9. Makan Malam Bersama

Ardi pun duduk bersebelahan dengan Niken dan saling berhadapan dengan Bambang Adi Atmaja, ayah Niken yang terkenal galak dan tegas. Ardi rasa itu bukanlah sekedar kabar burung belaka karena dari yang dia lihat sekarang sama persis dengan yang orang-orang katakan.

Bambang menatap begitu tajam Ardi, sampai pemuda dua puluh tujuh tahun itu menahan napasnya. Jika pun ingin bernapas, dia melakukannya perlahan-lahan.

Keringat bermain manja di kening Ardi. Niken yang sedari memperhatikan gerak gerik calon suaminya itu, menjadi tidak tega.

"Ayah," panggilnya sedikit manja. "Jangan menatap Ardi terlalu serius. Lihatlah dia! Dia begitu ketakutan berkeringat seperti ini," gerutu Niken, seraya menghapus keringat di kening Ardi dengan tisu.

Mita tersenyum lembut ke arah Niken dan Ardi, merasa bangga karena putri kecilnya ternyata sudah mampu mengurus calon suaminya. Perhatikan yang ditunjukkan Niken, mampu membuat Mita luluh, sekaligus merasa yakin bahwa Ardi adalah pria yang ditakdirkan untuk menjadi jodoh terbaik Niken.

"Kamu juga si. Kenapa terlalu keras pada Ardi. Lihat dia? Pasti dia merasa sangat tertekan." Mita pun geram dan mencubit pinggang suaminya yang berlagak tegas tersebut.

"Sudah, aku bisa sendiri," pinta Ardi, sekaligus sebagai penolakan halus darinya. Sampai detik ini dia masih merasa kurang nyaman kalau Niken memperlakukannya sangat intim.

Niken pun menarik tangannya dan menyudahi mengelap keringat di kening Ardi. Setelah itu barulah Niken memberikan tatapan dingin pada ayahnya, yang sontak membuat Bambang Adi Atmaja tersentak.

"Baiklah, baik. Ayah yang salah karena sudah bersikap berlebihan pada calon menantu ayah sendiri," sesalnya yang disertai senyuman penyesalan.

Niken tidak menjawab, dia malah menunjukkan wajah cemberut sebagai tanda kesalnya. Ardi buru-buru mereda kekesalan sang calon istri. Dia menyentuh tangan Niken dan mengelusnya lembut.

Ardi selalu punya cara untuk membuat Niken semakin luluh padanya. Tatapan Ardi lama-kelamaan membuat Niken mabuk kepayang. Ini baru hari pertama, apa lagi nanti setelah menikah?

"Tahan, Ken. Jangan terbawa perasaan. Ingat, semua pria itu sama, sama-sama hanya bisa menyakiti hati wanita saja. Kamu jangan sampai terlena dalam bujuk rayuannya," batin Niken, yang selalu mengingatkan padanya akan kebusukan seorang pria.

"Lihatlah, mereka sangat cocok bukan? Mereka seperti kita saat masih muda," ungkap Mita tanpa ditutup-tutupi.

Ardi segera melepas tangan Niken, setelah gadis ayu keturunan Jakarta-Bandung itu melirikkan matanya sebagai kode. Ardi mengangguk, segera dirinya duduk ke posisi semua, yaitu menghadap calon ayah mertuanya itu.

Setiap melihat Bambang, selalu saja dia menelan ludah beberapa kali. Bambang yang menatapnya pun menjadi tidak tega.

"Hahahaha." Dia tertawa lepas, "Ternyata kau begitu takut padaku. Tidak disangka, aku masih begitu ditakuti oleh orang lain. Sungguh, kehebatan yang luar biasa bukan?" kekehnya disertai tawa.

Ardi tersenyum canggung, tetapi dia tidak berani menanggapinya lebih lanjut. Sementara itu, Niken memberi ayahnya tatapan sinis, dengan bibir yang baik sebelah. Sedangkan, Mita mencubit pinggang suaminya. Kali ini cubitannya cukup kencang sampai Bambang sedikit menjerit dibuatnya.

"Ayah ...," sebut Niken sedikit merengek. "Bisa tidak sekali saja bersikap serius, jangan bercanda kasihan Ardi, dia pasti sangat ketakutan. Benar bukan?"

Ardi ingin menjawab tidak, tetapi Niken langsung menginjak kakinya yang sontak membuat Ardi mengatakan 'Ya' secara spontan.

Bambang pun meliriknya penuh selidik. Namun, kali ini Mita yang menginjak kakinya sehingga dia menjerit untuk kedua kalinya.

"Kalian ini para wanita, menjadikan kami pada pria sebagai pelampiasan saja," sindirnya secara terbuka.

Mita memicingkan matanya, "Biarkan saja. Sesekali kalian juga harus merasakan sakit bukan? Jangan hanya kami saja kaum wanita yang selalu tersakiti. Benar 'kan sayang?" balasnya langsung melempar pertanyaan pada Niken.

"Mama benar, Ayah. Kalian itu lara pria kerap kali membuat wanita menangis dan terluka. Jadi tidak apa-apa, sesekali kalian yang menjerit."

Niken terkekeh geli, sengaja dia menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Gerakannya yang gemulai membuat Ardi terpana. Terutama pada senyuman Niken, yang semakin membuat Ardi merasa nyaman.

"Ah, Ardi. Buang jauh-jauh perasaan itu. Ingat, dia tidak lebih cantik dari Melati."

Pikirannya segera menepis perasaan tersebut, agar tidak terjadi masalah di kemudian hari. Ardi hanya ingin setia pada satu wanita, yaitu Melati. Dikarenakan Melati telah mencampakkan dirinya maka dia tidak akan mau mengenal wanita lagi. Biarpun sampai menikah, maka dia tidak akan pernah mencintainya.

Setidaknya itu anggapan Ardi untuk sekarang, tetapi tidak untuk nanti. Ada Sang Maha Cinta, yang mampu membolak-balikan perasaan manusia dengan mudah.

***

Perbincangan pun dilanjutkan kembali, tetapi setelah mereka selesai makan. Baik Bambang maupun Mita mengajarkan pada anaknya, jika sedang makan jangan ada yang bersuara. Jadi, perbincangan mereka sempat terhenti saat makanan dihidangkan.

"Oh ya, Nak Ardi. Di mana ayah dab ibumu tinggal sekarang? Apakah mereka ikut tinggal di Indonesia juga?" tanya Mita membuka pembicaraan.

Ardi pun menelan ludahnya berat-berat, lalu melirik Niken untuk sesaat. Gadis ayu berwajah oriental itu mengangguk perlahan, itu adalah isyarat agar Ardi menjawab pertanyaan tersebut sesuai yang telah disepakati bersama.

"Mereka tidak ikut bersamaku ke Indonesia. Ayah sibuk mengurus pekerjaannya di Inggris, sedangkan Ibu sibuk mengajar di kampus. Jadi mereka tidak ikut bersamaku pulang ke Indonesia," bebernya sedikit merasa bersalah.

Ardi kembali melirik ke arah Niken, dan calon istrinya itu mengangguk, seraya tersenyum simpul dan menunjukkan ibu jarinya sebagai tanda bagus pada Ardi.

"Ibumu mengajar di kampus, apakah dia seorang Dosen?" tanya Mita lebih lanjut. Dia agaknya penasaran dengan profesi dari ibunya Ardi.

Pertanyaan ini semakin menjebak dirinya, "Ya. Ibu seorang Dosen di salah satu kampung yang ada di Inggris," akunya sembari menelan ludah, dan meneguk sisa air yang ada di gelas.

Niken tersenyum tipis, merasa kasihan karena Ardi terus dicecar dengan berbagai pertanyaan. Ketika Mita hendak melayangkan pertanyaan selanjutnya, tiba-tiba pelayan datang dengan membawa beberapa hidangan penutup.

Niken dan Ardi sama-sama menghembuskan napas lega. Setidaknya Mita tidak akan melayangkan beberapa pertanyaan beberapa waktu ke depan.

Hidangkan penutup pun tersaji di meja. Ada puding, kue dan lain-lainnya, yang tentunya menggugah selera. Ardi terlihat mengecap bibirnya. Dia yang baru pertama kali melihat makanan mewah, sudah ingin melahap semuanya.

Tangannya sudah ingin meraup makanan di meja, tetapi Niken lebih dulu menghadangnya. Dia mencubit paha Ardi, sehingga dia tersentak kaget.

Bukan hanya kaget, tetapi seperti mendapat serangan yang begitu luar biasa. Seolah ada tarikan magnet saat tangan Niken mencubit pahanya.

"Kamu kenapa? Apa kamu tidak suka dengan hidangan penutupnya? Haruskah kami memesan hidangan penutup khas Inggris, tapi sepertinya mereka tidak menyediakan makanan Inggris," ungkap Mita ragu-ragu.

Bambang membenarkan pernyataan dari istirnya, "Coba kamu cicipi dulu makanannya. Ayah yakin kamu akan langsung menyukainya," timpal Bambang menambahkan.

Ardi pun mengangguk sekaligus mengiyakan karena bagianya semua makanan ini yang terbaik. Selama hidupnya dia belum pernah bertemu dengan makanan seperti yang terhidang di meja.

Jika ditotal, mungkin harga seluruh makanan bisa untuk membeli beras dua karung, telur lima kilo dan lain-lainnya atau mungkin bisa lebih.

Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!