"Kamu yakin akan menikahi, Aisha. Pernikahan itu bukanlah sebuah permainan. Pernikahan itu, hal suci dan dilakukan dengan cara yang sakral. Ikatan suci antara seorang pria dan seorang wanita yang saling mencintai dan ingin membangun kehidupan bersama," ucap Ayah.
"Aku tahu, Yah. Aku serius menjadikan Aisha sebagai istriku. Bukan untuk main-main," jawab Ghibran.
"Jika kamu telah yakin dengan pilihanmu, baiklah. Ibu akan hubungi teman ayah kamu yang seorang penghulu itu. Ibu akan temui Aisha dulu," ujar Ibu.
Ghibran tersenyum mengetahui jika kedua orang tuanya mendukung keinginannya. Dia lalu meminta bantuan ayah memindahkan jenazah ibunya Aisha ke ruang tamu.
Ibunya Ghibran mengetuk pintu kamar yang tertutup itu. Dia yakin itulah kamar Aisha. Dua kali diketuk terdengar sahutan dari dalam.
"Assalamualaikum, Aisha. Ini ibunya Ghibran, boleh ibu masuk, Nak?" tanya Ibu.
"Waalaikumussalam, silakan masuk Bu. Pintunya tidak terkunci," jawab Aisha.
Ibu membuka pintu. Melihat Aisha yang terduduk di lantai sambil memegang kedua lututnya. Matanya sembab. Air mata membasahi pipinya.
Ibu berlutut dihadapan gadis itu. Membawa ke dalam pelukannya. Kembali tangis Aisha pecah dalam pelukan wanita itu.
"Jangan menangisi kepergian ibumu, Nak. Itu bisa memberatkan kepergiannya. Ikhlaskan, dan berdoalah semoga ibumu berada di tempat terindah," ucap Ibu.
Ibu melepaskan pelukan Aisha. Menghapus air mata di pipi gadis itu.
"Sekarang kamu ganti baju secepatnya. Penghulu sebentar lagi akan datang," ucap Ibu.
"Penghulu ...?" tanya Aisha dengan penuh keheranan.
"Benar, penghulu yang akan menikahkan kamu dan Ghibran," jawab Ibunya Ghibran.
"Aku menikah dengan Mas Ghibran? Maksud ibu apa?" tanya Aisha semakin keheranan.
"Iya. Ghibran ingin menikah denganmu di depan jenazah ibumu. Untuk itu segeralah berganti pakaian. Ibu keluar dulu. Jangan lama!" perintah ibu.
Ibunya Ghibran keluar dari kamar setelah mengucapkan Itu. Walau masih ragu dan tidak mengerti, Aisha tetap mengganti bajunya dengan gamis putih.
Ghibran telah menunggu di depan jenazah ibunya Aisha. Pak penghulu telah hadir. Sebagai saksi, dua temannya Ghibran. Mereka telah siap untuk mengucapkan ijab kabul. Tak berapa lama, Aisha keluar dari kamar dan duduk di sebelah ibunya Ghibran. Para tetangga juga di minta menjadi saksi pernikahan keduanya agar nanti tidak menjadi fitnah jika melihat pria itu menginap.
"Aisha Naziya Almahyra, apakah kamu bersedia menikah dengan Ghibran Naufal Rizal, tanpa ada paksaan?" tanya Pak penghulu sebelum memulai akad nikah.
"Saya bersedia menikah dengan Mas Ghibran tanpa ada paksaan," jawab Aisha dengan suara yang pelan karena menahan tangis.
Bukan pernikahan seperti ini yang Aisha impikan. Menikah di samping jenazah ibu. Gadis itu selalu berangan, ibunya yang akan mendampingi saat menikah dengan perasaan keadaan bahagia, bukan berduka begini. Namun, dia juga sangat bahagia karena akan menikah dengan seorang pria sebaik Ghibran.
"Baiklah, sekarang kita mulai ijab kabulnya," ucap Pak Penghulu yang merupakan teman dekat ayahnya Ghibran.
"Ghibran Naufal Rizal," panggil Pak Penghulu.
"Saya, Pak!" jawab Ghibran dengan tegas.
"Saya nikah dan kawinkan engkau dengan saudari Aisha Naziya Almahyra binti Sulaiman, dengan mas kawin uang senilai sepuluh juta rupiah di bayar tunai!" ucap Penghulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Aisha Naziya Almahyra binti Sulaiman dengan mas kawin tersebut, dibayar Tunaaii," ucap Ghibran dengan sekali tarikan napas.
"Bagaimana saksi? Saahh?" tanya Penghulu.
"Sahh ...," jawab kedua saksi.
"Sekarang kalian telah sah menjadi suami istri," ucap Pak Penghulu.
Penghulu meminta Aisha bergabung dan duduk di samping Ghibran. Pria itu lalu menyerahkan mas kawinnya.
Rasanya hari ini perasaan Aisha bercampur aduk. Sedih karena ibu yang telah meninggalkan dirinya, senang karena dia menikah juga.
Setelah menerima mas kawinnya. Ghibran lalu memegang ubun-ibun sang istri. ,Aisha sang istri. Pria itu membacakan doa.
"Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.” Artinya: Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya."
Doa setelah ijab kabul ini dianjurkan untuk dibaca oleh mempelai laki-laki sembari menyentuh ubun-ubun mempelai perempuan dengan telapak tangan kanan.
Setelah semua rangkaian acara akad nikah selesai, kembali Ghibran mengurus jenazah ibunya Aisha. Kini saatnya jenazah dimandikan.
Aisha yang ikut memandikan jenazah ibunya, kembali mengeluarkan air mata saat menyirami dan membasuh tubuh wanita yang telah melahirkan dirinya.
"Ibu, hari ini untuk pertama kali dan terakhir, aku akan memandikan ibu. Dulu saat aku kecil, ibu yang memandikan aku. Sekarang giliran aku. Tenang di sana ibu. Sekarang pasti ayah dan ibu telah berkumpul di surga. Nantikan aku, Ayah, Ibu."
Setelah dimandikan dan dikafani, jenazah ibu disolatkan. Yang menjadi imamnya Ghibran. Semua rangkaian pemakaman ibu selesai. Sekarang saatnya di bawa ke kuburan.
Aisha berdiri di samping liang kubur ibunya, tangisan yang tak dapat dia bendung mengalir deras. Dia merasa kehilangan yang amat dalam dan merasa tak bisa hidup tanpa ibunya.
Namun, Aisha menarik nafas dalam-dalam, dia harus mengikhlaskan kepergian ibunya. Dia mengetahui bahwa ibunya sedang duduk bahagia di sisi Allah SWT, dan tidak ada lagi penderitaan dan kesakitan baginya.
Aisha mengangkat tangan ke langit, "Ya Allah, terima kasih atas segala karunia yang telah Engkau berikan kepada ibuku di dunia ini. Semoga Engkau memberikan kebahagiaan dan kedamaian di surgaMu," doa Aisha dalam hatinya.
Serangkaian doa dilantunkan oleh para hadirin yang hadir membantu Aisha menyambut pemakaman ibunya. Semua orang yang hadir saling memeluk Aisha dan mengucapkan simpati mereka.
"Ibu, aku sudah melepasmu dengan ribuan tetesan air mataku. Aku merelakanmu dengan hati yang ikhlas. Tidak ada rasa yang lebih sakit dari kehilangan seorang ibu. Pada bunga yang kutabur, ada rindu yang terkubur. Pada air yang kusiram, ada memori usang yang terekam. Pada ibu yang telah tiada terlebih dahulu, bisakah kau hadir menenangkan riuh rindu pada buih masa lalu? Datanglah nanti sekejab dalam tidur dimimpiku. Tiada cinta setulus cintamu, Ibu. Tiada pelukan sehangat pelukanmu, Ibu. Aku titipkan doa pada Allah, bahwa aku merindukanmu. Sekarang hanya sepucuk doa yang aku punya. Semoga kau tenang di alam sana. Sampai jumpa di surga, Ibu."
Aisha kembali ke rumah bersama Ghibran. Kedua orang tua suaminya pamit dan meminta maaf karena tidak bisa hadir di takziah nanti malam.
Di tempat lain, Ikhbar dan Aisha baru saja mendapat kabar jika ibunya Aisha meninggal. Keduanya terkejut mendengar berita itu. Mereka berencana akan datang ke rumah duka.
"Mas, apa kepergian ibunya Aisha ada kaitan dengan kedatangan kita ke rumah itu?" tanya Annisa setelah mendapat kabar duka itu.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Iinbundanyagilangjihan Iinbundanyagilangjihan
😭😭😭😭😭😭
2024-05-13
2
Siti Sholikhah
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
2024-04-23
1
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
puisi yang indah menyentuh hati. bikin menangis 😭😭😭😭😭😍😍😍😍
2024-04-22
1