"Setelah berhasil saja syaratnya."
Kama mengulas senyum, mata Ayas sepolos itu hingga Kama menatapnya berbeda. Sebenarnya bisa saja dia memanfaatkan kepolosan gadis di depannya, andai dia paksa melakukan sesuatu sepertinya akan Ayas sanggupi demi pria itu.
"Serius?"
"Iya, serius."
Kama dapat melihat selega apa napas Ayas usai mendengar ucapannya. Wajahnya yang tadi terlihat begitu cemas kini perlahan sedikit lebih tenang. Hanya karena Kama mengiyakan permintaannya, Ayas buru-buru mengabari Marzuki saat itu juga.
Pria itu kembali melanjutkan perjalanan, pikiran kotor yang tadi sempat hinggap di kepalanya mendadak hilang begitu saja. Tertutup oleh rasa iri dan sebal begitu mendengar perbincangan dua insan tersebut.
Untuk sementara dia persilahkan jodohnya itu menikmati kesenangan bersama pria lain, mendukung pria lain yang nantinya Kama yakini akan meninggalkan Ayas dengan sendirinya.
Selicik itu Kama sebenarnya, jika Ayas berpikir pria itu sangatlah baik dan berhati malaikat sebagaimana yang dia katakan pada Marzuki jelas salah besar. Dia adalah Kama, seorang pria genius yang selalu mempertimbangkan untung dan ruginya.
Jika hanya sekadar potensi, jujur saja sama sekali Kama tidak tertarik melihat Marzuki. Hanya saja, dia menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan Laras dengan cara yang berbeda.
Seperti prinsip hidup Kama, dia tidak akan pernah merebut kebahagiaan orang. Sebagaimana yang dia yakini, Ayas adalah jodohnya dan salah-satu cara membuat mereka berjodoh adalah melalui Marzuki.
Semua sudah Kama rancang, walau memang dia tidak bicara empat mata bersama pria itu, tapi sebagai pria dia mampu menilai karakter calon suami Ayas. Bagaimana tidak? Belum apa-apa, dia berani meminta bantuan Ayas dengan harapan Kama akan melakukan nepotisme dan mendukung karirnya.
Walau mungkin tidak tepat seratus persen, tapi Kama berani jamin bahwa hubungan mereka akan berakhir kandas ketika pria itu berhasil menggapai mimpinya. Hal itulah yang akan Kama manfaatkan, dia tidak akan merebut Ayas secara terang-terangan. Dengan cara itu, maka tidak akan ada Marzuki yang menjadi korban atau Ayas yang tenggelam dalam penyesalan.
.
.
"Terima kasih ya, ternyata benar kata Ida kamu tidak seburuk yang kukira."
Hingga tiba di kediaman utama, Ayas kembali mengucapkan terima kasih. Padahal sudah berkali-kali, dan Kama hanya menanggapinya dengan santai. "Jangan selalu mikir buruk makanya," tutur Kama tertawa sumbang, agaknya ucapan semacam ini baru pertama kali dia dengar, karena yang biasa terdengar justru kebalikannya.
Sementara makan siang masih disiapkan Ida, pria itu berlalu ke kamar dan mandi segera. Tubuhnya terasa panas, gerah dan sedikit sesak dalam dada, entah kenapa suasana hatinya tidak setenang hari biasa.
Cukup lama Kama menghabiskan waktu di kamar mandi, selesai mandi pun dia tidak segera berganti pakaian lantaran ponselnya berdering beberapa kali. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini senyum Kama terbit begitu tahu siapa yang menghubunginya.
"Ya, kenapa, Yud?"
Walau tahu apa tujuan adik iparnya, tapi pria itu tetap saja bertanya. Besar kemungkinan Yudha menghubungi karena ingin membahas kondisinya, sudah tentu Yudha mendapat bocoran dari Mbah Joko.
Benar saja, sesuai tebakan, Yudha membahas hal itu dan dia bermaksud memastikan keadaan Kama sekali lagi. "Aneh memang, tapi ini nyata ... dia benar-benar berdiri setiap kali aku berada di dekat gadis itu, Yudha."
"Oh iya? Mana fotonya? Aku belum lihat."
"Yah, lupa ... seharusnya kukirim ke grup keluarga ya sebagai bukti kalau aku sudah nor_"
"Foto gadis itu, Kama! Siapa juga yang penasaran dengan belalaimu?" Suara Yudha menggelegar hingga gendang telinganya seolah hendak pecah. Sampai-sampai, Kama menjauhkan ponselnya lantaran tak kuasa menanggung cerewetnya Yudha.
Entah siapa yang salah, kalimat Yudha yang ambigu, atau memang otak Kama tidak singkron hingga kesalahapahaman semacam ini bisa terjadi. "Ck, berlebihan sekali, salahmu kenapa bertanya seperti itu."
Sudah pasti dia tidak terima berada di posisi salah. Tidak ingin terlalu lama membahas hal itu, Kama kini mengalihkan pembicaraan lantaran memang penasaran kapan kedua orang tuanya benar-benar pulang.
"Apa? Jadi sekarang kalian di Jepang? Woah bisa-bisanya pergi tanpa sepengetahuanku."
Pura-pura marah, padahal dia berseru yes begitu tahu papa dan mamanya tidak akan pulang dalam waktu dekat, dengan kata lain Kama bebas melakukan segalanya. Namun, untuk masalah ini Yudha sama sekali tidak tertipu dan dia paham betul isi otak Kama.
Kama tergelak begitu Yudha secara terang-terangan menebak jika Kama tengah meloncat kegirangan usai mendengar kabar itu. "Jaga mulutmu, kabari aku jika sudah pulang."
Seperti biasa, Kama selalu mengakhiri telepon secara sepihak, tidak lupa setelahnya dia akan melempar benda pipih itu sedikit kasar ke atas tempat tidur.
Baru saja hendak membuka lemari, ketukan pintu terdengar dan bergegas Kama hampiri. Walau tidak bersuara, dia dapat menebak siapa yang mengetuk pintu tersebut. Tidak lain dan tidak bukan, sudah tentu Ayas.
"Kenapa?"
"Ehm, makan siangnya sudah siap ... aku disuruh Mbak Ida panggil kamu."
Jujur saja sebenarnya Ayas teramat kaku bicara seperti ini pada Kama. Selain dia merasa tidak sopan, agaknya tidak pantas bicara sesantai itu pada majikan.
"Masuklah." Bukannya mengiyakan ajakan Ayas, pria itu justru membukakan pintu lebar-lebar dan memintanya masuk segera.
"Hah? Ngapain? Bukannya tadi pagi udah?"
Kama terbahak, agaknya hal semacam itu sudah tertanam dalam diri Ayas hingga ketika diajak berdekatan dia tak lagi bisa berpikir dengan tenang. "Cariin bajunya, kalau aku yang ambil nanti jadi berantakan."
.
.
24 jam pertama di rumah sang majikan telah Ayas lewati dengan sangat sempurna. Ya, sudah tentu semua dia lakukan juga karena terpaksa, terjebak kontrak perjanjian yang sama sekali tidak dia inginkan.
Tak hanya karena alasan itu, kali ini alasan dia harus betah bekerja sebagai pengasuh Kama ialah Marzuki. Hendak bagaimana lagi, kebaikan hati Kama yang bersedia membantu pria itu jelas membuat Ayas merasa ada hutang budi.
Walau memang pria itu tidak mengatakan secara gamblang, tapi sebagai manusia yang sadar diri dia tidak mungkin besar kepala. Sialnya, walau Ayas sampai segitunya, tapi Marzuki tidak begitu juga.
Terbukti malam ini, sudah dua jam Ayas menunggu di tepi kolam, dan pria itu tak juga menelponnya. Padahal, sudah jelas-jelas Marzuki berjanji tadi siang, tapi dia ingkari begitu saja.
Ayas ingin menangis, sudah berkali-kali dia berpikir untuk menghubungi lebih dulu, tapi selalu dia urungkan karena berpikir Marzuki ada kesibukan lain. Hingga, di titik Ayas hendak menyerah, ponselnya berdering dan Ayas berbinar seketika.
"Mas_ eh?"
Sayang, harapan tersebut kembali patah lantaran yang menghubunginya bukanlah calon suami, melainkan sang majikan. Ayas sedikit ragu, jujur saja dia sedikit lelah andai diminta untuk membantu Kama malam ini.
"Masuklah, sampai kapan kamu menunggu di sana?"
Ayas terkejut, dia menoleh ke arah jendela kamar lantai dua. Benar saja, di sana Kama tengah menatapnya, entah sejak kapan, tapi yang pasti tindakannya berhasil membuat jantung Ayas tak karu-karuan.
"Kama?"
Ya, nama itu lolos dan Ayas beranjak berdiri. Tatapan pria itu masih tertuju padanya, dipandang dari bawah ketampanan Kama justru semakin berlipat ganda. "Kamu dengar aku tidak? Apa aku harus turun untuk menjemputmu, Laras?"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Juan Sastra
ayas dalamnya lautan dapat di ukur namun dalamnya hati zuki kau tidak tau,,kasihan hanya di manfaatkan ,, ayas adalah korban yg sesungguhnya di lihat dari segi mana pun dan apa pun tetaplah korban ,,
2025-03-01
0
anita
ya alloooh kama ada ya manusia model ginian..
2024-12-13
0
Khanza Safira
ini dia otak seorang kama, cerdik 🤣👍
2024-12-06
0