Bab 19. Apartemen

Annisa dalam diam memperhatikan Ghibran. Saat saudaranya itu menyuapi dan menghapus sisa makanan di bibir Aisha.

"Mas Ghibran sepertinya sangat mencintai Aisha. Kapan aku bisa dicintai begitu sama Mas Ikhbar? Dia memang baik tapi aku tahu cintanya tidak untukku. Perlakuan baik Mas Ikhbar hanya sebatas kewajiban sebagai seorang suami," gumam Annisa dalam hatinya.

Annisa menarik napas. Saat dia akan mendekati mereka, Ghibran telah menggenggam tangan Aisha mengajaknya keluar dari restoran.

Di halaman restoran langkah kaki Mas Ghibran terhenti. Annisa juga ikut berhenti, dia melihat saudaranya itu berjongkok. Ternyata pria itu memakaikan tali sepatu Aisha yang terlepas.

"Kamu beruntung dicintai dua pria. Padahal kamu banyak melakukan kesalahan, Allah masih memberikan kamu begitu banyak kenikmatan," ucap Annisa dalam hatinya.

Ghibran memeluk pinggang Aisha saat berjalan menuju mobilnya. Saat akan masuk, wanita itu melihat Annisa. Dia lalu memberikan senyuman, bagaimana pun itu saudara suaminya.

"Mas, Annisa itu," ucap Aisha sambil menunjuk dengan mulutnya. Ghibran melihat ke depan, lalu memberikan senyuman. Mereka tidak jadi masuk ke mobil.

"Kamu pulang dengan apa?" tanya Ghibran saat Annisa telah dekat.

"Ternyata Mbak Aisha tadi ikut. Kenapa Kak Ghibran tak mengatakannya?" Bukannya menjawab pertanyaan Ghibran, Annisa justru balik bertanya.

Ghibran memandangi wajah istrinya. Dia tidak mau Aisha risih dengan kehadiran Annisa, apa lagi mendengar pertanyaan wanita itu.

"Kamu tidak bertanya, jadi aku tak mengatakannya," jawab Ghibran santai.

"Aku lupa, jika pengantin baru pasti maunya terus berdua," ujar Annisa sedikit sinis.

"Aku yang mengajak Aisha. Aku tidak mau dia sendirian di rumah," ucap Ghibran.

Aisha yang awalnya tidak ingin bicara, akhirnya angkat suara. Dia hanya segan dengan suaminya jika bicara ketus dengan Annisa.

"Maaf Mbak Annisa, aku sudah menolak untuk ikut, tapi Mas Ghibran memaksa. Aku memilih duduk terpisah karena aku takut kehadiranku membuat kamu canggung saat membicarakan tentangku," ucap Aisha.

Wajah Annisa memerah mendengar jawaban dari Aisha. Apakah Ghibran mengatakan apa yang mereka bicarakan, tapi tidak mungkin. Mereka baru saja duduk berdua. Aisha pasti hanya menebak saja. Ucap Annisa dalam hatinya.

"Jangan berpikir buruk, Mbak Aisha. Aku hanya sekadar bertanya, tidak ada mengatakan hal buruk tentangmu," jawab Annisa.

"Semua hal buruk yang pernah aku lakukan, sudah aku katakan pada Mas Ghibran, dia tidak akan kaget mendengar dari siapa pun. Aku sadar diri Mbak Annisa, jika aku ini hanyalah manusia penuh dosa. Aku tidak akan pernah lupa dengan kesalahan yang pernah aku lakukan," ucap Aisha.

Ghibran yang mendengar keduanya berdebat. Lalu membukakan pintu untuk sang istri.

"Sayang, masuklah. Panas banget," ucap Ghibran. Aisha langsung masuk. Dia tahu suaminya melakukan itu agar dia dan Annisa tidak berdebat lagi.

"Kamu pulang dengan siapa? Aku antar?" tanya Ghibran.

"Tidak perlu, Kak. Aku bisa naik taksi," jawab Annisa.

"Baiklah, terserah kamu saja. Aku sebenarnya mau ke apartemen S, satu jalan menuju rumahmu," ucap Ghibran lagi.

"Kalau begitu aku nebeng," ujar Annisa. Dia lalu membuka pintu belakang dan masuk tanpa menunggu lagi.

Ghibran langsung melajukan mobilnya menuju jalanan. Ketiganya hanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Hingga Ghibran membuka suara.

"Sayang, kita makan siangnya pesan di apartemen saja, ya?" tanya Ghibran memecahkan kesunyian.

"Terserah Mas saja," jawab Aisha.

"Selalu saja jawabnya terserah. Kamu terlalu penurut jadi istri," ucap Ghibran sambil mengusap kepala Aisha.

"Siapa pun akan jadi penurut jika diperlakukan begitu, Kak. Apa lagi kamu mau menerima kekurangannya, tentu dia akan mengabdi denganmu," ucap Annisa dalam hatinya.

"Kak Ghibran beli apartemen lagi?" tanya Annisa. Setahu dirinya, apartemen Ghibran bukan yang dia katakan tadi.

"Iya. Sebagai hadiah buat Aisha. Apartemen ini atas nama dia," jawab Ghibran.

Annisa tampaknya terkejut dengan jawaban Ghibran begitu juga Aisha. Dia tidak tahu jika apartemen itu di beli dan di atas namakan dirinya.

"Apa Ibu tahu Kak Ghibran beli apartemen atas nama Aisha?" tanya Annisa lagi.

Pertanyaan Annisa itu membuat Aisha jadi tidak enak. Pasti nanti di kira keluarga Ghibran, dia morotin harta suaminya.

"Kenapa harus mengatakan pada ibu dulu. Aku beli dengan uang sendiri sebagai hadiah buat istriku. Buat ibuku juga ada bagiannya, kamu pasti tahu mengenai semua itu. Menurut Imam An-Nawawi, seseorang tidak berdosa ketika mengutamakan istri daripada ibunya sejauh ia memenuhi kewajiban nafkah bila nafkah ibunya berada di dalam tanggung jawabnya," jawab Ghibran.

Annisa langsung terdiam mendengar jawaban dari saudaranya itu. Hingga sampai tujuan, dia hanya diam saja.

"Kak Ghibran, Mbak Aisha, apa mau mampir dulu?" tanya Annisa.

"Terima kasih, Mbak Annisa. Lain kali saja," jawab Aisha.

"Jangan panggil Mbak. Nama saja. Aku adik iparmu," ucap Annisa.

"Baiklah, Annisa." Aisha menjawab singkat.

Tampak Aqila sang putri sedang bermain dengan abinya Ikhbar. Aisha sengaja memandang ke depan agar tidak melihat itu.

Ikhbar yang menyadari kehadiran Ghibran memberikan senyumannya. Namun, senyum itu pudar saat dia melihat Aisha, tapi wanita itu tidak meliriknya sedikit pun.

"Salam buat Aqila. Lain kali kami main. Kami pamit," ucap Ghibran.

Ghibran lalu melajukan mobilnya menuju apartemen. Dia lalu memesan makanan agar saat mereka sampai, makanan juga telah datang.

Sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi, Ghibran menghentikan mobilnya. Setelah mesin dimatikan, dia keluar. Dengan segera membuka pintu untuk sang istri.

"Mas, aku bisa buka sendiri," ucap Aisha.

"Apa salahnya aku melayani dan memanjakan istri?" tanya Ghibran.

"Aku malu. Apa lagi jika ada saudara Mas yang melihat, bisa-bisa di kira aku dikatakan jahat," jawab Aisha.

"Jangan pikirkan apa kata mereka, yang menjalani semua adalah kita berdua," jawab Ghibran.

Ghibran mampir ke pos keamanan untuk mengambil pesanan makananya, lalu berjalan menuju lift. Mereka berdua naik menuju apartemen lantai lima, tempat yang dia beli.

Sampai di apartemen, Ghibran mengatakan kode masuknya tanggal lahir sang istri. Lagi-lagi Aisha di buat heran dengan apa yang suaminya lakukan. Kebahagiaan ini terlalu sempurna baginya, sehingga dia takut semua ini hanya mimpi belaka.

Saat apartemen terbuka, Aisha tambah di buat kagum dengan isinya. Semua serba hitam putih, warna kesukaannya. Tanpa sadar air mata jatuh membasahi pipinya.

Di tempat lain, Annisa langsung masuk ke kamar dan tampak kesel. Hal itu membuat Ikhbar jadi heran.

"Ada apa? Kenapa kamu kelihatannya sangat kesel?" tanya Ikhbar.

...----------------...

Terpopuler

Comments

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

cemburu dan itu Anisah

2024-04-20

1

Pendak Wah

Pendak Wah

Maa syaa Allah karakter Gibran membuat kami para Hawa jd iri 😁😁
Astaghfirullah
semangat thorr Sukses sll ya

2024-04-01

0

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝙺𝚒𝚔𝚢𝚘𝚒𝚌𝚑𝚒

𝚊𝚛𝚝𝚒𝚗𝚢𝚊? 𝚝𝚙 𝚕𝚊𝚗𝚐𝚔𝚊 𝚕𝚑𝚘 𝚜𝚞𝚊𝚖𝚒𝚋𝚢𝚐 𝚖𝚎𝚗𝚝𝚒𝚗𝚐𝚒𝚗 𝚒𝚜𝚝𝚛𝚒 𝚊𝚙𝚊𝚕𝚊𝚐𝚒 𝚍𝚕𝚖.𝚑𝚊𝚕 𝚎𝚔𝚘𝚗𝚒𝚖𝚒 𝚙𝚊𝚜𝚝𝚒 𝚍𝚒𝚊 𝚕𝚋𝚑 𝚖𝚗𝚐𝚛𝚋𝚊𝚗𝚔𝚊𝚗 𝚔𝚙𝚗𝚝𝚐𝚊𝚗/𝚔𝚋𝚝𝚑𝚗 𝚔𝚕𝚠𝚛𝚐𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚍𝚎𝚖𝚒 𝚒𝚋𝚞𝚗𝚢𝚊

2024-03-22

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!