Ardi terus mengetuk pintu rumahnya. "Jangan cuma diam aja, teriak dong! Bagaimana orang di dalam mau keluar, kalau kamu engga teriak? Teriak dong!" desak Niken geram karena sejak tadi Ardi hanya mengetuk pintunya, tanpa mengucap salam atau memanggil ibu dan ayahnya.
Pintu tak kunjung dibuka dan Ardi pun masih enggan mengeluarkan suaranya. Sampai akhirnya pintu terbuka dan langsung menampilkan sosok laki-laki dengan penampilan rapi serta mata yang melotot.
Niken pun tersenyum lembut, sembari menganggukkan kepala tanda salam hormat pada pemilik rumah.
"Siapa yang datang bertamu, Abah?" seru Ati dari dalam. Dia belum melihat siapa yang telah datang ke rumahnya. Andai dia mengetahuinya, maka ekspresinya akan sama seperti yang Kang Asep tunjukkan sekarang.
"Siapa yang datang?" Tidak mendapat tanggapan dari suaminya, maka Ati pun menghampiri suaminya.
Saat pandangannya tertuju pada suatu objek lurus dengan orang yang selama beberapa hari ini telah menghilang dari kehidupannya.
"Ardi ..." Bibirnya bergetar kala menyebut nama sang putra yang kini telah berdiri kembali di depannya.
***
Ati pun terus memeluk Ardi. Tidak henti-hentinya dia menangis dalam pelukan sang putra tercinta yang kini telah kembali pulang.
"Mengapa kamu pergi, Nak? Apa kamu ingin melihat ibu mati?" racaunya tersengal-sengal.
Ardi buru-buru menghapus air mata wanita yang telah bersusah paya melahirkannya dan merawatnya sampai dewasa.
"Ibu jangan berkata seperti itu. Ardi sungguh menyesal karena pergi dan membuat ibu serta Abah bersedih. Ardi malu untuk kembali ke rumah. Ardi sudah membuat ibu dan Abah malu di depan banyak warga karena ulah Ardi," sesalnya dengan segera bersujud.
Ati memeluk putranya penuh haru. Tangisannya pecah saat itu juga. "Kami tidak marah atau merasa malu atas apa yang sudah terjadi. Kami percaya ini adalah cobaan yang Allah berikan padamu dan juga kami. Hanya saja kami cemas karena tidak tahu kabar dirimu, Sayang. Mengapa saat itu kamu pergi, kenapa tidak kembali saja ke rumah?"
Kang Asep pun ikut berkata, "Benar Nak. Kami tidak marah padamu. Ibumu bahkan sampai tidak makan selama dua hari karena terus memikirkan dirimu yang entah di mana?"
Ardi mendongak, matanya berkaca-kaca kala. "Benarkah itu? Jadi, selama aku pergi ibu tidak makan? Kenapa, Bu? Mengapa ibu tidak makan? Apakah ibu ingin meninggalkanku?"
Ati langsung memeluk putranya kembali. Sungguh, dia tidak ingin kehilangan putranya untuk yang kedua kali.
"Maafkan ibu, Nak. Ibu hanya sangat merindukanmu, tapi sekarang kamu sudah ada di sini, maka ibu akan makan banyak lagi. Tolong jangan pergi-pergi lagi. Diri ini tidak akan sanggup hidup tanpa dirimu."
Ati mengecup kening Ardi dengan bibir yang bergetar. Dia berurai air mata dan begitu juga Ardi. Mengingat, saat itu dia harus pergi meninggalkan rumah untuk beberapa hari. Selama itu juga, Ati dan Kang Asep tidak mengetahui kabar tentang keberadaan Ardi.
Suasana yang mengharu biru, membuat Niken ikut menitihkan air mata. Dia duduk hanya beralaskan tikar karena di sana memang tidak ada sofa atau sejenisnya.
Niken tersenyum lembut, saat melihat keharmonisan keluarga Ardi yang begitu saling menyayangi dan mengingatkannya pada kehidupannya lima belas tahun yang lalu.
Dia juga tumbuh dari keluarga yang tidak mampu dan lingkungan yang jauh dari kata mewah. Rumah keluarga Ardi, sama persis dengan rumah yang ditempati lima belas tahun yang lalu. Berada di sini, sama saja membangkitkan kenangan indah bersama ibu dan ayahnya.
Dulu waktu yang mereka habiskan adalah, untuk mendidik dan membesarkannya. Namun, sekarang sudah tidak ada lagi masa-masa indah seperti itu.
Kumpul bersama, sembari menonton acara televisi di ruang tamu. Tidak ada sofa, semuanya duduk di lantai membaur menjadi satu. Setiap kali ada tugas sekolah, maka dia akan meminta bantuan ibu dan ayahnya untuk membantunya mengerjakan tugas tersebut.
Niken terus tersenyum, ketika satu demi satu kenangan itu kembali terlintas. Melihat kebersamaan Ardi, benar-benar membuat dirinya bernostalgia sampai pertanyaan Kang Asep, menyadarkan Niken dari lamunannya.
"Siapa wanita ini, Ardi?"
Ardi pun baru sadar saat ayahnya bertanya. Dia segera berbalik badan dan mendapati istrinya yang tengah menatapnya lekat.
Ardi segera mengambil posisi duduk yang besar. Ati pun baru menyadari kehadiran Niken karena sejak tadi fokusnya hanya pada Ardi saja.
"Siapa dia, Nak?" tanya Ati penasaran.
Ardi pun menyeka air matanya yang masih tersisa di pipi, "Dia Niken, Bu. Istri sah Ardi, Bu," akunya tanpa ditutup-tutupi.
Niken pun menunjukkan senyuman terbaiknya. Kini sudah saatnya dia memperkenalkan namanya pada ibu dan ayah mertuanya.
"Assalamualaikum, Ibu. Abah. Perkenalkan nama saya Niken Angelista Atmaja. Putri dari Bambang Adi Atmaja. Mungkin Ibu dan Abah mengenal Bambang Adi Atmaja dan saya adalah putri tunggal keluarga Atmaja. Niken."
Niken pun dengan lugas memperkenalkan namanya pada Ati dan Kang Asep. "Kami baru melangsungkan pernikahan beberapa hari yang lalu. Mungkin, ibu dan Abah sudah melihat pernikahan kami dari televisi. Inilah sebabnya, Ardi datang kemari untuk bertemu ibu dan Abah sekaligus memperkenalkan istri Ardi, yaitu Niken," timpal Ardi menambahkan.
Ati dan Kang Asep sama-sama menelan ludah, tidak menyangka kalau acara yang mereka lihat di televisi memang benar adanya.
Sebenarnya, pagi ini mereka ingin pergi ke kota, lokasi di mana Ardi dan Niken melangsungkan pernikahan karena beberapa hari lalu, mereka melihat Ardi di acara televisi tersebut. Sehingga mereka ingin mencari tahu kebenarannya. Namun, takdir ternyata berkata lain. Ardi sendiri yang telah datang, sekaligus membawa istirnya yang begitu cantik.
Niken pun berusaha untuk tetap tersenyum, walau sesungguhnya dia merasa tegang karena situasinya tidak seperti yang dibayangkannya.
Suasana jelas menjadi canggung di sana. Namun, itu semua tidak bertahan lama. Ati segera memeluk Niken dan menumpahkan tangisannya pada wanita yang kini menjadi menantunya itu.
"Terima kasih, Nak. Entah bagaimana wanita tua ini berterima kasih padamu? Kamu adalah malaikat yang telah Allah kirimkan untuk menjaga Ardi," racaunya dengan napas yang terisak-isak.
Niken pun menelan ludahnya, "Ibu ... Ibu jangan ..." Dia terus menjeda kalimatnya karena tidak tahu harus menanggapi seperti apa.
Momen haru biru kembali terjadi. Tangis Ati pecah saat mengetahui bahwa wanita yang dipeluknya sekarang adalah istri sah putranya.
Dapat dibayangkan bagaimana bahagianya Ati ketika mendapat menantu cantik, jika mengingat bagaimana gagalnya pernikahan Ardi dengan melati, yang benar-benar telah menyayat hatinya.
Bukan hanya memberikan luka, tetapi mengisahkan trauma mendalam bagi mereka.
Niken memandang Ardi, memberinya isyarat dengan kedipan mata. Ardi pun mengangguk, menanggapi isyarat tersebut.
Kang Asep buru-buru melerai keduanya. "Sudah. Jangan buat menantu kita merasa tidak nyaman," kata Kang Asep, sembari menarik tubuh istrinya agar melepaskan pelukannya pada Niken.
Ati pun akhirnya tersadar, setelah beberapa saat lalu tidak dapat membendung emosinya.
Niken tersenyum lembut, " Tidak masalah. Aku malah merasa senang karena dapat diterima dengan baik oleh kalian. Aku benar-benar bahagia saat ibu memelukku."
Niken menghapus air mata yang tersisa di pipi ibu mertuanya dengan lembut, "Saat Ardi mengatakan dia ingin bertemu kalian, maka saat itu juga aku merasa bahagia karena sesaat lagi aku akan bertemu ibu dan ayah mertuaku dan sekarang, semuanya terlah terwujud," tambahnya, yang tidak henti-hentinya mengumbar senyum.
Ati merasa tersentuh saat mendapatkan perlakuan baik dari menantunya. Dia segera menggenggam tangan Niken, lalu menciumnya berulangkali, sampai Niken merasa tidak enak hati.
"Kamu adalah manusia yang berhati malaikat, Sayang. Entah bagaimana kalian bertemu, apa pun itu, wanita tua ini sangat berterima kasih karena kamu telah menerima Ardi dengan segala kekurangannya."
Ardi pun tersenyum tipis. Pandangannya sengaja dialihkan pada objek lain. Niken bisa menebak kalau suaminya itu berusaha keras untuk tidak menangis.
"Karena Ardi sudah kembali, bagaimana kalau kita makan bersama?" Ati pun melihat jam dinding di sana, "Perjalanan kalian pasti cukup jauh dan melelehkan. Sudah hampir jam setengah sebelas, jadi sebaiknya kita makan siang bersama saja. Hari ini ibu masak banyak, kalian harus habiskan semua makannya," ajaknya tanpa melepaskan tangan Niken.
Permintaannya sungguh sederhana, sehingga Niken tidak bisa menolaknya. Dia mengangguk antusias. "Ayo, suamiku! Ibu sudah masak banyak untuk kita, benarkan, Bu?" timpalnya.
Ati pun tersenyum simpul, "Benar, Sayang. Ayo, kita makan atau makannya dibawa kemari saja? Jadi kita makan bersama di sini, bagaimana?" usulnya, sembari memandang Ardi dan Niken secara bergantian.
"Ardi, ikut apa kata ibu saja," balas Ardi setuju.
Niken pun tidak menolak usulan tersebut, malah dia antusias untuk segera melakukannya. Ati pun mengelus pucuk rambut Niken, lalu mencium kening menantunya itu. Baru setelahnya, Ati melenggang menuju dapur. Niken pun mengekor di belakang.
Ini pertama kalinya dia datang ke rumah mertuanya, jadi ada banyak hal yang ingin diketahuinya.
Ardi dan Kang Asep pun saling bertukar cerita, sembari menunggu makanan dihidangkan. Ayahnya itu jelas ingin tahu bagaimana kronologi pertemuannya dengan Niken dan akhirnya menikah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments