Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!

Aisha duduk di sudut kafe dengan gelisah. Dia mau mengatakan yang sejujurnya dengan Ghibran tentang masa lalunya, tapi dia tidak tahu harus memulai dari mana.

Aisha memainkan jemarinya. Apa akan ada pria yang tulus mencintai dan menerima dia apa adanya.

Lima belas menit menunggu, Aisha melihat Ghibran masuk ke kafe dengan langkah tergesa. Wanita itu tersenyum menyambut kedatangannya.

"Assalamualaikum, Aisha. Maaf jika aku datang telat. Tadi anak-anak mengaji lebih baik dari biasanya," ucap Ghibran dengan wajah penuh penyesalan.

"Waalaikumussalam. Tak apa, Mas. Belum juga satu hari," canda Aisha. Ghibran ikut tertawa mendengar ucapan gadis itu.

"Mas mau makan apa, aku pesankan?" tanya Aisha.

"Biar aku sendiri yang pesankan," jawab Ghibran.

Ghibran memanggil pelayan dan menyebutkan pesanannya. Setelah itu Aisha dan Ghibran saling bertanya tentang kegiatan masing-masing. Setelah pesanan makanan mereka datang dan menyantapnya, barulah Aisha bicara serius.

"Mas, aku senang kamu memilihku sebagai wanita yang akan mendampingi kamu. Tapi, sebelum itu aku ingin mengatakan satu kejujuran," ucap Aisha pelan. Dia menarik napas dalam sebelum memulai ucapan lagi.

"Aku ingin mengatakan sesuatu tentang masa laluku, tentang dosa besar yang pernah aku lakukan. Agar nanti, kamu dan keluarga tidak menyesal karena memilih aku," ujar Aisha lagi.

Ghibran tersenyum menanggapi ucapan Aisha. Dia lalu mulai membuka suara.

"Jika kamu rasa masa lalu itu hanya akan membuat kamu jadi terganggu dan tidak nyaman, jangan kamu katakan. Jika seorang pria melamar wanitanya, itu berarti dia telah siap menerima baik dan buruk wanita itu," ujar Ghibran dengan penuh kelembutan.

"Mas, ini bukan hanya tentang masa lalu. Tapi aib. Aku telah melakukan dosa besar. Aku dulu sedikit bebas, bersama kekasihku sering ...."

"Sudahlah, Aisha. Jangan mengumbar aibmu. Bukankah kita diminta untuk menutupi aib kita atau orang lain. Sudah aku katakan jika aku menerima kamu apa adanya. Dengan semua masa lalumu," jawab Ghibran lagi.

"Tapi Mas harus tahu ini, aku ini sudah tak ...."

Ucapan Aisha kembali di potong Ghibran. Dia langsung menyelanya.

"Sudah, Aisha. Jangan kamu umbar aibmu. Istri nabi, Aisyah pernah berkata pada seorang wanita yang datang padanya dan ingin mengatakan aib dirinya, Aisyah berkata "Wahai wanita-wanita mukminah, jika kalian berbuat salah, janganlah sekali-kali menceritakannya kepada orang lain. Mintalah ampunan kepada Allah dan bertaubatlah. Manusia seringkali menginginkan membuka aibnya dan tidak menutupinya. Sedangkan Allah bermaksud menutupinya dan tidak membukanya."

Aisha tertunduk mendengar ucapan Ghibran. Jika saja itu bukan aib dan dosa yang besar, tentu dia akan menutupinya. Namun, ini menyangkut hubungannya nanti. Dia takut Ghibran menyesal setelah mereka menikah.

"Aisha, percayalah aku telah menerima kamu dan masa lalumu. Harus berapa kali aku katakan ini. Kamu jangan bersedih dan menangis lagi," ucap Ghibran.

"Aku ini kotor, aku ini penuh dosa. Apa Mas tidak akan malu dan mau menerima aku?" tanya Aisha lagi.

"Ya, aku menerima kamu apa adanya. Aku tahu semua masa lalumu. Sebelum aku melamarmu, aku telah mencari tahu semua tentang kamu. Walau aku tidak tahu, siapa pria yang tidak bertanggung jawab itu. Dan aku juga tidak ingin tahu siapa dia."

"Aisha, seorang muslim dan muslimah itu wajib menutup aibnya sendiri dan aib orang lain. Dia tak boleh menyebarkan aib tersebut kepada siapapun, termasuk kepada suami atau keluarganya sendiri. Siapa yang menutup aib seorang muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan di akhirat. Kamu pasti pernah memdengar itu," ucap Ghibran lagi.

"Bagaimana dengan keluarga kamu, Mas. Terutama kedua orang tua, Mas. Apakah mereka mau menerima menantu seperti aku ini?" tanya Aisha.

Dia lega saat Ghibran mengadakan jika pria itu telah mengetahui masa lalunya. Namun, masih saja dia takut jika kedua orang tua Ghibran tidak akan bisa menerima semua ini.

"Itu menjadi urusanku, Aisha. Yang akan berumah tangga, aku. Yang akan menjalani kehidupan ini, aku. Memang ridho Allah tergantung ridho kedua orang tua, jadi aku akan tetap meminta restu."

Aisha tidak bisa lagi membendung air matanya. Trauma terhadap pria mulai hilang mendengar ucapan Ghibran. Apakah ini buah dari kesabaran dirinya selama ini. Apakah Allah mendengar doanya? Banyak pertanyaan ada dalam pikiran wanita itu.

"Aisha, Sebagai manusia kita semua memiliki masa lalu, kita memiliki beberapa kenangan baik atau buruk. Namun, yang terbaik yang bisa dilakukan adalah melepaskan masa lalu, berpegang teguh pada masa kini dan memiliki rencana yang baik untuk masa depan kita. Tidak ada gunanya mengingat kekecewaan kita, kegagalan kita dan luka di masa lalu karena itu tidak akan membuat kita maju dalam hidup kita. Jadi, lebih baik menerima kenyataan dan melupakan masa-masa sulit itu. Dengan melepaskan kenangan menyakitkan, kita membuka pintu menuju masa depan," nasihat Ghibran.

"Terima kasih, Mas."

"Apa kamu menerima pinanganku?" tanya Ghibran.

Aisha menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Untuk apa dia berpikir terlalu lama lagi, jika dihadapannya saat ini ada pria yang mau menerima dirinya apa adanya.

Melihat reaksi Aisha, Ghibran tersenyum semringah. Akhirnya dia bisa mempersunting wanita pujaannya. Setelah bicara tentang lamaran resmi yang akan dia lakukan, mereka akhirnya berpamitan pulang. Karena Aisha membawa motor, Ghibran mengikuti dari belakang hingga dia sampai di halaman rumah.

"Aisha, maaf aku tidak bisa mampir karena masih ada pekerjaan. Sampaikan saja salamku untuk ibu," ucap Ghibran.

"Baik, Mas. Hati-hati. Sampaikan juga salamku untuk kedua orang tua Mas," jawab Aisha.

"Nanti aku sampaikan." Setelah mengucapkan itu, Ghibran melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan halaman rumah Aisha.

Gadis itu masuk ke kamar. Dan langsung sujud syukur atas semua yang terjadi. Dia tidak pernah membayangkan, akan ada seorang pria yang melamarnya.

"Ya Allah, sampai hari ini aku selalu bersyukur, Allah masih memberiku hidup. Jantungku masih berdetak, hatiku masih merasa. Akalku masih berpikir. Jika ada kata yang bisa aku tulis hari ini untuk sang Pencipta. Maaf atas segala dosa dan maksiat yang pernah aku lakukan di muka bumi-Mu. Terima kasih atas kesempatan dan kenikmatan hidup yang masih engkau berikan untukku. Aku yang penuh dosa ini masih di beri kenikmatan yang tiada tara."

Air mata Aisha kembali jatuh membasahi pipinya. Dia janji akan melupakan dan mengikhlaskan semuanya.

"Lupakan apa yang menyakitimu di masa lalu, tapi jangan pernah lupakan apa yang diajarkannya padamu. Lupakan masa lalumu, maafkan dirimu dan mulai lagi. Jangan biarkan masa lalumu membunuh masa depanmu. Lupakan masa lalu dan mari kita buat masa depan kita. Melupakan masa lalu bukan berarti harus melupakan masa lalu sepenuhnya, itu berarti belajar dari masa lalu dan melupakan hal-hal yang mengganggu dan membuat stres."

...----------------...

Terpopuler

Comments

Hafizah

Hafizah

Kamu berhak bahagia Aisha

2024-11-28

0

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

semoga kedepannya lebih baik lagi bahagia lah Aisha

2024-04-20

2

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝚑𝚎𝚋𝚊𝚝 𝚜𝚔𝚊𝚕𝚒 𝚍𝚐 𝚘𝚛𝚐2 𝚢𝚐 𝚝𝚍𝚔 𝚖𝚊𝚞 𝚖𝚕𝚑𝚝 𝚖𝚊𝚜𝚊 𝚕𝚊𝚕𝚞 , 𝚛𝚖𝚑𝚝𝚐𝚐𝚊 𝚕𝚋𝚑 𝚋𝚑𝚐𝚒𝚊 𝚋𝚕 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚑𝚗𝚢 𝚏𝚘𝚔𝚞𝚜 𝚞 𝚖𝚜 𝚍𝚙𝚗..𝚖𝚖𝚗𝚐 𝚛𝚊𝚜𝚊𝚗𝚢 𝚑𝚗𝚢 𝚓𝚍 𝚖𝚜𝚕𝚑 𝚓𝚔 𝚔𝚒𝚝𝚊 𝚝𝚛𝚜 𝚖𝚎𝚗𝚐𝚞𝚗𝚐𝚔𝚒𝚝2 𝚖𝚜 𝚕𝚊𝚕𝚞

2024-03-22

0

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!