Jangan pernah membenci masa lalu. Kamu sekarang adalah bentukan dari kisah masa lalu. Apa pun yang terjadi, dia pernah jadi alasan kamu bahagia. Meski sekarang bukan kamu bahagianya. Bukan pula dia yang membuatmu bahagia. Mari saling memaafkan, dan melupakan. Berbahagialah dengan cara masing-masing.
Aisha bangun dan menyiapkan sarapan untuk ibunya. Setelah semua selesai dia mengetuk pintu kamar sang ibu. Wanita yang telah melahirkan dirinya itu meminta dia masuk.
Gadis itu membuka pintu perlahan dan masuk. Dia melihat ibu duduk dekat jendela, matanya memandangi jalanan. Aisha memeluk pundak ibunya.
"Ibu, sarapan sudah aku siapkan. Ibu mau aku ambilkan?" tanya Aisha dengan lembut.
Dulu saat ayahnya masih ada, Aisha jarang di rumah. Waktunya habis di luar rumah, kuliah dan bermain dengan Ikhbar. Sekarang dia ingin menebus waktu yang terbuang, dengan lebih banyak bersama ibunya.
"Ibu, tidak lapar. Nanti saja sarapannya," jawab ibu dengan suara lirih.
Aisha melihat dipangkuan sang ibu ada sarung yang biasa ayah gunakan untuk solat. Itu sarung pembelian Aisha. Tanpa bisa di tahan air matanya jatuh membasahi pipi. Hanya membelikan sarung, ayah saat itu sudah sangat bahagia.
"Ibu kangen ayah?" tanya Aisha dengan air mata yang telah berlinang.
"Kangen banget. Kenapa ayah kamu lama sekali datang untuk menjemput ibu," jawab Ibu dengan terbata karena menahan tangis.
Mendengar ucapan ibunya, tubuh Aisha langsung lemah dan luruh ke lantai. Teringat kepergian ayahnya.
"Ibu, aku mohon! Jangan ucapkan itu lagi. Jika ibu pergi menyusul ayah, aku dengan siapa? Aku tidak memiliki siapa-siapa. Jangan buat aku merasa makin bersalah, Bu," ucap Aisha.
Ibu hanya diam, tak ada jawaban keluar dari bibirnya. Aisha berlutut dihadapan sang ibu. Menggenggam kedua tangan wanita yang telah melahirkan dirinya.
"Ibu, Ibu boleh melakukan apa saja padaku jika masih tersimpan marah dan benci atas perbuatanku dulu. Tapi aku mohon, jangan pernah berkata jika Ibu ingin meninggalkan aku. Selama ini sudah cukup besar rasa penyesalanku, jangan tambah dengan keinginan Ibu ini. Jika aku boleh meminta pada Allah, biarlah nyawaku yang diambil terlebih dahulu," ujar Aisha dengan air mata.
"Maafkan, Ibu. Bukan maksud ibu mengungkit kejadian lalu. Ibu hanya rindu ayah," jawab Ibu.
Aisha memeluk ibunya. Tangisnya kembali pecah. Rasa bersalah karena kepergian ayahnya itu masih dia rasakan hingga saat ini. Dadanya terasa nyeri dan sesak jika mengingat hari itu, ditambah lagi peristiwa kemarin. Orang yang dia harap bisa tempat berbagi ternyata menambah lukanya.
Setelah cukup lama menangis dalam pelukan ibunya, Aisha keluar dari kamar wanita yang telah melahirkan dirinya itu. Gadis itu masuk ke kamar. Dia memukul dadanya yang terasa sesak karena menahan sebak.
"Sebenarnya aku telah capek banget. Banyak beban pikiran yang aku pendam sendirian. Banyak keluh kesah yang sulit ku ceritakan. Jujur ... saat ini aku sangat terjatuh dan ingin sekali menyerah. Aku nggak bisa terus pura-pura kuat, padahal hatiku sangatlah hancur. Aku sudah nggak sanggup terus pura-pura tersenyum, padahal batinku selalu menjerit. Aku sudah capek banget harus pura-pura tertawa hanya untuk menyembunyikan air mataku. Aku juga ingin bahagia."
Setelah menghapus air matanya dan mengganti pakaian, Aisha pamit pada ibunya. Dia ingin mengembalikan motor milik Ghibran.
"Bu, aku mau ke pengajian. Lauk telah aku masak buat makan siang. Sarapan juga telah aku siapkan. Jika Ibu ingin sesuatu, bisa hubungi aku. Aku pergi hingga jam dua. Setelah itu kembali," pamit Aisha dengan lembut.
Tadi dia ingin menemani ibunya di rumah dan mengembalikan motor siang sehabis zuhur. Namun, setelah situasi tadi dia memilih keluar rumah. Dia tidak ingin larut dalam kesedihan jika terus berada di rumah bersama ibunya. Bukannya Aisha tidak terima dengan ucapan ibunya, tapi rasa bersalahnya makin terasa saat mendengar perkataan dan keinginan ibunya tadi.
Dengan kecepatan sedang, Aisha menjalankan laju motornya. Sekitar lima belas menit perjalanan dia sampai di mesjid. Sayup-sayup dia mendengar suara anak-anak mengaji.
Aisha melangkah pelan memasuki mesjid. Dia melihat Ghibran yang sedang mengajarkan anak-anak itu mengaji. Melihat kehadiran Aisha, pria itu memberikan senyuman. Anak-anak lalu dengan serempak ikut memandangi gadis itu. Membuat dia malu dan menundukan wajah.
"Itu istrinya ustad?" tanya salah seorang bocah itu.
"Bukan," jawab Ghibran dengan suara lembut.
"Tapi kakak itu cantik, cocok dengan ustad," ucap anak yang lainnya.
Aisha tersenyum membalas ucapan anak-anak itu yang rata-rata memuji kecantikan wajahnya. Ghibran lalu menghentikan kegiatan mengaji dan mempersilakan mereka pulang. Ada sekitar enam orang.
"Maaf Mas, aku jadi mengganggu," ucap Aisha merasa bersalah.
"Tidak, kami sebenarnya telah selesai. Tadi itu hanya mengulang bagi yang belum paham," jawab Ghibran.
"Motor Mas ada di luar." Aisha lalu berjalan keluar dari mesjid. Tidak ingin ada yang salah paham melihat mereka berdua di dalam mesjid.
Ghibran dan Aisha duduk di halaman mesjid. Di sana terdapat banyak bangku.
"Ini kunci motor kamu. Ban nya sudah aku tambal," ujar Ghibran dengan menyodorkan kunci motor.
"Terima kasih, Mas. Berapa biayanya, Mas?" tanya Aisha.
"Tak usah bayar."
"Sudah Mas yang membawa ke bengkel, Mas pula yang bayar." Aisha merasa tidak enak hati.
"Tak apa Aisha. Aku ikhlas. Setelah dari sini kamu mau kemana?" tanya Ghibran.
"Ke Mesjid D, Mas. Ada pengajian di sana. Aku mau dengar tausiahnya," jawab Aisha.
"Sayang sekali hari ini aku ada keperluan. Apa lain kali kita bisa pergi ke pengajian bersama?" tanya Ghibran.
Sebenarnya Ghibran telah beberapa kali melihat dan memperhatikan Aisha. Sepertinya dia tertarik dengan gadis itu dari awal melihatnya. Dia telah mencari tahu di mana rumah Aisha.
"Tentu saja boleh, Mas," jawab Aisha.
"Aku boleh meminta nomor ponselmu. Nanti kita bisa saling memberi kabar di mana ada pengajian," ucap Ghibran.
"Boleh, Mas." Aisha lalu menyebutkan deretan angka nomor ponselnya.
Setelah itu Aisha pamit karena akan mengikuti pengajian di salah satu mesjid setelah solat Zuhur.
"Aku pamit, Mas. Sekali lagi terima kasih," ucap Aisha sebelum pergi meninggalkan Ghibran.
Ghibran melepaskan kepergian Aisha hingga hilang dari pandangan. Dia terkejut saat ada seseorang memukul pundaknya.
"Apakah gadis itu yang kamu katakan dengan ayah kemarin?" tanya seorang pria paruh baya yang wajahnya sangat mirip dengan Ghibran.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Iinbundanyagilangjihan Iinbundanyagilangjihan
kasian Aisya...mereka sama2 salah tp hukuman utk aisha begitu berat sementara cowoknya sendiri udah bisa merasakan bahagia...sangat beda dg Aisha yg masih di salahkan sama i bunya walaupun udah bertobat...dan rasa bersalah nya....kok aku JD sedih dg Aisha ya ..Thor tlg berikan kebahagiaan buat Aisha lg
2024-05-13
1
Rahmawati
lupain masa lalu, km udah bertobat aisha
2024-04-29
1
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
berpelukan Aisha.. 🤗😭🙂😙 Kamu hebat
2024-04-22
1