Bab 2. Pemakaman Ayah

Aisha tidak bisa berucap sepatah katapun. Dadanya terasa sesak menahan sebak. Adam langsung membereskan rumah untuk semayamkan jenazah.

Adam juga memberi tahu kepala desa hingga tetangga. Setelah sholat subuh para tetangga satu persatu mulai berdatangan. Aisha masih syok tidak percaya dengan yang terjadi.

Aisha teringat video yang tersebar di grup wa warga sekitar tempat tinggalnya. Video saat dia berhubungan badan dengan kekasihnya Ikhbar. Pria itu membujuk dan merayu hingga dia rela menyerahkan kehormatannya pada sang kekasih.

Dalam video yang beredar, wajah Ikhbar tidak begitu terlihat. Namun, wajahnya tampak jelas. Apa lagi foto-foto itu. Terpampang sempurna mukanya Aisha. Foto saat dia hanya menggunakan pakaian dalam.

Aisha memukul dadanya yang sesak. Mengingat ayahnya sampai meninggal karena syok dan malu atas perbuatan yang dia lakukan.

Aisha mengambil jilbab yang dibelikan ayahnya. Dia ingin Aisha menggunakan hijab tapi gadis itu selalu berkata 'tunggu dulu'.

"Ayah, Aisha mulai hari ini janji, akan menggunakan hijab sesuai keinginan ayah," gumam Aisha.

Setelah berpakaian tertutup, Aisha keluar dari kamar. Semua mata pelayat tertuju pada gadis itu. Hingga dia menunduk karena malu. Dia duduk di samping jenazah ayahnya.

Aisha membuka kain penutup wajah ayahnya. Air matanya kembali tumpah. Gadis itu memeluk tubuh kaku sang ayah.

"Ayah maafkan Aisha," ucap Aisha dengan terbata. Dia terus memeluk tubuh kaku sang ayah.

Di belakang Aisha ibu-ibu tetangga membicarakan dirinya. Gadis itu mendengar jelas apa yang mereka gunjingkan.

"Pasti ayahnya jantungan setelah melihat video Aisha yang berzina itu," ucap Ibu A.

"Pastilah. Orang ayahnya seperti ustad, kelakuan anaknya memalukan," ujar Ibu B.

"Sama saja dia yang membunuh ayahnya sendiri," ucap Ibu C.

Dada Aisha semakin terasa sesak mendengar ucapan ibu-ibu tetangga itu. Dia menarik napas berat. Mengingat apa yang dikatakan mereka ada benarnya.

"Aku memang yang membunuh ayahku. Karena aku dia meninggal," gumam Aisha dalam hatinya.

Seorang tokoh agama lalu memandikan jenazah ayah. Aisha tidak sanggup melakukan itu. Tubuhnya terasa lemah.

Setelah dimandikan dan dikafani, lalu jenazah ayah di solatkan. Semua telah dilakukan hingga tiba saatnya di bawa menuju pemakaman. Aisha dan ibunya berada di ambulans bersama jenazah ayah.

Pemakaman dilakukan oleh pemuda setempat. Aisha merasakan tubuhnya semakin lemah melihat jenazah ayah dimasukan ke liang lahat.

Saat tanah akan diturunkan untuk menutupi liang lahat, Aisha tidak bisa menahan diri lagi. Dia berlari dan ingin masuk ke kubur ayahnya. Beruntung tubuhnya di tahan Adam.

"Lepaskan aku, Mas. Aku ingin ikut dengan ayah. Ayah ... jangan tinggalkan aku! Maafkan aku, Ayah. Maafkan aku," ucap Aisha sebelum akhirnya tidak sadarkan diri.

**

Aisha terbangun saat mendengar suara orang-orang yang sedang mengaji. Dia langsung berjalan keluar dan melihat banyak orang sedang mengaji. Barulah dia tersadar apa yang telah terjadi.

Tubuhnya kembali terasa lemah. Dia terduduk teringat kepergian ayahnya. Air mata kembali membasahi pipinya. Apa lagi saat melihat ibunya yang terdiam di antara para pelayat.

Aisha mengambil hijab dan mengenakannya. Dia harus meminta penjelasan Ikhbar atas beredarnya video mereka. Dengan melangkah pelan, Aisha keluar dari rumah lewat pintu belakang.

Dengan menggunakan ojek motor, Aisha menuju rumah Ikhbar. Sepuluh menit perjalanan dia tiba di rumah kekasihnya. Gadis itu langsung mengetuk pintu rumah pria itu.

Beberapa saat kemudian, seseorang membuka pintu. Terlihat wajah ibunya Ikhbar.

"Selamat malam, Bu. Apa ada Ikhbar?" tanya Aisha.

Bukannya menjawab pertanyaan Aisha, justru dia menatap gadis itu dengan mata tajam. Dia keluar dari rumah. Saat ini mereka sudah saling berhadapan.

"Untuk apa kau cari Ikhbar? Apa kau yang ada di video itu?" tanya ibunya Ikhbar dengan suara sedikit tinggi.

Aisha menarik napas dalam. Berarti ibunya Ikhbar telah mengetahui tentang video itu, pikir gadis itu. Dia harus meminta pertanggungjawaban dari pria itu. Aisha akhirnya mengangguk sebagai jawaban. Wajah ibunya Ikhbar tampak menegang menahan amarah.

"Untuk apa kau cari Ikhbar lagi. Gara-gara kau, kami harus menanggung malu. Seluruh tetangga jadi tahu kelakuan Ikhbar. Aku yakin semua ini karena hasutan kamu. Kamu yang mengajaknya berzina, bukan?" tanya ibunya Ikhbar.

"Bu, aku dan Ikhbar sama-sama mau. Tidak ada yang benar, kami berdua salah karena melakukan itu. Cuma aku ingin tahu, kenapa video itu bisa tersebar," ucap Aisha dengan suara pelan.

"Jangan pura-pura baik. Aku tahu kaulah yang menyebarkan semuanya. Dengarkan aku! Jangan pernah temui Ikhbar lagi. Dia telah dimasukan ke pesantren. Sekarang kau pergi dari rumahku!" usir Ibunya Ikhbar.

"Aku tidak akan pergi sebelum mendapatkan penjelasan dari Ikhbar. Ayahku sampai meninggal karena melihat foto itu," ucap Aisha.

"Kenapa jika ayahmu meninggal? apa semua itu salah Ikhbar juga? Kamu seharusnya ngaca. Ayahmu meninggal karena malu memiliki anak gadis seliar kamu! Sekarang pergilah dari rumahku. Jangan pernah mencari anakku. Dia telah taubat atas perbuatanmya. Saat ini ada di pesantren!"

Setelah mengucapkan itu ibunya Ikhbar masuk ke rumah dan menguncinya. Aisha akhirnya berjalan meninggalkan rumah kediaman orang tua Ikhbar.

Dengan langkah pelan dia berjalan. Tidak ada niat memanggil ojek. Berjalan tanpa henti. Langit yang gelap akhirnya menurunkan air matanya. Hujan turun membasahi bumi.

Aisha tetap berjalan walau tubuhnya basah kuyup. Air matanya jatuh membasahi pipi.

"Ayah, maafkan aku. Apa ayah kedinginan? Aku akan datang menemani, Ayah," gumam Aisha pada diri sendiri.

Aisha memanggil ojek dan meminta mengantarnya ke pemakaman. Suasana hujan membuat tempat itu mencekam. Namun, tidak ada rasa takut pada wanita itu.

Dia duduk berlutut di samping kuburan ayahnya. Memeluk nisan ayahnya.

"Ayah, bangunlah! Kembali pada kami. Aku rela ayah memukulku hingga mencambukku, dari pada ayah pergi begini. Kenapa ayah menghukumku begitu berat. Kenapa ayah tidak bunuh saja aku. Kasihan ibu yang harus kehilangan ayah. Bangunlah, Ayah," ucap Aisha dengan suara terbata.

Cukup lama dia di kuburan. Teringat ibunya yang seorang diri di rumah. Aisha bangun. Meninggalkan kuburan ayahnya.

Sampai di rumah, Aisha melihat ibunya menangis sambil memeluk baju yang terakhir ayahnya gunakan. Hati Aisha menjadi remuk melihat pemandangan itu. Dia masuk dan bersimpuh di kaki ibunya.

"Ibu, maafkan aku!" Hanya itu yang Aisha bisa ucapkan.

"Pergilah dari hadapan ibu, Nak. Ibu belum siap bertemu kamu. Melihat kamu mengingatkan pada ayahmu," jawab Ibu dengan suara datar.

"Jika memang kepergianku bisa membuat Ibu lebih baik, baiklah. Akan aku lakukan," ucap Aisha.

Dia berdiri dan meninggalkan ibunya seorang diri. Aisha masuk ke kamar dan mengambil tas kopernya. Mungkin kepergiannya akan lebih baik bagi sang ibu, pikir Aisha.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Hafizah

Hafizah

mewek deh...
mampir di karya Hani_Hany yuks teman2. judulnya

"Perjuangan si Gadis Kecil"

"Ketemu Jodoh Siswa Ibu Kos "

"Terpaksa Menikahi "

2024-11-28

0

lucky gril

lucky gril

baru 2 bab banyak mengandung bawang😭😭😭

2024-07-05

1

❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳

❤️⃟Wᵃf🤎⃟ꪶꫝ🍾⃝ͩDᷞᴇͧᴡᷡɪͣ𝐀⃝🥀ᴳ᯳

Astagfirullah... menyesakkan dada dan bikin menguras air mata. 😭😭😭 amazing kerenlah kamu thor berhasil bikin readers terhura hura

2024-04-22

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!