5. PERGI KE MALL

Walaupun hanya sekedar perkenalan singkat, tetapi Niken langsung merasa nyaman saat bersama Ardi. Keduanya sudah saling memperkenalkan diri, terutama Ardi yang sampai tiga puluh menit lalu belum mengenalkan namanya pada Niken. Sungguh keterlaluan pemuda yang satu ini, untungnya Niken tipe wanita sabar. Setidaknya itulah yang Ardi pikirkan.

"Kita akan kemana?" tanya Ardi, saat duduk bersebelahan dengan Niken.

"Pertama kita akan pergi ke mall, lalu ke salon untuk merubah penampilanmu. Pokoknya hari ini kamu harus terlihat tampan dan keren karena nanti malam kita akan bertemu Ayah," balas Niken santai.

Mendengar kata 'Bertemu Ayah' seketika nyali Ardi menciut seperti balon yang kekurangan oksigen. "Apa, bertemu ayahmu? Hari ini?" Bahkan untuk menelan ludah pun Ardi cukup kesulitan.

Niken langsung mengiyakan, "Benar. Aku sudah mengatakan pada Ayah kalau, aku sudah menemukan calon suamiku dan ayah ingin cepat-cepat bertemu dengan calon menantunya, yaitu kamu."

Niken menelan kata 'Kamu' sehingga Ardi semakin sulit menelan ludahnya. Dia yang semula duduk menghadap Niken, kini merubah posisi duduknya, menghadap ke jalan seraya berceloteh.

"Apa-apaan ini langsung bertemu ayah mertua saja? Bagaimana kalau mereka bertanya tentang pendidikan dan pekerjaanku, yang ada aku langsung diusir saat itu juga. Astaga, mengapa dia sangat terburu-buru untuk memperkenalkan aku pada ayahnya? Bahkan belum 24 jam kami mengenal, ini sudah main ketemu sama ayah mertua saja ..."

"Apa jadinya aku nanti saat berdiri di hadapan ayahnya? Bisa-bisa aku langsung pingsan saat itu juga karena gugup. Astaga, Ardi."

Belum juga bertemu, Ardi sudah lebih dulu membayangkan bagaimana reaksi ayahnya Niken saat bertemu dengannya.

***

"Security! Cepat usir dia! Dia hanya gelandang yang bermimpi untuk menjadi menantu keluarga Atmaja!" hinanya tanpa ragu di depan banyak pasang mata.

"Kau! Pria tidak berpendidikan, seenaknya ingin menikahi putriku yang cantik ini! Seharusnya kau bercermin dahulu. Apa di rumahmu tidak ada cermin, sehingga kau tidak memiliki malu!"

Bukan hanya mencaci dan menghina, Bambang sungguh mempermalukan Ardi dalam pertemuan tersebut. Pria enam puluhan tahu itu kian murka saat Ardi tidak kunjung pergi dari sana.

***

"Ardi," panggil Niken, seraya mengelus bahu Ardi.

"Ardi." Kembali dia menyebut namanya, tetapi tidak ada sedikitpun tanggapan. Bahkan Niken sudah menggoyangkan bahu Ardi, tetap saja pemuda dua puluh tujuh tahun itu tidak berkutik.

"Tendang aja, Nona. Pasti dia akan sadar," pekik Jake memberi usulan.

"Apaan si? Bisa tidak diam. Ikut campur urusan orang saja." Niken berdengus kesal dan Jake pun tidak melanjutkan pendapatnya itu. Dia hanya menggerutu dalam hatinya.

Ardi terlalu larut dalam bayangan, sampai akhirnya Niken tidak bisa menahannya lagi.

"Ardi!!"

Dia menarik napas kuat-kuat, lalu berteriak sekeras mungkin sampai Jake pun ikut tersentak kaget.

Ardi akhirnya tersadar dari lamunannya. Sungguh, dia terlalu larut dalam pikirannya sampai lupa bahwa saat ini dia sedang bersama wanita cantik. Ah, lebih tepatnya wanita pemarah.

Niken menautkan sebelah alisnya, raut wajahnya menjadi jutek dengan tangan yang melipat di dada, "Apa yang sedang kamu pikirkan sampai-sampai panggilanku tidak kamu hiraukan?" tanyanya bernada kesal.

Ardi bisa langsung memahami kekesalannya dalam satu kali lihat, "Ah, astaga. Kau membuat telingaku berdengung dengan teriakanmu itu," protesnya seraya mengusap cepat telinga kanannya. Niken menaikkan sebelah alisnya tanpa berkomentar.

"Bisa tidak kau bersikap pelan dan manis seperti wanita di luaran sana? Kau ini wanita berpendidikan, mengapa sikapnya seperti wanita kampungan saja. Seharusnya kau bisa memanggilku dengan lembut dan bukan berteriak seperti tadi," lanjutnya seraya menyunggingkan bibir, tersenyum mengejek dan melirik ke arah lain.

Ini cara Ardi agar suasana tidak terlalu canggung ataupun tegang. Mungkin caranya akan membuat Niken tersinggung. Namun, mau bagaimana lagi? Ucapan Niken yang memintanya untuk bertemu ayahnya hari ini, membuat Ardi tidak bisa duduk tenang.

"Kenapa gayanya mendadak begitu songong? Memang dia kira, dia ini siapa sampai-sampai bisa menilai diriku seperti itu dan memerintah seenaknya saja?" batin Niken, segera menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum sinis.

Dia cukup kesal dengan ucapan Ardi, bahkan sangat kesal karena Ardi dengan berani menyamakan dirinya dengan wanita kampung, yang jelas-jelas berbeda jauh levelnya dengan dia.

Akhirnya kedua insan yang baru saling mengenal itu hanya bisa saling menatap. "Apa?" tanya Ardi yang hanya memberi isyarat dengan menaik turunkan sebelah alisnya.

Niken menggeleng, dia mengambil posisi menghadap depan, seraya melipat kedua tangan di dada dan memandang keluar jendela. Kepalanya dia sandarkan pada sisi pojok kursi, melihat jalanan yang terpantau ramai.

Ardi pun melakukan hal yang sama. Dari pada dia memikirkan pertemuannya dengan Ayah Niken, sebaiknya dia kembali mengulang memori bersama Melati, kekasihnya yang telah tega meninggalkan dia tepat di hari pernikahan.

Masih sangat hangat dalam ingatannya saat dia membaca sepucuk surat yang Melati tinggalkan sebelum ia meninggal rumah.

"Mengapa kau baru mengatakannya sekarang? Apakah aku seburuk itu sehingga kau ingin mempermalukan diriku di hadapan orang-orang?" batin Ardi, seraya memandang jalan raya. Guratan sendu terlihat jelas dari wajahnya. Namun, Ardi berusaha menyembunyikannya, tidak ingin dilihat Niken maupun Jake.

Sama halnya dengan Ardi yang tengah memikirkan bagaimana kondisi Melati saat ini, Niken pula sedang mengulang memori yang sama dengan seorang laki-laki, yang entah di mana rimbanya sekarang?

"Andai saat itu aku jujur, mungkin kau tidak akan pergi. Aku menyesal karena tidak pernah mengatakannya padamu, membiarkan dirimu terus berharap dan menungguku. Sungguh aku memang wanita yang bodoh karena telah menyia-nyiakan dirimu," lirihnya seraya mengelah napas berat.

Dia mengedipkan matanya dengan pelan, seolah waktu kembali berhenti, membawanya masuk dalam masa lalu yang sampai detik ini tidak dapat dia lupakan.

Jatuh cinta. Cintanya memang indah, tetapi saat jatuhnya terasa sakit dan berakhir dengan menyisakan trauma mendalam.

Pada akhirnya, selama perjalanan tidak ada lagi obrolan di antara mereka. Kedua insan yang sama-sama pernah mengalami gagalnya bercinta itu sedang hanyut dalam perasaan masing-masing.

Jake yang sedari tadi memerhatikan keduanya, hanya bisa mengelah napas panjang, "Mereka memang cocok, sama-sama pernah ditinggal pacar," gumamnya tanpa terdengar siapa pun.

"Semoga saja aku tidak bernasib sama dengan mereka. Jatuh cinta. Cintanya memang indah, tetapi jatuhnya begitu menyakitkan. Semoga aku tidak pernah mengalaminya di masa depan nanti," harapnya, seraya menggelengkan kepala dan pandangnya kembali pada jalan.

***

Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam, akhirnya mereka sampai di Jakarta. Seketika pandangan Ardi langsung antusias saat melihat Kota Jakarta. Selama ini dia hanya melihatnya di televisi dan sekarang dirinya berada di Jakarta. Sungguh seperti mimpi.

"Apa kau senang?"

Baru saja Ardi ingin mengungkapkan rasa bahagianya, Niken sudah lebih dulu bertanya dan Ardi langsung mengangguk kegirangan.

"Tentu saja aku sangat bahagia. Selama ini aku hanya melihat kota Jakarta dari telivisi saja dan belum pernah datang kemari. Ternyata, kota Jakarta lebih ramai dari yang terlihat di tv," beber Ardi dengan senyuman lebar.

Niken bisa melihat, betapa bahagianya Ardi saat sampai di Jakarta. Ardi sungguh pria yang sangat berbeda dari kebanyakan laki-laki yang dikenal Niken.

Mereka pandai memainkan peran dengan memakai topeng untuk menutupi kebusukan mereka. Namun, berbeda dengan Ardi. Dia benar-benar tulus. Dari sorot matanya terpancar kejujuran, bukan kepolosan yang sekedar dibuat-buat.

Cukup lama Niken memerhatikan Ardi yang antusias melihat jalanan Ibu Kota, sampai Jake mengerem mendadak. Bukannya terantuk ke depan, tubuh Niken malah jatuh dalam pelukan Ardi yang membuat kedua netra mereka saling bertemu.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!