Ancaman Kama sukses membuat Ayas ciut, gadis itu berlalu pergi ke kamarnya. Dalam keadaan jantung yang berdegub tak karu-karuan, Ayas segera masuk selimut setelah sempat membuat Ida berteriak lantaran terkejut mendengar pintu yang tak sengaja dibanting sebegitu kuatnya.
"Kamu dengar aku tidak? Apa aku harus turun untuk menjemputmu, Laras?"
Suara itu masih saja terngiang-ngiang, omelan Ida tak lagi Ayas hiraukan. Dia hanya tengah berusaha mengatur napas, khawatir tiba-tiba pingsan atau justru kejang setelah ini.
"Ya, Tuhan ... memalukan sekali."
Bukan main gugupnya Ayas, baru saja hendak tenang, jantung gadis itu kembali dibuat seakan berhenti berdetak begitu mendengar gelak tawa Kama di ponselnya. Entah apa yang harus Ayas lakukan saat ini, tapi sudah pasti Kama mendengar semua yang dia lakukan sejak tadi.
"Aku tidak mengejarmu, Ayas, kenapa harus lari hm?"
Ayas menggigit bibir, ternyata sebelumnya dia tidak salah dengar, tapi memang Kama belum memutuskan sambungan teleponnya. Pria itu tertawa kecil, mungkin derab langkah Ayas yang ketakutan persis sedang dikejar macan itu terdengar jelas di telinga Kama.
"Ida sudah tidur?"
Entahlah, Ayas tidak tahu juga sebenarnya. Tanpa diperintah, Ayas membuka selimut demi memastikan Ida di sampingnya. Jujur saja Ayas was-was, andai saja Ida tahu apa yang dia lakukan besar kemungkinan akan menjadi topik pembicaraan nantinya.
Layaknya seorang gadis yang tengah dihubungi kekasihnya malam hari, Ayas memastikan Ida secara perlahan lantaran takut ketahuan. Lucunya, gadis itu menjawab pertanyaan Kama dengan begitu polosnya. "Sudah, Mba Ida tidur."
"Aku vc boleh ya?"
Mendengar pertanyaan Kama, telapak tangan Ayas mendadak dingin seketika. Gadis itu menggigit bibir dan bingung hendak menjawab apa. Sama sekali tidak dia duga jika Kama justru mengajaknya melakukan panggilan video.
"Buat apa?" tanya Ayas tak segera menuruti kemauan sang majikan, jujur saja hal semacam ini agak aneh baginya.
Kama menghela napas panjang di sana, dia tidak menggerutu dan tidak pula membuat Ayas merasa terancam saat itu. "Tidak apa, hanya ingin saja."
Ayas pikir, setelah tiba ke kamar pria itu akan memintanya untuk tidur. Namun, pada faktanya justru berbeda. "Yas? Boleh tidak?"
"I-iya boleh."
Detik itu Ayas berkata boleh, detik itu pula panggilannya beralih dan Ayas mendadak salah tingkah. Mendengar suaranya saja Ayas sudah porak poranda, kini Kama tiba-tiba mengajak bicara dengan memperlihatkan wajahnya.
Sudah pasti Ayas panas dingin, bahkan untuk balik menatap pria itu Ayas tak kuasa dan dia memang segugup itu jujur saja. Berjam-jam dia menunggu Marzuki, tapi yang justru memperlakukan bak pasangan malam ini adalah majikannya sendiri.
Entah atas dasar apa Kama menghubungi, tapi sejauh ini pria itu tidak banyak bicara. Dia hanya mengatakan minta ditemani karena masih belum mengantuk. Tatapan mata Kama juga tidak melulu tertuju padanya, dan dari suara yang terdengar agaknya pria itu tengah bermain games di gawainya.
Sudah sedewasa itu, tapi dunianya sungguh sulit Ayas tebak. Cukup lama Ayas menemaninya, dan Kama mengatakan panggilan itu tidak boleh diakhiri sampai besok pagi. "Kalau ngantuk tidur ... tapi posisi hp-nya jangan diubah."
Kalau ditanya sudah mengantuk atau belum, jelas saja sudah, bahkan sangat mengantuk sebenarnya. Hanya saja, Ayas berusaha menahan dan tetap membuka matanya yang tinggal beberapa watt itu.
Dia pernah melakukan hal semacam ini, tepatnya awal-awal jadian bersama Marzuki. Kegiatannya kurang lebih sama, dan biasanya kerap dilakukan oleh sepasang kekasih. Mimpi apa Ayas justru melakukan sleep call bersama majikannya, seketika Ayas merasa bak wanita penggoda yang tengah berusaha mendekati uang Kama, sungguh.
Semakin lama, rasa kantuk itu kian tak tertahankan dan Ayas tak lagi mendengar apapun. Celotehan dan umpatan Kama yang tadi sempat membuatnya terkejut sudah berganti dengan kesunyian, Ayas tenggelam dalam tidurnya dan mulai menyelami lautan mimpi.
Mimpi yang sangat indah untuk dia rasakan hingga Ayas tak ingin terjaga lagi. Sial, bahkan dalam mimpi yang dia temui tetap Kama dan hal itu sedikit menyebalkan sebenarnya. Semakin dia dekati, Kama semakin besar hingga berakhir membuat Ayas berteriak sejadi-jadinya kala pria itu justru menyemburkan air dari mulutnya.
"Ngaco!! Mimpi apa sih, Yas? Aku pikir kamu dicekek jin tahu?"
"Mbak Ida?"
Ayas masih bingung, dia berusaha menyimpulkan apa yang terjadi saat ini. Setelah beberapa waktu berusaha mengenali ruangan itu, barulah Ayas sadar jika dua baru saja bermimpi.
Hal pertama yang Ayas cari setelah terjaga adalah ponselnya. Entah berapa jam waktu yang dihabiskan bersama Kama, tapi kini ponselnya terasa panas dan mati lantaran kehabisan daya.
"Jam berapa, Mbak?" Walau jelas Ida yang menyiramnya lantaran kesulitan bernapas beberapa saat lalu, Ayas sama sekali tidak marah.
Memang sejak dulu Ayas kerap mimpi buruk dan ketika terbangun begitu mengkhawatirkan, karena itu dia memaklumi tindakan Ida dalam membangunkannya. "Jam empat," jawab Ida kemudian berlalu ke kamar mandi.
.
.
Setelah tadi malam mereka menghabiskan waktu layaknya pasangan kekasih, pagi harinya Ayas terlihat biasa saja. Kembali melakukan rutinitas dan menyiapkan perlengkapan Kama pergi kerja.
Tidak ada drama ataupun permintaan aneh seperti pagi sebelumnya, Ayas bisa sedikit menghela napas lega pagi ini. Tak hanya itu, Kama juga tidak mengajaknya pergi kerja.
"Ehm, kalau begitu aku boleh keluar hari ini?" Mendengar Kama tidak mengajaknya pergi, Ayas mulai berpikir untuk memanfaatkan waktu demi menemui Marzuki.
Dia hanya ingin menjelaskan sesuatu, pria itu ternyata menghubungi Ayas lewat pesan singkat. Namun, ajakan untuk kencan itu masuk ketika Ayas sedang melakukan video call hingga tanpa tidak terbaca dan Marzuki mengira Ayas sengaja mengabaikannya.
"Keluar? Ada urusan apa, Yas?"
Ayas sedikit ragu dan malu untuk mengakui, tapi di hadapan Kama dia merasa seperti tidak akan mampu untuk berbohong sedikit saja. "Mas Juki ngajak aku kencan hari ini."
Kama yang mendengar ucapan Ayas seketika menghela napas kasar. Sengaja dia tidak mengajak Ayas kerja agar keduanya tak bertemu. Sialnya, pasangan itu justru membuat janji menyebalkan yang membuat rongga dada Kama terasa sempit seketika.
"Boleh, 'kan?" Tidak segera mendapat jawaban dari Kama, Ayas bertanya sekali lagi dan pria itu terlihat malas untuk menjawabnya. "Hm."
"Hm? Hm apa?"
"Terserah kalian saja," jawabnya singkat dan mengakhiri sarapan yang baru saja dimulai itu, bahkan rotinya baru segigit, sungguh reaksi yang sama sekali tidak Ayas duga.
"Dia kenapa marah?"
"Biasa, majikan kita sepertinya SMOS dari lama," sahut Ida yang baru datang dan merangkul pundak Ayas.
"SMOS apaan?"
"Susah melihat orang senang, dan senang melihat orang susah ... begitulah kira-kira," ucap Ida kembali tergelak, seakan lupa jika telinga majikannya dapat menangkap tangisan semut sekalipun.
"Minimal kalau mau menggunjing itu di luar Ida ... kebiasaan!! Besok-besok kujahit bibirmu." Hanya suaranya saja yang terdengar samar, orangnya entah berada dimana.
"Tuh dengar sendir_"
"Tutup mulutmu, Inayya Maulida!!
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
anita
bner ya anggapan ayas sak majikane sak pembantune skalian satpam jg aneh smua
2024-12-13
0
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-19
0
Nendah Wenda
haduh Ida ketahuan orang nya
2024-08-28
1