13. Menjadi Pengantin

Resepsi yang dipenuhi dengan tawa, hari dan tangis itu akhirnya selesai juga. Tamu undangan satu demi satu meninggalkan lokasi tersebut. Kini hanya tinggal Niken, Ardi, Bambang dan Mita di sana.

Niken tampak kelelahan dan begitu juga dengan Ardi. Keduanya hampir tidak memiliki kesempatan untuk bisa duduk tenang, dikarenakan tamu yang hadir melebihi undangan yang disebar.

Mita terus mengucap syukur karena acara hari ini berjalan lancar, mulai dari akad sampai resepsi. Kini hanya menyisakan lelah saja.

"Sepertinya Niken sudah sangat lelah. Sebaiknya kamu bawa dia ke kamar. Lagi pula kalian memang seharusnya sudah ada di kamar, menghabiskan malam bersama sebagai suami istri," ucap Bambang Adi Atmaja sedikit menggoda.

Niken yang semula terkantuk-kantuk mendadak segar saat mendengar ucapan ayahnya. Buru-buru dia duduk dengan posisi tegak. Sedangkan Ardi terus menerus membuang napas berat. Dia sudah bisa menebak momen ini akan terjadi cepat atau lambat.

Semula dia sangat menginginkan malam pertama, tetapi bersama Melati dan bukan Niken. Dia melirik Niken yang memberi isyarat agar menolak tawaran dari ayahnya itu.

Bambang dan Mita saling berpandangan, "Kalian kenapa? Kok lihat-lihatan kayak gitu? Kalian sudha sah menjadi suami istri, jadi memang sudah sepatutnya kalian menghabiskan waktu di kamar, apa lagi ini malam pertama kalian," timpal Mita menjelaskan.

Kalau diperbolehkan, baik Ardi maupun Niken sama-sama tidak ingin menghabiskan malam bersama. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, keduanya harus melakukan hal tersebut.

Niken pun beringsut dari tempat duduknya, "Selamat malam, Ma, Ayah," ujarnya seraya mengecup pipi Bambang dan Mita secara bergantian.

Ketika dia hendak melangkah, tiba-tiba Ardi langsung menggendongnya ala bridal style. Biarpun cukup sulit karena gaun pengantin yang masih Niken kenakan, tetapi Ardi tidak mempermasalahkannya.

Mata Niken melotot saat Ardi memperlakukannya dengan begitu baik di depan ibu dan ayahnya. Mita pun berbinar-binar saat melihat keromantisan dua insan yang akhirnya sah menjadi suami istri tersebut.

Ardi pun segera pergi meninggalkan tempat itu setelah berpamitan dengan Bambang dan Mita.

"Menantu kita begitu manis bukan, Sayang? Dia memperlakukan Niken dengan sangat romantis. Aku jadi teringat saat malam pertama kita. Kau juga menggendongku seperti yang dilakukan Ardi."

Mita bergelayut manja pada Bambang Adi Atmaja. Dia bermanja-manja pada sang suami yang kini sudah tidak lagi muda. Melihat Ardi dan Niken, mengingat kembali akan malam pertama mereka.

Bambang melirik pada istirnya, "Apa sekarang kau menginginkannya kembali?" celetuknya menggoda.

Mita mengangkat tubuhnya, "Ya, mau." Lalu mengangguk manja. Bambang pun segera menggendong Mita ala bridal style, seperti yang Ardi lakukan tadi.

Mita begitu berseri-seri saat Bambang menuruti kemauannya. Biarpun sudah enam puluh tahun, tetapi tenaganya tidak sedikitpun berkurang. Apa pun yang berhubungan dengan malam-malam indah, maka dia akan mampu memberikan kepuasan pada sang istri tercinta.

Bambang dan Mita memasuki kamar mereka dan begitu juga dengan Ardi dan Niken, yang kini sudah berada di kamar.

Saat sampai di kamar, Niken buru-buru meminta Ardi untuk menurunkan tubuhnya. Ardi pun menuruti permintaan tersebut.

"Astaga, pinggangku. Ternyata kau sangat berat juga. Menggendongmu dari sana ke kamar sudah seperti membawa beban satu ton saja. Kalau begini terus lama-lama aku bisa bungkuk sebelum waktunya," keluh Ardi, sembari melakukan perenggangan pada pinggangnya yang terasa sakit.

Niken pun membawa langkahnya dengan berat, dia berdengus sembari berkacak pinggang. "Apa katamu tadi? Aku seperti beban satu ton? Siapa suruh tadi sok-soan menggendongku, ah?"

Bukan hanya dadanya saja yang membusung, tetapi wajah ikut dimajukan, membuat Ardi sedikit menjauhkan kepalanya agar tidak saling terantuk.

"Sorry. Sorry, tapi aku melakukan itu semata-mata hanya untuk membuat ayah dan ibumu senang. Kalau saja aku tidak memperlakukanmu seperti tadi, apa yang akan mereka pikirkan tentang kita? 'Udah nikah, kok jalan-jalannya masih masing-masing?' sudah pasti mereka akan berpikiran seperti itu. Coba kamu pikir-pikir lagi."

Niken pun melunak, yang dikatakan Ardi ada benarnya juga. Dia menelaah keadaannya sekarang. Andai Ardi tidak menggendongnya seperti tadi, entah apa yang akan ibu dan ayahnya pikirkan nanti?

Niken menatap Ardi penuh selidik, sedangkan pria yang kini telah sah menjadi suaminya itu tengah memandangnya juga dengan alis yang naik turun.

"Yasudah, minggir kamu. Aku mau mandi! Memakai gaun ini membuatku sulit bernapas," ketusnya sembari berjalan melewati Ardi. Nada bicaranya begitu ketus, dengan bibir yang mengerucut.

Ardi berbalik badan, memandang bagian belakang Niken yang masih berbalut gaun pengantin tersebut.

Cukup lama dia memandang Niken, sampai akhirnya istrinya itu memasuki kamar mandi, lalu membanting pintunya dengan keras.

Dia bisa menebak saat ini pipi Niken sedang memerah karena malu kalah berdebat dengan dirinya.

"Dasar wanita itu. Setelah menikah bukannya berkata manis pada suaminya, malah membentaknya. Ada-ada saja," cemoohnya sembari menggelengkan kepala dan tanpa sadar dia juga tertawa, kala mengingat ekspresi marah Niken tadi.

Ardi merasa semakin terbiasa dengan sifat manja istirnya itu. Hari saja tidak berdebat dengan Niken, rasanya seperti sayur tanpa garam. Seperti ada yang kurang begitu.

Setelah puas menertawakan Niken, dia segera bergegas menuju sisi lain dari kamar tersebut. Ardi pun melepaskan jas serta kemejanya. Dia pula langsung membalut tubuhnya dengan handuk.

Lima menit kemudian, pintu kamar mandi terdengar seperti hendak terbuka. Ardi buru-buru membawa langkahnya ke sana.

Niken pun keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk yang menutupi tubuh bagian atas sampai atas lutut.

Niken segera berbalik bada saat Ardi muncul di hadapannya. "Ais, kenapa dia di sini?" gumamnya, sembari menutupi wajahnya dengan sebelah tangan.

Ardi menaikkan sebelah alisnya, "Kamu kenapa?" tanyanya santai. "Tempat pakaian di sana dan bukan ke sana. Kalau kamu ke sana, tandanya kamu masuk ke kamar mandi lagi," lanjutnya mengomentari.

Niken yang tidak suka diatur-atur itu akhirnya mengangkat bahunya, "Tanpa kamu beritahu pun aku sudah tahu. Kalau mau ganti baju ke sana, bukan ke sini!" dengusnya kesal, sekaligus menyembunyikan rasa malu.

Ardi pun menaikkan bibir bawahnya, "Yasudah sana. Kalau kamu sudah selesai, gantian aku yang mandi."

Niken tidak menanggapinya, memilih mempercepat langkahnya menuju lemari di sana. Sementara itu, Ardi langsung memasuki kamar mandi tanpa berceloteh lebih jauh.

"Astaga ...." desisnya begitu panjang. Dengan segara dia mencari pakaian di dalam sana. Tanpa memilih-milih, Niken meraih setelan piyama berwarna merah muda dengan motif bunga sakura dan tertarai.

"Pria itu selalu saja membuatku kesal. Kenapa dia begitu keras kepala?" gerutunya sembari memakai baju. Pertama celana, lalu bajunya. Selanjutnya dia melangkah menuju meja rias yang letaknya tidak jauh dari posisinya berada sekarang.

Niken duduk di depan meja rias. Lalu, memandang dirinya dari balik pantulan cermin. Kini dia bukan lagi anak gadis dari keluarga Atmaja. Tugasnya bertambah lebih berat setelah ini, menjadi Nyonya Ardi Bagaskara.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!