Aisha tidak bisa berucap sepatah katapun. Dadanya terasa sesak menahan sebak. Adam langsung membereskan rumah untuk semayamkan jenazah.
Adam juga memberi tahu kepala desa hingga tetangga. Setelah sholat subuh para tetangga satu persatu mulai berdatangan. Aisha masih syok tidak percaya dengan yang terjadi.
Aisha teringat video yang tersebar di grup wa warga sekitar tempat tinggalnya. Video saat dia berhubungan badan dengan kekasihnya Ikhbar. Pria itu membujuk dan merayu hingga dia rela menyerahkan kehormatannya pada sang kekasih.
Dalam video yang beredar, wajah Ikhbar tidak begitu terlihat. Namun, wajahnya tampak jelas. Apa lagi foto-foto itu. Terpampang sempurna mukanya Aisha. Foto saat dia hanya menggunakan pakaian dalam.
Aisha memukul dadanya yang sesak. Mengingat ayahnya sampai meninggal karena syok dan malu atas perbuatan yang dia lakukan.
Aisha mengambil jilbab yang dibelikan ayahnya. Dia ingin Aisha menggunakan hijab tapi gadis itu selalu berkata 'tunggu dulu'.
"Ayah, Aisha mulai hari ini janji, akan menggunakan hijab sesuai keinginan ayah," gumam Aisha.
Setelah berpakaian tertutup, Aisha keluar dari kamar. Semua mata pelayat tertuju pada gadis itu. Hingga dia menunduk karena malu. Dia duduk di samping jenazah ayahnya.
Aisha membuka kain penutup wajah ayahnya. Air matanya kembali tumpah. Gadis itu memeluk tubuh kaku sang ayah.
"Ayah maafkan Aisha," ucap Aisha dengan terbata. Dia terus memeluk tubuh kaku sang ayah.
Di belakang Aisha ibu-ibu tetangga membicarakan dirinya. Gadis itu mendengar jelas apa yang mereka gunjingkan.
"Pasti ayahnya jantungan setelah melihat video Aisha yang berzina itu," ucap Ibu A.
"Pastilah. Orang ayahnya seperti ustad, kelakuan anaknya memalukan," ujar Ibu B.
"Sama saja dia yang membunuh ayahnya sendiri," ucap Ibu C.
Dada Aisha semakin terasa sesak mendengar ucapan ibu-ibu tetangga itu. Dia menarik napas berat. Mengingat apa yang dikatakan mereka ada benarnya.
"Aku memang yang membunuh ayahku. Karena aku dia meninggal," gumam Aisha dalam hatinya.
Seorang tokoh agama lalu memandikan jenazah ayah. Aisha tidak sanggup melakukan itu. Tubuhnya terasa lemah.
Setelah dimandikan dan dikafani, lalu jenazah ayah di solatkan. Semua telah dilakukan hingga tiba saatnya di bawa menuju pemakaman. Aisha dan ibunya berada di ambulans bersama jenazah ayah.
Pemakaman dilakukan oleh pemuda setempat. Aisha merasakan tubuhnya semakin lemah melihat jenazah ayah dimasukan ke liang lahat.
Saat tanah akan diturunkan untuk menutupi liang lahat, Aisha tidak bisa menahan diri lagi. Dia berlari dan ingin masuk ke kubur ayahnya. Beruntung tubuhnya di tahan Adam.
"Lepaskan aku, Mas. Aku ingin ikut dengan ayah. Ayah ... jangan tinggalkan aku! Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku," ucap Aisha sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.
**
Aisha terbangun saat mendengar suara orang-orang yang sedang mengaji. Dia langsung berjalan keluar dan melihat banyak orang sedang mengaji. Barulah dia tersadar apa yang telah terjadi.
Tubuhnya kembali terasa lemah. Dia terduduk teringat kepergian ayahnya. Air mata kembali membasahi pipinya. Apa lagi saat melihat ibunya yang terdiam di antara para pelayat.
Aisha mengambil hijab dan mengenakannya. Dia harus meminta penjelasan Ikhbar atas beredarnya video mereka. Dengan melangkah pelan, Aisha keluar dari rumah lewat pintu belakang.
Dengan menggunakan ojek motor, Aisha menuju rumah Ikhbar. Sepuluh menit perjalanan dia tiba di rumah kekasihnya. Gadis itu langsung mengetuk pintu rumah pria itu.
Beberapa saat kemudian, seseorang membuka pintu. Terlihat wajah ibunya Ikhbar.
"Selamat malam, Bu. Apa ada Ikhbar?" tanya Aisha.
Bukannya menjawab pertanyaan Aisha, justru dia menatap gadis itu dengan mata tajam. Dia keluar dari rumah. Saat ini mereka sudah saling berhadapan.
"Untuk apa kau cari Ikhbar? Apa kau yang ada di video itu?" tanya ibunya Ikhbar dengan suara sedikit tinggi.
Aisha menarik napas dalam. Berarti ibunya Ikhbar telah mengetahui tentang video itu, pikir gadis itu. Dia harus meminta pertanggungjawaban dari pria itu. Aisha akhirnya mengangguk sebagai jawaban. Wajah ibunya Ikhbar tampak menegang menahan amarah.
"Untuk apa kau cari Ikhbar lagi. Gara-gara kau, kami harus menanggung malu. Seluruh tetangga jadi tahu kelakuan Ikhbar. Aku yakin semua ini karena hasutan kamu. Kamu yang mengajaknya berzina, bukan?" tanya ibunya Ikhbar.
"Bu, aku dan Ikhbar sama-sama mau. Tidak ada yang benar, kami berdua salah karena melakukan itu. Cuma aku ingin tahu, kenapa video itu bisa tersebar," ucap Aisha dengan suara pelan.
"Jangan pura-pura baik. Aku tahu kaulah yang menyebarkan semuanya. Dengarkan aku! Jangan pernah temui Ikhbar lagi. Dia telah dimasukan ke pesantren. Sekarang kau pergi dari rumahku!" usir Ibunya Ikhbar.
"Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan penjelasan dari Ikhbar. Ayahku sampai meninggal karena melihat foto itu," ucap Aisha.
"Kenapa jika ayahmu meninggal? apa semua itu salah Ikhbar juga? Kamu seharusnya ngaca. Ayahmu meninggal karena malu memiliki anak gadis seliar kamu! Sekarang pergilah dari rumahku. Jangan pernah mencari anakku. Dia telah taubat atas perbuatanmya. Saat ini ada di pesantren!"
Setelah mengucapkan itu ibunya Ikhbar masuk ke rumah dan menguncinya. Aisha akhirnya berjalan meninggalkan rumah kediaman orang tua Ikhbar.
Dengan langkah pelan dia berjalan. Tidak ada niat memanggil ojek. Berjalan tanpa henti. Langit yang gelap akhirnya menurunkan air matanya. Hujan turun membasahi bumi.
Aisha tetap berjalan walau tubuhnya basah kuyup. Air matanya jatuh membasahi pipi.
"Ayah, maafkan aku. Apa ayah kedinginan? Aku akan datang menemani, Ayah," gumam Aisha pada diri sendiri.
Aisha memanggil ojek dan meminta mengantarnya ke pemakaman. Suasana hujan membuat tempat itu mencekam. Namun, tidak ada rasa takut pada wanita itu.
Dia duduk berlutut di samping kuburan ayahnya. Memeluk nisan ayahnya.
"Ayah, bangunlah! Kembali pada kami. Aku rela ayah memukulku hingga mencambukku, dari pada ayah pergi begini. Kenapa ayah menghukumku begitu berat. Kenapa ayah tidak bunuh saja aku. Kasihan ibu yang harus kehilangan ayah. Bangunlah, Ayah," ucap Aisha dengan suara terbata.
Cukup lama dia di kuburan. Teringat ibunya yang seorang diri di rumah. Aisha bangun. Meninggalkan kuburan ayahnya.
Sampai di rumah, Aisha melihat ibunya menangis sambil memeluk baju yang terakhir ayahnya gunakan. Hati Aisha menjadi remuk melihat pemandangan itu. Dia masuk dan bersimpuh di kaki ibunya.
"Ibu, maafkan aku!" Hanya itu yang Aisha bisa ucapkan.
"Pergilah dari hadapan ibu, Nak. Ibu belum siap bertemu kamu. Melihat kamu mengingatkan pada ayahmu," jawab Ibu dengan suara datar.
"Jika memang kepergianku bisa membuat Ibu lebih baik, baiklah. Akan aku lakukan," ucap Aisha.
Dia berdiri dan meninggalkan ibunya seorang diri. Aisha masuk ke kamar dan mengambil tas kopernya. Mungkin kepergiannya akan lebih baik bagi sang ibu, pikir Aisha.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Hafizah
mewek deh...
mampir di karya Hani_Hany yuks teman2. judulnya
"Perjuangan si Gadis Kecil"
"Ketemu Jodoh Siswa Ibu Kos "
"Terpaksa Menikahi "
2024-11-28
0
lucky gril
baru 2 bab banyak mengandung bawang😭😭😭
2024-07-05
1
❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳
Astagfirullah... menyesakkan dada dan bikin menguras air mata. 😭😭😭 amazing kerenlah kamu thor berhasil bikin readers terhura hura
2024-04-22
1