17. Melati Yang Malang

"Sini, biar Niken bawakan, Bu," pintanya sembari mengambil piring yang sempat dibawa Ati.

Niken begitu tulus membantu Ati di dapur, membuat sang ibu mertua merasa bahagia sekaligus beruntung, memiliki menantu secantik dan sepintar Niken. Bukan hanya baik, tetapi Niken juga anak yang patuh dan perhatian. Dia juga mudah beradaptasi, sehingga membuatnya tidak perlu lama-lama untuk membaur.

Nasib baik apa yang membawa Ardi bertemu Niken? Bagaimana juga ini adalah takdir Allah. Dia-lah yang telah merencanakan semuanya. Ardi dicampakkan oleh Melati, tetapi dia langsung mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Melati.

Ati pun tersenyum lembut, dia membiarkan menantunya membawa dua piring berisikan lauk pauk. Dia berjalan lebih dulu, lalu Niken mengekor di belakangnya.

Kang Asep dan Ardi sudah menunggu di ruang tengah. Keduanya asyik berbincang santai, bertukar cerita. Terutama Kang Asep ingin mendengar semua kronologi pertemuan putranya itu dengan Niken.

"Tunda dulu ngobrolnya. Ayo, kita makan dulu!" seru Ati yang datang membawa makanan. Kang Asep jadi antuasias. Tidak kalah dengan ayahnya, Ardi pun sudah tidak sabar ingin menyantap makanan yang dibuat ibunya.

Jika dihitung-hitung, sudah hampir sepuluh hari dia tidak menyantap makanan ibunya. Selama itu juga Ardi merasa ada yang hilang. Makanan yang ada di rumah Niken memang lezat, tetapi rasanya berbeda jauh dengan yang dibuat oleh ibunya. Sesudah makan, memang dia merasa kenyang, tetapi tidak merasa puas.

Satu demi satu makanan pun dihidangkan. Biarpun sederhana, tetapi mampu membangkitkan selera makan.

Ada sayur asem, tempe dan tahu goreng. Lalapan, ikan asin dan jangan dilupakan sambal terasi. Sungguh, menggoda iman.

Niken mengecap air liurnya saat membayangkan bagaimana lezatnya makanan yang dibuat ibu mertuanya. Dia bahkan sudah menempati tempatnya, lalu duduk bersila dengan piring yang sudah menanti untuk diisi.

"Ayo, Nak, dimakan! Maaf hanya ada ini saja makanannya. Semoga masakan ibu, sesuai dengan selera lidahmu," ujar Ati sambil meletakkan secentong nasi di piring Niken, tidak lupa lauknya juga. Tempe dan tahu goreng, serta ikan asin.

"Jangan berkata seperti itu, Bu. Tidak ada makanan yang tidak aku suka, kecuali kayu dan batu karena aku tidak memakan itu semua," balasnya bercanda.

Tidak mau kalah, Ardi pun menimpali kata-kata Niken. "Benar, Bu. Tidak ada makanan yang tidak Niken sukai, bahkan dia sangat suka makan rumput. Seperti Moo ..."

Dia pun menirukan suara seekor sapi untuk menggoda istrinya. Niken pun berdengus kesal, sementara itu Ardi menjulurkan lidahnya yang semakin membuat istrinya kesal.

"Bu, dengan kata-katanya, masa aku disamakan dengan sapi? Apa aku sejelek itu?" adunya pada Ati. Pipinya mengembung, tangannya melipat di dada, wajahnya ditekuk, ekspresinya kecut seperti layangan kusut.

Ardi tertawa keras tanpa bersalah yang semakin membuat Niken kesal. "Bu ... Abah!" rengeknya pada mertuanya.

Kang Asep pun mencubit pinggang Ardi, sedangkan Ati memukul paha putranya yang nakal itu.

"Aduh. Kenapa kalian menyakitiku?" gerutunya yang diserang bersamaan.

Niken pun kembali tersenyum. Melihat istrinya yang kembali tertawa, membuat Ardi terpaku. Senyumannya ternyata mampu menghipnotis dirinya.

Ati dan Kang Asep pun saling berpandangan. Melihat Ardi yang kini telah bisa melupakan Melati, wanita yang tega meninggalkannya di hari pernikahan mereka.

Ati sampai tidak bisa tidur saat mengingat bagaimana teganya Melati meninggalkan putranya tersebut. Namun, semua masa lalu yang menyakitkan itu telah pergi dan kini Ardi telah memulai hidupnya kembali.

Niken pun tampak lahap menyantap makanan yang dibuat Ati. Faktanya, sayur asem, ikan asin, lalapan, tempat goreng dan sambal terasi telah mampu mengalihkan dunia Niken.

Ardi pun curi-curi pandang, secara tidak sengaja selama makan dia terus memandangi ciptaan Allah yang paling indah. Wanita yang kini telah sah menjadi istrinya di mata hukum dan agama.

Wajar saja jika Ardi mengagumi kecantikan Niken karena dia adalah istirnya dan Ardi bisa sepuasnya memandangi Niken, tanpa rasa bersalah.

Bola mata Niken berputar ke atas, dia mendapati Ardi yang terus menatap dirinya. Niken menaikkan kedua alisnya, "Apa?" tanyanya melalui batin.

Ardi menggeleng, buru-buru dia mempercepat makannya. "Bu, aku mau tambah," pintanya sembari menyodorkan piring yang hanya tersisa beberapa suap nasi itu.

Biarpun bibirnya tertuju pada Ati, tetapi tatapannya tetap pada wanita yang telah sah menjadi istrinya tersebut.

Niken tidak menanggapinya lebih lanjut. Dari pada dia berdebat dengan sang suami, sebaiknya dia makan saja yang bukan hanya membuat perutnya kenyang, tetapi hatinya pun senang.

***

Meninggalkan kebersamaan keluarga kecil Ardi, yang kini telah bersatu kembali. Di tempat terpisah, masih di desa yang sama.

PLAK ...

Tamparan keras diterima seorang wanita cantik yang kira-kira berusia dua puluh tujuh tahun tersebut. Ada bekas telapak tangan di pipinya. Tubuhnya tersungkur di lantai. Tatapannya memelas pada seorang pria setengah baya, dengan rambut yang sebagian sudah memutih.

"Ayah ... Ayah, maafkan aku. Jangan usir aku dari sini! Aku akan tinggal di mana nanti?!" mohonnya pada pria yang dipanggil ayah.

"Saat kau melakukan hal bejat ini pada pria itu, apa kau memikirkan bagaimana perasaan kami? Ayah malu, Melati! Kami malu pada seluruh warga, termasuk Ardi yang kamu tinggal hanya demi pria brengsek seperti dia!" bentak Pak Rudi, pada putrinya, Melati.

"Maafkan Melati, Yah! Melati memang salah karena sudah meninggalkan Ardi demi Samudra. Melati salah, Yah. Maafkan Melati," lirihnya, sembari memegangi kaki Pak Rudi.

Sebagai kepala desa setempat, Pak Rudi merasa malu dan tertampar karena memiliki putri kurang ajar seperti Melati.

Sejak kecil dia mendidik Melati dengan cinta dan tidak pernah sekalipun Melati merasa kekurangan. Dia selalu mencukupi kebutuhannya. Namun, kenapa saat sudah dewasa, sikapnya malah membuat malu keluarga?

"Jika memang kau mencintai Samudra, maka minta pertanggungjawaban darinya dan bukan datang pada Ayah!" bentak Pak Rudi, yang tidak lagi bisa menahan emosinya.

Kenyataan pahit yang diterima seorang ayah, yaitu mendapat kabar putrinya hamil diluar nikah. Bukan hanya hatinya yang sakit, tetapi harga dirinya hancur saat itu juga.

Apa kata orang, ketika mengetahui kabar kalau putri dari kepala desa ternyata tidak bisa menjaga kesuciannya? Harga dirinya begitu rendah, sampai mau dihamili oleh pria sebelum menikah.

Orang-orang akan menjelek-jelekkan keluarganya. Ayah seperti apa, yang membiarkan putrinya tidur dengan pria yang jelas-jelas belum sah menjadi suaminya?

Pak Rudi menendang Melati untuk menyingkir dari kakinya. Sementara itu, Astina hanya bisa menangis saat melihat putrinya menderita. Sama seperti Pak Rudi, dia pun merasa kecewa pada Melati. Putri kesayangannya, yang telah dibesarkannya tanpa kekurangan, ternyata tidak bisa menjaga kesuciannya.

Melati terus meminta ampun dari ayahnya. Dia menangis sekencang-kencangnya di bawah kaki sang ayah. Kesalahannya memang tidak patut untuk dimaafkan, tetapi dia tidak ingin dikeluarkan dari rumah.

Ketika mengetahui kehamilannya, saat itu juga Samudra meninggalkan dirinya. Pria brengsek itu bahkan tidak mengakui anak yang ada di dalam kandungannya. Ia berdalih, kalau Melati mengandung anak Ardi dan bukan anaknya. Jelas-jelas, Melati melakukan hubungan badan hanya pada Samudra dan bukan Ardi.

Melati kembali ke rumah dan menceritakan tentang kehamilannya pada kedua orang tuanya, saat itu juga ayahnya murka.

"Kau bukan lagi anakku, Melati. Kau bukan putri di keluarga ini lagi. Kau sudah membuat malu keluarga," ungkap Rudi lirih, bercampur pilu.

Kenyataan ini sungguh mencubit hatinya. Penyesalan membumbung tinggi mengisi rongga dadanya. Napasnya kian sesak, kala mengingat satu persatu perbuatan putrinya kembali. Mulai dari pergi dari rumah yang hanya meninggalkan sepucuk surat, sampai kabar kehamilannya yang semakin membuat Rudi kecewa.

"Pergi kau, dari rumahku!" teriak Rudi, sembari menyeret Melati.

"Jangan, Yah. Melati mohon jangan usir Melati dari rumah. Nanti Melati harus tinggal di mana, Yah?!"

Rudi tidak peduli dengan kehidupan putrinya lagi. Dia terus menyeret Melati walau anak gadisnya itu terus memohon untuk dimaafkan.

Dosanya sudah tidak bisa ditolerir lagi. Bukan hanya nama baiknya yang tercoreng, tetapi seluruh keluarga harus menerima malu atas perbuatannya yang bodoh itu.

BRUK ..

Tubuh Melati didorong paksa keluar. Dia tersungkur di tanah. Rudi menatapnya penuh kemarahan. Sudah tidak ada kata maaf lagi bagi putrinya itu.

"Pergi kau dari rumahku! Jangan pernah sekalipun kau kembali kemari, dasar wanita murahan!"

Mendengar pernyataan tersebut membuat hati Melati hancur berkeping-keping. Ayahnya menyebutkan dengan wanita murahan, bahkan sudah tidak ingin lagi melihat wajahnya.

Rudi buru-buru masuk rumah dan membanting pintu sampai Melati tersentak. Segera dia berlari ke pintu, menggedor-gedor pintu agar Rudi mau membukakan pintunya kembali.

Melati menangis sekencang-kencangnya sehingga warga yang tidak sengaja lewat menjadi bertanya-tanya.

Mereka melihat Melati telah pulang, tetapi mengapa dia menangis dan menggedor-gedor pintu rumahnya sendiri?

"Apa kalian lihat-lihat?!" Melati berbalik badan dan membentak mereka yang membicarakan hal buruk tentangnya. Biarpun berbisik-bisik, tetapi Melati dapat mendengar semuanya.

Mereka pun buru-buru pergi dari sana. Tatapan mereka sinis lada Melati. Namun, gadis itu tidak peduli. Sekarang dia harus berusaha mendapatkan kembali kepercayaan orang tuanya.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!