Salah-satu hal yang paling sulit di dunia ini adalah menasihati orang yang sedang jatuh cinta, apalagi kalau sudah telanjur cinta. Ya, begitulah yang saat ini Kama rasakan begitu menasihati Ayas.
Dia tahu memang tipe-tipe wanita setia dan terlalu bodoh dalam mencintai hingga mengabaikan logika itu ada. Tidak perlu jauh-jauh, saudara kandungnya adalah bukti nyata bagaimana seorang wanita dibodohkan oleh cinta sebelum menikah bersama Yudha.
Kama memijat pangkal hidungnya, entah harus bagaimana agar mata Ayas terbuka. Padahal, dari sikapnya saja sudah sangat menyebalkan, dan dalam hubungan mereka berdua, justru Kama yang tidak sabar ingin segera menghancurkannya.
"Kau mabuk lagi, Kama?"
Suara itu membuat lamunan Kama buyar, dia memperbaiki posisi duduknya dan berusaha untuk memperlihatkan jika dia baik-baik saja. "Tidak, Om."
Tidak biasanya Haidar sampai sengaja masuk ke ruangannya. Firasat Kama mulai tidak baik, terlebih lagi tatapan mata dan pertanyaannya cukup membuat jantung Kama berdegub tak karu-karuan.
"Yakin tidak?"
Jika pertanyaannya sudah begitu, maka kemungkinan besar ada sesuatu yang Haidar ketahui hingga membuat Kama mengaku tanpa perlu dipaksa lebih dulu.
"I-iya, aku minum, tapi sedikit, Om, tidak sampai mabuk."
Sedikit katanya, dan Haidar menyerahkan ponselnya pada Kama. Sebuah video yang memperlihatkan bagaimana dia menggila tadi malam berhasil membuat Kama bungkam. Sial, ada seseorang yang mengabadikan momen memalukan itu, dan Kama bahkan terus menganga hingga Haidar merebut kembali ponselnya.
"Kalau begini disebut sadar, lalu bagaimana bentuk mabukmu?" Haidar menghela napas panjang.
Kama mengatupkan bibir, dia mengusap kasar wajahnya dan bingung hendak menjawab apa. Habislah sudah, jika sampai video itu dilihat papanya, besar kemungkinan Kama dicoret dari kartu keluarga.
"Siapa yang membuatmu begini?"
"Papa sudah lihat ya, Om?"
Ditanya balik nanya, dan hal itu berhasil membuat Haidar mengelus dada. "Menurutmu? Andai papamu tahu apa mungkin diam saja? Tidak, 'kan?"
"Ah syukurlah."
Bukannya panik, dia justru bersyukur begitu mendengar ucapan omnya. Bagi Kama, selagi papanya tidak tahu maka bukan masalah besar. Tanpa banyak bicara, Kama segera memberantas sumber videonya, begitu juga dengan yang tersebar demi menjaga nama baiknya.
"Terima kasih informasinya, Om ... untung belum terlambat."
Terlalu memikirkan Ayas, dia sampai lupa jika sendirinya hampir saja terperosok dalam jurang. "Jawab dulu pertanyaanku, siapa yang membuatmu sampai begini?"
Sejak tadi sudah Kama hindari, tapi ternyata pria itu kembali bertanya untuk kedua kalinya. "Laras."
"Laras? Laras siapa? Namanya asing sekali?"
"Jodohku."
"Jodoh? Kenapa bisa seyakin itu dia jodohmu?"
"Ah sudahlah, otak om tidak akan sampai ke sana ... aku pergi dulu!!"
Baru juga hendak dinasihati, Haidar sudah menyiapkan catatan sejak tadi pagi dan ketika hendak dieksekusi, Kama pergi begitu saja. Kendati demikian, Haidar menangkap pertanda baik karena untuk pertama kali setelah berkepala tiga Kama menunjukkan jika dia normal dan menyukai lawan jenis.
Kama melangkah cepat meninggalkan kantornya. Kembali pada tujuan awal, dia akan memantau anak barunya hari ini. Berbagai cara Kama lakukan demi membuat nama Marzuki dikenal banyak orang, tak tanggung-tanggung di drama pertamanya, Marzuki ditunjuk sebagai pemeran utama.
Akting kaku dan hanya modal tampang membuat banyak orang kecewa, termasuk penulis dan sutradara yang turut andil dalam project tersebut. Namun, begitu Kama mengubah peran protagonis pria sebagai pria bisu, keputusan itu akhirnya diterima dengan baik oleh mereka.
"Cut!! Bagus Juki!! Air matamu nyata sekali!!"
Kama menggigit bibir bawahnya menyaksikan proses syuting Marzuki. Tidak sedikit yang paham jika Kama tengah mengerjainya, tapi bagi Marzuki hal itu adalah pencapaian tertinggi dan sudah patut dia banggakan.
Bahkan, sebuah peran yang sama sekali tidak membutuhkan dialod itu berhasil membuatnya bak orang paling sibuk hingga mengabari Ayas saja tidak sempat. Layaknya kacang lupa kulit, setelah berhasil masuk dunia entertain lewat Kama, dia mulai bertingkah.
Bahkan, foto Ayas yang sempat dia unggah di akun sosial medianya segera diarsipkan dengan alasan demi karir. Perlakuan spesial Kama membuat Marzuki semakin besar kepala, sama sekali tidak dia sadari jika dia tengah dikendalikan Kama.
.
.
"Sayang jangan di sini."
"Aku kangen banget, Rin, nggak kuat."
Entah kurang baik apalagi Kama, di project pertamanya Marzuki justru dipasangkan bersama Rindy, kekasihnya. Enam bulan menjalin hubungan, membuat rasa untuk Ayas tak lagi ada.
Tujuannya merantau sudah berbeda, dia terpesona dan jatuh cinta pada Rindy, wanita yang lebih seksi dan begitu mengerti apa yang diinginkan laki-laki.
"Sebentar, kamu belum putusin cewek kampung itu?" Rindy menahan dada Juki yang hendak menghimpit tubuhnya.
Decakan kesal terdengar dari mulut Rindy kala pria itu menggeleng pelan. "Aku rasa belum bisa ... saat ini aku baru merintis karirku, dan hanya dia yang bisa membantuku lewat pak Kama.
Rindy mencebik, sejujurnya dia penasaran dengan sosok Larasati yang sampai berhasil membuat Kama turun tangan untuk membantu Marzuki. Padahal, dia yang sejak dulu mencoba sama sekali tidak berhasil walau hanya sekadar figuran semata.
"Ck, apapun itu kita bersen_"
Pelukan keduanya terlepas begitu sadar seseorang tiba-tiba masuk. Keduanya gelagapan, terlebih lagi begitu tahu siapa pria itu.
"Hati-hati, karir kalian masih dititi ... jangan sampai rusak hanya karena scandal murahan."
Tanpa membentak, bicaranya terdengar halus sekali. Namun, tetap saja auranya berhasil menembus jantung hingga lidah Rindy saja terasa beku seketika. "I-iya, Pak, kami hanya bercanda."
"Bercanda? Masuk akal bercandanya di toilet pria?" tanya Kama seraya melayangkan tatapan tajam ke arah keduanya. Belum juga pasti berhasil, tapi tingkah mereka sudah luar biasa hingga Kama muak dibuatnya.
Sebenarnya andai mereka terlibat scandal atau apapun itu sama sekali tidak masalah. Hanya saja, saat ini mereka masih termasuk tanggung jawab Kama dan pria itu tidak ingin dia turut sakit kepala.
Baik Marzuki maupun Rindy kini memilih bungkam, tertangkap basah oleh seseorang yang menggenggam masa depan mereka bukanlah hal sepele. Kama mendekat, hingga Marzuki yang berada tepat di depan matanya kini terdiam membisu.
"Dan kau, jika memang tidak lagi menginginkannya lepaskan saja ... Laras berhak mendapatkan pria yang lebih pantas untuk menjadi suaminya." Kama menekan setiap kalimat hingga pria itu dibuat tak berkutik.
Tanpa menunggu jawaban, Kama berlalu begitu saja dengan beban yang seolah gugur dari pundaknya. Sejak awal dia ingin mengatakan hal tersebut, dan baru kali ada kesempatan.
Kama melangkah panjang dan bermaksud untuk kembali ka kantor. Namun, Ida yang tiba-tiba menelpon membuat langkah Kama berhenti seketika. "Pulang kampung? Kenapa kau biarkan dia pulang sendirian, Ida?!"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
anita
oalah le..le ..cah ndeso...blum2 wes bsar kpla
2024-12-13
0
Halimah
lama gitu loooooh🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-12-19
0
Nendah Wenda
kenapa ayas pulang kampung
2024-08-28
0