Bab 8. Mantan Kekasih

Ibu memeluk erat putrinya itu. Air matanya juga tidak bisa dia bendung. Melihat bagaimana perjuangan Aisha dalam berubah, dia tahu itu pasti tidak akan mudah.

"Ibu hanya bisa meminta kamu bersabar dalam setiap ujian yang Allah berikan. Mungkin semua ini untuk mengangkat derajatmu agar lebih tinggi. Ibu yakin ada hikmah di setiap ujian dan masalah yang diberikan. Percayalah, akan ada pelangi setelah hujan," ucap Ibu dengan penuh kelembutan.

Aisha terus menangis dalam pelukan ibunya. Ingin rasanya mengatakan jika dia bertemu dengan pria yang menghancurkan hidupnya dan laki-laki itu telah bahagia tapi dirinya masih terpuruk dalam penyesalan.

Ingin rasanya berbagi. Selama ini hanya dia pendam sendiri semua kesedihan yang dirasakan. Namun, gadis itu tidak mau menambah beban pikiran ibunya.

"Dengar, Nak. Jangan selalu mencari siapa yang salah atas apa yang kamu lakukan, tapi berusahalah berubah atas kesalahan yang pernah dilakukan. Dan jangan pernah terlalu larut dalam kesedihan saat kamu bersujud, kasihan dia yang ada dalam doamu, takutnya dia akan menderita atas tangismu saat mengadu pada Allah. Ikhlaskan semua yang terjadi," nasihat ibu lagi.

Setelah cukup lama berbincang, akhirnya ibu pamit. Keluar dari kamar sang putri.

Ditempat lain, Ikhbar yang sedang duduk di teras rumahnya kembali termenung. Annisa yang sedang bermain dengan sang putri memperhatikan dengan seksama. Apa yang sedang suaminya pikirkan.

Annisa meminta pembantunya menemani sang putri. Dia ingin bicara dengan Ikhbar.

"Mas ...," panggil Annisa.

Ikhbar yang sedang termenung, terkejut mendengar namanya dipanggil. Dia lalu tersenyum setelah tahu istrinya yang memanggil.

"Sudah seminggu ini aku lihat kamu sering melamun. Apa ada masalah? Aku ini istrimu, berbagilah jika memang kamu sedang ada masalah!" ucap Annisa.

Ikhbar menarik napas berat. Rasanya ingin mengurangi beban yang ada di kepala, tapi dia juga kuatir jika istrinya cemburu dan tidak terima.

"Kamu masih ingat ceritaku tentang alasan mama memasukan aku ke pesantren?" tannya Ikhbar.

Ikhbar memang pernah mengatakan tentang dosa masa lalunya sebelum mereka menikah. Dia tidak ingin ada penyesalan di belakang hari. Jika wanita itu mau menerima masa lalunya yang penuh dosa, barulah dia mau melangkah lebih jauh. Alhamdulillah, saat itu Annisa menerimanya.

"Mengenai kekasih kamu itu, Mas?" tanya Annisa.

Annisa tidak pernah lupa mengenai masa lalu suami yang pernah pria itu ceritakan. Dari raut wajahnya, tampak jika Ikhbar sangat mencintai kekasihnya itu. Kenapa Annisa mau menerima, padahal dia tahu jika Ikhbar sangat mencintai wanita itu? Jawabnya adalah karena dia mencintai Ikhbar, berarti dia akan menerima semua kelebihan dan kekurangan pria itu. Lagi pula sang suami berkata tidak pernah lagi menghubungi mantan kekasihnya itu.

Apakah Annisa egois? Mungkin jawabnya ya Dia hanya memikirkan cintanya. Sehingga tidak peduli dengan perasaan sang suami. Dalam pikirannya hanya kebahagiaan dirinya sendiri.

Ikhbar menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan sang istri. Kembali terbayang wajah Aisha dan perkataan gadis itu. Ayahnya yang meninggal setelah melihat video itu. Rasa bersalah pada diri Ikhbar makin terasa besar.

"Apa mantan kekasih kamu itu wanita cantik yang kamu temui tadi di mesjid?" tanya Annisa dengan suara pelan. Dia takut jika jawaban suaminya iya, karena wanita itu sangat cantik dan pantas suaminya belum bisa melupakan hingga saat ini.

Kembali Ikhbar menganggukan kepala sebagai jawaban. Hati Annisa langsung terasa nyeri. Pantas tadi Ikhbar memandang wanita itu dengan cara berbeda. Terlihat masih banyak cinta untuk sang mantan kekasih. Annisa menarik napas dalam untuk menghilangkan rasa sesak di dada yang dia rasakan.

"Apa Mas masih mencintainya?" tanya Annisa lagi.

Ikhbar tidak menjawab pertanyaan istrinya. Hanya senyuman yang dia berikan. Setelah itu pandangannya jauh ke depan. Dia seperti lupa jika ada sang istri di sampingnya saat ini.

"Seharusnya aku tidak bertanya itu. Jelas saja kamu masih mencintai gadis itu. Dia juga sangat cantik dan lembut, idaman setiap pria. Apakah dia masih sendiri hingga saat ini?" tanya Annisa lagi. Walau pertanyaannya tadi tak dijawab Ikhbar, dia tetap bertanya.

"Dia masih sendiri hingga saat ini. Ayahnya meninggal setelah melihat video asusila kami. Aku merasa sangat bersalah. Meninggalkan dirinya dengan beban begitu berat. Dia sampai trauma dengan pria. Takut tidak ada yang mau menerima masa lalunya," jawab Ikhbar.

Suami Annisa itu tetap memandangi jalanan, seakan ingin menembusnya dan berada di dekat orang yang dia pikirkan. Annisa kembali menarik napas. Dia dapat merasakan kesedihan dan trauma wanita itu. Namun, dia juga manusia biasa. Cemburu saat sang suami memikirkan wanita lain.

"Apa kamu sudah minta maaf atas apa yang kamu lakukan padanya?" Kembali Aisha memberikan pertanyaan.

"Sudah, tapi aku tidak yakin jika dia mau memaafkan. Lagi pula kami belum mengobrol banyak. Kamu keburu datang," ucap Ikhbar.

Annisa melihat wajah suaminya itu. Sepertinya dia sedikit kesal atas apa yang terjadi tadi. Mungkin karena kehadirannya yang membuat Ikhbar tidak bisa bicara banyak.

"Cobalah mencari tahu di mana dia tinggal. Aku akan menemani kamu bertemu dengannya agar tidak terjadi fitnah," ucap Annisa.

Ikhbar memandangi istrinya dengan tatapan penuh tanda tanya. Apakah istrinya serius ingin menemani? Tanya pria itu dalam hatinya.

"Jangan memandangi aku seperti itu, Mas. Aku akan lebih cemburu jika kamu bertemu dia tanpa aku. Lagi pula, orang mulai mengenali Mas sebagai pendakwah. Pasti akan menjadi fitnah jika ada yang melihat kamu bertemu wanita lain hanya berdua saja. Nama baikmu bisa hancur," ujar Annisa.

"Baiklah, Nisa. Aku akan cari tahu di mana dia tinggal dan temani aku bertemu dia dan ibunya. Aku belum pernah meminta maaf atas kesalahanku pada Aisha," jawab Ikhbar.

Annisa menggenggam tangan sang suami. Berharap sekali jika masa lalu suaminya itu tidak akan mengganggu rumah tangga mereka dan Ikhbar dapat menyelesaikan dengan baik.

**

Pada malam hari, Aisha yang telah selesai solat magrib membuka laptopnya. Membaca pesanan yang masuk. Dia memang berjualan secara online saja.

Terdengar suara ketukan pintu, saat Aisha ingin berdiri, terdengar langkah kaki ibunya. Gadis itu kembali duduk karena sang ibu telah membuka pintunya.

Ibunya Aisha membuka pintu, tampak tiga orang tamu ada di balik pintu. Sepertinya sepasang suami istri dan putra mereka. Ibunya Aisha tersenyum pada mereka.

"Apa ini benar rumahnya Aisha?" tanya pria muda itu.

"Benar. Silakan masuk!" ajak Ibu.

Ketiga tamu itu lalu melangkah masuk. Ibunya Aisha mempersilakan duduk.

"Tunggu saya panggilkan Aisha dulu," ucap Ibunya Aisha. Dia pamit ingin memanggil putrinya itu.

...----------------...

Terpopuler

Comments

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

mungkin keluar Gibran

2024-04-20

1

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

wah keluarga Ghibran mau langsung silatirahmi aja nih

2023-12-06

1

Ayu galih wulandari

Ayu galih wulandari

Sedih aqu bacanya kak hampir mewek..,kasihan jg Aisha yg msh di bayang2 in rasa dosa pe yesalan yg bgt dlm ,smg Aisha bisa segera melupakan rasa trauma itu ,ibunya jg ...Ada pelangi setelah hujan ,ada kebahagian setelah kesedihan sabar ya Aisha..😘😘😘mkc sdh up kak..

2023-12-04

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!