Baru beberapa jam tertidur, Aisha terbangun. Dia memang telah biasa bangun tengah malam untuk melaksanakan solat. Gadis itu berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudu.
Melaksanakan solat malam dan setelah itu dia menengadahkan tangan memohon doa pada sang Pencipta. Dengan derai air mata Aisha berdoa.
"Tuhan, terima kasih karena sudah pernah menitipkan rasa yang begitu luar biasa pada saya untuk seseorang. Setidaknya saya pernah menemukan sosok yang membuat saya mencintainya dengan rasa yang begitu dalam. Dia, laki-laki yang mengajarkan saya titik tertinggi mencintai yaitu dengan mengikhlaskan. Dia membuat saya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Dia laki-laki yang saya cintai dengan tiba-tiba dan mengikhlaskan secara terpaksa," ucap Aisha. Dia menghapus air matanya yang jatuh membasahi pipi.
"Ketika saya berusaha untuk terbiasa tanpanya, rasanya saya hampir gila karena melawan rindu. Saya pernah sabar karena menahan diri untuk tidak mencarinya, bahkan saya menangis terisak saat mengingatnya. Lantas jika takdir saat ini kami tidak bisa lagi bersatu, maka tolong bantu saya dengan rasa ikhlas. Sebab melepaskannya adalah keterpaksaan yang benar-benar nyaris membuat saya membenci takdir saya sendiri. Tuhan, bantu saya agar tetap berjalan dalam kebenaran."
Aisha kembali mencoba membaringkan tubuhnya setelah melaksanakan solat subuh. Kembali bayangan Ikhbar menggendong seorang anak kecil terlintas dikepalanya. Namun, Aisha tidak sempat memandangi wajah istrinya.
Dada Aisha kembali terasa sesak. Begitu mudahnya Ikhbar melupakan dirinya. Tiga tahun tidak bertemu, dia telah memiliki seorang anak. Pria itu telah bahagia dengan pilihannya, sedangkan dirinya masih terus dibayangin masa lalu. Mau melangkah ke hubungan yang serius, dia takut. Apakah pria itu akan menerima segala kekurangannya.
Rasulullah SAW pernah berpesan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi agar tidak mencintai sesuatu secara berlebihan. Adapun bunyi hadits tentang mencintai seseorang sebagai berikut,"Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.” [HR. At-Tirmidzi no.1997 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 178]
Jangan mencintai sesuatu melebihi batas. Segala sesuatu yang kita cinta melebihi batas, disitulah kita akan diuji oleh Allah SWT. Berlebih-lebihan mencintai anak kita, disitu bakal diuji oleh Allah SWT.
Konsekuensi mencintai sesuatu adalah menaatinya. Artinya, ketika kamu mencintai kekasihmu dengan porsi yang berlebihan, maka kamu telah menjadi budaknya. Itu yang pernah Aisha lakukan, hingga dia rela memberikan kehormatannya.
**
Di tempat lain, Ikhbar juga masih terus terbayang dengan Aisha. Jika saja kemarin bukan di mesjid, dia pasti akan langsung menemui dan bicara dengan gadis itu.
"Aisha tampaknya banyak berubah. Dia lebih tertutup. Dan itu membuat dia makin cantik," ucap Ikhbar dalam hatinya.
Perubahan sikap Ikhbar dari kemarin dirasakan Annisa. Dia lalu mendekati suaminya yang melamun di teras. Anak mereka Aqila masih tertidur. Wanita itu memilih duduk di samping suaminya.
"Apa yang Abi pikirkan? Dari kemarin Umi lihat Abi lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya. Aqila mengajak main pun, Abi tak peduli," ucap Annisa.
Ikhbar yang sedang melamun cukup terkejut mendengar ucapan dan pertanyaan sang istri. Dia lalu membalas dengan senyuman.
Annisa sang istri wanita yang baik. Ikhbar tidak ingin menyakiti hatinya, walau jujur perasaan cintanya lebih kuat ke Aisha. Mereka terpisah hanya karena terpaksa.
Saat itu, ponsel Ikhbar di pinjam temannya. Tanpa dia tahu, sang teman melihat semua isi galeri miliknya. Mendapati video dia dan Aisha, teman tersebut mengirim ke ponsel miliknya.
Pertengkaran yang terjadi karena salah paham, membuat sang teman menyebarkan video mereka. Teman Ikhbar juga mengirim ke orang tuanya. Melihat video itu, dia langsung di masukan ke pesantren.
Setelah Ikhbar tahu tentang menyebarnya video itu, bermaksud menemui Aisha. Namun, ibunya melarang. Begitu juga ayahnya.
Di pesantren dia bertemu Annisa. Dari awal Ikhbar tahu jika gadis itu menyukainya, tapi dia tak menanggapi karena hatinya masih milik Aisha.
Satu tahun di pesantren banyak perubahan yang terjadi pada Ikhbar. Dia yang memang telah hafal Alquran, hanya memperdalam saja dalam mempelajarinya. Dia selalu menjadi perhatian para ustad, hingga di bimbing khusus.
Setelah satu tahun lebih di pesantren, tiba-tiba sang ibu datang dan mengatakan jika Abinya Annisa datang untuk melamar dia menjadi suami anaknya.
Ibunya Ikhbar mengatakan jika tidak ada penolakan. Jika dia tidak mau menikah, ibu akan pergi selamanya. Akhirnya Ikhbar menerima pinangan itu.
Pernikahan yang telah berjalan dua tahun, telah dikaruniai seorang putri mungil. Apakah dia telah melupakan Aisha. Jawabnya tidak. Tapi setelah memdalami agama, dia tahu jika ridho Allah terletak pada ridho kedua orang tua. Jadi dia menerima Annisa saat itu karena tidak ingin menyakiti orang tau, bukan karena telah melupakan kisah cintanya.
Ikhbar menjadi penceramah baru satu tahun, setelah dia mempelajari banyak tentang agama. Dia ingin bertaubat atas dosa yang pernah dia perbuat bersama Aisha.
Satu orang pun dari keluarga Annisa tidak mengetahui masa lalu pria itu, kecuali Annisa. Saat mereka mau menikah, Ikhbar jujur pada wanita itu tentang dosa-dosanya yang selalu berzina dengan sang kekasih.
Ikhbar ingin Annisa mempertimbangkan semuanya. Jangan menyesal setelah mereka berumah tangga. Di luar dugaan, wanita itu menerima semua masa lalunya yang gelap. Rasa syukur tak henti dia ucapkan.
Saat melihat Aisha kemarin, perasaan yang pernah terkubur itu kembali dia rasakan. Ternyata perpisahan mereka tidak dapat menghilangkan semua rasa itu.
"Tidak ada yang aku pikirkan, kenapa kamu bertanya begitu?" Ikhbar balik bertanya.
"Aku lihat sejak kemarin Abi sering melamun. Jika ada masalah, Abi bisa bicarakan, jangan ditutupi saja," ucap Annisa.
"Saat ini aku belum ada masalah, dan semoga tidak pernah ada masalah apa pun," jawab Ikhbar.
"Syukurlah jika tidak ada masalah. Sebaiknya Abi sarapan sebelum ke pesantren," ajak Annisa.
"Ayo, kita sarapan," balas Ikhbar.
Ikhbar berdiri dan mengajak istrinya masuk. Saat ini pria itu bekerja sebagai salah satu tenaga pengajar di pesantren.
"Maafkan aku, Annisa. Bukannya aku ingin membohongi kamu, tapi belum saatnya kamu mengetahui jika aku telah bertemu Aisha lagi. Aku pikir kepindahan ke kota ini, akan dapat melupakan semua masa lalu itu, ternyata aku salah. Dia tetap membayangi kemanapun aku pergi. Aku tidak ingin kamu cemburu, karena aku tahu rasa cemburumu begitu besarnya," ucap Ikhbar dalam hatinya.
...----------------...
Bonus Visual
Aisha
Ikhbar
Ghibran
Annisa
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Oktaviadwiptri
Spek ustadz tapi kelakuannya gak lebih kyk org munafik, udh tobat sih tapi blm ada kata maaf ke Aisha yah percuma dong tobatnya ckck!! Tobat yg gak diterima wkwkw, minimal klo gak mau tanggung jawab yah minta maaf tulul, au ahhhhhh🗿🗿🗿 kesel bgt gwehhhhh!!!!!
2024-11-23
1
luiya tuzahra
eet daah neng syfa sma refal hadi aja daah.
2025-01-03
0
Oktaviadwiptri
Ini lah klo ilmu agama disalah tafsir kan wkwkwk, tolol bgt lu
2024-11-23
0