Bab 13. Kepergian Ibu

Langit tampak terang dengan semburat sinar yang berpendar mengelilingi tempat tinggalnya. Angin pagi ini rupanya berdesir lebih tenang. Namun mampu menerbangkan dedaunan.

Aisha telah selesai dengan kegiatannya di dapur. Hari ini dia tidak pergi ke pengajian. Ingin menemani sang ibu seharian. Selama ini dia lebih sering menghabiskan waktu untuk ke mesjid, semua untuk menghilangkan rasa bersalahnya. Setiap melihat wajah sang ibu, gadis itu teringat dengan kepergian sang ayah.

Setelah sarapan yang dia masak dihidangkan di meja, Aisha berjalan menuju kamar sang ibu. Dia ingin mengajak wanita paruh baya itu untuk menyantap hidangan yang telah dia sajikan.

Aisha mengetuk pintu kamar ibunya. Beberapa mengetuk tidak juga ada sahutan. Dia juga telah memanggil sang ibu tapi tetap tidak ada jawaban.

"Ibu, apa ibu sudah bangun!" ucap Aisha sambil mengetuk pintu pelan. Tidak juga mendapat jawaban, membuat pikiran Aisha tidak tenang. Dia takut terjadi sesuatu dengan sang ibunda.

Aisha meraih gagang pintu dan memutarnya. Ternyata tidak di kunci. Dia lalu membuka pintu kamar itu perlahan. Ruangannya masih gelap. Gadis itu menyalakan lampu kamar. Dia melihat wanita yang telah melahirkan dirinya itu masih terlelap di tempat tidur.

Aisha mendekati tempat tidur dan duduk di tepi ranjang ibunya. Dia sangat kuatir. Takut ibunya sakit. Tidak biasanya wanita itu masih tidur di jam segini.

Dengan pelan Aisha membangunkan ibunya, tapi tidak ada reaksi apa pun. Dia memegang dahi ibu, terasa dingin. Gadis itu meraih tangan bundanya dan merasakan tidak ada. lagi denyut nadi. Dia tidak mau berpikiran buruk.

Aisha meraih ponsel di saku baju gamisnya. Menghubungi Ghibran. Beruntung pria itu tidak ada kegiatan.

"Kamu tenang dulu. Jangan panik. Aku akan segera ke rumah dengan temanku yang dokter. Kebetulan dia tinggal sekitar rumahku. Ingat Aisha, jangan panik. Baca saja ayat-ayat suci. Jangan menangis," ucap Ghibran saat Aisha menghubunginya.

"Baik, Mas. Jangan lama. Aku tidak tenang. Aku takut terjadi sesuatu dengan ibuku," jawab Aisha dengan menangis.

"Aku mengerti Aisha. Sekarang aku segera meluncur." Ghibran menutupi sambungan ponselnya. Dia lalu menjalankan mobil menuju rumah temannya yang dokter. Alhamdulillah sang dokter belum pergi ke rumah sakit.

Setelah menjemput dokter, mereka segera melaju ke rumah Aisha. Setengah jam dia sampai ke rumah wanita itu.

"Assalamualaikum, Aisha," salam Ghibran.

"Waalaikumussalam, silakan masuk Mas," jawab Aisha dengan suara serak menahan tangis.

"Aisha, ini Nicko. Dia dokter umum. Mungkin untuk sementara dia bisa periksa ibu," ucap Ghibran memperkenalkan Dokter Nicko. Pria itu tersenyum pada Aisha.

"Ya, Mas. Silakan masuk. Ibu tidak bergerak juga. Aku telah membangunkan beberapa kali," ucap Aisha dengan terbata karena menangis.

"Kamu jangan menangis. Dokter Nicko akan periksa ibu dulu," ucap Ghibran. Rasanya dia ingin memeluk wanita itu. Melihat betapa sedihnya wajah sang pujaan hati.

Aisha menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Mereka bertiga masuk ke kamar. Dokter Nicko langsung mengeluarkan peralatannya dan memeriksa keadaan ibunya Aisha.

Setelah beberapa waktu melakukan pemeriksaan, Dokter Nicko berdiri. Dia terlihat tegang. Menarik napas beberapa kali.

"Bagaimana keadaan ibu saya, Dokter? Ibu hanya pingsan saja 'kan?" tanya Aisha tidak sabar menunggu jawaban dari dokter.

"Maaf, Aisha. Dari hasil pemeriksaan saya tadi, ibu kamu telah pergi dari subuh. Dia telah mendahului kita semua," jawab Dokter Nicko.

Aisha merasakan dunianya runtuh mendengar jawaban dari dokter itu. Tubuhnya langsung lemah. Aisha terduduk ke lantai. Ghibran tidak peduli ini dosa atau bukan, dia memeluk tubuh rapuh sang wanita pujaan hatinya. Dia dapat merasakan kesedihan Aisha.

"Mas, ini tidak benar 'kan. Ibu tidak mungkin meninggalkan aku. Aku dengan siapa jika ibu pergi," ucap Aisha dalam pelukan Ghibran.

"Aisha, kamu yang sabar. Ini semua takdir Allah. Kamu tidak sendirian ada aku di sini," jawab Ghibran.

Aisha mencoba bangun dan mendekati ranjang di mana tubuh ibu terdiam terpaku. Dia berlutut di samping tempat tidur.

"Ibu, bangun. Ibu tidak mungkin pergi meninggalkan Aisha. Ibu janji mau menemaniku. Jangan pergi, Bu. Aku tidak sanggup lagi jika ibu pergi," ucap Aisha.

Ghibran tidak bisa membendung rasa sedihnya melihat Aisha yang menangis. Dia menghubungi kedua orang tuanya mengatakan kabar duka ini. Tak lupa Ghibran meminta tolong teman-temannya untuk datang ke rumah ini. Membantu mengurus pemakaman.

Dokter Nicko telah pamit. Tinggal Ghibran dan Aisha bersama jenazah ibunya. Gadis itu. masih terus menangis.

"Ibu, bangun. Jangan bercanda Ibu. Tidak lucu. Ibu aku telah buat sarapan. Kita makan dulu. Jika ibu capek, bisa tidur setelah makan. Ibu bangun ya," ucap Aisha sambil menggenggam tangan ibunya.

Teman-teman Ghibran mulai berdatangan. Mereka mendirikan tenda dan mengeluarkan kursi dari rumah.

Ghibran melihat sang pujaan hati masih terus menangis di samping jenazah ibunya. Dia mendekati Aisha.

"Aisha. Istighfar. Jangan meraung. Itu tidak baik untuk ibu. Doakan ibu tenang di atas sana," ucap Ghibran.

"Mas, katakan padaku semua ini hanya bercanda. Kamu juga berbohong'kan? Ibu pasti hanya tidur. Kemarin ibu bilang, dia capek. Ingin istirahat. Tapi bukan istirahat selamanya begini'kan maksud ibu. Hukuman apa lagi ini, Mas. Apa dosaku sangat besar sehingga Allah memberikan aku cobaan seberat ini," ucap Aisha.

"Aisha, kamu harus percaya, jika Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. Berarti kamu adalah orang terpilih sehingga diberi cobaan yang berat," ucap Ghibran mencoba memberi pengertian pada sang gadis.

"Musibah juga mengajarkan kepada kita untuk menguatkan keimanan karena milik Allah lah segala yang ada dibumi dan langit, manusia hanya mampu berupaya tetapi Allah yang telah mentakdirkannya. Melalui musibah dapat menjadi washilah meningkatnya keimanan. Hikmah atau kebaikan yang pertama adanya ujian dan cobaan yang Allah turunkan kepada hamba-hambanya adalah agar Allah semakin mengetahui siapa di antara hamba-hamba Nya yang benar-benar berada di atas kesabaran dan siapa di antara hamba-hamba Nya yang berada dalam keputusasaan," ucap Ghibran lagi.

Aisha menghapus air matanya. Sebenarnya Ghibran tidak tega memberikan nasihat begitu. Dia mengerti bagaimana kesedihan wanita itu.

"Mas, apa aku bisa menjalani hidup ini tanpa ibu. Hanya dia yang membuat aku tegar selama ini," ucap Aisha pelan.

"Kamu harus kuat. Tidak boleh putus asa, Aisha," jawab Ghibran.

"Mas, tolong jaga ibu. Aku mau mengganti bajuku," pinta Aisha.

Ghibran menganggukan kepalanya. Aisha memberikan beberapa kain panjang untuk menutupi tubuh ibunya.

Dia berjalan pelan menuju kamarnya. Rumahnya telah tersusun rapi di bantu teman-teman Ghibran. Di dalam kamarnya tangis Aisha pecah lagi.

Kedua orang tua Ghibran yang telah sampai langsung masuk ke kamar. Tampak Ghibran yang sedang mengurus jenazah ibunya Aisha. Dia ingin mengangkat tubuh itu ke ruang tamu.

"Ghibran, mana Aisha?" tanya ibunya, karena tidak melihat gadis itu.

"Dia mengganti pakaiannya. Ayah, Ibu, aku ingin menikahi Aisha hari ini juga. Secara agama saja di depan jenazah ibunya agar aku bisa menemani Aisha menjalani hari ini. Jika telah halal, aku bisa langsung menginap malam ini, menemaninya," ucap Ghibran.

...----------------...

Terpopuler

Comments

Rahmawati

Rahmawati

gibran skrg akan jd sandaran utk aisha

2024-04-29

4

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛

bagus Gibran ntar Aisha ada yang nemenin

2024-04-20

0

Pendak Wah

Pendak Wah

kau hrs kuat Aisyah kami semua disini ikut merasakan kesedihan mu 😭😭😭

2024-04-01

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Foto Dan Video
2 Bab 2. Pemakaman Ayah
3 Bab 3. Aku Pamit
4 Bab 4. Bertemu Kembali
5 Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6 Bab 6. Ghibran
7 Bab 7. Maaf
8 Bab 8. Mantan Kekasih
9 Bab 9. Kedatangan Ghibran
10 Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11 Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12 Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13 Bab 13. Kepergian Ibu
14 Bab 14. Pemakaman Ibu
15 Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16 Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17 Bab 17. Masa lalu
18 Bab 18. Bertemu Annisa
19 Bab 19. Apartemen
20 Bab 20. Meminta Hak
21 Bab 21. Bertemu Ikhbar
22 Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23 Bab 23. Foto Siapa Itu?
24 Bab 24. Pesta Pernikahan
25 Bab 25. Syifa Sauqiya
26 Bab 26. Maafkan, Aku
27 Bab 27. Ke Rumah Sakit
28 Bab 28. Ke Panti Asuhan
29 Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30 Bab 30. Aib Aisha
31 Bab 31. Ke Makam Ayah
32 Bab 32. Kita Harus Pisah
33 Bab 33. Bertemu Ikhbar
34 Bab 34. Di Rumah Sakit
35 Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36 Bab 36. Ghibran Sakit
37 Bab 37. Ghibran Sadar
38 Bab 38. Mengusir Annisa
39 Bab 39. Jangan Suudzon
40 Bab 40. Kembali Ke Rumah
41 Bab 41. Bertemu Syifa
42 Bab 42. Membawa Syifa
43 Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44 Bab 44. Di Rumah Ibu
45 Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46 Bab 46. Annisa dan Syifa
47 Bab 47. Di Apartemen
48 Bab 48. Soto Padang
49 Bab 49. Kumpul Keluarga
50 Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51 Bab 51. Ke Rumah Sakit
52 Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53 Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54 Bab 54. Ke Rumah Ayah
55 Bab 55. Ayah Abdul
56 Bab 56. Kembali Ke Rumah
57 Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58 Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59 Bab 59. Ibu Sambung
60 Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61 Bab 61. Sarapan Pagi
62 Bab 62. Ayah Abdul
63 Bab 63. Ngidam Seblak
64 Bab 64. Kecelakaan
65 Bab 65. Pasca Operasi
66 Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67 Bab 67. Di Kamar Hotel
68 Bab 68. Aisha Yang Posesif
69 Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70 Bab 70. Mamanya Ikhbar
71 Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72 Bab 72. Boneka Syifa
73 Bab 73. Menggugat Cerai
74 Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75 Bab 75. Liburan
76 Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77 Bab 77. Sarapan Pagi
78 Bab 78. Makan Malam
79 Bab 79. Pengkhianat Ayah
80 Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81 Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82 Bab 82. Rachel
83 Bab 83. Bertemu Ghibran
84 Bab 84. Ibu Nur
85 Bab 85. Kecelakaan
86 Bab 86. Bayi Rachel
87 Bab 87. Ayah Abdul
88 Bab 88. Hana Kayla Maira
89 Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90 Bab 90. Bayi Pak Abdul
91 Bab 91. Amarah Melly
92 Bab 92. Tangisan Aisha
93 Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94 Bab 94. Gugatan Perceraian
95 Bab 95. Bertemu Ikhbar
96 Bab 96. Kandungan Aisha
97 Bab 97. Menjelang Lahiran
98 Bab 98. Ruang Operasi
99 Bab 99. Ruang ICU
100 Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101 Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102 Bab 102. Aqiqah
103 Bab 103. Kisah Berakhir
104 Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105 Promo Novel
Episodes

Updated 105 Episodes

1
Bab 1. Foto Dan Video
2
Bab 2. Pemakaman Ayah
3
Bab 3. Aku Pamit
4
Bab 4. Bertemu Kembali
5
Bab 5. Ikhbar dan Sang Istri
6
Bab 6. Ghibran
7
Bab 7. Maaf
8
Bab 8. Mantan Kekasih
9
Bab 9. Kedatangan Ghibran
10
Bab 10. Aku Menerima Kamu Apa Adanya!
11
Bab 11. Kedatangan Ikhbar
12
Bab 12. Pergilah Dari Rumahku!
13
Bab 13. Kepergian Ibu
14
Bab 14. Pemakaman Ibu
15
Bab 15. Jangan Menangis Lagi
16
Bab 16. Usir Mereka, Mas!
17
Bab 17. Masa lalu
18
Bab 18. Bertemu Annisa
19
Bab 19. Apartemen
20
Bab 20. Meminta Hak
21
Bab 21. Bertemu Ikhbar
22
Bab 22. Aku Bukan Pria Baik
23
Bab 23. Foto Siapa Itu?
24
Bab 24. Pesta Pernikahan
25
Bab 25. Syifa Sauqiya
26
Bab 26. Maafkan, Aku
27
Bab 27. Ke Rumah Sakit
28
Bab 28. Ke Panti Asuhan
29
Bab 29. Maaf, Aku Harus Pergi
30
Bab 30. Aib Aisha
31
Bab 31. Ke Makam Ayah
32
Bab 32. Kita Harus Pisah
33
Bab 33. Bertemu Ikhbar
34
Bab 34. Di Rumah Sakit
35
Bab 35. Pesan Dari Mas Ghibran
36
Bab 36. Ghibran Sakit
37
Bab 37. Ghibran Sadar
38
Bab 38. Mengusir Annisa
39
Bab 39. Jangan Suudzon
40
Bab 40. Kembali Ke Rumah
41
Bab 41. Bertemu Syifa
42
Bab 42. Membawa Syifa
43
Bab 43. Rencana Ke Rumah Ibu
44
Bab 44. Di Rumah Ibu
45
Bab 45. Kebahagiaan Aisha
46
Bab 46. Annisa dan Syifa
47
Bab 47. Di Apartemen
48
Bab 48. Soto Padang
49
Bab 49. Kumpul Keluarga
50
Bab 50. Jangan Sakiti Istriku!
51
Bab 51. Ke Rumah Sakit
52
Bab 52. Aisha Yang Telah Sadar
53
Bab 53. Di Taman Rumah Sakit
54
Bab 54. Ke Rumah Ayah
55
Bab 55. Ayah Abdul
56
Bab 56. Kembali Ke Rumah
57
Bab 57. Kedatangan Ibu Mertua
58
Bab 58. Ibu Nur Dan Annisa
59
Bab 59. Ibu Sambung
60
Bab 60. Tasyakuran Empat Bulanan
61
Bab 61. Sarapan Pagi
62
Bab 62. Ayah Abdul
63
Bab 63. Ngidam Seblak
64
Bab 64. Kecelakaan
65
Bab 65. Pasca Operasi
66
Bab 66. Perdebatan Aisha dan Ibu
67
Bab 67. Di Kamar Hotel
68
Bab 68. Aisha Yang Posesif
69
Bab 69. Kemarahan Ikhbar
70
Bab 70. Mamanya Ikhbar
71
Bab 71. Syifa Minta Izin Bermain
72
Bab 72. Boneka Syifa
73
Bab 73. Menggugat Cerai
74
Bab 74. Kesedihan Ikhbar
75
Bab 75. Liburan
76
Bab 76. Rahasia Pak Abdul
77
Bab 77. Sarapan Pagi
78
Bab 78. Makan Malam
79
Bab 79. Pengkhianat Ayah
80
Bab 80. Kedatangan Ayah Abdul
81
Bab 81. Izin Ke Luar Kota
82
Bab 82. Rachel
83
Bab 83. Bertemu Ghibran
84
Bab 84. Ibu Nur
85
Bab 85. Kecelakaan
86
Bab 86. Bayi Rachel
87
Bab 87. Ayah Abdul
88
Bab 88. Hana Kayla Maira
89
Bab 89. Pemakaman Pak Abdul
90
Bab 90. Bayi Pak Abdul
91
Bab 91. Amarah Melly
92
Bab 92. Tangisan Aisha
93
Bab 93. Ibu Nur dan Tante Melly
94
Bab 94. Gugatan Perceraian
95
Bab 95. Bertemu Ikhbar
96
Bab 96. Kandungan Aisha
97
Bab 97. Menjelang Lahiran
98
Bab 98. Ruang Operasi
99
Bab 99. Ruang ICU
100
Bab 100. Aisha Yang Telah Sadar
101
Bab 101. Anindya Yalanda Ghaaliya
102
Bab 102. Aqiqah
103
Bab 103. Kisah Berakhir
104
Promo Novel LIHAT AKU, GUS!
105
Promo Novel

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!