Langit tampak terang dengan semburat sinar yang berpendar mengelilingi tempat tinggalnya. Angin pagi ini rupanya berdesir lebih tenang. Namun mampu menerbangkan dedaunan.
Aisha telah selesai dengan kegiatannya di dapur. Hari ini dia tidak pergi ke pengajian. Ingin menemani sang ibu seharian. Selama ini dia lebih sering menghabiskan waktu untuk ke mesjid, semua untuk menghilangkan rasa bersalahnya. Setiap melihat wajah sang ibu, gadis itu teringat dengan kepergian sang ayah.
Setelah sarapan yang dia masak dihidangkan di meja, Aisha berjalan menuju kamar sang ibu. Dia ingin mengajak wanita paruh baya itu untuk menyantap hidangan yang telah dia sajikan.
Aisha mengetuk pintu kamar ibunya. Beberapa mengetuk tidak juga ada sahutan. Dia juga telah memanggil sang ibu tapi tetap tidak ada jawaban.
"Ibu, apa ibu sudah bangun!" ucap Aisha sambil mengetuk pintu pelan. Tidak juga mendapat jawaban, membuat pikiran Aisha tidak tenang. Dia takut terjadi sesuatu dengan sang ibunda.
Aisha meraih gagang pintu dan memutarnya. Ternyata tidak di kunci. Dia lalu membuka pintu kamar itu perlahan. Ruangannya masih gelap. Gadis itu menyalakan lampu kamar. Dia melihat wanita yang telah melahirkan dirinya itu masih terlelap di tempat tidur.
Aisha mendekati tempat tidur dan duduk di tepi ranjang ibunya. Dia sangat kuatir. Takut ibunya sakit. Tidak biasanya wanita itu masih tidur di jam segini.
Dengan pelan Aisha membangunkan ibunya, tapi tidak ada reaksi apa pun. Dia memegang dahi ibu, terasa dingin. Gadis itu meraih tangan bundanya dan merasakan tidak ada. lagi denyut nadi. Dia tidak mau berpikiran buruk.
Aisha meraih ponsel di saku baju gamisnya. Menghubungi Ghibran. Beruntung pria itu tidak ada kegiatan.
"Kamu tenang dulu. Jangan panik. Aku akan segera ke rumah dengan temanku yang dokter. Kebetulan dia tinggal sekitar rumahku. Ingat Aisha, jangan panik. Baca saja ayat-ayat suci. Jangan menangis," ucap Ghibran saat Aisha menghubunginya.
"Baik, Mas. Jangan lama. Aku tidak tenang. Aku takut terjadi sesuatu dengan ibuku," jawab Aisha dengan menangis.
"Aku mengerti Aisha. Sekarang aku segera meluncur." Ghibran menutupi sambungan ponselnya. Dia lalu menjalankan mobil menuju rumah temannya yang dokter. Alhamdulillah sang dokter belum pergi ke rumah sakit.
Setelah menjemput dokter, mereka segera melaju ke rumah Aisha. Setengah jam dia sampai ke rumah wanita itu.
"Assalamualaikum, Aisha," salam Ghibran.
"Waalaikumussalam, silakan masuk Mas," jawab Aisha dengan suara serak menahan tangis.
"Aisha, ini Nicko. Dia dokter umum. Mungkin untuk sementara dia bisa periksa ibu," ucap Ghibran memperkenalkan Dokter Nicko. Pria itu tersenyum pada Aisha.
"Ya, Mas. Silakan masuk. Ibu tidak bergerak juga. Aku telah membangunkan beberapa kali," ucap Aisha dengan terbata karena menangis.
"Kamu jangan menangis. Dokter Nicko akan periksa ibu dulu," ucap Ghibran. Rasanya dia ingin memeluk wanita itu. Melihat betapa sedihnya wajah sang pujaan hati.
Aisha menganggukan kepalanya sebagai jawaban. Mereka bertiga masuk ke kamar. Dokter Nicko langsung mengeluarkan peralatannya dan memeriksa keadaan ibunya Aisha.
Setelah beberapa waktu melakukan pemeriksaan, Dokter Nicko berdiri. Dia terlihat tegang. Menarik napas beberapa kali.
"Bagaimana keadaan ibu saya, Dokter? Ibu hanya pingsan saja 'kan?" tanya Aisha tidak sabar menunggu jawaban dari dokter.
"Maaf, Aisha. Dari hasil pemeriksaan saya tadi, ibu kamu telah pergi dari subuh. Dia telah mendahului kita semua," jawab Dokter Nicko.
Aisha merasakan dunianya runtuh mendengar jawaban dari dokter itu. Tubuhnya langsung lemah. Aisha terduduk ke lantai. Ghibran tidak peduli ini dosa atau bukan, dia memeluk tubuh rapuh sang wanita pujaan hatinya. Dia dapat merasakan kesedihan Aisha.
"Mas, ini tidak benar 'kan. Ibu tidak mungkin meninggalkan aku. Aku dengan siapa jika ibu pergi," ucap Aisha dalam pelukan Ghibran.
"Aisha, kamu yang sabar. Ini semua takdir Allah. Kamu tidak sendirian ada aku di sini," jawab Ghibran.
Aisha mencoba bangun dan mendekati ranjang di mana tubuh ibu terdiam terpaku. Dia berlutut di samping tempat tidur.
"Ibu, bangun. Ibu tidak mungkin pergi meninggalkan Aisha. Ibu janji mau menemaniku. Jangan pergi, Bu. Aku tidak sanggup lagi jika ibu pergi," ucap Aisha.
Ghibran tidak bisa membendung rasa sedihnya melihat Aisha yang menangis. Dia menghubungi kedua orang tuanya mengatakan kabar duka ini. Tak lupa Ghibran meminta tolong teman-temannya untuk datang ke rumah ini. Membantu mengurus pemakaman.
Dokter Nicko telah pamit. Tinggal Ghibran dan Aisha bersama jenazah ibunya. Gadis itu. masih terus menangis.
"Ibu, bangun. Jangan bercanda Ibu. Tidak lucu. Ibu aku telah buat sarapan. Kita makan dulu. Jika ibu capek, bisa tidur setelah makan. Ibu bangun ya," ucap Aisha sambil menggenggam tangan ibunya.
Teman-teman Ghibran mulai berdatangan. Mereka mendirikan tenda dan mengeluarkan kursi dari rumah.
Ghibran melihat sang pujaan hati masih terus menangis di samping jenazah ibunya. Dia mendekati Aisha.
"Aisha. Istighfar. Jangan meraung. Itu tidak baik untuk ibu. Doakan ibu tenang di atas sana," ucap Ghibran.
"Mas, katakan padaku semua ini hanya bercanda. Kamu juga berbohong'kan? Ibu pasti hanya tidur. Kemarin ibu bilang, dia capek. Ingin istirahat. Tapi bukan istirahat selamanya begini'kan maksud ibu. Hukuman apa lagi ini, Mas. Apa dosaku sangat besar sehingga Allah memberikan aku cobaan seberat ini," ucap Aisha.
"Aisha, kamu harus percaya, jika Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan hamba-Nya. Berarti kamu adalah orang terpilih sehingga diberi cobaan yang berat," ucap Ghibran mencoba memberi pengertian pada sang gadis.
"Musibah juga mengajarkan kepada kita untuk menguatkan keimanan karena milik Allah lah segala yang ada dibumi dan langit, manusia hanya mampu berupaya tetapi Allah yang telah mentakdirkannya. Melalui musibah dapat menjadi washilah meningkatnya keimanan. Hikmah atau kebaikan yang pertama adanya ujian dan cobaan yang Allah turunkan kepada hamba-hambanya adalah agar Allah semakin mengetahui siapa di antara hamba-hamba Nya yang benar-benar berada di atas kesabaran dan siapa di antara hamba-hamba Nya yang berada dalam keputusasaan," ucap Ghibran lagi.
Aisha menghapus air matanya. Sebenarnya Ghibran tidak tega memberikan nasihat begitu. Dia mengerti bagaimana kesedihan wanita itu.
"Mas, apa aku bisa menjalani hidup ini tanpa ibu. Hanya dia yang membuat aku tegar selama ini," ucap Aisha pelan.
"Kamu harus kuat. Tidak boleh putus asa, Aisha," jawab Ghibran.
"Mas, tolong jaga ibu. Aku mau mengganti bajuku," pinta Aisha.
Ghibran menganggukan kepalanya. Aisha memberikan beberapa kain panjang untuk menutupi tubuh ibunya.
Dia berjalan pelan menuju kamarnya. Rumahnya telah tersusun rapi di bantu teman-teman Ghibran. Di dalam kamarnya tangis Aisha pecah lagi.
Kedua orang tua Ghibran yang telah sampai langsung masuk ke kamar. Tampak Ghibran yang sedang mengurus jenazah ibunya Aisha. Dia ingin mengangkat tubuh itu ke ruang tamu.
"Ghibran, mana Aisha?" tanya ibunya, karena tidak melihat gadis itu.
"Dia mengganti pakaiannya. Ayah, Ibu, aku ingin menikahi Aisha hari ini juga. Secara agama saja di depan jenazah ibunya agar aku bisa menemani Aisha menjalani hari ini. Jika telah halal, aku bisa langsung menginap malam ini, menemaninya," ucap Ghibran.
...----------------...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 105 Episodes
Comments
Rahmawati
gibran skrg akan jd sandaran utk aisha
2024-04-29
4
🤎ℛᵉˣ𝐀⃝🥀OMADEVI💜⃞⃟𝓛
bagus Gibran ntar Aisha ada yang nemenin
2024-04-20
0
Pendak Wah
kau hrs kuat Aisyah kami semua disini ikut merasakan kesedihan mu 😭😭😭
2024-04-01
1