Hanya karena sebuah celetukan sang suami, Ayas cukup lama berdiam diri dan tidak memiliki kemampuan untuk menghampiri. Takut dan malu seolah bersatu padu, pengalaman malam pertama dari kakaknya terlalu mengerikan, terlebih lagi mata Ayas sudah pernah berkenalan dengan lonceng kematian milik Kama yang membuatnya bergidik ngeri.
Percayalah, sebelum pergi ke Jakarta otak Ayas suci dan sebegitu polosnya. Namun, setelah dipertemukan bersama Kama keadaan sudah berbeda. Bagaimana tidak? Pasalnya bukan hanya teori yang Ayas pelajari, melainkan praktiknya.
Ya, walau memang tangannya tidak ikut ternoda, tapi mata dan otaknya jelas tidak lagi bisa diselamatkan pasca Kama menjadikannya objek fantasy dalam menuntaskan hasratnya. "Ck, nanti dia suruh pegang gimana? Kata mbak Dania kalau nolak dosa, t-tapi aku geli."
Mereka masih berjauhan, belum sama-sama di atas ranjang, tapi pikiran Ayas sudah simpang siur. Berbagai dugaan dan pertanyaan memenuhi otaknya, Ayas berharap malam ini berakhir secepatnya.
"Laras, dengar aku tidak?"
Lamunan Ayas terhenti, dia tampak gelagapan dan bingung harus bereaksi bagaimana. Cara Kama memandang dari atas tempat tidur sukses membuatnya panas dingin. "I-iya dengar."
"Sini, Sayang."
Tak berhenti di sana, Kama menepuk sisi kosong di sebelahnya sebagai pertanda untuk meminta sang istri naik ke atas tempat tidur segera. Bukan lagi salah prasangka seperti sebelumnya, kali ini Kama benar-benar mengajaknya tidur bersama.
Mau tak mau, Ayas harus mau dan perlahan turut naik. Masih dengan kaki yang kini terasa gemetar, Ayas seolah takut sekali Kama terkam. Bahkan, belum apa-apa dia segera menarik selimut untuk menutupi dadanya.
Ayas melakukannya dengan sangat pelan, dan hal itu jelas saja tak lepas dari pengawasan Kama yang sejak tadi bertopang dagu demi menatapnya. Seolah menjelaskan, jika dia benar-benar bahagia dan pernikahan ini adalah hal yang sangat dia inginkan.
Sama sekali tidak ada tampang terpaksa, sejak awal tahu akan menikah juga santai sebenarnya. Hanya saja, tidak mungkin Kama memperlihatkan seberapa bahagia dirinya sementara Ayas tampak terpuruk menghadapinya.
Tidak perlu Kama tanya, dia tahu saat ini belum waktunya sang istri untuk bahagia. Kepergian ibunya yang tiba-tiba sudah cukup menjadi alasan kenapa Ayas tidak sebahagia Kama, terlebih lagi tadi pagi dia mendapat begitu banyak hinaan dari para warga sekitar untuknya.
Mengingat hal itu, Kama seketika merasa bersalah. Dia memang tidak pasrah saja awalnya, tapi andai saja dia menolak dengan tegas dan membantu Ayas membela diri mungkin mereka tidak akan berakhir seperti ini.
Kama menghela napas panjang dan kini menatap langit-langit kamar. Agaknya dia perlu bicara soal ini, jujur saja walau memang tidak terlihat, tapi Kama sangat takut Ayas membencinya.
"Yas, aku boleh tanya sesuatu?"
Suara Kama memecah keheningan, Ayas yang berada di sisinya perlahan membuka mata. Menghadap ke arah Kama dan dalam keadaan siap tak siap, dia menerka Kama mau apa. "Boleh, tanya apa, Mas?"
Kama terpejam, berusaha menahan diri untuk tidak salah tingkah lantaran panggilan Mas dari sang istri yang sedikit lucu di telinganya. "Kamu membenciku?"
Jauh dari dugaan, ternyata Kama justru melontarkan sebuah pertanyaan yang seketika membuat Ayas mengerutkan dahi. Jangankan membenci, sejak tadi Ayas justru berpikir bagaimana perasaan Kama dihadapkan dengan posisi ini.
Niat hati hanya untuk memastikan keadaannya, tapi justru berakhir dipandang hina seperti dia. Harusnya Ayaslah yang bertanya, tapi kini justru berbalik dan jelas jawabannya tidak.
Ayas menggeleng, dia tidak marah, tidak pula membenci Kama. Bahkan, dia sedikit lebih lega hanya dinikahkan saja, tidak dipermalukan atau dihajar habis-habisan seperti kakak iparnya.
"Benar tidak?" Kama berbinar usai mendengar pengakuan Ayas, dia sontak mendekat dan kini keduanya hampir tak berjarak.
Ayas mengulas senyum untuk pertama kali. Bukan karena apa-apa, tapi cara Kama mendekat begitu lucu baginya, "Iyaa, tidak."
Sederhana, tapi jawaban itu berhasil membuat Kama menghela napas lega selega-leganya. Rantai yang mengikat kakinya seakan terlepas, dia sudah berpikir jauh dan mengira istrinya akan banyak ulah layaknya tokoh utama yang tidak terima akan takdirnya.
Namun, setelah Ayas mengakui, tetap saja ada yang membuatnya penasaran. Sebenarnya sejak tadi sudah terpikirkan, dia sempat lupa dan kali ini tetap saja kepikiran. Setelah dia ingat-ingat, terakhir kali Ayas membela diri itu di belakang, dan ketika mendengar mereka akan dinikahkan, Ayas tidak terlihat berontak.
"Apa alasannya? Kamu masih bisa menolak, 'kan kalau mau?" tanya Kama dengan hati yang sudah dia persiapkan untuk menerima jawaban Ayas, apapun itu.
Ayas tidak segera menjawab, dia tampak berpikir dan memilah kata sebelum benar-benar dia utarakan. "Kamu sendiri yang bilang aku jodohmu ... jadi kupikir, cepat atau lambat juga akan tetap menjadi istri kamu."
Jawaban yang tepat, Kama mengullum senyum begitu mendengar ucapan Ayas. Siapa sangka sang istri akan melontarkan jawaban yang berhasil membuatnya terbang ke angkasa.
Tak perlu susah payah dia jelaskan bahwa lambat laun mereka akan tetap berakhir menjadi pasangan, Ayas ternyata paham. "Benar, kamu memang jodohku," ucap Kama menatap mata lelah Ayas yang kini masih dia paksakan untuk terjaga.
Semakin lama Kama menatapnya, hati Kama kian pilu. Dia masih tidak habis pikir kenapa ada pria yang menyia-nyiakan wanita setulus ini. "Maafkan aku, seharusnya aku tidak memilikimu dengan cara ini," ucap Kama pada akhirnya sebelum merengkuh tubuh Ayas yang dia yakini serapuh itu.
.
.
Ketakutan Ayas sama sekali tak terbukti, jangankan dipaksa ataupun diminta melakukan hal-hal gila seperti dugaannya, Kama bahkan tidak membahas tentang hak sebagai suami di malam pertama.
Hingga pagi menjelang, Ayas terjaga lantaran Kama yang menggigil dalam pelukannya. Siapa sangka posisi merekajustru jadi berbalik begitu, padahal jelas-jelas sebelum tidur Ayaslah yang dipeluk, bukan memeluk.
"Dingin, Maa."
Mata Kama masih terpejam, tapi bibirnya bergetar dan mengeluh dingin pagi-pagi begini. Tidak ingin suamiku beku, wanita itu segera beranjak dari tempat tidur dan mengambil persediaan selimut yang lain karena satu agaknya tidak cukup.
Ayas terlalu nyenyak sampai dia tidak sadar jika semalaman hujan lebat, wajar saja Kama sampai menggigil dibuatnya. Usai menyelimuti sang suami, Ayas menyadari ada yang aneh hingga senyumnya mengembang tanpa sadar.
"Kapan dia melakukannya?"
Entah kapan Kama memakaikan kaos kaki dan juga mengganti baju tidurnya. Sama sekali Ayas tidak sadar karena memang tidurnya nyaman sekali. "Tunggu, dia cuma ganti baju saja, 'kan ya?" Beberapa saat lalu dia terharu, tapi detik ini dia seketika panik dan menduga-duga apa yang sudah Kama lakukan padanya.
.
.
- To Be Continued -
Hai, senin kedua di Kama ritualnya jan lupa❣️ Vote buat Kayas seikhlasnya beibeeeeh.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Halimah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-12-20
0
Wani Ihwani
enak e kama tanpa proses yg rumit dengan mudah dapat Ayas
2024-09-05
0
Nendah Wenda
ayas pasrah sama takdir kama orang yang tepat akan membahagiakan mu ayas
2024-08-28
2