Bab 3. Aku Pamit

Aisha keluar dari kamar dan kembali menemui ibunya. Dia berlutut dihadapan wanita itu.

"Ibu, aku mohon untuk malam ini saja aku menginap di rumah. Besok aku janji akan pergi. Aku takut keluar, sudah sangat malam," ucap Aisha dengan suara memohon.

"Terserah," ucap Ibu. Wanita itu berdiri dan masuk ke kamar. Di dalam tangisnya pecah. Dada Aisha terasa sesak mendengar tangisan sang ibu. Dia masuk ke kamar dan memukul kepalanya.

"Dasar bodoh. Kau memang anak yang tidak berguna. Bisanya hanya membuat kedua orang tau malu. Kau pembunuh," ucap Aisha pada dirinya sendiri. Dia juga memukul dadanya yang terasa nyeri, mendengar suara tangisan sang ibunda.

Di dalam kamar ibu Aisha masih menangis sambil memeluk bantal yang biasa ayah gunakan. Dia merasa sangat kehilangan suaminya.

**

Pagi menjelang, setelah melaksanakan solat subuh, Aisha keluar dari kamar dengan pakaian yang tertutup. Sangat berbeda dengan penampilan dirinya dahulu.

Aisha mengetuk pintu kamar ibunya. Beberapa kali mengetuk, tapi tidak juga dibukakan. Akhirnya dia pamit dari balik pintu saja.

"Ibu, maafkan aku. Aku tahu semua ini karena salahku. Ibu bisa menghukumku dengan apa saja. Aku terima. Termasuk mengusirku dari rumah ini. Aku akan pergi sesuai keinginan Ibu. Jaga kesehatan Ibu. Aku sangat menyayangi, Ibu. Maafkan anakmu ini, Bu. Aku akan tetap memberi kabar, walau mungkin ibu tidak menginginkan semua ini," ucap Aisha dengan suara serak menahan tangis.

Aisha menyeret kopernya menuju halaman rumah. Taksi yang dia pesan telah menunggu. Gadis itu selama ini bekerja sambil kuliah. Dia memiliki uang tabungan yang cukup. Uang itu awalnya untuk menambah biaya pernikahan kelak.

Aisha memandangi rumahnya hingga hilang dari pandangan. Air mata jatuh membasahi kedua pipinya.

"Aku hanya bisa menyesali kegagalan yang aku alami. Aku yang seharusnya bisa menjadi seseorang yang kalian banggakan, justru mengecewakan kalian. Hanya kata maaf yang bisa aku ucapkan atas kegagalanku untuk membahagiakan kalian. Beribu kata maaf yang aku ucapkan kepada kalian, tidak akan pernah bisa menghapus segala kesalahan yang pernah aku lakukan. Aku yang selama ini sibuk dengan dunia sendiri, hanya bisa menyesali apa yang telah aku lakukan selama ini. Aku lupa bahwa ada yang lebih penting dibandingkan kebahagiaan diriku sendiri yaitu kebahagiaan kalian berdua. Ayah dan Ibu, maafkan anakmu ini."

Dari balik jendela ibu mengintip kepergian putrinya. Dia memegang dadanya yang terasa nyeri.

"Maaf, Nak. Untuk saat ini, perpisahan mungkin jalan terbaik bagi kita. Semua untuk mengobati luka hati ini. Bukannya ibu tidak sayang denganmu, tapi ibu tidak bisa harus berdekatan denganmu. Setiap melihatmu, ibu teringat ayah. Doa ibu tetap menyertai setiap langkahmu. Semoga kau bertaubat dan mendapat hidayah," ucap Ibu dalam hati.

Aisha turun dari taksi dan meminta supir menunggu. Dia masuk ke pemakaman umum. Duduk di samping kuburan sang ayah.

"Ayah, walau pun kata maaf dari mulutku tidak ada artinya, tapi aku akan tetap mengucapkan itu setiap saat. Maafkan aku, ayah. Maafkan anakmu yang penuh dosa ini. Tidak ada kata yang bisa ku ucapkan selain maaf, maaf dan maaf atas semua yang aku lakukan. Aku akan pergi. Semoga nanti kembali setelah aku berubah seperti yang ayah dan ibu inginkan. Tenang di sana, Ayah," gumam Aisha pada dirinya sendiri sambil memeluk nisan sang ayah.

Aisha kembali masuk ke mobil dan meminta supir menjalankan mobilnya menuju terminal. Dari sana dia akan pergi ke luar kota. Dia akan menetap di sebuah pesantren. Dengan uang simpanan yang dia miliki, Aisha yakin bisa hidup di pesantren. Dia akan tetap bekerja dengan berjualan online. Aisha masuk ke pesantren itu. Dia diterima dengan baik.

Awal di pesantren, Aisha merasa sangat sulit beradaptasi. Namun, dia tidak akan menyerah, tekadnya telah bulat untuk berubah menjadi yang lebih baik.

"Untuk sosok yang selalu berusaha memberikan yang terbaik untukku, maaf karena belum bisa menjadi anak yang bisa kalian banggakan. Sebagai anak, aku tidak tahu ungkapan maaf apa yang harus kulontarkan. Aku juga tak tahu dari mana harus memulai pembicaraan. Semoga maaf ayah dan ibu masih tersisa untuk anakmu yang terlalu banyak kekurangan ini."

"Ibu dan Ayah, rasa sakit yang aku sebabkan padamu membuatku sangat sedih. Aku benar-benar minta maaf dan aku meminta pengampunan Ibu dan Ayah. Setiap tetes airmatamu biar jadi sesalku serta pengingat bagiku untuk berusaha memperbaiki diri sebagai sosok yang pantas kau sebut buah hati. Hatiku sakit karena aku membuat hatimu sakit, Ibu dan Ayah. Aku minta maaf!"

***

Hari-hari terus berjalan. Sudah tiga tahun lamanya Aisha tinggal di pesantren. Penampilan dan cara tutur katanya telah jauh berubah.

Selama di pesantren, dia selalu mengabarkan ibunya. Hubungan mereka telah kembali membaik. Jika lebaran, ibu yang datang berkunjung, gadis itu belum mau kembali ke desa. Walau warga sudah mulai melupakan semua kisahnya.

Sering ustad di pesantren menjodohkan Aisha dengan anak mereka, tapi gadis itu menolak dengan halus. Dia masih takut memulai berhubungan dengan pria. Aisha juga takut, saat mereka tahu tentang masa lalunya.

Ibu dan Aisha telah memutuskan pindah ke kota yang cukup jauh dari dulu mereka tinggal. Dari hasil penjualan tanah dan rumah, mereka membeli rumah yang mungil.

Di sini tidak ada yang mengenal mereka. Setelah kembali dari pesantren, Aisha rajin ke mesjid mengikuti pengajian. Bisnis online nya makin besar dan terkenal. Dengan uang itu Aisha bisa menghidupi ibunya.

"Bu, aku ingin ikut pengajian di mesjid A. Apa ibu mau ikut?" tanya Aisha.

"Kamu saja pergi, Nak," jawab ibu.

"Baiklah, Bu. Hati-hati di rumah. Lauk dan nasi telah Aisha masak. Ibu makanlah," ujar Aisha.

"Terima kasih, Nak. Ibu bahagia sekali melihat perubahan kamu saat ini. Semoga kamu istiqomah dengan penampilan saat ini," doa ibu.

Aisha saat ini telah menggunakan hijab dan pakaian tertutup. Dia juga selalu mengikuti pengajian di setiap mesjid yang dia tahu. Seperti sore ini, dengan menggunakan motor dia pergi pengajian ke kota.

Aisha memarkirkan motornya di halaman mesjid. Ibu-ibu yang mengenal Aisha karena sering ikut pengajian, tersenyum padanya.

Aisha masuk ke mesjid dan duduk di sudut paling belakang. Ibu-ibu itu mengatakan ustad yang akan memberi tausiah kali ini masih sangat muda dan tampan.

"Ustad nanti itu sangat muda dan tampan. Cocok sama Nak Aisha," ucap salah seorang ibu, membuat Aisha tersenyum.

Tidak berapa lama terdengar suara salam. Aisha merasa tidak asing dengan suara itu. Dia memandang ke arah pintu masuk. Jantungnya berdetak lebih cepat, melihat siapa yang masuk. Seorang ustad muda yang sangat dia kenal.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Meri Andani

Meri Andani

masih nyimak tapi kyaknya Keren ni

2024-06-17

1

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

masih menyimak

2024-04-20

0

erinatan

erinatan

apakah Adam Thor atau mantan kekasihnya???

2024-03-02

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!