Bab 14. Pemakaman Ibu

"Kamu yakin akan menikahi, Aisha. Pernikahan itu bukanlah sebuah permainan. Pernikahan itu, hal suci dan dilakukan dengan cara yang sakral. Ikatan suci antara seorang pria dan seorang wanita yang saling mencintai dan ingin membangun kehidupan bersama," ucap Ayah.

"Aku tahu, Yah. Aku serius menjadikan Aisha sebagai istriku. Bukan untuk main-main," jawab Ghibran.

"Jika kamu telah yakin dengan pilihanmu, baiklah. Ibu akan hubungi teman ayah kamu yang seorang penghulu itu. Ibu akan temui Aisha dulu," ujar Ibu.

Ghibran tersenyum mengetahui jika kedua orang tuanya mendukung keinginannya. Dia lalu meminta bantuan ayah memindahkan jenazah ibunya Aisha ke ruang tamu.

Ibunya Ghibran mengetuk pintu kamar yang tertutup itu. Dia yakin itulah kamar Aisha. Dua kali diketuk terdengar sahutan dari dalam.

"Assalamualaikum, Aisha. Ini ibunya Ghibran, boleh ibu masuk, Nak?" tanya Ibu.

"Waalaikumussalam, silakan masuk Bu. Pintunya tidak terkunci," jawab Aisha.

Ibu membuka pintu. Melihat Aisha yang terduduk di lantai sambil memegang kedua lututnya. Matanya sembab. Air mata membasahi pipinya.

Ibu berlutut dihadapan gadis itu. Membawa ke dalam pelukannya. Kembali tangis Aisha pecah dalam pelukan wanita itu.

"Jangan menangisi kepergian ibumu, Nak. Itu bisa memberatkan kepergiannya. Ikhlaskan, dan berdoalah semoga ibumu berada di tempat terindah," ucap Ibu.

Ibu melepaskan pelukan Aisha. Menghapus air mata di pipi gadis itu.

"Sekarang kamu ganti baju secepatnya. Penghulu sebentar lagi akan datang," ucap Ibu.

"Penghulu ...?" tanya Aisha dengan penuh keheranan.

"Benar, penghulu yang akan menikahkan kamu dan Ghibran," jawab Ibunya Ghibran.

"Aku menikah dengan Mas Ghibran? Maksud ibu apa?" tanya Aisha semakin keheranan.

"Iya. Ghibran ingin menikah denganmu di depan jenazah ibumu. Untuk itu segeralah berganti pakaian. Ibu keluar dulu. Jangan lama!" perintah ibu.

Ibunya Ghibran keluar dari kamar setelah mengucapkan Itu. Walau masih ragu dan tidak mengerti, Aisha tetap mengganti bajunya dengan gamis putih.

Ghibran telah menunggu di depan jenazah ibunya Aisha. Pak penghulu telah hadir. Sebagai saksi, dua temannya Ghibran. Mereka telah siap untuk mengucapkan ijab kabul. Tak berapa lama, Aisha keluar dari kamar dan duduk di sebelah ibunya Ghibran. Para tetangga juga di minta menjadi saksi pernikahan keduanya agar nanti tidak menjadi fitnah jika melihat pria itu menginap.

"Aisha Naziya Almahyra, apakah kamu bersedia menikah dengan Ghibran Naufal Rizal, tanpa ada paksaan?" tanya Pak penghulu sebelum memulai akad nikah.

"Saya bersedia menikah dengan Mas Ghibran tanpa ada paksaan," jawab Aisha dengan suara yang pelan karena menahan tangis.

Bukan pernikahan seperti ini yang Aisha impikan. Menikah di samping jenazah ibu. Gadis itu selalu berangan, ibunya yang akan mendampingi saat menikah dengan perasaan keadaan bahagia, bukan berduka begini. Namun, dia juga sangat bahagia karena akan menikah dengan seorang pria sebaik Ghibran.

"Baiklah, sekarang kita mulai ijab kabulnya," ucap Pak Penghulu yang merupakan teman dekat ayahnya Ghibran.

"Ghibran Naufal Rizal," panggil Pak Penghulu.

"Saya, Pak!" jawab Ghibran dengan tegas.

"Saya nikah dan kawinkan engkau dengan saudari Aisha Naziya Almahyra binti Sulaiman, dengan mas kawin uang senilai sepuluh juta rupiah di bayar tunai!" ucap Penghulu.

"Saya terima nikah dan kawinnya Aisha Naziya Almahyra binti Sulaiman dengan mas kawin tersebut, dibayar Tunaaii," ucap Ghibran dengan sekali tarikan napas.

"Bagaimana saksi? Saahh?" tanya Penghulu.

"Sahh ...," jawab kedua saksi.

"Sekarang kalian telah sah menjadi suami istri," ucap Pak Penghulu.

Penghulu meminta Aisha bergabung dan duduk di samping Ghibran. Pria itu lalu menyerahkan mas kawinnya.

Rasanya hari ini perasaan Aisha bercampur aduk. Sedih karena ibu yang telah meninggalkan dirinya, senang karena dia menikah juga.

Setelah menerima mas kawinnya. Ghibran lalu memegang ubun-ibun sang istri. ,Aisha sang istri. Pria itu membacakan doa.

"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.” Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya."

Doa setelah ijab kabul ini dianjurkan untuk dibaca oleh mempelai laki-laki sembari menyentuh ubun-ubun mempelai perempuan dengan telapak tangan kanan.

Setelah semua rangkaian acara akad nikah selesai, kembali Ghibran mengurus jenazah ibunya Aisha. Kini saatnya jenazah dimandikan.

Aisha yang ikut memandikan jenazah ibunya, kembali mengeluarkan air mata saat menyirami dan membasuh tubuh wanita yang telah melahirkan dirinya.

"Ibu, hari ini untuk pertama kali dan terakhir, aku akan memandikan ibu. Dulu saat aku kecil, ibu yang memandikan aku. Sekarang giliran aku. Tenang di sana ibu. Sekarang pasti ayah dan ibu telah berkumpul di surga. Nantikan aku, Ayah, Ibu."

Setelah dimandikan dan dikafani, jenazah ibu disolatkan. Yang menjadi imamnya Ghibran. Semua rangkaian pemakaman ibu selesai. Sekarang saatnya di bawa ke kuburan.

Aisha berdiri di samping liang kubur ibunya, tangisan yang tak dapat dia bendung mengalir deras. Dia merasa kehilangan yang amat dalam dan merasa tak bisa hidup tanpa ibunya.

Namun, Aisha menarik nafas dalam-dalam, dia harus mengikhlaskan kepergian ibunya. Dia mengetahui bahwa ibunya sedang duduk bahagia di sisi Allah SWT, dan tidak ada lagi penderitaan dan kesakitan baginya.

Aisha mengangkat tangan ke langit, "Ya Allah, terima kasih atas segala karunia yang telah Engkau berikan kepada ibuku di dunia ini. Semoga Engkau memberikan kebahagiaan dan kedamaian di surgaMu," doa Aisha dalam hatinya.

Serangkaian doa dilantunkan oleh para hadirin yang hadir membantu Aisha menyambut pemakaman ibunya. Semua orang yang hadir saling memeluk Aisha dan mengucapkan simpati mereka.

"Ibu, aku sudah melepasmu dengan ribuan tetesan air mataku. Aku merelakanmu dengan hati yang ikhlas. Tidak ada rasa yang lebih sakit dari kehilangan seorang ibu. Pada bunga yang kutabur, ada rindu yang terkubur. Pada air yang kusiram, ada memori usang yang terekam. Pada ibu yang telah tiada terlebih dahulu, bisakah kau hadir menenangkan riuh rindu pada buih masa lalu? Datanglah nanti sekejab dalam tidur dimimpiku. Tiada cinta setulus cintamu, Ibu. Tiada pelukan sehangat pelukanmu, Ibu. Aku titipkan doa pada Allah, bahwa aku merindukanmu. Sekarang hanya sepucuk doa yang aku punya. Semoga kau tenang di alam sana. Sampai jumpa di surga, Ibu."

Aisha kembali ke rumah bersama Ghibran. Kedua orang tua suaminya pamit dan meminta maaf karena tidak bisa hadir di takziah nanti malam.

Di tempat lain, Ikhbar dan Aisha baru saja mendapat kabar jika ibunya Aisha meninggal. Keduanya terkejut mendengar berita itu. Mereka berencana akan datang ke rumah duka.

"Mas, apa kepergian ibunya Aisha ada kaitan dengan kedatangan kita ke rumah itu?" tanya Annisa setelah mendapat kabar duka itu.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Iinbundanyagilangjihan Iinbundanyagilangjihan

Iinbundanyagilangjihan Iinbundanyagilangjihan

😭😭😭😭😭😭

2024-05-13

2

Siti Sholikhah

Siti Sholikhah

😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭

2024-04-23

1

❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳

❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳

puisi yang indah menyentuh hati. bikin menangis 😭😭😭😭😭😍😍😍😍

2024-04-22

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!