Ghibran membalikan tubuhnya menghadap ke arah pria itu. Dia tersenyum dan menganggukan kepala.
"Apa kita langsung melamarnya saja? Sepertinya gadis itu sangat baik," ucap Sang Ayah.
"Aku belum tahu apakah dia telah ada tunangan atau sedang menunggu pinangan orang," jawab Ghibran.
"Kalau begitu kita datang untuk siraturahmi saja dulu," ucap ayah lagi.
"Biar aku kenal lebih dekat lagi, Yah," jawab Ghibran.
Ghibran selalu berdoa disepertiga malamnya agar dijodohkan dengan Aisha. Selalu mencoba merayu Tuhan dengan bersujud agar dipersatukan. Entah mengapa dari awal bertemu, dia telah yakin jika wanita itu yang pantas mendampingi dirinya.
Sementara itu Aisha yang baru sampai di mesjid, memarkirkan motornya sebelum akhirnya dia masuk ke mesjid. Menjelang azan Zuhur, gadis itu habiskan dengan membaca alquran.
Setelah solat Zuhur, semua jemaah kembali duduk untuk mendengarkan tausiah. Begitu juga Aisha, dia duduk bagian depan agar fokus.
Seorang ustad duduk di kursi yang disediakan. Dia memberikan tausiah yang sangat menarik. Setelah selesai, Aisha keluar dari mesjid. Dia ingin segera pulang menemani ibunya.
Saat akan mendekati motornya, Aisha mendengar seseorang memanggil namanya. Suara yang tidak asing lagi ditelinganya.
"Aisha, aku ingin bicara,"ucap Ikhbar.
Aisha tidak tahu, dari mana datangnya mantan kekasihnya itu. Detak jantungnya berpacu lebih cepat, dan dadanya terasa sesak. Tubuhnya kaku mendengar suara pria yang sangat dia rindukan. Namun, sayang, tembok pemisah begitu tinggi antara mereka berdua.
"Apa yang ingin ustad katakan? Bicaralah segera, tidak pantas jika kita berduaan begini terlalu lama. Timbul fitnah," ujar Aisha.
"Aku minta maaf atas semua yang terjadi tiga tahun lalu. Aku tidak bermaksud lari dari tanggung jawab," ucap Ikhbar.
Mendengar ucapan Ikhbar, darah Aisha terasa mendidih. Dia langsung membalikan tubuhnya menghadap ustad yang merupakan sang mantan kekasih.
"Tak bermaksud lari? Jadi apa namanya Mas, setelah kau sebarkan video itu kau lalu menghilang. Aku yang harus menanggung malu. Bukan itu saja, aku harus kehilangan ayahku. Dia sampai meninggal karena malu akan aibku itu!" ucap Aisha dengan gemetar karena manahan tangis.
Ikhbar terkejut mendengar kenyataan itu. Dia tidak tahu apa pun mengenai Aisha dan keluarganya. Sejak dimasukan ke pesantren, ibunya tidak mengizinkan dia pulang. Apa lagi akhirnya kedua orang tua pria itu ikut pindah ke kota ini.
"innalillahi wa inna ilaihi rojiun, maaf Aisha aku tidak tahu kabar itu," jawab Ikhbar dengan nada penuh rasa bersalah.
Tampak sekali keterkejutan dari raut wajah Ikhbar. Dia tidak tahu semua kabar Aisha dan seluruh teman lainnya sejak masuk pesantren. Semua akses di ambil orang tuanya.
Ikhbar tidak ada memegang ponsel lagi. Dia juga tidak pernah pulang ke rumah. Orang tuanya yang selalu menghampiri dia di pesantren.
"Tentu saja kamu tidak tahu apa pun kabar tentangku. Kamu hanya menyelamatkan dirimu sendiri. Kamu tidak tahu bagaimana aku menghadapi dunia setelah aib itu tersebar," ucap Aisha dengan terbata karena menahan tangis.
"Maaf, Aisha. Aku tidak pernah bermaksud menyakiti kamu seperti ini," jawab Ikhbar dengan lemah.
"Bermaksud atau tidak, tapi kau telah menyakiti aku. Apa kamu tahu, Mas. Jika saja bunuh diri itu tidak dosa, aku mungkin akan melakukan itu. Aku hanya tidak ingin menambah dosa yang lebih besar dengan mengakhiri hidupku. Kau sebagai pria mungkin bisa melangkah ke depan, tapi aku. Apa ada pria yang mau dengan wanita kotor seperti aku ini?" tanya Aisha dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipi.
"Aisha, apa yang bisa aku lakukan untuk menebus rasa bersalah itu?" tanya Ikhbar.
"Tidak ada yang bisa kamu lakukan selain jauhi aku. Anggap kita tidak pernah kenal. Aku sudah melupakan dan mengikhlaskan masa lalu itu. Semua juga salahku. Kita melakukan atas dasar suka sama suka. Apa pun yang akan kamu lakukan, tidak akan pernah dapat mengembalikan semua. Terutama ayah yang telah pergi," ucap Aisha.
Ikhbar ingin mengucapkan sesuatu tapi urung karena kedatangan seorang wanita dan bocah cilik yang berlari memanggil namanya.
"Abi ...," panggil bocah yang bernama Aqila itu. Di belakangnya ada seorang wanita yang tersenyum manis ke arah Aisha.
Aisha membalas senyumannya. Dia yang ingin pergi mengurungkan niatnya karena wanita itu mengajak mengobrol.
"Assalamualaikum, Mbak," sapa Annisa, istrinya Ikhbar.
"Waalaikumussalam," jawab Aisha dengan ramah.
Bocah cilik itu mendekati Aisha dan memegang rok nya. Aqila tersenyum, dan dibalas dengan senyuman juga sama gadis itu.
"Antik, antik," ucap Aqila. Aisha kembali tersenyum karena tidak mengerti akan ucapan bocah itu.
Sebenarnya dada Aisha sesak melihat kedua wanita yang telah mengisi hati Ikhbar itu. Pastilah hidup sang mantan sekarang sedang berbahagianya, sedangkan dia masih larut dalam penyesalan.
Terkadang Aisha berpikir, hidup tidak adil. Kenapa hanya dirinya yang menanggung rasa malu dan bersalah seorang diri. Bukankah mereka melakukan dosa yang sama.
"Tante ini cantik, ya. Aqila bilang Mbak cantik," ucap Annisa yang membuat Aisha tersadar dari lamunan.
"Terima kasih, kamu juga sangat cantik. Maaf, Mbak. Aku pamit." Aisha lalu menaiki motornya dan langsung pergi meninggalkan keduanya setelah mengucapkan salam. Dia tidak ingin menambah lukanya dengan menyaksikan kebahagiaan keluarga kecil itu.
Dengan air mata yang berderai, Aisha terus menjalankan motornya. Tidak peduli orang yang melihatnya dengan wajah keheranan dan rasa iba.
"Memaafkan orang yang sudah menyakiti hati memang sulit, tapi kalau tidak dimaafkan akan terasa sakit. Dari pada menahan rasa sakit, karena terus mengingat-ingat orang yang menyakiti hati, lebih baik berdamai dengan diri sendiri. Maafkan dan lupakan semua hal pahit yang telah terjadi. Jangan buang-buang waktumu hanya untuk memikirkan mereka yang sudah menyakitimu. Waktumu sangat berharga. Buatlah selalu bermakna. Lakukan apa yang membuat kamu bahagia. Tutup telingamu, susun rencana baru. Jangan biarkan orang lain mengambil kebahagiaan dari hidupmu. Kamulah pengendali dirimu sendiri."
Sampai di rumah, Aisha langsung masuk ke kamar. Tangisannya pecah. Ibu yang duduk di ruang keluarga, mendengar tangisan putrinya ikut merasakan kesedihan itu.
Bukannya Ibu tidak tahu, jika setiap solat malam putrinya selalu menangis. Dia tahu pasti rasa bersalah itu masih terus menghantui Aisha. Namun, dia tidak bisa memberikan semangat sedangkan ibu sendiri sejak ditinggal sang ayah juga masih merasakan luka.
"Maafkan Ibu, Nak. Bukannya ibu tidak menyayangi kamu atau tidak mengerti akan kesedihanmu. Tapi ibu juga sedang berusaha menyembuhkan luka. Kita sama-sama terluka. Ibu selalu berdoa semoga sebelum Allah mengambil nyawa ini, kau dipertemukan dengan jodoh yang mau menerima kamu apa adanya," doa ibu.
Dia melangkah masuk ke kamar putrinya. Akan mencoba menghibur. Ibu duduk di tepi ranjang. Membelai kepala sang putri. Aisha bangun dan memeluk sang bunda.
"Ibu, tolong maafkan dan ikhlaskan semua salahku, agar aku juga bisa ikhlas menghadapi semua cobaan ini. Aku mulai lelah," ucap Aisha.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Hafizah
banyak banget bawangnya sampai sesak Mam
2024-11-28
0
💞my heart💞
kok banyak bawang nya ya Thor 😭😭😭😭
2024-10-29
1
elly fitriyatun
Yg kuat aisha/Sob/
2024-09-23
1