Dalam melakukan segala sesuatu, Ayas tidak pernah bercanda. Tentang pekerjaan yang sedikit tak masuk akal itu perlahan Ayas terima dengan lapang dada. Terpaksa, hendak bagaimana lagi? Semua sudah telanjur, dan Kama juga membayar mahal dirinya di awal.
Kembali ke tujuan awal, niatnya bekerja ialah untuk meringankan beban Marzuki. Maklum saja, pria yang kala itu meminangnya masih perlu modal untuk menikahi Ayas. Bukan hanya pesta pernikahan, tapi kehidupan mereka setelah menikah juga perlu uang tentu saja.
Dia tidak ingin hanya berpangku tangan, terlebih lagi selama di kampung dia terus menjadi bahan gunjingan lantaran tak kunjung mendapat pekerjaan. Ya, menjadi pengasuh atau apalah itu agaknya bukan hal sulit, terlebih lagi jika diperlakukan tidak seperti babu semacam ini, melainkan partner.
"Ah jadwalku padat sekali rupanya, apa tidak bisa dikurangi, Zidan? Huft kepalaku sampai pecah memikirkannya."
Kening Kama tampak berkerut kala membaca jadwal dari tablet yang diberikan asistennya. Belum apa-apa dia sudah terlihat lelah, dan Ayas dapat menangkap hal itu dengan jelas. "Tidak bisa, Pak, itu saja sudah yang paling minimal ... janji temu dengan beberapa penulis sudah saya cancel sesuai pesan Anda, jadi_"
"Ya Tuhan, ini sebabnya aku benci hari senin," gerutu Kama mengembuskan napas kasar.
Padahal sebenarnya sejak lima tahun terakhir Kama sudah sama sibuknya. Dia memang diberikan kepercayaan sebagai CEO perusahaan multinasional milik keluarganya sejak lama. Selain itu, dia juga memiliki bakat dan hobi sejak kecil membuatnya nekat merangkap sebagai produser yang membuatnya lebih dikenal di berbagai kalangan akhir-akhir ini.
Selain karena project yang Kama luncurkan selalu sukses, ketampanannya juga menjadi salah-satu alasan dibalik kesuksesan pria itu. Kendati demikian, keseriusannya dalam bekerja tidak dapat dipandang sebelah mata.
Bukan hanya bermodalkan kekayaan orang tua, tapi memang sosok Kama begitu disegani para karyawan dan Ayas dapat melihat sisi lain dari Kama jika sedang serius. Hampir jam sepuluh, dan selama tiga jam berlalu yang Kama fokuskan hanya pekerjaan.
Sementara Ayas yang dia minta untuk mendampingi hanya duduk manis di sofa sembari menunggu perintah Kama, apapun itu. Sekaligus dia melihat bagaimana orang-orang sibuk bekerja, interaksi mereka tampak menyenangkan bagi Ayas.
"Oh iya, syuting Beranak Dalam Sangkar bagaimana? Aman?"
"Aman setahu saya ... kenapa, Pak?"
Kama tampak berpikir, dia ingin keluar dan menghirup udara segar. Sejak tadi hanya di dalam ruangan dan pandangannya mulai berkunang-kunang. Tidak ingin terlalu tersiksa dan khawatir mati berdiri, Kama memutuskan untuk beranjak pergi.
"Pak-pak sebentar!! Terus rapat sama pak Baskoro bagaimana?"
"Om Haidar ada, wakilkan saja ... katakan aku sibuk."
Sebagai bawahan, tidak ada kata lain selain iya. Tidak hanya Zidan saja, tapi Ayas juga harus patuh pada perintah Kama. Jika dia ingin A, maka harus A, begitu seterusnya.
.
.
Bagi Ayas hal semacam ini bukan derita, jujur dia bahagia-bahagia saja diajak keliling seperti ini. Layaknya gadis kampung yang keluar rumah saja hampir tidak pernah, begitu di ajak menelusuri ibu kota ada kesenangan tersendiri yang tak dapat Ayas ungkapkan dengan kata-kata.
Sama seperti pagi tadi, selama di perjalanan Ayas hanya diam saja. Sesekali menjawab pertanyaan Kama, entah basa-basi atau memang penasaran, tapi yang jelas pria itu seolah ingin tahu sekali urusan hidupnya.
"Kenapa tidak kejar beasiswa saja? Usiamu masih sangat muda, pernikahan tidak seindah yang kamu bayangkan, Yas," ungkap Kama mulai terdengar serius.
Menanggapi pertanyaan Kama, gadis itu tidak segera bereaksi. Dia tampak berpikir dan memilih kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaan Kama. "Jika hanya soal usia, aku sudah dan mas Juki sudah sepakat menikah tahun depan ... kami tidak ingin menunda terlalu lama, bukankah lebih cepat lebih baik?"
Sial, wajah Kama seketika berubah begitu mendengar nama calon suami Ayas. Kenapa juga jawabannya harus itu, pikir Kama mendadak menyesal bertanya, "Tidak juga, menikah itu di saat yang tepat, bukan cepat ... hidup bukan perlombaan, lagian buat apa cepat-cepat kalau nanti berakhir di pengadilan," celetuknya pedas seolah memiliki dendam kesumat pada lawan bicaranya.
"Ya jangan sampai, doakan saja yang baik-baik ... dari pada pacaran terus hayo? Lebih baik nikah, 'kan?"
Kama tertawa sumbang, pembelaan Ayas justru menciptakan celah untuk kembali menyerangnya. "Iya sih, memang sudah pacaran berapa lama?"
"Dua tahun," jawab Ayas jujur, di luar dugaan jawabannya berhasil membuat Kama terbahak, setengah menghina tepatnya.
"Serius dua tahun?"
Ayas mulai sebal, dia berdecak kesal seraya melayangkan tatapan tajam ke arah Kama. "Iya, serius, kenapa ketawa?"
"Lama banget, kalau bayi udah bisa lari umur segitu."
Ayas sejak tadi sadar jika sedang dihina sebenarnya. Sejak tadi dia masih sopan, tapi setelah mendengar sindiran tajam Kama mendadak dia naik darah. "Situ ngatain saya memang punya pacar?" Ayas balik bertanya hingga Kama mengatupkan bibir segera.
Dia berdehem, memperbaiki posisi duduk dan segera memasang jurus pura-pura tuli seraya terus fokus mengemudi. Pertanyaan Ayas berhasil menyerang ulu hatinya, sesak dan dia butuh pasokan udara yang banyak detik ini juga.
.
.
Lain di privat, lain di publik. Ya, begitulah kira-kira kalimat yang bisa mendefinisikan Kama. Ketika bersama Ayas, pria itu lebih banyak bicara bahkan termasuk hal yang tak penting.
Namun, ketika di luar dia terlihat seperti orang yang berbeda. Seperti ini contohnya, begitu tiba di lokasi dan disambut sangat baik, Kama bersikap begitu elegan hingga Ayas berpikir dia akan ikut casting atau semacamnya.
Tidak hanya irit bicara, dia juga irit senyum. Jangankan terbahak seperti tadi, tapi candaan sang sutradara yang sudah teramat lucu bagi Ayas ternyata tidak berhasil membuatnya tersenyum sedikit saja.
"Ngomong-ngomong siapa si mungil ini, Pak? Calon bintang baru atau_"
"Oh ini? Calon istri," jawab Kama cepat, sontak mata Ayas membulat sempurna. "Orang," lanjut Kama lagi yang kini disahuti gelak tawa oleh beberapa orang di sana.
Seketika suasana menjadi begitu hangat, barulah detik ini Ayas kembali melihat senyumnya, itu pun sangatlah tipis. Ayas menunduk, dia mencoba mengalihkan perhatian dan menutup telinga agar candaan konyol mereka tidak masuk ke dalam hatinya.
Entah apa alasan Kama bercanda semacam itu, tapi yang jelas hati Ayas sempat berdegub tak karu-karuan walau sesaat. "Kenapa bilangnya gitu?" Setelah keadaan sedikit lebih tenang dan Kama mengajaknya menjauh, barulah Ayas memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa? Salah?"
"Ya tidak, tapi kan bisa jawabnya jangan calon istri orang seperti tadi."
Kama menghentikan langkah, kembali menatap lekat Ayas dengan mata teduh disertai senyuman tipisnya. "Terus jawab apa? Calon istriku begitu? Hm?"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Halimah
nah loooooo lgsg kicep/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-18
0
Halimah
Ehemmm dasar modus
2024-12-18
0
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-18
0