20. Permainan Nona Melati

Setelah menunggu kira-kira satu jam, akhirnya Dokter keluar dari ruangan. Ardi yang paling antusias, sedangkan Niken mengekor di belakangnya sembari tersenyum tipis, yang diketahui itu adalah kepura-puraan.

"Bagaimana keadaan Melati, Dok? Apa yang sebenarnya terjadi pada dia? Mengapa Melati terus menjerit kesakitan, apa yang sedang menimpa dirinya, Dok? cecarnya tidak sabar. "Jawab, Dokter!"

Semula pertanyaan datar-datar saja, tetapi diakhir kalimat dia membentak Dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU tersebut. Bahkan saking emosinya, Ardi menarik kera baju Dokter tersebut agar pria berjas putih itu segera menjawab pertanyaannya.

Niken segera melerai keduanya. "Tenangkan dirimu, Ardi! Bagaimana bisa Dokter memberikan penjelasannya, kalau kau membuatnya takut? Tenanglah. Melati akan baik-baik saja. Percayalah!"

Setelah berhasil mengendalikan emosinya, Ardi melepaskan kera baju Dokter tersebut. "Maaf, Dok. Saya terlalu cemas, sehingga saya tidak dapat menahan emosi dan melampiaskannya pada Anda," sesalnya, sembari menjauh beberapa langkah ke belakang.

Dokter itu tersenyum pahit. Semula ia sangat takut, tetapi ia segera memahami kegelisahan anggota keluarga pasiennya tersebut. Jadi wajar jika ada percekcokan terjadi di dalamnya.

"Tidak masalah Tuan. Saya bisa memahaminya," ujarnya memantapkan hati. "Kondisi pasien baik-baik saja. Dia hanya mengalami Kontraksi di awal-awal kehamilannya. Kalian membawanya tepat waktu ke sini, atau mungkin janinnya tidak akan bisa tertolong," lanjutnya membeberkan semua.

"Dia hamil, Dok?" tebak Niken tidak percaya. "Jadi, Melati saat ini sedang hamil?" tanyanya memastikan.

Ardi yang mendengarnya pun langsung mengangkat kepala. Sorot matanya kian kosong saat mengetahui bahwa Melati sedang hamil. Dia tidak mengetahui perihal tentang kehamilannya tersebut.

"Benar sekali. Kehamilannya sudah memasuki bulan kedua, andai kalian tidak membawa pasien segera ke rumah sakit, maka tidak tahu apa yang terjadi nanti. Bisa saja dia mengalami keguguran," balas Dokter itu membenarkan, sekaligus menjelaskan kondisi Melati untuk sekarang.

"Lalu, sekarang bagaimana kondisinya? Apa kandungannya baik-baik saja?" lirih Niken, masih sulit menerima kenyataan.

"Ibu dan bayi baik-baik saja. Janinnya kini sudah normal kembali. Dia tadi mengalami kontraksi yang biasa terjadi di awal-awal kehamilan, tetapi semuanya telah terlewati. Ibu dan janinnya kini baik-baik saja."

Niken mundur beberapa langkah. Entah bagaimana dia harus bersikap sekarang? Pikirannya langsung melalang buana, ada banyak pertanyaan yang mengisi benaknya sekarang.

Ardi mendekap istrinya. Dia tahu saat ini Niken pasti sangat terguncang dan syok, serta membutuhkan pijakan untuk menata hati. Ardi pun sama. Sulit baginya memahami situasinya saat ini. Bagaimana bisa Melati hamil tanpa melakukan pernikahan, apa lagi usia kandungannya sudah berjalan dua bulan? Siapa ayah dari bayi itu? Dengan siapa Melati melakukan hubungan terlarang, sampai dia hamil?

"Lalu, apakah kami boleh melihatnya?" tanya Ardi lirih setelah berhasil mengendalikan pikirannya.

Dokter itu mengangguk, "Kalian boleh bertemu dengan pasien. Dia sudah boleh dijenguk."

Ardi pun menatap lekat manik indah wanita yang kini telah sah menjadi istrinya itu. "Jika kamu tidak sanggup untuk melihatnya, maka kamu bisa menunggu di sini. Aku akan segera kembali setelah melihatnya di dalam," ungkapnya dengan bibir yang bergetar.

Sesungguhnya dia tidak sanggup untuk mengatakannya, tetapi Ardi merasa dia harus bertemu Melati dan meminta penjelasannya.

"Aku akan ikut denganmu. Bagaimana juga masalahmu, maka akan menjadi masalahku juga. Kita harus menghadapi ini bersama-sama. Aku tidak akan pernah membiarkanmu sendiri," jawab Niken dengan mantap dan keteguhan hati.

Ardi mengangguk, tetapi tidak menanggapinya lebih lanjut. Dia meminta pada Dokter untuk mengantarnya bertemu Melati di dalam.

"Mari!" ajak Dokter tersebut yang melangkah lebih dulu, lalu Niken dan Ardi mengekor di belakangnya.

Sesampainya di dalam, ternyata Melati sudah siuman. Dia langsung menatap lekat Niken yang menggandeng tangan Ardi.

@@@@@##$

Matanya segera tertuju pada pria yang dahulu berniat untuk menikahinya itu. Ardi mengetahui, tatapan itu mengarah pada dirinya. Dia pun mengelah napas berat, sembari mengelus tangan Niken dan berusaha tersenyum lembut pada istrinya itu.

"Ardi!" sebut Melati, langsung menggenggam tangan Ardi saat dia telah berdiri di tepi ranjangnya.

"Kau pasti sudah mengetahui. Maafkan aku Ardi karena sudah mengkhianatimu," lirihnya memasang wajah memelas, yang disertai dengan derai air mata.

"Siapa ayah anak ini?" tanya Ardi tanpa memandang Melati. "Katakan siapa ayah dari bayi ini? Katakan!" bentaknya, membuat Melati tersentak dan begitu juga dengan Niken.

Bibir Melati pun bergetar. Dia diam membisu, sepasang mata indah itu berputar cepat. "Cepat katakan siapa ayah dari bayi ini?!" Ardi kembali membentaknya yang ingin segera mendengar penjelasan Melati.

"Sa-mu-dra ..." ejanya dengan napas yang terputus-putus. Kalimatnya tertahan di ujung tenggorokan, sehingga sulit untuk berkata-kata.

Niken menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ardi pun mengelah napas berat. Dia menyingkirkan tangan Melati, "Kau pengkhianat, Melati. Kandunganmu sudah berjalan dua bulan, itu berarti selama ini kau bermain api di belakangku, Ya! Jawab Melati!" bentaknya lagi yang kini tidak dapat menahan emosinya.

Ardi menarik diri, menjauh dari Melati. Semula dia mengira, kepergian Melati tepat di hari pernikahannya, memang karena Melati tidak benar-benar mencintainya. Maka dari itu, dia masih bisa memaafkan berbuat mantan kekasihnya tersebut.

Namun, sekarang baru terkuak fakta kalau sebenarnya Melati pergi meninggalkannya karena dia telah berhubungan dengan Samudra, di belakangnya.

Hati siapa yang tidak sakit, kala mengetahui kekasih yang dahulu sangat dicintainya dan memiliki tempat khusus di hati ternyata berkhianat di belakang?

BRUK ...

Melati menjatuhkan dirinya dari tempat tidur. Dokter sampai tersentak dan begitu juga dengan Niken dan Ardi. Dokter tersebut ingin membantu, tetapi dia mengurungkan niatnya karena Melati langsung bersujud di kaki Ardi.

"Maafkan atas kebodohanmu yang sudah mengkhianatimu, Ardi. Sekarang aku telah mendapatkan hukumannya. Samudra tidak ingin mengakui anaknya. Ibu dan ayah tidak mau menerimaku lagi. Sekarang aku tidak memiliki siapa-siapa lagi, Ardi. Mohon untuk maafkan aku, Ardi!" sesalnya yang berderai air mata.

Ardi menarik kakinya. Dia tidak sudi disentuh oleh wanita yang jelas-jelas telah mengkhianati cintanya. Tiga tahun menjalin hubungan, ternyata baru terkuak fakta cintanya hanya sepihak. Melati tidak sungguh-sungguh mencintainya. Namun, yang menjadi pertanyaan Ardi, mengapa dia harus berpura-pura mencintai sedangkan hatinya bahkan tidak memilih dirinya sebagai penghuni di sana?

"Selama ini kau anggap aku apa, Melati? Bonekamu, yang bisa kau buang seenaknya saat sudah tidak dibutuhkan?" cercanya berusaha menahan air mata. "Oh, bukan boneka, tapi aku ini sampah yang kau punggut di pinggir jalan, setelah itu kau buang kembali. Ya 'kan?"

Ardi menggeram pipi Melati dengan sebelah tangannya. Tatapannya begitu tajam pada wanita yang telah menorehkan luka di hatinya.

Niken buru-buru mendekati suaminya, dia takut Ardi akan berbuat sesuatu yang dapat melukai Melati.

"Hentikan ini, Ardi! Kau jangan terpancing emosi dan menjadi jahat. Dia sudah melakukan kejahatan, tetapi kau tidak bisa membalasnya dengan kejahatan pula. Melati sudah menerima karmanya. Saat ini dia telah dihukum atas semua perbuatan buruknya pada dirimu."

Niken memeluk Ardi tepat di depan Melati. Dia mengelus-elus bahu Ardi, membawa pria itu untuk menumpahkan semua kesedihannya. Ardi melepaskan genggamannya pada Melati, yang membuat mantan kekasihnya itu membulatkan mata. Bukan hanya itu saja, tangisannya bahkan berhenti saat melihat Ardi mendapatkan pelukan dari wanita lain.

"Ayo, kita pulang! Aku tidak ingin berlama-lama di sini. Hatiku semakin sesak. Tolong antar aku pulang!" pintanya parau.

Niken mengangguk, "Ayo, kita pulang!" Dia segera membantu Ardi untuk berdiri. Ardi tidak lagi mau melihat Melati. Hatinya sudah sangat sakit dan kecewa. Wanita yang dikiranya baik-baik, ternyata memiliki hati yang busuk. Bahkan lebih jelek dari seorang pembunuh.

Melati mendongak, tidak mungkin dia melepaskan Ardi begitu saja. Sekarang dia tidak lagi memiliki siapa-siapa, hanya Ardi satu-satunya orang yang bisa dijadikan harapannya untuk melanjutkan hidup.

"Ardi!" sebutnya, kembali menggenggam erat kaki Ardi, sehingga membuat pria dua puluh tujuh tahun itu memejamkan matanya, menahan napas untuk tidak terpancing kembali.

"Ardi, biarkan aku tinggal bersamamu!" pintanya dengan lantang, sekaligus mengenyampingkan harga dirinya yang tinggi itu.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!