14. Malam Pertama Terlewatkan

Tiga puluh kemudian, akhirnya Ardi keluar dari kamar mandi juga. Dia berjalan tanpa menyadari kalau Niken memerhatikannya. Sebenarnya bukan dia tidak tahu, hanya saja memilih untuk pura-pura tidak melihat.

"Ternyata, pria perlu tiga puluh menit untuk mandi? Lebih lama juga, Ya. Aku saja hanya lima belas menit, sedangkan dirimu?" Niken mencibirnya, sembari memandang Ardi dari atas sampai bawah.

Dia menjeda kalimatnya menunggu reaksi Ardi selanjutnya. Namun, yang diharapkannya tidak sesuai ekpektasinya. Ardi malah acuh tak acuh. Dia melenggang begitu saja tanpa menanggapi ejekan Niken.

Gadis ayu yang kini berstatus Nyonya Ardi itu berdengus kesal. Wajahnya ditekuk dan pipinya mengembung. Dia melipat tanyanya di dada. "Dasar Ardi! Beraninya dia mengacuhkan kata-kataku. Tidak akan kubiarkan dia hidup tenang setelah ini. Awas kau! Akan aku balas perbuatanmu!" ancamnya, yang dapat didengar Ardi.

Sementara itu, Ardi menahan tawanya. Kepalanya menggeleng saat mendengar istirnya yang mengomel sendirian di sana.

Lama kelamaan, dia mulai terbiasa dengan sifat Niken yang manja dan kekanak-kanakan. Semula dia mengira, Niken adalah wanita yang arogan, sombong dan menakutkan. Namun, setelah beberapa waktu mengenalnya, nyatanya Niken bukanlah wanita yang dipikirkannya.

Ardi telah memilih bajunya dan sudah selesai makainya juga. Dia melenggang menuju tempat tidur, di sana Niken asyik dengan gawainya sehingga tidak menyadari kehadirannya.

Ardi mengambil bantal yang ada di ranjang. Tindakannya langsung terlihat oleh Niken. "Apa yang ingin kamu lakukan dengan bantal itu? Mau pergi kemana kamu?"

Alis Niken terangkat sebelah, "Jangan-jangan jamu mau tidur di kamar lain?" tebaknya asal.

Ardi pun tersenyum simpul, "Ya enggaklah. Ngapain aku tidur di kamar lain, yang ada nanti orang tua kamu curiga sama pernikahan kita," elaknya demikian, sembari mendekap bantal yang telah didapatnya.

"Aku akan tidur di sofa dan kamu bisa tidur dengan tenang di sini."

Ardi juga menambahkan. Dia tidak akan mendekati ranjang atau menyentuh Niken, kecuali Niken sendiri yang memintanya. Semua ini Ardi lakukan sesuai yang tertera dalam perjanjian pernikahan, yang telah disepakati bersama.

Niken pun memicingkan matanya, "Aku tahu tentang perjanjian itu, tapi ini malam pertama kita. Kata orang, saat malam pertama pernikahan, sepasang pengantin baru seharusnya menghabiskan waktu bersama agar pernikahannya langgeng," ungkapnya asal.

Entah dari mana kalimat tersebut, yang jelas Niken melakukannya semata-mata agar Ardi tidak tidur di sofa.

"Lagi pula, kalau kamu tidur di sofa, lalu ayah datang ke kamar dan melihat kita tidak tidur bersama, dia pasti akan marah besar. Coba kamu pikir-pikir lagi deh. Aku si terserah kamu saja. Kalau ayah datang dan marah-marah, aku engga mau tanggung jawab."

Ancamannya mampu meluluhkan hati Ardi. Jika dipikir-pikir, yang Niken katakan benar juga karena di saat-saat seperti ini, pastinya akan ada yang datang ke kamar, entah itu ibu atau ayah mertuanya.

"Baiklah. Aku akan tidur di sini," setujunya, sembari meletakkan kembali bantal di sisi ranjang.

Walau tampak ragu-ragu, akhirnya Ardi duduk di tepi ranjang. Niken pun tersenyum penuh kemenangan. Bakatnya dalam berakting, ternyata berguna juga. Setidaknya seorang Ardi telah berada di genggamnya.

Ardi duduk membelakangi Niken. Hatinya berdegup tidak karuan. Dia terus mengatur napasnya karena ini kali pertama dirinya satu ranjang dengan wanita.

Mungkin jika Melati yang menjadi Istrinya, situasinya tidak akan secanggung sekarang. Niken tertawa nakal. Melihat Ardi seperti ini, membuatnya ingin selalu menjahilinya.

Ardi pun mulai menaikkan kakinya. Namun, sebelum itu Niken lebih dulu memberi batas pada ranjang mereka.

"Guling ini akan menjadi pembatasnya. Jadi tidak ada dari kita yang boleh melewati guling ini. Mengerti!" serganya, menatap tajam pada pria yang kini telah sah menjadi suaminya.

Ardi pun mengangguk, tetapi tidak memberikan tanggapan lebih lanjut. Perlahan-lahan dia mulai merebahkan tubuhnya.

Niken pun melakukan hal yang serupa. Dia menarik selimut dan Ardi pun menarik bagiannya juga.

Situasi canggung terjadi. Keduanya sama-sama memandang langit-langit. Kondisi kamar yang telah dihias sedemikian rupa, nyatanya sama sekali tidak menciptakan kesan romantis bagi keduanya.

"Niken!" panggilnya lembut.

Niken bergumam, "Apa?"

"Aku ingin menemui ibu dan ayahku. Apakah kita bisa bertemu mereka besok?"

Ardi segera mengubah posisi tidurnya, yaitu menghadap wanita yang kini sudah sah menjadi istrinya.

Niken ikut mengubah posisinya, sehingga keduanya kini saling berpandangan dan guling sebagai pemisahnya.

"Hem, untuk besok sepertinya tidak bisa karena ayah dan ibu tidak akan membiarkan kita pergi. Kemungkinan besar ada banyak investor dan rekan kerja ayah yang ingin bertemu kita besok. Jadi, tidak mungkin kita bisa pergi menemui ibu dan ayahmu besok," balasnya sedikit bersemangat.

Ardi tersenyum kecut saat mengetahui kalau keinginannya untuk bertemu ayah dan ibunya tidak akan terlaksana.

"Jangan sedih kayak gitu deh. Aku paling engga suka lihat cowok lembek kayak gitu," ejeknya secara gamblang.

Ardi membulatkan matanya, tidak terima disebut 'lembek' oleh Niken. Namun, dia juga tidak mengomentari ucapan istrinya karena tidak ingin berdebat.

"Kamu kalau mau marah ya marah saja. Aku jujur mengatakannya, kalau besok kita engga bakalan dapat izin dari ayah, tapi lusa mungkin bisa," ucapnya, sembari memalingkan pandangan, sekaligus memancing Ardi. Apakah dia menyimak ucapannya atau tidak?

"Lusa ya?" Ardi mengangguk pelan, "Tapi janji ya. Lusa kita harus pergi ke rumah orang tuaku?"

Niken buru-buru berbalik arah kembali, "Janji!" serganya, sembari mengangkat jari kelingkingnya. Ardi yang melihatnya pun langsung melingkarkan jarinya dan tersenyum lebar.

Cukup lama keduanya saling memandang, sebelum akhirnya masing-masing menarik diri. Niken mendehem, sedangkan Ardi bersiul-siul. Kembali mereka melihat langit-langit yang berhiaskan bintang-bintang.

"Terima kasih, Niken," ucap Ardi, kembali membuka pembicaraan mereka.

"Berterima kasih untuk apa?" celetuk Niken, kini memposisikan dirinya menghadap Ardi kembali dan guling sebagai pemisahnya.

"Terima kasih karena kamu mau menerima aku sebagai suami. Sedangkan kamu tahu sendiri bagaimana kondisi aku saat itu," lirihnya lebih lanjut.

Niken memutar bola matanya, lalu membuang napas berat. "Bagaimana ya aku menjelaskannya? Pokoknya, ini semua sudah diatur oleh Allah. Pertemuan kita di Bandung, tentunya sudah Allah rencanakan dan kita sebagai makhluk ciptaannya, hanya bisa mengikuti skenarionya," ungkapnya begitu meneduhkan hati.

Hal yang menjadi nilai plus di mata Ardi, yaitu Niken selalu mengutamakan agama. Walaupun sifatnya kekanak-kanakan di usianya sekarang z tetapi Niken selalu bisa menempatkan dirinya dengan pola pikirnya yang dewasa.

Ardi pun tersenyum lembut, merasa bersyukur sekaligus beruntung karena dipertemukan dengan Niken. Wanita yang dapat membimbingnya menjadi orang yang lebih baik lagi.

"Kenapa kamu melihatku seperti itu?" tegurnya ketus.

Ardi menggeleng. Buru-buru dia mengubah posisinya menghadap ke depan, memandang langit-langit kembali tanpa menjawab pertanyaan Niken.

Cukup lama keduanya memandang atap yang berhiaskan bintang-bintang tersebut, sampai akhirnya Niken berbalik badan. Posisinya membelakangi suaminya dan begitu juga dengan Ardi.

Dia mendekap guling lainnya. Ardi tidak bisa tidur, jika tidak memeluk guling. Kantuk pun mulai datang. Perlahan-lahan Ardi memejamkan matanya dan Niken pun mulai terlelap masuk ke alam mimpi.

Pada akhirnya, malam pertama yang selalu dinantikan bagi pasangan suami istri, ternyata tidak terlaksa.

Baik Ardi maupun Niken sudah sama-sama berkomitmen untuk tidak saling menyentuh, kecuali Niken memberikan izin untuk Ardi melakukannya. Sepertinya itu tidak akan mungkin terjadi dalam waktu dekat.

Keduanya pun telah terlelap dalam mimpi masing-masing. Sementara itu di luar kamar, Bambang dan Mita sedang menguping pembicaraan Ardi dan Niken.

Keduanya kepo, apakah Ardi dan Niken melakukannya malam ini?

"Aku tidak mendengar apa-apa? Apa kamu mendengarnya?" tanya Mita, sembari mengangkat bahunya.

Bambang pun menggeleng, "Tidak. Sepertinya tidak terjadi apa-apa di dalam," tebaknya ragu-ragu.

"Apa Ardi tidak langsung melakukan tugasnya malam ini? Apa jangan-jangan, Niken membuat Ardi kesulitan sehingga membuatnya kelelahan terlebih dulu?"

Mita pun ikut mengira-ngira. Dugaannya tidaklah salah dan tidak juga benar. Bambang pun tidak bisa membenarkannya juga.

Keduanya saling berpandangan, "Bagaimana kalau kita kembali saja ke kamar? Biarkan mereka melakukannya sendiri. Tidak baik kita menguping, sebaiknya kita melakukannya saja sendiri di kamar kita," ajaknya menggoda.

Mita pun segera mengangguk, "Ayo!" lanjutnya manja.

Bambang tidak membuang waktu lagi, dia langsung menggendong Mita ala bridal style. Mita mengalungkan tangannya di leher sang suami.

Bambang pun menghujaminya dengan ciuman sampai memasuki kamar. Pintu kamar segera ditutup dan Bambang membawa Mita ke ranjang.

Biarpun usia tidak lagi muda, tetapi Bambang Adi Atmaja masih bisa memuaskan hasrat sang istri tercinta. Malam itu berlalu dengan penyatuan keduanya.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!