Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri

Baru beberapa jam tertidur, Aisha terbangun. Dia memang telah biasa bangun tengah malam untuk melaksanakan solat. Gadis itu berjalan menuju ke kamar mandi untuk mengambil wudu.

Melaksanakan solat malam dan setelah itu dia menengadahkan tangan memohon doa pada sang Pencipta. Dengan derai air mata Aisha berdoa.

"Tuhan, terima kasih karena sudah pernah menitipkan rasa yang begitu luar biasa pada saya untuk seseorang. Setidaknya saya pernah menemukan sosok yang membuat saya mencintainya dengan rasa yang begitu dalam. Dia, laki-laki yang mengajarkan saya titik tertinggi mencintai yaitu dengan mengikhlaskan. Dia membuat saya jatuh cinta sejatuh-jatuhnya. Dia laki-laki yang saya cintai dengan tiba-tiba dan mengikhlaskan secara terpaksa," ucap Aisha. Dia menghapus air matanya yang jatuh membasahi pipi.

"Ketika saya berusaha untuk terbiasa tanpanya, rasanya saya hampir gila karena melawan rindu. Saya pernah sabar karena menahan diri untuk tidak mencarinya, bahkan saya menangis terisak saat mengingatnya. Lantas jika takdir saat ini kami tidak bisa lagi bersatu, maka tolong bantu saya dengan rasa ikhlas. Sebab melepaskannya adalah keterpaksaan yang benar-benar nyaris membuat saya membenci takdir saya sendiri. Tuhan, bantu saya agar tetap berjalan dalam kebenaran."

Aisha kembali mencoba membaringkan tubuhnya setelah melaksanakan solat subuh. Kembali bayangan Ikhbar menggendong seorang anak kecil terlintas dikepalanya. Namun, Aisha tidak sempat memandangi wajah istrinya.

Dada Aisha kembali terasa sesak. Begitu mudahnya Ikhbar melupakan dirinya. Tiga tahun tidak bertemu, dia telah memiliki seorang anak. Pria itu telah bahagia dengan pilihannya, sedangkan dirinya masih terus dibayangin masa lalu. Mau melangkah ke hubungan yang serius, dia takut. Apakah pria itu akan menerima segala kekurangannya.

Rasulullah SAW pernah berpesan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi agar tidak mencintai sesuatu secara berlebihan. Adapun bunyi hadits tentang mencintai seseorang sebagai berikut,"Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya. Bisa jadi orang yang sekarang kamu cintai suatu hari nanti harus kamu benci. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya, bisa jadi di satu hari nanti dia menjadi orang yang harus kamu cintai.” [HR. At-Tirmidzi no.1997 dan dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 178]

Jangan mencintai sesuatu melebihi batas. Segala sesuatu yang kita cinta melebihi batas, disitulah kita akan diuji oleh Allah SWT. Berlebih-lebihan mencintai anak kita, disitu bakal diuji oleh Allah SWT.

Konsekuensi mencintai sesuatu adalah menaatinya. Artinya, ketika kamu mencintai kekasihmu dengan porsi yang berlebihan, maka kamu telah menjadi budaknya. Itu yang pernah Aisha lakukan, hingga dia rela memberikan kehormatannya.

**

Di tempat lain, Ikhbar juga masih terus terbayang dengan Aisha. Jika saja kemarin bukan di mesjid, dia pasti akan langsung menemui dan bicara dengan gadis itu.

"Aisha tampaknya banyak berubah. Dia lebih tertutup. Dan itu membuat dia makin cantik," ucap Ikhbar dalam hatinya.

Perubahan sikap Ikhbar dari kemarin dirasakan Annisa. Dia lalu mendekati suaminya yang melamun di teras. Anak mereka Aqila masih tertidur. Wanita itu memilih duduk di samping suaminya.

"Apa yang Abi pikirkan? Dari kemarin Umi lihat Abi lebih banyak diam. Tidak seperti biasanya. Aqila mengajak main pun, Abi tak peduli," ucap Annisa.

Ikhbar yang sedang melamun cukup terkejut mendengar ucapan dan pertanyaan sang istri. Dia lalu membalas dengan senyuman.

Annisa sang istri wanita yang baik. Ikhbar tidak ingin menyakiti hatinya, walau jujur perasaan cintanya lebih kuat ke Aisha. Mereka terpisah hanya karena terpaksa.

Saat itu, ponsel Ikhbar di pinjam temannya. Tanpa dia tahu, sang teman melihat semua isi galeri miliknya. Mendapati video dia dan Aisha, teman tersebut mengirim ke ponsel miliknya.

Pertengkaran yang terjadi karena salah paham, membuat sang teman menyebarkan video mereka. Teman Ikhbar juga mengirim ke orang tuanya. Melihat video itu, dia langsung di masukan ke pesantren.

Setelah Ikhbar tahu tentang menyebarnya video itu, bermaksud menemui Aisha. Namun, ibunya melarang. Begitu juga ayahnya.

Di pesantren dia bertemu Annisa. Dari awal Ikhbar tahu jika gadis itu menyukainya, tapi dia tak menanggapi karena hatinya masih milik Aisha.

Satu tahun di pesantren banyak perubahan yang terjadi pada Ikhbar. Dia yang memang telah hafal Alquran, hanya memperdalam saja dalam mempelajarinya. Dia selalu menjadi perhatian para ustad, hingga di bimbing khusus.

Setelah satu tahun lebih di pesantren, tiba-tiba sang ibu datang dan mengatakan jika Abinya Annisa datang untuk melamar dia menjadi suami anaknya.

Ibunya Ikhbar mengatakan jika tidak ada penolakan. Jika dia tidak mau menikah, ibu akan pergi selamanya. Akhirnya Ikhbar menerima pinangan itu.

Pernikahan yang telah berjalan dua tahun, telah dikaruniai seorang putri mungil. Apakah dia telah melupakan Aisha. Jawabnya tidak. Tapi setelah memdalami agama, dia tahu jika ridho Allah terletak pada ridho kedua orang tua. Jadi dia menerima Annisa saat itu karena tidak ingin menyakiti orang tau, bukan karena telah melupakan kisah cintanya.

Ikhbar menjadi penceramah baru satu tahun, setelah dia mempelajari banyak tentang agama. Dia ingin bertaubat atas dosa yang pernah dia perbuat bersama Aisha.

Satu orang pun dari keluarga Annisa tidak mengetahui masa lalu pria itu, kecuali Annisa. Saat mereka mau menikah, Ikhbar jujur pada wanita itu tentang dosa-dosanya yang selalu berzina dengan sang kekasih.

Ikhbar ingin Annisa mempertimbangkan semuanya. Jangan menyesal setelah mereka berumah tangga. Di luar dugaan, wanita itu menerima semua masa lalunya yang gelap. Rasa syukur tak henti dia ucapkan.

Saat melihat Aisha kemarin, perasaan yang pernah terkubur itu kembali dia rasakan. Ternyata perpisahan mereka tidak dapat menghilangkan semua rasa itu.

"Tidak ada yang aku pikirkan, kenapa kamu bertanya begitu?" Ikhbar balik bertanya.

"Aku lihat sejak kemarin Abi sering melamun. Jika ada masalah, Abi bisa bicarakan, jangan ditutupi saja," ucap Annisa.

"Saat ini aku belum ada masalah, dan semoga tidak pernah ada masalah apa pun," jawab Ikhbar.

"Syukurlah jika tidak ada masalah. Sebaiknya Abi sarapan sebelum ke pesantren," ajak Annisa.

"Ayo, kita sarapan," balas Ikhbar.

Ikhbar berdiri dan mengajak istrinya masuk. Saat ini pria itu bekerja sebagai salah satu tenaga pengajar di pesantren.

"Maafkan aku, Annisa. Bukannya aku ingin membohongi kamu, tapi belum saatnya kamu mengetahui jika aku telah bertemu Aisha lagi. Aku pikir kepindahan ke kota ini, akan dapat melupakan semua masa lalu itu, ternyata aku salah. Dia tetap membayangi kemanapun aku pergi. Aku tidak ingin kamu cemburu, karena aku tahu rasa cemburumu begitu besarnya," ucap Ikhbar dalam hatinya.

...----------------...

Bonus Visual

Aisha

Ikhbar

Ghibran

Annisa

Terpopuler

Comments

Oktaviadwiptri

Oktaviadwiptri

Spek ustadz tapi kelakuannya gak lebih kyk org munafik, udh tobat sih tapi blm ada kata maaf ke Aisha yah percuma dong tobatnya ckck!! Tobat yg gak diterima wkwkw, minimal klo gak mau tanggung jawab yah minta maaf tulul, au ahhhhhh🗿🗿🗿 kesel bgt gwehhhhh!!!!!

2024-11-23

1

luiya tuzahra

luiya tuzahra

eet daah neng syfa sma refal hadi aja daah.

2025-01-03

0

Oktaviadwiptri

Oktaviadwiptri

Ini lah klo ilmu agama disalah tafsir kan wkwkwk, tolol bgt lu

2024-11-23

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!