Melati pun merasa hancur. Bisa-bisanya, laki-laki yang sangat dia cintai mencampakkan dirinya seperti ini. Kehamilannya sudah menginjak dua bulan.
"Haruskah aku menggugurkan kandungan ini?" Melati berjalan menelusuri jalan setapak, dengan rambut yang acak-acakan dan pipi memerah bekas tamparan ayahnya.
"Mengapa kau harus hadir? Kenapa juga aku harus hamil? Kamu memang membawa petaka bagiku!" kesalnya, memukul-mukul perutnya. Berusaha untuk menyakiti janinnya, yang tidak pernah diharapkan kedatangannya.
Orang-orang di sana terus memerhatikan Melati yang tampak kacau. Pakaiannya urak-urakan, tidak mencerminkan sikap seorang anak kepala desa.
Mereka saling berbisik satu sama lain. Melati bisa menebak kalau mereka sedang membicarakan dirinya. "Apa kalian lihat-lihat?!" Dia membentak orang-orang yang terus menatapnya.
Mereka membalas dengan tatapan sinis. Namun, tidak ada yang menimpali kata-kata Melati. Lebih baik mereka membiarkan wanita sinting itu pergi, dari pada harus berdebat yang mungkin akan berakhir mala petaka.
Satu kampung juga tahu, kalau Melati bukan wanita baik-baik. Setelah kejadian yang menimpa Ardi, membuat sudut pandang mereka pada Melati berubah. Apa lagi dengan penampilan Melati sekarang, mereka jadi yakin kalau putri dari kepala desa itu, bukanlah wanita baik-baik.
Melati meninggalkan mereka yang sama sekali tidak peduli dengan dirinya. Entah kemana dia melangkah sekarang? Keluarganya saja sudah tidak mau menerimanya kembali. Tidak mungkin dia ke rumah Samudra dan meminta pertanggungjawabannya, yang ada nanti dia malah semakin dihina di sana.
"Lalu, sekarang kemana aku harus pergi?" ritualnya kehilangan arah. Bingung dan penuh penyesalan.
Sementara itu, Ardi dan Niken segera berpamitan untuk kembali ke Jakarta.
"Kenapa tidak menginap saja di sini, ibu 'kan masih kangen kamu," ungkapnya demikian untuk putra tersayang, "Dan tentunya juga ingin berlama-lama dengan menantu ibu yang cantik ini," pujinya sembari mengelus pipi Niken.
"Ibu tenang saja. Kami akan sering berkunjung ke sini dan lain kesempatan pasti kami akan menginap di sini. Benarkan?" lontarnya, sembari melirik Ardi.
Buru-buru Ardi pun menjawab, "Benar, Bu. Aku dan Niken akan lebih sering berkunjung ke sini. Ada proyek yang Niken kerjakan di Kota, maka dari itu kami akan lebih sering main ke sini. Ibu tidak usah cemas," bujuknya segera memeluk sang ibu tercinta.
"Kalian begitu kalian janji. Dikesempatan selanjutnya, kalian harus menginap di sini," pintanya agak memaksa.
Kang Asep ingin menegurnya istrinya, tetapi langsung dihentikan Niken. "Tentu kami akan menginap di sini. Saat itu tiba, maka aku ingin ibu memasak sayur asem lagi. Oke."
Niken membulatkan jemarinya, lalu dibalas Ati dengan anggukan kepala. "Tentu, ibu akan memasakkan sayur asem yang lebih banyak lagi untuk menantu kesayangan ibu ini."
Ati pun mencubit Niken dengan gemas. Sedangkan gadis ayu bersurai panjang itu, menerimanya yang disertai senyuman manis. "Janji ya, Bu. Buatkan aku sayur asem lagi?" ulangnya untuk memastikan.
Ati mengangguk serius, "Insyaallah, Sayang. Makanya kamu dan Ardi harus sering-sering main ke sini, nanti ibu akan masakan sayur asem setiap hari," balas Ati merayu.
Niken pun berjingkrak kegirangan karena permintaannya akan dituruti, dengan begini dia ingin terus mengunjungi mertuanya di sini.
Setelah puas berbincang, Niken dan Ardi segera berpamitan. Keduanya tidak bisa berlama-lama di sana karena takut terkena macet di Tol.
"Dah, Bu," ungkap Niken, sembari cipika-cipiki dengan ibu mertuanya. Lalu, bersalaman dengan ayah mertuanya. Baru setelah itu meninggalkan mereka.
Niken dan Ardi melenggang bersama menuju mobil yang terparkir tepat di depan rumah. Warga sekitar yang tidak sengaja lewat di sana pun langsung terkejut saat melihat Ardi telah kembali.
Mereka ingin menyapa Ardi. Namun, sepertinya dia sangat sibuk, sehingga mereka mengurungkan niat untuk menegurnya.
Ardi sendiri, mengumbar senyuman pada mereka sebagai bentuk salam hormat darinya. "Mari, Bapak-bapak!" ungkap Ardi yang tidak kama kemudian masuk ke mobil.
"Dah, Ibu! Abah! Assalamualaikum."
Ardi pun menutup pintu mobil, laku memasang sibel dan begitu juga dengan Niken. Keduanya sama-sama melambaikan tangan pada Ati dan Kang Asep. Baru, setelah itu mobil pun pergi. Tidak lupa, Niken menelan klaksonnya untuk menyapa warga yang masih memerhatikan dirinya dan Ardi.
Ati dan Kang Asep masih melambaikan tangan walaupun mobil sudah menjauh. Senyuman merekah di wajah mereka, tatkala Ardi telah melanjutkan kehidupannya.
Setelah mobil menghilang dari pandangan, mendadak warga sekitar datang mendekat. Mereka emak-emak yang tanpa sengaja melihat Ardi tadi dan penasaran dengan apa yang telah terjadi pada Ardi?
"Itu bukannya Ardi, Ya? Siapa wanita yang bersama si Ardi? Apakah dia pacarnya?" tanya salah seorang dari mereka, yang penasaran.
Ati pun menunjukkan senyuman terbaiknya, yang dapat dikatakan adalah senyuman terbaik darinya. "Wanita itu adalah istri Ardi sekaligus menantu keluarga ini," akunya dengan bangga.
"Istri Ardi?" Seketika semua orang membuka mulut lebar-lebar. Mereka sama-sama menelan ludah berat-berat saat Ati mengatakan bahwa wanita yang bersama Ardi tadi adalah istirnya, sekaligus menantu di keluarganya.
"Bukankah dia itu Niken Angelista Atmaja, putri dari Bambang Adi Atmaja, keluarga konglomerat yang dulu pernah tinggal di kampung ini?" tebak lainnya, saat berhasil mengingat siapa istri Ardi yang sebenarnya itu.
Ati pun mengangguk membenarkan tebakan tersebut, "Benar. Dia memang Niken, putri dari konglomerat Atmaja. Lima belas tahun yang lalu, keluarga pernah tinggal di desa ini dan seperti yang kalian dengar. Dia sekarang telah menjadi istri sah putraku, Ardi."
Ati mengangkat bahunya. Baru kali ini dia terlihat begitu percaya diri, semua ini berkat kehadiran Niken di tengah-tengah keluarganya itu. Sempat menjadi bahan gunjingan warga, dan sekarang Ati bisa kembali mengangkat kepalanya.
Kang Asep mendekap istrinya. Sama halnya dengan Ati, dia pun merasa bangga pada putranya tersebut. Terlebih lagi pada Niken yang selalu membuatnya kagum akan pemikirannya yang dewasa.
Para warga pun akhirnya membubarkan diri mereka setelah mendapatkan informasi yang ingin diketahui.
Kang Asep dan Ati, sudah bisa menebak setelah ini kabar akan pernikahan Ardi dan Niken akan tersebar di seluruh desa. Mereka adalah emak-emak yang gemar bergosip, sudah pasti berita ini akan menyebar dengan cepat.
Ati dan Kang Asep sendiri tidak memusingkan hal tersebut. Sebaliknya, mereka merasa berterima kasih karena berita besar ini akan cepat diketahui semua orang. Dengan begitu Ardi tidak akan dicap sebagai pria tidak baik-baik lagi.
***
Ardi pun terus memandangi istrinya yang jelita itu. Niken meliriknya sejenak, "Kenapa lihat-lihat? Terpesona, ya?" celetuknya menggoda.
Ardi tersenyum simpul, "Terima kasih karena kamu mau menerima keluarga aku yang penuh kekurangan itu."
Niken menghentikan laju mobilnya saat itu juga. Mata Ardi pun langsung membulat sekaligus bertanya-tanya. Sebelum Ardi berkata lebih jauh, Niken lebih dulu berujar.
"Ibumu adalah ibuku juga. Ayahmu adalah ayahku juga. Aku malah merasa senang karena dirimu masih mengingat mereka setelah apa yang telah terjadi pada kamu. Aku mengira kamu tidak akan pernah mengingat mereka lagi, tapi setelah kamu mengatakan ingin bertemu mereka saat itu juga aku merasa sangat, sangat, sangat bahagia karena aku akan bertemu ibu dan ayah mertuaku. Paham?" akunya tanpa malu. Dikarenakan memang tidak ada yang harus disesali.
Ardi mengangguk. Dia terpaku pada sosok wanita di hadapannya sekarang. Bukan hanya cantik, pintar dan kaya, tetapi Niken memiliki hati yang tulus.
Istrinya ini layaknya malaikat yang merangkap sebagai manusia. Ardi merasa sangat beruntung memiliki Niken sebagai istrinya.
Mobil pun kembali jalan. Ardi tidak lagi berkata-kata, ungkapan Niken sudah mampu meluluhkan hatinya. Tidak ada yang perlu dikatakan lagi dan Niken juga harus fokus menyetir.
Saat mobil yang hampir keluar dari desa. Tiba-tiba Ardi berteriak, "Berhenti di sini!"
Niken pun mengerem mendadak dan keduanya sama-sama terantuk ke depan. "Ada apa?" tanya Niken penasaran.
Namun, Ardi tidak menjawabnya. Dia langsung melepas sibel dan segera keluar dari sana. Niken pun jadi bertanya-tanya apa yang dilakukan oleh suaminya tersebut?
Ardi telah berada diluar mobil, saat itu juga dia mematung di sana. Matanya langsung berair kala memandang seorang wanita dengan penampilan yang urak-urakan, layaknya orang tidak waras.
"Melati!" sebutnya begitu yakin dan mantap.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 56 Episodes
Comments