagia. Kenapa hanya dia yang bisa melupakan masa lalu kalian, kamu juga harus melakukan hal yang sama. Kamu juga berhak bahagia," ucap ibu dengan detak air mata.

"Bu, percayalah aku juga akan bahagia dengan doa yang selalu ibu panjatkan," jawab Aisha.

"Ibu mau istirahat, rasanya lelah sekali hari ini. Ingat pesan ibu, Nak. Kamu juga harus berbahagia," ucap Ibu.

"Ya, Bu." Hanya itu yang bisa Aisha jawab atas ucapan sang ibu.

Dia membantu ibu masuk ke kamar. Setelah ibu berbaring, dia menyelimuti tubuhnya. Sebelum pergi dari kamar Aisha mengecup dahi sang ibu.

Aisha masuk ke kamar dan tangisnya pecah. Dari tadi dia menahan agar air mata tidak tumpah. Dia tidak ingin terlihat rapuh di depan Ikhbar.

"Aku pernah mencintaimu dengan berlebihan. Sampai aku mengemis kepadamu untuk tidak meninggalkan aku. Sampai aku merendahkan harga diriku sendiri dihadapanmu. Aku sampai rela memberikan kehormatanku untukmu. Tapi tetap saja aku tidak ada artinya dimatamu. Ternyata sesakit ini perjuangan untuk mencintaimu. Dan aku bukanlah wanita bodoh seperti dulu lagi, aku tidak akan men3gulangi kisah lama dengan orang sepertimu. Lebih baik membuka lembaran baru," gumam Aisha pada dirinya sendiri.

Memaafkan tidak berarti melupakan. Itu adalah melepaskan sakit hati. Meminta maaf tak berarti salah. Mengalah bukan berarti kalah ataupun takut. Berikanlah pujian pada mereka yang menghina. Tebarkanlah senyuman mesti tak dibalas. Balaslah kebencian dengan kasih sayang. Bersabar bukan berarti tak mampu membalas. Buktikan pada mereka jika kamu bisa lebih baik lagi.

...----------------...

Terpopuler

Comments

luiya tuzahra

luiya tuzahra

whaaatt....gilaa

2025-01-03

0

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

entah lah kadang napsu dan akal bertentangan semoga jadi pelajaran

2024-04-20

2

Amora

Amora

Sabar dan ikhlas dengan takdir Allah s.w.t

2024-03-19

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!