Bab 7. Maaf

Ghibran membalikan tubuhnya menghadap ke arah pria itu. Dia tersenyum dan menganggukan kepala.

"Apa kita langsung melamarnya saja? Sepertinya gadis itu sangat baik," ucap Sang Ayah.

"Aku belum tahu apakah dia telah ada tunangan atau sedang menunggu pinangan orang," jawab Ghibran.

"Kalau begitu kita datang untuk siraturahmi saja dulu," ucap ayah lagi.

"Biar aku kenal lebih dekat lagi, Yah," jawab Ghibran.

Ghibran selalu berdoa disepertiga malamnya agar dijodohkan dengan Aisha. Selalu mencoba merayu Tuhan dengan bersujud agar dipersatukan. Entah mengapa dari awal bertemu, dia telah yakin jika wanita itu yang pantas mendampingi dirinya.

Sementara itu Aisha yang baru sampai di mesjid, memarkirkan motornya sebelum akhirnya dia masuk ke mesjid. Menjelang azan Zuhur, gadis itu habiskan dengan membaca alquran.

Setelah solat Zuhur, semua jemaah kembali duduk untuk mendengarkan tausiah. Begitu juga Aisha, dia duduk bagian depan agar fokus.

Seorang ustad duduk di kursi yang disediakan. Dia memberikan tausiah yang sangat menarik. Setelah selesai, Aisha keluar dari mesjid. Dia ingin segera pulang menemani ibunya.

Saat akan mendekati motornya, Aisha mendengar seseorang memanggil namanya. Suara yang tidak asing lagi ditelinganya.

"Aisha, aku ingin bicara,"ucap Ikhbar.

Aisha tidak tahu, dari mana datangnya mantan kekasihnya itu. Detak jantungnya berpacu lebih cepat, dan dadanya terasa sesak. Tubuhnya kaku mendengar suara pria yang sangat dia rindukan. Namun, sayang, tembok pemisah begitu tinggi antara mereka berdua.

"Apa yang ingin ustad katakan? Bicaralah segera, tidak pantas jika kita berduaan begini terlalu lama. Timbul fitnah," ujar Aisha.

"Aku minta maaf atas semua yang terjadi tiga tahun lalu. Aku tidak bermaksud lari dari tanggung jawab," ucap Ikhbar.

Mendengar ucapan Ikhbar, darah Aisha terasa mendidih. Dia langsung membalikan tubuhnya menghadap ustad yang merupakan sang mantan kekasih.

"Tak bermaksud lari? Jadi apa namanya Mas, setelah kau sebarkan video itu kau lalu menghilang. Aku yang harus menanggung malu. Bukan itu saja, aku harus kehilangan ayahku. Dia sampai meninggal karena malu akan aibku itu!" ucap Aisha dengan gemetar karena manahan tangis.

Ikhbar terkejut mendengar kenyataan itu. Dia tidak tahu apa pun mengenai Aisha dan keluarganya. Sejak dimasukan ke pesantren, ibunya tidak mengizinkan dia pulang. Apa lagi akhirnya kedua orang tua pria itu ikut pindah ke kota ini.

"innalillahi wa inna ilaihi rojiun, maaf Aisha aku tidak tahu kabar itu," jawab Ikhbar dengan nada penuh rasa bersalah.

Tampak sekali keterkejutan dari raut wajah Ikhbar. Dia tidak tahu semua kabar Aisha dan seluruh teman lainnya sejak masuk pesantren. Semua akses di ambil orang tuanya.

Ikhbar tidak ada memegang ponsel lagi. Dia juga tidak pernah pulang ke rumah. Orang tuanya yang selalu menghampiri dia di pesantren.

"Tentu saja kamu tidak tahu apa pun kabar tentangku. Kamu hanya menyelamatkan dirimu sendiri. Kamu tidak tahu bagaimana aku menghadapi dunia setelah aib itu tersebar," ucap Aisha dengan terbata karena menahan tangis.

"Maaf, Aisha. Aku tidak pernah bermaksud menyakiti kamu seperti ini," jawab Ikhbar dengan lemah.

"Bermaksud atau tidak, tapi kau telah menyakiti aku. Apa kamu tahu, Mas. Jika saja bunuh diri itu tidak dosa, aku mungkin akan melakukan itu. Aku hanya tidak ingin menambah dosa yang lebih besar dengan mengakhiri hidupku. Kau sebagai pria mungkin bisa melangkah ke depan, tapi aku. Apa ada pria yang mau dengan wanita kotor seperti aku ini?" tanya Aisha dengan air mata yang mulai jatuh membasahi pipi.

"Aisha, apa yang bisa aku lakukan untuk menebus rasa bersalah itu?" tanya Ikhbar.

"Tidak ada yang bisa kamu lakukan selain jauhi aku. Anggap kita tidak pernah kenal. Aku sudah melupakan dan mengikhlaskan masa lalu itu. Semua juga salahku. Kita melakukan atas dasar suka sama suka. Apa pun yang akan kamu lakukan, tidak akan pernah dapat mengembalikan semua. Terutama ayah yang telah pergi," ucap Aisha.

Ikhbar ingin mengucapkan sesuatu tapi urung karena kedatangan seorang wanita dan bocah cilik yang berlari memanggil namanya.

"Abi ...," panggil bocah yang bernama Aqila itu. Di belakangnya ada seorang wanita yang tersenyum manis ke arah Aisha.

Aisha membalas senyumannya. Dia yang ingin pergi mengurungkan niatnya karena wanita itu mengajak mengobrol.

"Assalamualaikum, Mbak," sapa Annisa, istrinya Ikhbar.

"Waalaikumussalam," jawab Aisha dengan ramah.

Bocah cilik itu mendekati Aisha dan memegang rok nya. Aqila tersenyum, dan dibalas dengan senyuman juga sama gadis itu.

"Antik, antik," ucap Aqila. Aisha kembali tersenyum karena tidak mengerti akan ucapan bocah itu.

Sebenarnya dada Aisha sesak melihat kedua wanita yang telah mengisi hati Ikhbar itu. Pastilah hidup sang mantan sekarang sedang berbahagianya, sedangkan dia masih larut dalam penyesalan.

Terkadang Aisha berpikir, hidup tidak adil. Kenapa hanya dirinya yang menanggung rasa malu dan bersalah seorang diri. Bukankah mereka melakukan dosa yang sama.

"Tante ini cantik, ya. Aqila bilang Mbak cantik," ucap Annisa yang membuat Aisha tersadar dari lamunan.

"Terima kasih, kamu juga sangat cantik. Maaf, Mbak. Aku pamit." Aisha lalu menaiki motornya dan langsung pergi meninggalkan keduanya setelah mengucapkan salam. Dia tidak ingin menambah lukanya dengan menyaksikan kebahagiaan keluarga kecil itu.

Dengan air mata yang berderai, Aisha terus menjalankan motornya. Tidak peduli orang yang melihatnya dengan wajah keheranan dan rasa iba.

"Memaafkan orang yang sudah menyakiti hati memang sulit, tapi kalau tidak dimaafkan akan terasa sakit. Dari pada menahan rasa sakit, karena terus mengingat-ingat orang yang menyakiti hati, lebih baik berdamai dengan diri sendiri. Maafkan dan lupakan semua hal pahit yang telah terjadi. Jangan buang-buang waktumu hanya untuk memikirkan mereka yang sudah menyakitimu. Waktumu sangat berharga. Buatlah selalu bermakna. Lakukan apa yang membuat kamu bahagia. Tutup telingamu, susun rencana baru. Jangan biarkan orang lain mengambil kebahagiaan dari hidupmu. Kamulah pengendali dirimu sendiri."

Sampai di rumah, Aisha langsung masuk ke kamar. Tangisannya pecah. Ibu yang duduk di ruang keluarga, mendengar tangisan putrinya ikut merasakan kesedihan itu.

Bukannya Ibu tidak tahu, jika setiap solat malam putrinya selalu menangis. Dia tahu pasti rasa bersalah itu masih terus menghantui Aisha. Namun, dia tidak bisa memberikan semangat sedangkan ibu sendiri sejak ditinggal sang ayah juga masih merasakan luka.

"Maafkan Ibu, Nak. Bukannya ibu tidak menyayangi kamu atau tidak mengerti akan kesedihanmu. Tapi ibu juga sedang berusaha menyembuhkan luka. Kita sama-sama terluka. Ibu selalu berdoa semoga sebelum Allah mengambil nyawa ini, kau dipertemukan dengan jodoh yang mau menerima kamu apa adanya," doa ibu.

Dia melangkah masuk ke kamar putrinya. Akan mencoba menghibur. Ibu duduk di tepi ranjang. Membelai kepala sang putri. Aisha bangun dan memeluk sang bunda.

"Ibu, tolong maafkan dan ikhlaskan semua salahku, agar aku juga bisa ikhlas menghadapi semua cobaan ini. Aku mulai lelah," ucap Aisha.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Hafizah

Hafizah

banyak banget bawangnya sampai sesak Mam

2024-11-28

0

💞my heart💞

💞my heart💞

kok banyak bawang nya ya Thor 😭😭😭😭

2024-10-29

1

elly fitriyatun

elly fitriyatun

Yg kuat aisha/Sob/

2024-09-23

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!