Bab 6. Ghibran

Jangan pernah membenci masa lalu. Kamu sekarang adalah bentukan dari kisah masa lalu. Apa pun yang terjadi, dia pernah jadi alasan kamu bahagia. Meski sekarang bukan kamu bahagianya. Bukan pula dia yang membuatmu bahagia. Mari saling memaafkan, dan melupakan. Berbahagialah dengan cara masing-masing.

Aisha bangun dan menyiapkan sarapan untuk ibunya. Setelah semua selesai dia mengetuk pintu kamar sang ibu. Wanita yang telah melahirkan dirinya itu meminta dia masuk.

Gadis itu membuka pintu perlahan dan masuk. Dia melihat ibu duduk dekat jendela, matanya memandangi jalanan. Aisha memeluk pundak ibunya.

"Ibu, sarapan sudah aku siapkan. Ibu mau aku ambilkan?" tanya Aisha dengan lembut.

Dulu saat ayahnya masih ada, Aisha jarang di rumah. Waktunya habis di luar rumah, kuliah dan bermain dengan Ikhbar. Sekarang dia ingin menebus waktu yang terbuang, dengan lebih banyak bersama ibunya.

"Ibu, tidak lapar. Nanti saja sarapannya," jawab ibu dengan suara lirih.

Aisha melihat dipangkuan sang ibu ada sarung yang biasa ayah gunakan untuk solat. Itu sarung pembelian Aisha. Tanpa bisa di tahan air matanya jatuh membasahi pipi. Hanya membelikan sarung, ayah saat itu sudah sangat bahagia.

"Ibu kangen ayah?" tanya Aisha dengan air mata yang telah berlinang.

"Kangen banget. Kenapa ayah kamu lama sekali datang untuk menjemput ibu," jawab Ibu dengan terbata karena menahan tangis.

Mendengar ucapan ibunya, tubuh Aisha langsung lemah dan luruh ke lantai. Teringat kepergian ayahnya.

"Ibu, aku mohon! Jangan ucapkan itu lagi. Jika ibu pergi menyusul ayah, aku dengan siapa? Aku tidak memiliki siapa-siapa. Jangan buat aku merasa makin bersalah, Bu," ucap Aisha.

Ibu hanya diam, tak ada jawaban keluar dari bibirnya. Aisha berlutut dihadapan sang ibu. Menggenggam kedua tangan wanita yang telah melahirkan dirinya.

"Ibu, Ibu boleh melakukan apa saja padaku jika masih tersimpan marah dan benci atas perbuatanku dulu. Tapi aku mohon, jangan pernah berkata jika Ibu ingin meninggalkan aku. Selama ini sudah cukup besar rasa penyesalanku, jangan tambah dengan keinginan Ibu ini. Jika aku boleh meminta pada Allah, biarlah nyawaku yang diambil terlebih dahulu," ujar Aisha dengan air mata.

"Maafkan, Ibu. Bukan maksud ibu mengungkit kejadian lalu. Ibu hanya rindu ayah," jawab Ibu.

Aisha memeluk ibunya. Tangisnya kembali pecah. Rasa bersalah karena kepergian ayahnya itu masih dia rasakan hingga saat ini. Dadanya terasa nyeri dan sesak jika mengingat hari itu, ditambah lagi peristiwa kemarin. Orang yang dia harap bisa tempat berbagi ternyata menambah lukanya.

Setelah cukup lama menangis dalam pelukan ibunya, Aisha keluar dari kamar wanita yang telah melahirkan dirinya itu. Gadis itu masuk ke kamar. Dia memukul dadanya yang terasa sesak karena menahan sebak.

"Sebenarnya aku telah capek banget. Banyak beban pikiran yang aku pendam sendirian. Banyak keluh kesah yang sulit ku ceritakan. Jujur ... saat ini aku sangat terjatuh dan ingin sekali menyerah. Aku nggak bisa terus pura-pura kuat, padahal hatiku sangatlah hancur. Aku sudah nggak sanggup terus pura-pura tersenyum, padahal batinku selalu menjerit. Aku sudah capek banget harus pura-pura tertawa hanya untuk menyembunyikan air mataku. Aku juga ingin bahagia."

Setelah menghapus air matanya dan mengganti pakaian, Aisha pamit pada ibunya. Dia ingin mengembalikan motor milik Ghibran.

"Bu, aku mau ke pengajian. Lauk telah aku masak buat makan siang. Sarapan juga telah aku siapkan. Jika Ibu ingin sesuatu, bisa hubungi aku. Aku pergi hingga jam dua. Setelah itu kembali," pamit Aisha dengan lembut.

Tadi dia ingin menemani ibunya di rumah dan mengembalikan motor siang sehabis zuhur. Namun, setelah situasi tadi dia memilih keluar rumah. Dia tidak ingin larut dalam kesedihan jika terus berada di rumah bersama ibunya. Bukannya Aisha tidak terima dengan ucapan ibunya, tapi rasa bersalahnya makin terasa saat mendengar perkataan dan keinginan ibunya tadi.

Dengan kecepatan sedang, Aisha menjalankan laju motornya. Sekitar lima belas menit perjalanan dia sampai di mesjid. Sayup-sayup dia mendengar suara anak-anak mengaji.

Aisha melangkah pelan memasuki mesjid. Dia melihat Ghibran yang sedang mengajarkan anak-anak itu mengaji. Melihat kehadiran Aisha, pria itu memberikan senyuman. Anak-anak lalu dengan serempak ikut memandangi gadis itu. Membuat dia malu dan menundukan wajah.

"Itu istrinya ustad?" tanya salah seorang bocah itu.

"Bukan," jawab Ghibran dengan suara lembut.

"Tapi kakak itu cantik, cocok dengan ustad," ucap anak yang lainnya.

Aisha tersenyum membalas ucapan anak-anak itu yang rata-rata memuji kecantikan wajahnya. Ghibran lalu menghentikan kegiatan mengaji dan mempersilakan mereka pulang. Ada sekitar enam orang.

"Maaf Mas, aku jadi mengganggu," ucap Aisha merasa bersalah.

"Tidak, kami sebenarnya telah selesai. Tadi itu hanya mengulang bagi yang belum paham," jawab Ghibran.

"Motor Mas ada di luar." Aisha lalu berjalan keluar dari mesjid. Tidak ingin ada yang salah paham melihat mereka berdua di dalam mesjid.

Ghibran dan Aisha duduk di halaman mesjid. Di sana terdapat banyak bangku.

"Ini kunci motor kamu. Ban nya sudah aku tambal," ujar Ghibran dengan menyodorkan kunci motor.

"Terima kasih, Mas. Berapa biayanya, Mas?" tanya Aisha.

"Tak usah bayar."

"Sudah Mas yang membawa ke bengkel, Mas pula yang bayar." Aisha merasa tidak enak hati.

"Tak apa Aisha. Aku ikhlas. Setelah dari sini kamu mau kemana?" tanya Ghibran.

"Ke Mesjid D, Mas. Ada pengajian di sana. Aku mau dengar tausiahnya," jawab Aisha.

"Sayang sekali hari ini aku ada keperluan. Apa lain kali kita bisa pergi ke pengajian bersama?" tanya Ghibran.

Sebenarnya Ghibran telah beberapa kali melihat dan memperhatikan Aisha. Sepertinya dia tertarik dengan gadis itu dari awal melihatnya. Dia telah mencari tahu di mana rumah Aisha.

"Tentu saja boleh, Mas," jawab Aisha.

"Aku boleh meminta nomor ponselmu. Nanti kita bisa saling memberi kabar di mana ada pengajian," ucap Ghibran.

"Boleh, Mas." Aisha lalu menyebutkan deretan angka nomor ponselnya.

Setelah itu Aisha pamit karena akan mengikuti pengajian di salah satu mesjid setelah solat Zuhur.

"Aku pamit, Mas. Sekali lagi terima kasih," ucap Aisha sebelum pergi meninggalkan Ghibran.

Ghibran melepaskan kepergian Aisha hingga hilang dari pandangan. Dia terkejut saat ada seseorang memukul pundaknya.

"Apakah gadis itu yang kamu katakan dengan ayah kemarin?" tanya seorang pria paruh baya yang wajahnya sangat mirip dengan Ghibran.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Iinbundanyagilangjihan Iinbundanyagilangjihan

Iinbundanyagilangjihan Iinbundanyagilangjihan

kasian Aisya...mereka sama2 salah tp hukuman utk aisha begitu berat sementara cowoknya sendiri udah bisa merasakan bahagia...sangat beda dg Aisha yg masih di salahkan sama i bunya walaupun udah bertobat...dan rasa bersalah nya....kok aku JD sedih dg Aisha ya ..Thor tlg berikan kebahagiaan buat Aisha lg

2024-05-13

1

Rahmawati

Rahmawati

lupain masa lalu, km udah bertobat aisha

2024-04-29

1

❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳

❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳

berpelukan Aisha.. 🤗😭🙂😙 Kamu hebat

2024-04-22

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!