15. Ke Kota

Hari berikutnya. Semua prosesi pernikahan dan resepsi telah selesai. Niken dan Ardi akhirnya bisa keluar dari rumah juga. Sesungguhnya Mita dan Bambang masih belum memberikan izin pada mereka untuk meninggalkan rumah karena masih banyak hal yang perlu diurus. Namun, bujuk rayu Niken mampu meluluhkan Mita dengan mengatakan, kalau dia dan Ardi ingin menikmati masa berdua sebagai suami istri.

Mita pun tidak bisa menolak permintaan Niken kalau menyangkut membahagiakan suaminya. Apa lagi mereka adalah pasangan pengantin baru, wajar saja kalau ingin menghabiskan waktu berdua.

Keduanya pergi setelah sarapan pagi agar tidak terjebak macet di tol. Agenda hari ini berkunjung ke rumah orang tua Ardi yang ada di Bandung, sesuai yang telah mereka sepakati beberapa hari yang lalu. Sesungguhnya, Ardi ingin pergi menemui ibu dan ayahnya saat mereka masih berada di Bandung. Namun, Niken tidak bisa memberi memenuhi permintaan tersebut dan baru hari ini, keinginan itu dapat terlaksana.

Keluarga Atmaja telah kembali ke Jakarta, sehingga mau tidak mau mereka harus bulak balik Jakarta-Bandung.

Niken fokus menyetir, sedangkan Ardi tengah asyik dengan pikirannya sendiri. Ada banyak kalimat yang mengisi pikirannya. Ardi mempersiapkannya dari sekarang agar saat bertemu ibu dan ayahnya tidak terlalu grogi.

***

Setelah melakukan perjalanan hampir tiga jam lebih, akhirnya mereka sampai di desa tempat Ardi tinggal. Mobil pun melaju dengan kecepatan pelan, melewati warga yang tidak sengaja berpapasan.

Ardi menutup jendela mobilnya rapat-rapat, dia tidak ingin ada yang mengenali dirinya di sana, atau warga desanya akan mengamuk, bahkan mungkin mengusirnya untuk yang kedua kalinya.

Mereka pun tidak mengetahui kalau Ardi berada di mobil tersebut. Mereka hanya menatap aneh karena mobil mewah mau masuk desa.

"Setelah ini kita harus kemana?" tanya Niken kebingungan. Dikarenakan jalanya yang sempit karena diperuntukkan untuk satu arah, serta akses masuknya cukup sulit dilalui, mau tidak mau Niken memperlambat laju mobilnya, agar tidak mengganggu warga sekitar.

"Ada simpang tiga di depan sana, kita belok kiri," balas Ardi mengarahkan.

Niken pun mengangguk, dia segera mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di rumah orang tua Ardi.

Mobilnya belok kiri sesuai yang Ardi katakan. "Setelah ini kemana lagi? Apa masih jauh rumah orang tua kamu?" tanya Niken kembali.

Ini kali pertama dia melewati gang tersebut. Biarpun lahir dan dibesarkan di sana, Niken belum pernah melewati area tersebut atau mungkin dia lupa saja dengan lokasi tersebut.

"Rumahku ada di ujung jalan ini. Sebentar lagi kita akan sampai," jawab Ardi parau.

Perasaannya kian kacau. Pikirannya melalang buana, memikirkan pertanyaan yang mungkin harus dirinya jawab nanti. Dia mengatur napasnya agar rasa gugupnya berkurang. Namun, yang dilakukannya sama sekali tidak mengurangi groginya.

Niken melirik pada suaminya, "Tenanglah. Kita akan hadapi ini bersama-sama. Aku akan ikut bertanggung jawab andai mereka bertanya ini dan itu. Kamu tidak sendiri, ada aku kok di sisi kamu."

Sebisa mungkin Niken menghibur Ardi. Dia mengelus bahu suaminya itu, sembari fokus pada jalanan.

Bukannya merasa canggung atau marah, tetapi Ardi merasakan ketenangan, damai dan nyaman saat Niken menyentuh bahunya yang disertai kalimat penyemangat.

"Terima kasih karena sudah mengangkat bebanku, setidaknya aku merasa lebih tenang dari sebelumnya," ungkapnya seraya tersenyum simpul pada wanita yang kini berstatus istrinya tersebut.

Niken pun membuang napas lega. Dia membalasnya dengan tersenyum. "Omong-omong, di mana rumah ibu dan ayah mertuaku itu?" ungkapnya menggoda.

Ardi pun hampir saja melupakan tujuan mereka datang ke sini. Dikarenakan terlalu fokus mengagumi ketulusan Niken, membuatnya sampai lupa dengan rumahnya sendiri.

"Di sini!" ucapnya mendadak, yang akhirnya membuat Niken mengerem mendadak. "Di sini?" celetuk Niken memastikan.

Ardi mengangguk, "Ya. Ini rumahku!" akunya sembari menunjuk keluar jendela.

Niken melongok, ternyata rumah Ardi berada di sisi kiri pantas saja dia tidak melihatnya. Dia mengangguk dan segera mobilnya ditepikan agar tidak menggangu yang lain.

"Ayo!" ajak Niken antusias, sembari melepas sibel dan mencabut kunci mobilnya.

Ardi mengatur napasnya terlebih dulu. Dia terlihat sangat gugup dan juga berkeringat. Niken buru-buru mengambil beberapa helai tisu, lalu dengan cekatat dia mengelap keringat suaminya.

Secara respect Ardi menggenggam pergelangan tangan Niken. "Apa yang kamu lakukan?" tanyanya dengan tubuh menegang. Sungguh, sentuhan Niken mampu membuat hati dan sisi lain dirinya bangkit.

Niken mengerutkan keningnya, "Aku hanya ingin mengelap keringatmu saja. Apa ada yang salah?" balasnya bernada ketus. "Jika tidak suka, yasudah. Aku hanya ingin menjalankan tugasku sebagai istri, itu saja. Tidak lebih," cemoohnya, yang tidak lama kemudian keluar dari mobil.

"Ardi, yang lu katakan udah nyinggung perasaan dia. Niatnya baik, tapi lu malah mencurigainya seperti maling. Dasar bodo! Bodoh. Bodoh," hardiknya pada diri sendiri.

Dengan demikian Ardi pun merasa bersalah. Dia terlalu bodoh untuk menerima semua kebaikan dari istirnya tersebut. Dia pun melepaskan sibel, selanjutnya keluar mobil menyusul Niken yang sudah lebih dulu pergi.

Niken mengeluarkan bingkisan dari bagasi, yang sengaja dia beli sebagai buah tangan untuk ibu dan ayah mertuanya. Meskipun tidak banyak, dia berharap mertuanya dapat menerima pemberiannya tersebut.

Ardi pun membantu Niken untuk membawa beberapa parsel. "Biar aku bantu." Tangannya segera menyambar dua parsel dari total empat parsel yang mereka beli.

Niken tidak menjawab, dia menyelengos sebagai tanda kekesalannya. Selanjutnya dia berjalan meninggalkan Ardi tanpa mengatakan apa-apa. Sementara itu, pria dua puluh tujuh tahun itu, membuang napas berat. Sikap Niken demikian karena ulahnya yang tidak peka. Maka dari itu dia menerima semua bentuk protes dari istrinya tersebut.

Niken tidak langsung memasuki rumah. Dia berdiri di pelataran, menunggu kedatangan Ardi yang masih berada di belakangnya.

"Ada apa, kenapa engga masuk?" tanyanya tidak peka.

Niken melemparkan tatapan tajam, "Kau Tuan rumahnya. Jadi kau yang lebih dulu masuk dan bukan aku. Apa kau lupa itu, ah?" dengusnya kesal.

"Iya. Iya, sorry. Aku lupa. Yasudah ayo kita masuk!" ajaknya sembari tersenyum simpul, dengan tangan yang membawa dua parsel.

Niken mengganggu sambil memasang senyum terbaiknya untuk menghadapi ibu dan ayah mertuanya. Ardi mengelah napas terlebih dulu sebelum melenggang menuju pintu.

Sementara itu, di dalam rumah. Ati sedang tergesa-gesa, pakaiannya sudah rapi dengan riasan wajah yang tidak terlalu tebal dan juga tipis.

"Abah! Ayo, katanya mau pergi!" teriaknya memanggil Kang Asep yang masih bersiap di kamarnya.

Di rumah sederhana itu, keduanya tinggal dengan seorang putra yang kini entah di mana rimbanya. Beberapa hari yang lalu, ada kabar kalau Ardi berada di Jakarta dan sudah melakukan pernikahan. Hal tersebut membuat Ati bahagia sekaligus berucap syukur karena putranya tersebut baik-baik saja.

"Ya, Bu. Ini Abah juga sudah siap," balas Kang Asep melenggang keluar dari kamar. Penampilannya tidak terlalu mewah dan juga kampung, setidaknya rapi dan bersih.

"Ayo, Bu!" ajak Kang Asep, sembari merapikan kera bajunya.

Senyuman merekah sempurna dari kedua insan yang telah menjalin rumah tangga selama tiga puluh tahun itu. Hubungan mereka selalu harmonis, jarang adanya pertikaian. Walau sesekali ada perdebatan karena itu adalah hal wajar dalam membina rumah tangga.

Keduanya mulai melenggang menuju pintu. Namun, belum sempat mereka sampai di sana, terdengar suara ketukan.

Ati dan Kang Asep saling berpandangan, "Siapa ya yang datang?" Ati pun penasaran, siapakah orang yang ingin bertamu ke rumah mereka.

Kang Asep menggeleng dengan bahu yang terangkat, "Biar Abah saja yang buka pintunya," ungkapnya dan langsung meninggalkan Ati di sana.

"Ya, Tunggu!" teriak Kang Asep, saat pintu masih terus diketuk.

Tidak ada salam yang terdengar, jadi Kang Asep pun bertanya-tanya siapa yang telah bertamu di jam segini.

KREK ...

Pintu pun terbuka. Mata Kang Asep melotot seperti ingin melompat keluar dari tempatnya.

"Ar ... Kamu ..."

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!