6. Masih Canggung

Dikarenakan jalanan yang macet, sehingga Jake pun mengerem mendadak yang akhirnya membuat tubuh Niken tidak stabil dan jatuh dalam pelukan Ardi.

Mata kedua insan yang baru saling mengenal itu bertemu. Niken menatap lekat Ardi dan begitu juga sebaliknya. Tangan Ardi menyanggah bahu Niken agar tidak jatuh. Sementara, Niken larut dalam suasana sampai akhirnya dia tersadar karena Jake mendeham.

Dua-duanya terkejut dan buru-buru mengambil posisi masing-masing dan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa. Jake yang menyaksikan semuanya hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Sebaiknya kalian memang menikah saja, daripada seperti itu. Kalian sudah sama-sama cocok," celotehnya yang dapat didengar Ardi dan Niken.

Seketika pipi Niken merona, sayup matanya mengisyaratkan bahwa dia merasa malu karena terciduk oleh Jake.

Ardi sendiri pura-pura tidak mendengar ucapan Jake tadi karena sama halnya dengan Niken, dia pun merasa malu dan bahkan hatinya tidak bisa diajak kompromi sekarang.

Jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya. Kejadian ini sudah terjadi beberapa kali saat pertama bertemu Niken.

Mungkinkah ini yang dinamakan cinta? Ardi pun memalingkan wajahnya, lalu memandangi Niken untuk beberapa saat, "Ah, tidak mungkin aku jatuh cinta pada dia. Tidak Ardi. Cintamu hanya untuk Melati saja, sekarang ataupun nanti."

Dia pun menepis anggapan yang diuatnya sendiri. Jalanan yang macet membuat perjalanan mereka menjadi tersendat. Niken yang tidak pernah sabaran itu akhirnya memerintahkan Jake untuk memutar arah.

"Ambil jalan lain Jake. Kalau kita terus berada di sini, bisa-bisa kita terlambat. Ini sudah hampir jam dua dan waktu kita hanya tinggal beberapa jam lagi sebelum malam," ungkapnya gusar sembari melihat arloji yang tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat.

Jake pun mengangguk. Dia melihat kiri dan kanannya. Jalanan sudah dipenuhi pengendara motor yang membuat jalurnya agak tersendat.

Di depan sana kurang dari tiga puluh meter, ada belokan mengarah ke Tamrin. Jake pun terus menekan klakson agar pengendara motor yang terus menerobos dapat memberinya jalan.

Lima belas menit berikutnya, mereka akhirnya bisa lepas dari kemacetan. Ibu Kota sangat terkenal akan kemacetannya yang karena menjadi salah satu kota tersibuk di Indonesia.

Akhirnya Niken dapat bernapas lega setelah keluar dari kemacetan. Dia melihat ke arah Ardi yang tampak pulas. Namun, pandangannya segera terarah pada Jake.

"Kita ke Mall yang ada di Senayan saja karena pertemuan aku dengan Ayah di dekat Senayan."

Jake pun mengangguk, "Baik Nona." Tanpa berkata-kata lagi, dia segera berbelok ke kiri di persimpangan tiga.

"Apa kita sudah sampai?" tanya Ardi, seraya mengucek-ngucek matanya. Dia sempat tertidur beberapa menit yang lalu. Dikarenakan terjebak macet, membuat Ardi mengantuk.

"Ups, maaf karena sudah membangunkanmu. Kamu lanjut tidur saja. Kita akan sampai tiga puluh menit lagi," beber Niken. Walaupun sudah bersuara pelan, nyatanya itu mampu membuat Ardi tetap terbangun.

"Ah, tidak masalah," serganya seraya mengibaskan tangan. "Ternyata macet bisa membuat kita mengantuk juga, Ya. Aku tidak tahu itu karena selama ini, aku tidak pernah terjebak macet lebih dari tiga puluh menit. Jadi aku sedikit bosan saja," tambahnya demikian, dengan mengubah posisi duduknya menjadi lebih tegak.

Menghabiskan waktu lebih dari tiga jam hanya dengan duduk saja di mobil, nyatanya membuat tulang-tulang pinggangnya menjadi pegal. Dia belum pernah naik mobil dengan durasi perjalanan panjang, sehingga dia perlu membiasakan dirinya.

Niken tekekeh ketika melihat Ardi sedang melakukan perenggangan, "Kamu pasti kelelahan. Apa perlu kita beristirahat?" tawarnya, sembari mengedipkan sebelah matanya.

Ardi tidak menjawab. Dia hanya bergumam dan melirik Niken untuk sesaat saja. Lalu, kembali melanjutkan perenggangan yang sempat tertunda itu.

Setelah melakukan gerakan kecil, akhirnya dia bisa bergerak dengan bebas kembali. Pinggangnya terasa lurus lagi. Melihat kepolosan Ardi membuat Niken tersenyum, dapat dikatakan ini senyuman terbaiknya. Jake pun merasakan hal serupa karena selama dia bekerja di bawah perintah Niken, dia jarang bahkan belum pernah melihat Niken tertawa sebahagia ini.

***

Disisa waktu yang ada, baik Niken maupun Ardi saling mengobrol. Menceritakan hal-hal kecil yang disukai diri masing-masing. Dimulai dari hobi, barang kesukaan sampai hewan yang ditakuti.

Niken menceritakan bahwa dia sangat takut pada ulat dan hewan yang melata lainnya. Sedangkan Ardi, dia sangat tidak suka kegelapan karena bagianya kegelapan adalah, sesuatu yang tidak menyenangkan. Maka dari itu, dia sangat tidak suka kalau tidur dengan lampu dimatikan. Lampu kamarnya harus selalu menyala saat dirinya tidur.

Niken pun harus mengingat itu semua karena dirinya berbanding terbalik dengan Ardi. Dia sangat suka kalau tidur dengan lampu dimatikan karena dengan begitu dia bisa lebih rileks saat tidur.

Jika seperti ini, bagaimana saat mereka nanti menjadi suami istri andai yang satu lebih suka dimatikan lampunya, sedangkan yang lainnya lebih suka tidur dengan lampu menyala?

***

Mereka pun akhirnya sampai di Plaza Senayan. Ardi dan Niken turun lebih dulu di depan pintu masuk, sedangkan Jake pergi untuk memarkirkan mobil.

Niken berpesan untuk tidak usah ikut karena dia tidak ingin diganggu saat berbelanja. Jake pun mengiyakan, setidaknya dia dapat beristirahat karena selama hampir tiga jam dia menyetir.

Niken segera membawa masuk Ardi ke dalam mall. Mata Ardi seketika berbinar-binar, "Apakah ini pusat perbelanjaan yang terkenal itu? Maksudku, seperti inikah rasanya saat memasuki pusat perbelanjaan?" ungkapnya yang tidak bisa menyembunyikan rasa takjub.

"Jadi ini pertama kali kau masuk ke mall?" tanya Niken. Melihat Ardi senang, hatinya pun ikut merasa senang.

Benar yang orang katakan. Bahagia itu sederhana. Melihat orang lain tersenyum dengan tulus pun sudah membuat bahagia.

Ardi melihat sekelilingnya, tampak ramai dan begitu mewah. Dia tidak pernah menginjakkan kaki ke dalam mall, biasanya hanya masuk ke pasar itupun satu bulan sekali.

"Benarkah ini pusat perbelanjaan yang ada di acara televisi? Jujur saja, aku belum pernah ke mall dan hanya melihatnya dari tv saja. Ini kali pertama aku masuk ke sini. Melati pasti sangat menyukainya ..."

Suasana yang semula hangat, mendadak membeku saat Ardi tanpa sengaja menyebut nama Melati di depan Niken. Jelas ini membuat Niken mematung.

Ardi buru-buru mencari cara untuk membuat Niken kembali tersenyum, "Omong-omong, kita akan melakukan apa di sini?" tanyanya sedikit ragu karena mungkin saja Niken tidak lagi mau menjawab pertanyaannya tersebut, atau lebih parahnya mungkin mengamuk seperti singa.

Niken tidak langsung menjawab, hal tersebut membuat Ardi semakin yakin kalau Niken tersinggung karena dia sempat menyebut nama wanita lain.

Menurut novel romantis yang dia baca, seorang wanita akan marah, ngambek dan kesal saat kekasihnya menyebut nama wanita lain depannya. Ardi berspekulasi bahwa Niken marah karena tadi dia menyebut Melati tanpa sengaja.

Niken mulai mengerucutkan bibirnya. Ardi semakin panik ketika Niken menatapnya dengan tajam, seperti singa yang siap menerkam mangsanya.

"Hahaha ..." Tidak berselang lama, Niken pun tertawa terbahak-bahak. Dia tidak jadi memarahi Ardi karena satu hal, yaitu kepolosan Ardi selalu meluluhkan amarahnya.

Ardi yang masih merasa bersalah pun menautkan alisnya, tidak tahu harus menggapainya seperti apa. Sekarang dia baru menyadari kalau wanita itu sulit ditebak. Maksudnya, mood seorang wanita gampang berubah. Sebentar-sebentar marah, ngambek. Lalu tidak lama kemudian tertawa, sama persis seperti Niken sekarang.

Ardi tekekeh seraya menggaruk-garuk kepalanya. Secara cepat Niken berhenti tertawa, "Sorry, membuat kamu bingung. Oh, Iya. Ayo, kita belajar. Waktu kita sudah tidak banyak."

Tanpa memberi aba-aba, Niken langsung saja menarik tangan Ardi, sedangkan pemuda dua puluh tujuh tahun itu mengerjapkan matanya. Seperti ada aliran listrik yang menyambarnya saat Niken menarik tangannya.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!