Bab 16. Usir Mereka, Mas!

Ghibran keluar dari kamar. Ingin melihat siapa tamu yang telah datang. Saat dia mendekati tamu itu, pria itu sangat terkejut.

"Annisa ...."

"Kak Ghibran ...," ucap Annisa tidak kalah terkejutnya.

Ghibran mempersilakan keduanya masuk. Tak lupa Ikhbar menyalami kakak iparmya itu. Annisa merupakan anak dari tantenya Ghibran.

"Siapa yang mengatakan Kakak di sini?" tanya Ghibran setelah mereka bertiga duduk.

"Aku tak tahu jika Kak Ghibran ada di sini. Aku justru ingin bertanya, ada hubungan apa Kakak dengan Aisha?" tanya Annisa.

"Kamu kenal dengan Aisha? Jadi kamu datang untuk Aisha?" tanya Ghibran. Annisa menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Tampaknya wanita itu masih terkejut dengan keberadaan Ghibran di rumah Aisha.

Ghibran tersenyum mendengar pertanyaan adik sepupunya itu. Dia memang belum mengatakan pada keluarga besarnya tentang lamaran yang dia lakukan pada Aisha. Rencananya semua akan tahu saat lamaran resmi berlangsung, tapi takdir berkata lain. Dia menikah tanpa satu orang pun dari keluarga yang tahu, kecuali ayah dan ibunya.

Aisha yang telah selesai berpakaian keluar dari kamar. Dia yang belum tahu siapa yang datang langsung berjalan menuju ruang tamu.

"Mas ...." Ucapan Aisha terhenti saat melihat siapa tamu yang datang. Wajahnya menegang.

Ghibran yang melihat perubahan wajah Aisha, langsung berdiri dan memeluk istrinya itu. Dia menjadi bertanya, ada apa dengan Annisa dan Ikhbar sehingga wajah wanita itu menjadi tegang.

"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ghibran dengan lembutnya.

Annisa dan Ikhbar saling pandang mendengar Ghibran memanggil sayang dengan Aisha. Apa lagi saat melihat pria itu memeluknya. Dia berdiri ingin menyalami Aisha dan mengucapkan duka.

"Mas, aku tidak mau melihat mereka. Usir mereka, Mas," ucap Aisha. Dia telah menangis terisak.

Ghibran memeluk istrinya. Dia tidak tahu ada hubungan apa Aisha dengan Annisa dan suaminya. Kenapa dia tidak menginginkan kehadiran mereka? Tanya Ghibran dalam hati.

Tubuh Aisha tampak gemetar. Dia teringat kembali kepergian ibunya karena kedua orang itu. Memang semua takdir Allah, tapi mereka penyebab kematian ibunya. Melihat tubuh istrinya yang gemetar, Ghibran bisa menebak jika memang kehadiran kedua kerabatnya itu tidak diinginkan.

"Mbak Aisha, aku dan Mas Ikhbar datang hanya ingin mengucapkan bela sungkawa. Aku juga ingin meminta maaf," ucap Annisa.

Ikhbar juga ikut berdiri dan mendekati Aisha. Sebenarnya dadanya sesak melihat Aisha yang tampak terpuruk. Saat ini saja dia begitu terluka, apa lagi ketika ayahnya meninggal dulu, ucap Ikhbar dalam hatinya.

"Aisha, aku minta maaf. Jika kedatangan kami kemarin menjadi penyebab meninggalnya ibu. Aku tidak pernah bermaksud membuat ibu syok. Aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang pernah aku lakukan," ucap Ikhbar.

"Pergilah kau dari rumahku! Aku tidak akan pernah memaafkan kamu. Kedua orang tuaku meninggal karena kamu. Tidak bermaksud, tapi yang terjadi memang ibuku syok dan pergi karena kedatangan kamu!" ucap Aisha dengan suara tinggi.

Ghibran tidak percaya saat melihat wanita itu marah. Aisha yang dia kenal begitu lembutnya bisa begitu marahnya. Sebesar apa kesalahan Ikhbar dengannya.

"Sayang, istighfar. Jangan marah-marah," ucap Ghibran.

"Mas, aku tak mau melihat mereka. Dia pembunuh kedua orang tuaku!" Aisah berucap dengan suara gemetar. Beruntung pelayat belum pada hadir.

"Iya, Sayang. Kamu masuklah ke kamar dulu," ucap Ghibran. Dia mengantar istrinya masuk ke kamar dan meminta Aisha berbaring. Dia lalu menyelimuti tubuh wanita itu.

"Mas, aku tak mau mereka di rumahku," ucap Aisha saat Ghibran ingin meninggalkan kamar.

"Iya, Sayang. Kamu tenang saja," ucap Ghibran sebelum melangkah pergi.

Ghibran menemui adik sepupunya yang berada di teras rumah Aisha. Dia melihat kedua suami istri itu sedang berbincang. Entah apa yang mereka katakan.

"Maaf, Annisa, Ikhbar, aku terpaksa mengusir kalian pergi dari sini. Aku tidak ingin Aisha menjadi emosi hanya karena kehadiran kalian. Aku tidak mau istriku makin terpuruk," ucap Ghibran.

Mendengar pria itu menyebut Aisha sebagai istrinya, Ikhbar dan Annisa sangat terkejut. Kapan mereka menikah? Kenapa dia tidak di undang, pikir Annisa.

"Apakah aku tidak salah dengar, Kak? Apakah benar Mbak Aisha itu istrimu?" tanya Annisa.

"Ya, Nissa. Kami telah menikah secara agama. Kakak tak tahu apa yang terjadi antara kamu dan Aisha, tapi Kak Ghibran mohon, pergilah. Jangan buat Aisha tertekan. Dia sedang berduka," ucap Ghibran.

"Kak, aku tak tahu harus mengucapkan apa atas pernikahan Kak Ghibran dan Mbak Aisha. Semoga saja kedepannya pernikahan Kakak tetap baik-baik saja. Apakah Kakak pernah mendengar tentang masa lalu Aisha?" tanya Annisa.

"Annisa, sebaiknya kita pergi. Acara takziahnya akan segera di mulai. Jangan karena kehadiran kita semuanya jadi berantakan," ucap Ikhbar.

Ikhbar belum siap masa lalunya dan Aisha diketahui Ghibran. Selama ini seluruh keluarga besar Annisa begitu memujinya sebagai pria yang baik.

"Terima kasih atas pengertiannya, Ikhbar. Lain kali kita bisa bicarakan ini," ujar Ghibran.

"Kami pamit dulu, Mas. Selamat atas pernikahannya. Semoga langgeng," doa Ikhbar.

Dia mengajak Annisa meninggalkan rumah Aisha. Para pelayat yang akan memberikan doa telah berdatangan. Ghibran masuk ke kamar dan melihat istrinya sedang menangis.

"Sayang, kamu mau ikut pengajian atau di kamar saja?" tanya Ghibran dengan lembutnya.

"Mas, apa mereka telah pergi?" Bukannya menjawab pertanyaan suaminya, Aisha justru balik bertanya.

"Sudah. Kalau kamu kurang enak badan. Tidur saja. Aku saja mewakili kamu," jawab Ghibran.

Aisha bangun dari tidurnya. Dia langsung memeluk pinggang Ghibran yang berdiri di depannya.

"Mas, entah kebaikan apa yang pernah aku lakukan sehingga Allah mengirimkan pria sebaik kamu," ujar Aisha dengan terisak.

Ghibran mengusap kepala istrinya yang tertutup jilbab. Mengecupnya dengan lembut.

"Sayang, jangan terlalu mengagumi aku. Takutnya nanti jika aku tidak seperti yang kamu pikirkan, kamu akan kecewa," balas Ghibran.

Aisha menengadahkan kepalanya, menatap wajah sang suami. Dia yakin pria yang sedang dia peluk saat ini adalah yang terbaik. Tidak mungkin kecewa. Aisha makin mempererat pelukannya.

"Kamu mau ikut pengajian?" tanya Ghibran lagi.

Aisha menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Mereka berdua keluar dari kamar dan mengikuti pengajian. Setelah pengajian selesai, Ghibran memberikan nasi kotak bagi yang datang.

Aisha menatap tanpa kedip semua yang pria itu lakukan. Tidak henti dari mulutnya terucap kata syukur. Ghibran sangat membantunya. Jika tidak ada pria itu, entah apa yang bisa dia lakukan.

Setelah semua tamu pulang, Ghibran mengunci pintu rumah. Aisha telah masuk ke kamar lebih dahulu. Istrinya itu sudah mengganti bajunya dengan baju tidur.

"Sayang, kamu sudah mau tidur?" tanya Ghibran.

"Kenapa, Mas?"

"Aku ganti baju dulu. Sebelum tidur kita ngobrol dulu," ucap Ghibran.

Dia ingin bertanya tentang Ikhbar dan Annisa. Di mana Aisha mengenal mereka dan mengapa istrinya itu seperti membenci keduanya.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Siti Sholikhah

Siti Sholikhah

maraton nih mom, ragara adam smpe ubek2 novelmu,,,, 🤭

2024-04-23

3

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

semoga bahagia Aisha

2024-04-20

0

Sugiharti Rusli

Sugiharti Rusli

tatap aja yah mereka akan saling terkoneksi, soalnya masih ada hubungan sodara sama Annisa

2023-12-07

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!