BAB 11 - Taktik Merebut Calon Istri (Orang)

"Setelah berhasil saja syaratnya."

Kama mengulas senyum, mata Ayas sepolos itu hingga Kama menatapnya berbeda. Sebenarnya bisa saja dia memanfaatkan kepolosan gadis di depannya, andai dia paksa melakukan sesuatu sepertinya akan Ayas sanggupi demi pria itu.

"Serius?"

"Iya, serius."

Kama dapat melihat selega apa napas Ayas usai mendengar ucapannya. Wajahnya yang tadi terlihat begitu cemas kini perlahan sedikit lebih tenang. Hanya karena Kama mengiyakan permintaannya, Ayas buru-buru mengabari Marzuki saat itu juga.

Pria itu kembali melanjutkan perjalanan, pikiran kotor yang tadi sempat hinggap di kepalanya mendadak hilang begitu saja. Tertutup oleh rasa iri dan sebal begitu mendengar perbincangan dua insan tersebut.

Untuk sementara dia persilahkan jodohnya itu menikmati kesenangan bersama pria lain, mendukung pria lain yang nantinya Kama yakini akan meninggalkan Ayas dengan sendirinya.

Selicik itu Kama sebenarnya, jika Ayas berpikir pria itu sangatlah baik dan berhati malaikat sebagaimana yang dia katakan pada Marzuki jelas salah besar. Dia adalah Kama, seorang pria genius yang selalu mempertimbangkan untung dan ruginya.

Jika hanya sekadar potensi, jujur saja sama sekali Kama tidak tertarik melihat Marzuki. Hanya saja, dia menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan Laras dengan cara yang berbeda.

Seperti prinsip hidup Kama, dia tidak akan pernah merebut kebahagiaan orang. Sebagaimana yang dia yakini, Ayas adalah jodohnya dan salah-satu cara membuat mereka berjodoh adalah melalui Marzuki.

Semua sudah Kama rancang, walau memang dia tidak bicara empat mata bersama pria itu, tapi sebagai pria dia mampu menilai karakter calon suami Ayas. Bagaimana tidak? Belum apa-apa, dia berani meminta bantuan Ayas dengan harapan Kama akan melakukan nepotisme dan mendukung karirnya.

Walau mungkin tidak tepat seratus persen, tapi Kama berani jamin bahwa hubungan mereka akan berakhir kandas ketika pria itu berhasil menggapai mimpinya. Hal itulah yang akan Kama manfaatkan, dia tidak akan merebut Ayas secara terang-terangan. Dengan cara itu, maka tidak akan ada Marzuki yang menjadi korban atau Ayas yang tenggelam dalam penyesalan.

.

.

"Terima kasih ya, ternyata benar kata Ida kamu tidak seburuk yang kukira."

Hingga tiba di kediaman utama, Ayas kembali mengucapkan terima kasih. Padahal sudah berkali-kali, dan Kama hanya menanggapinya dengan santai. "Jangan selalu mikir buruk makanya," tutur Kama tertawa sumbang, agaknya ucapan semacam ini baru pertama kali dia dengar, karena yang biasa terdengar justru kebalikannya.

Sementara makan siang masih disiapkan Ida, pria itu berlalu ke kamar dan mandi segera. Tubuhnya terasa panas, gerah dan sedikit sesak dalam dada, entah kenapa suasana hatinya tidak setenang hari biasa.

Cukup lama Kama menghabiskan waktu di kamar mandi, selesai mandi pun dia tidak segera berganti pakaian lantaran ponselnya berdering beberapa kali. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini senyum Kama terbit begitu tahu siapa yang menghubunginya.

"Ya, kenapa, Yud?"

Walau tahu apa tujuan adik iparnya, tapi pria itu tetap saja bertanya. Besar kemungkinan Yudha menghubungi karena ingin membahas kondisinya, sudah tentu Yudha mendapat bocoran dari Mbah Joko.

Benar saja, sesuai tebakan, Yudha membahas hal itu dan dia bermaksud memastikan keadaan Kama sekali lagi. "Aneh memang, tapi ini nyata ... dia benar-benar berdiri setiap kali aku berada di dekat gadis itu, Yudha."

"Oh iya? Mana fotonya? Aku belum lihat."

"Yah, lupa ... seharusnya kukirim ke grup keluarga ya sebagai bukti kalau aku sudah nor_"

"Foto gadis itu, Kama! Siapa juga yang penasaran dengan belalaimu?" Suara Yudha menggelegar hingga gendang telinganya seolah hendak pecah. Sampai-sampai, Kama menjauhkan ponselnya lantaran tak kuasa menanggung cerewetnya Yudha.

Entah siapa yang salah, kalimat Yudha yang ambigu, atau memang otak Kama tidak singkron hingga kesalahapahaman semacam ini bisa terjadi. "Ck, berlebihan sekali, salahmu kenapa bertanya seperti itu."

Sudah pasti dia tidak terima berada di posisi salah. Tidak ingin terlalu lama membahas hal itu, Kama kini mengalihkan pembicaraan lantaran memang penasaran kapan kedua orang tuanya benar-benar pulang.

"Apa? Jadi sekarang kalian di Jepang? Woah bisa-bisanya pergi tanpa sepengetahuanku."

Pura-pura marah, padahal dia berseru yes begitu tahu papa dan mamanya tidak akan pulang dalam waktu dekat, dengan kata lain Kama bebas melakukan segalanya. Namun, untuk masalah ini Yudha sama sekali tidak tertipu dan dia paham betul isi otak Kama.

Kama tergelak begitu Yudha secara terang-terangan menebak jika Kama tengah meloncat kegirangan usai mendengar kabar itu. "Jaga mulutmu, kabari aku jika sudah pulang."

Seperti biasa, Kama selalu mengakhiri telepon secara sepihak, tidak lupa setelahnya dia akan melempar benda pipih itu sedikit kasar ke atas tempat tidur.

Baru saja hendak membuka lemari, ketukan pintu terdengar dan bergegas Kama hampiri. Walau tidak bersuara, dia dapat menebak siapa yang mengetuk pintu tersebut. Tidak lain dan tidak bukan, sudah tentu Ayas.

"Kenapa?"

"Ehm, makan siangnya sudah siap ... aku disuruh Mbak Ida panggil kamu."

Jujur saja sebenarnya Ayas teramat kaku bicara seperti ini pada Kama. Selain dia merasa tidak sopan, agaknya tidak pantas bicara sesantai itu pada majikan.

"Masuklah." Bukannya mengiyakan ajakan Ayas, pria itu justru membukakan pintu lebar-lebar dan memintanya masuk segera.

"Hah? Ngapain? Bukannya tadi pagi udah?"

Kama terbahak, agaknya hal semacam itu sudah tertanam dalam diri Ayas hingga ketika diajak berdekatan dia tak lagi bisa berpikir dengan tenang. "Cariin bajunya, kalau aku yang ambil nanti jadi berantakan."

.

.

24 jam pertama di rumah sang majikan telah Ayas lewati dengan sangat sempurna. Ya, sudah tentu semua dia lakukan juga karena terpaksa, terjebak kontrak perjanjian yang sama sekali tidak dia inginkan.

Tak hanya karena alasan itu, kali ini alasan dia harus betah bekerja sebagai pengasuh Kama ialah Marzuki. Hendak bagaimana lagi, kebaikan hati Kama yang bersedia membantu pria itu jelas membuat Ayas merasa ada hutang budi.

Walau memang pria itu tidak mengatakan secara gamblang, tapi sebagai manusia yang sadar diri dia tidak mungkin besar kepala. Sialnya, walau Ayas sampai segitunya, tapi Marzuki tidak begitu juga.

Terbukti malam ini, sudah dua jam Ayas menunggu di tepi kolam, dan pria itu tak juga menelponnya. Padahal, sudah jelas-jelas Marzuki berjanji tadi siang, tapi dia ingkari begitu saja.

Ayas ingin menangis, sudah berkali-kali dia berpikir untuk menghubungi lebih dulu, tapi selalu dia urungkan karena berpikir Marzuki ada kesibukan lain. Hingga, di titik Ayas hendak menyerah, ponselnya berdering dan Ayas berbinar seketika.

"Mas_ eh?"

Sayang, harapan tersebut kembali patah lantaran yang menghubunginya bukanlah calon suami, melainkan sang majikan. Ayas sedikit ragu, jujur saja dia sedikit lelah andai diminta untuk membantu Kama malam ini.

"Masuklah, sampai kapan kamu menunggu di sana?"

Ayas terkejut, dia menoleh ke arah jendela kamar lantai dua. Benar saja, di sana Kama tengah menatapnya, entah sejak kapan, tapi yang pasti tindakannya berhasil membuat jantung Ayas tak karu-karuan.

"Kama?"

Ya, nama itu lolos dan Ayas beranjak berdiri. Tatapan pria itu masih tertuju padanya, dipandang dari bawah ketampanan Kama justru semakin berlipat ganda. "Kamu dengar aku tidak? Apa aku harus turun untuk menjemputmu, Laras?"

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

Juan Sastra

Juan Sastra

ayas dalamnya lautan dapat di ukur namun dalamnya hati zuki kau tidak tau,,kasihan hanya di manfaatkan ,, ayas adalah korban yg sesungguhnya di lihat dari segi mana pun dan apa pun tetaplah korban ,,

2025-03-01

0

anita

anita

ya alloooh kama ada ya manusia model ginian..

2024-12-13

0

Khanza Safira

Khanza Safira

ini dia otak seorang kama, cerdik 🤣👍

2024-12-06

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Hari Pertama
2 BAB 02 - Dijual
3 BAB 03 - Obat Yang Sesungguhnya
4 BAB 04 - Pengakuan Terbuka
5 BAB 05 - Jangan Sentuh Milikku
6 BAB 06 - Good Night
7 BAB 07 - 33 Bulan
8 BAB 08 - Calon Istri (Orang)
9 BAB 09 - Calon Suami(Ku)
10 BAB 10 - Kamu Pulang Saja
11 BAB 11 - Taktik Merebut Calon Istri (Orang)
12 BAB 12 - Sleep Call
13 BAB 13 - Anggap Saja Pacar
14 BAB 14 - Salah Posesif
15 BAB 15 - Tidak Bisa Marah
16 BAB 16 - Lepaskan Saja
17 BAB 17 - Aku Ingin Berhenti
18 BAB 18 - Obat Seumur Hidup
19 BAB 19 - Tak Terduga
20 BAB 20 - Kamu Jodohku
21 BAB 21 - Ini Istriku
22 BAB 22 - Mulutmu Bau
23 BAB 23 - Kami
24 BAB 24 - First Kiss
25 BAB 25 - Istrinya Siapa?
26 BAB 26 - Panas
27 BAB 27 - Ngantukmu Pura-Pura
28 BAB 28 - Segitu Dulu
29 BAB 29 - Bete Deh
30 BAB 30 - Nggak Dicicil
31 BAB 31 - Teman Hidup
32 BAB 32 - Ada Obatnya
33 BAB 33 - Bukan Modus Belaka
34 BAB 34 - Berlagak Panik
35 BAB 35 - Maunya Apa?
36 BAB 36 - Akan Akan Menunggu
37 BAB 37 - Jangan Terbalik
38 BAB 38 - Tahan!!
39 BAB 39 - Sedikit
40 BAB 40 - Salah Guru
41 BAB 41 - Introgasi Pihak Berwajib
42 BAB 42 - Santai Saja
43 BAB 43 - Tugasnya Apa?
44 BAB 44 - Laki-Lakinya Gimana?
45 BAB 45 - 18 Detik
46 BAB 46 - Tidak Cemburu
47 BAB 47 - Bertanyalah, Selagi Diizinkan
48 BAB 48 - Berdua Saja
49 BAB 49 - Mau Yang Hangat?
50 BAB 50 - Cabut Ubi?
51 BAB 51 - Dia Hanya Shock
52 BAB 52 - Senjata Makan Tuan
53 BAB 53 - Legit?
54 BAB 54 - Dikeluarkan Dari KK
55 BAB 55 - Salah Minum Obat
56 BAB 56 - Sembuh Total
57 BAB 57 - Gigit Tawon
58 BAB 58 - Banyak Tanya
59 BAB 59 - Esok Atau Lusa
60 BAB 60 - Karmamu Belum Dimulai
61 BAB 61 - BTS
62 BAB 62 - Beda Versi
63 BAB 63 - Dia Yang Bertanggung Jawab
64 BAB 64 - Sudah Ada?
65 BAB 65 - Ada Cinta
66 BAB 66 - Masih Cinta?
67 BAB 67 - Tidak Ingin Diganggu
68 BAB 68 - Tak Terduga
69 BAB 69 - Cashback
70 BAB 70 - Tidak Lucu
71 BAB 71 - Jalan Pintas
72 BAB 72 - Jangan Kebanyakan Bercanda
73 BAB 73 - Bawel
74 BAB 74 - Aku Tidak Bisa Membantumu
75 BAB 75 - Awasi Dia
76 BAB 76 - Takut
77 BAB 77 - Miss You
78 BAB 78 - Janji Kama
79 BAB 79 - Hampir Satu Bulan
80 BAB 80 - Gendutan
81 BAB 81 - Maafkan Aku, Mas
82 BAB 82 - Malam Pertama?
83 BAB 83 - Mau Pulang
84 BAB 84 - Bayi Besar
85 BAB 85 - Masih Sama
86 BAB 86 - Mau Kamu
87 BAB 87 - Harus Bagaimana?
88 BAB 88 - Maafkan Aku
89 BAB 89 - Jangan Tambah Lukanya
90 BAB 90 - Tak Terduga
91 BAB 91 - Bukan Ngidam
92 BAB 92 - Terkuak
93 BAB 93 - Bodoh, Kama.
94 BAB 94 - Menyiksa Diri
95 BAB 95 - Permintaan Terakhir
96 BAB 96 - Iya, Aku Pulang!!
97 BAB 97 - Jangan Sakiti Suamiku!!
98 BAB 98 - Tidak Mau
99 BAB 99 - Tetaplah Bersamaku
100 BAB 100 - Tidak Akan Diam
101 BAB 101 - Apa Pentingnya?
102 BAB 102 - Sang Penggoda
103 BAB 103 - Happy Mensiversary
104 BAB 104 - Dirayakan
105 BAB 105 - Tamat
106 BAB 106 - Sensory Play
107 BAB 107 - Kecil Sekali
108 BAB 108 - Ancaman Kama
109 BAB 109 - Pergilah
110 BAB 110 - Miss Communication
111 BAB 111 - Sampai Kembali Ke Tanah
112 BAB 112 - Minta Apa?
113 BAB 113 - Minta Maaf
114 BAB 114 - Lupakan
115 BAB 115 - She's My Wife
116 BAB 116 - Di Balik Layar
117 Promo Karya Baru - Istri Rahasia Dosen Killer
118 BONUS CHAPTER
119 BONUS CHAPTER II
120 BONUS CHAPTER III
121 BONUS CHAPTER IV
122 BONUS CHAPTER V
123 BONUS CHAPTER VI
124 BONUS CHAPTER VII
125 BONUS CHAPTER VIII
126 VISUAL CAST
127 BONUS CHAPTER IX
128 BONUS CHAPTER X
129 BONUS CHAPTER XI
130 BONUS CHAPTER XII
131 BONUS CHAPTER XIII
132 BONUS CHAPTER XIV
133 THE LAST BONUS CHAPTER - END
134 Promosi Karya Baru - Malam Panjang Bersama Dosenku
135 PROMOSI KARYA BARU - ISTRI PILIHAN MOMMY
Episodes

Updated 135 Episodes

1
BAB 01 - Hari Pertama
2
BAB 02 - Dijual
3
BAB 03 - Obat Yang Sesungguhnya
4
BAB 04 - Pengakuan Terbuka
5
BAB 05 - Jangan Sentuh Milikku
6
BAB 06 - Good Night
7
BAB 07 - 33 Bulan
8
BAB 08 - Calon Istri (Orang)
9
BAB 09 - Calon Suami(Ku)
10
BAB 10 - Kamu Pulang Saja
11
BAB 11 - Taktik Merebut Calon Istri (Orang)
12
BAB 12 - Sleep Call
13
BAB 13 - Anggap Saja Pacar
14
BAB 14 - Salah Posesif
15
BAB 15 - Tidak Bisa Marah
16
BAB 16 - Lepaskan Saja
17
BAB 17 - Aku Ingin Berhenti
18
BAB 18 - Obat Seumur Hidup
19
BAB 19 - Tak Terduga
20
BAB 20 - Kamu Jodohku
21
BAB 21 - Ini Istriku
22
BAB 22 - Mulutmu Bau
23
BAB 23 - Kami
24
BAB 24 - First Kiss
25
BAB 25 - Istrinya Siapa?
26
BAB 26 - Panas
27
BAB 27 - Ngantukmu Pura-Pura
28
BAB 28 - Segitu Dulu
29
BAB 29 - Bete Deh
30
BAB 30 - Nggak Dicicil
31
BAB 31 - Teman Hidup
32
BAB 32 - Ada Obatnya
33
BAB 33 - Bukan Modus Belaka
34
BAB 34 - Berlagak Panik
35
BAB 35 - Maunya Apa?
36
BAB 36 - Akan Akan Menunggu
37
BAB 37 - Jangan Terbalik
38
BAB 38 - Tahan!!
39
BAB 39 - Sedikit
40
BAB 40 - Salah Guru
41
BAB 41 - Introgasi Pihak Berwajib
42
BAB 42 - Santai Saja
43
BAB 43 - Tugasnya Apa?
44
BAB 44 - Laki-Lakinya Gimana?
45
BAB 45 - 18 Detik
46
BAB 46 - Tidak Cemburu
47
BAB 47 - Bertanyalah, Selagi Diizinkan
48
BAB 48 - Berdua Saja
49
BAB 49 - Mau Yang Hangat?
50
BAB 50 - Cabut Ubi?
51
BAB 51 - Dia Hanya Shock
52
BAB 52 - Senjata Makan Tuan
53
BAB 53 - Legit?
54
BAB 54 - Dikeluarkan Dari KK
55
BAB 55 - Salah Minum Obat
56
BAB 56 - Sembuh Total
57
BAB 57 - Gigit Tawon
58
BAB 58 - Banyak Tanya
59
BAB 59 - Esok Atau Lusa
60
BAB 60 - Karmamu Belum Dimulai
61
BAB 61 - BTS
62
BAB 62 - Beda Versi
63
BAB 63 - Dia Yang Bertanggung Jawab
64
BAB 64 - Sudah Ada?
65
BAB 65 - Ada Cinta
66
BAB 66 - Masih Cinta?
67
BAB 67 - Tidak Ingin Diganggu
68
BAB 68 - Tak Terduga
69
BAB 69 - Cashback
70
BAB 70 - Tidak Lucu
71
BAB 71 - Jalan Pintas
72
BAB 72 - Jangan Kebanyakan Bercanda
73
BAB 73 - Bawel
74
BAB 74 - Aku Tidak Bisa Membantumu
75
BAB 75 - Awasi Dia
76
BAB 76 - Takut
77
BAB 77 - Miss You
78
BAB 78 - Janji Kama
79
BAB 79 - Hampir Satu Bulan
80
BAB 80 - Gendutan
81
BAB 81 - Maafkan Aku, Mas
82
BAB 82 - Malam Pertama?
83
BAB 83 - Mau Pulang
84
BAB 84 - Bayi Besar
85
BAB 85 - Masih Sama
86
BAB 86 - Mau Kamu
87
BAB 87 - Harus Bagaimana?
88
BAB 88 - Maafkan Aku
89
BAB 89 - Jangan Tambah Lukanya
90
BAB 90 - Tak Terduga
91
BAB 91 - Bukan Ngidam
92
BAB 92 - Terkuak
93
BAB 93 - Bodoh, Kama.
94
BAB 94 - Menyiksa Diri
95
BAB 95 - Permintaan Terakhir
96
BAB 96 - Iya, Aku Pulang!!
97
BAB 97 - Jangan Sakiti Suamiku!!
98
BAB 98 - Tidak Mau
99
BAB 99 - Tetaplah Bersamaku
100
BAB 100 - Tidak Akan Diam
101
BAB 101 - Apa Pentingnya?
102
BAB 102 - Sang Penggoda
103
BAB 103 - Happy Mensiversary
104
BAB 104 - Dirayakan
105
BAB 105 - Tamat
106
BAB 106 - Sensory Play
107
BAB 107 - Kecil Sekali
108
BAB 108 - Ancaman Kama
109
BAB 109 - Pergilah
110
BAB 110 - Miss Communication
111
BAB 111 - Sampai Kembali Ke Tanah
112
BAB 112 - Minta Apa?
113
BAB 113 - Minta Maaf
114
BAB 114 - Lupakan
115
BAB 115 - She's My Wife
116
BAB 116 - Di Balik Layar
117
Promo Karya Baru - Istri Rahasia Dosen Killer
118
BONUS CHAPTER
119
BONUS CHAPTER II
120
BONUS CHAPTER III
121
BONUS CHAPTER IV
122
BONUS CHAPTER V
123
BONUS CHAPTER VI
124
BONUS CHAPTER VII
125
BONUS CHAPTER VIII
126
VISUAL CAST
127
BONUS CHAPTER IX
128
BONUS CHAPTER X
129
BONUS CHAPTER XI
130
BONUS CHAPTER XII
131
BONUS CHAPTER XIII
132
BONUS CHAPTER XIV
133
THE LAST BONUS CHAPTER - END
134
Promosi Karya Baru - Malam Panjang Bersama Dosenku
135
PROMOSI KARYA BARU - ISTRI PILIHAN MOMMY

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!