Salah-satu hal yang tidak baik dilakukan di dunia ini adalah melakukan segala sesuatu dengan setengah-setengah. Ya, termasuklah niat di dalamnya. Hari ini, pikiran Kama sudah dikacaukan lebih dulu lantaran Ayas kencan bersama tunangannya.
Raga dimana pikiran dimana, Kama sama sekali tidak fokus dalam rapat bersama para pejabat tinggi perusahaan pagi ini. Tak jarang asistennya menyadarkan Kama, tapi semakin lama di ruangan linglungnya semakin kentara hingga rapat berakhir Kama menuai kecaman tak baik dari beberapa orang di sana.
"Apa yang Anda pikirkan, Pak? Bisa diceritakan? Siapa tahu saya bisa cari jalan keluarnya."
"Entahlah, sejak tadi pagi ulu hatiku agak sakit ... sesak, sepertinya aku kurang sehat, Zidan."
Beralaskan sakit, padahal selama ini dia sehat-sehat saja dan sejak dahulu tidak ada riwayat sakit magh. Kama memijat pangkal hidung kemudian memejamkan mata, bagaimana Ayas yang menghampiri pria itu masih terus terbayang di otak Kama.
Dia kesal, sakit hati dan begitu muak membayangkannya. Hingga, hal itu berhasil menjadi alasan Kama untuk meninggalkan pekerjaan. "Baiklah, istirahat saja jika begitu, Pak."
"Kau benar, aku pasti kurang istirahat," ucap Kama membenarkan dan mulai bersiap untuk segera angkat kaki dari rumahnya.
Padahal, tadi malam tidurnya sangat nyenyak, dapat dikatakan pertama kalinya Kama kembali mendapatkan tidur yang berkualitas selama beberapa tahun terakhir. Walau, ketika terbangun panggilan video itu telah berakhir, tapi ditemani Ayas hingga dia menutup mata adalah pengalaman yang tidak dapat Kama utarakan dengan kata-kata.
Zidan sempat menawarkan untuk mengantar Kama ke rumah sakit dulu sebelum pulang ke rumah. Namun, dengan tegas pria itu mengatakan jika dia masih mampu dan tidak perlu dikhawatirkan.
"Mari kita lihat, kemana dia pergi."
Di hadapan asistennya dia mengaku bak tengah sakit, tapi begitu tiba di mobil Kama terlihat sehat-sehat saja. Pria itu merogoh ponsel dan mencari titik keberadaan Ayas. Ya, mungkin Ayas tidak tahu akan hal itu, tapi Kama sudah sesigap itu mengikatnya hingga takkan mungkin bisa lari dari jangkauan Kama.
Begitu tahu titik lokasi jodohnya itu, tanpa pikir panjang Kama mendatangi tempat tersebut. Kama tersenyum tipis, pria itu menggeleng pelan seraya menduga kecan seperti apa yang mereka lewati di tempat itu.
Tidak berselang lama, Kama sudah berada di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota. Ya, wajar saja pria membawa pasangannya ke tempat semacam ini, mungkin dalam rangka ingin memberikan hadiah atau semacamnya.
Terlebih lagi, menurut pengakuan Ayas mereka sudah lama tidak bertemu, maka dari itu wajar saja jika Marzuki mengajak Ayas berbelanja. Persetan dengan akan hal itu, yang jelas Kama ingin tahu dimana Ayas berada saat ini.
Berkat bakat Kama yang sigap sejak lama, tidak sampai sepuluh menit, dia sudah menemukan keberadaan pasangan itu. Dari kejauhan Kama memantau Ayas seolah tengah memantau adiknya. Tidak ingin ketahuan, pria itu sampai mengendap-ngendap layaknya seorang pencuri di sana.
Mimpi apa seorang Kama sampai membuntuti orang pacaran. Sakit di ulu hati yang tadi sempat dia keluhkan kembali Kama rasakan, terlebih lagi ketika melihat dua insan itu memakai kacamata dengan model sama di depan cermin.
"Alay, jauh-jauh kemari cuma beli kacamata," cibir Kama sekaligus menganggap Marzuki sebagai pria tak modal.
Bagaimana tidak? Kama yakin mereka sudah cukup lama berada di sana, tapi di tangan Ayas tidak ada satu pun paper bag yang menandakan jika dia diberi hadiah. Yang ada justru terbalik, dengan jelas Kama sempat mengikuti mereka ke toko sepatu, dan dia yakin betul Ayas membayar sepatu pria itu.
Kemanapun Ayas pergi, selalu Kama ikuti. Bahkan, apapun yang sempat Ayas coba juga turut dia coba, entah apa gunanya. Begitu juga kala mereka berlalu, Kama juga turut meninggalkan store tersebut.
Sialnya, kecerobohan Kama justru membuat pria itu mendadak menjadi incaran satpam kala alarm store tersebut berbunyi ketika dia hendak melewati pintu keluar.
Tidak hanya kehilangan Ayas, tapi Kama juga jadi pusat perhatian hingga dia gelagapan dibuatnya. "Saya salah apa? Benda sialan ini kenapa tak bisa diam?!" maki Kama tetap tidak terima kesalahan walau bando kelinci itu jelas-jelas ada di kepalanya.
"Silahkan melakukan pembayaran di kasir terlebih dahulu, Pak."
"Hah? Bayar ap_ ash memalukan, kenapa juga benda ini ada di kepalaku?" Kama mengatur napasnya, hancur sudah harga dirinya siang ini oleh bando sialan itu.
Sama sekali dia tidak sadar jika benda itu masih ada di kepalanya. Panik lantaran Ayas hendak berlalu pergi membuat Kama lupa diri. Terpaksa, walau dia hendak mencari keberadaan Ayas Segera, benda itu harus tetap dibayar.
.
.
"Huft, apa yang kau lakukan sebenarnya, Kama?" Kama bermonolog kala sadar jika dirinya agak sedikit kurang waras.
Sama sekali dia tak habis pikir, entah sejak kapan menjadi peduli urusan orang lain sebegitunya. Di tengah kebingungannya, seseorang yang kini berdiri di depan Kama sukses membuatnya terperanjat kaget.
"Kamu ngapain? Ngikutin aku ya?"
"Cih, menurutmu apa mungkin orang sesibuk aku punya waktu mengikutimu pacaran? Tidak bukan?"
Mana mau Kama mengaku, walau mungkin saja Ayas sadar jika dia ikuti sejak tadi, tapi hingga akhir Kama takkan mengatakan yang sejujurnya. Pria itu berusaha untuk bersikap santai, dia juga tampak mencari keberadaan seseorang yang telah menghilang dari pandangannya.
"Pacarmu mana?"
"Pulang, katanya Sutradara yang kemarin telepon ... jadi ya pulang," jawab Ayas tampak lesu, terlihat jelas jika gadis itu tengah kecewa.
Sudah tentu hal itu menjadi kabar baik bagi Kama. "Oh begitu, setelah ini kamu mau kemana?"
"Tidak ada, aku sudah selesai."
Kebetulan sedang berada di tempat ini, Kama segera menarik pergelangan tangan Ayas. Bagaikan langit dan bumi, Ayas merasakan perbedaan yang luar biasa antara Kama dan calon suaminya.
Tanpa terduga dan sama sekali tidak diminta, Kama mengajak Ayas ke store ponsel demi mengganti ponsel Ayas yang memang sudah lama. Tidak rusak sebenarnya, hanya saja memang sudah tidak layak saja di mata Kama.
Tidak hanya berhenti di sana, Kama juga membawanya ke store yang menjual tas dan pakaian dengan brand ternama yang harganya benar-benar membuat Ayas menganga. Dia sempat punya, tapi versi kw-nya dalam bentuk handuk dan jelas tidak semahal yang Kama berikan untuknya kali ini.
"Ini kebanyakan, Kama, kenapa jadi kam_"
"Hadiah, anggap saja dari pacar kamu," pungkas Kama kemudian membukakan pintu dan mempersilahkan Ayas untuk masuk ke mobilnya.
"Pacar?"
Kama mengulas senyum tipis, wajah bingung Ayas begitu jelas dan sorot mata sendunya semakin membuat Kama ingin menafkahi wanita ini, sungguh. "Jangan kebalik, Yas. Membelikan hadiah adalah tugas laki-laki, bukan perempuan," sindir Kama tepat sasaran dan berhasil membuat Ayas seketika terdiam.
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Halimah
itu gejala penyakit bucin Pak/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-19
0
Halimah
bilang aja lo iri😛😛😛😛😛😛
2024-12-19
0
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-19
0