Mimpi buruk bagi Kama, harta berharganya berani keluar dari persembunyian dan sialnya sampai berani menginjakkan kaki di tempat hiburan. Tidak butuh lima menit dari Samuel memberikan kabar, dia sudah menemukan keberadaan gadis itu.
Ya, bukan salah lihat ataupun hanya sekadar mirip, tapi yang di depannya benar-benar Ayas dan hal itu juga diyakinkan dengan keberadaan Ida yang mulai menikmati alunan musik di sana. Walau Ayas hanya diam saja dan memantau Ida, dada Kama panas membara.
Terlebih lagi, kala dia menyadari seseorang yang merupakan jajaran old money tiba-tiba mendekati Ayas, wanita yang dia yakini sebagai jodohnya itu. Tak peduli sekalipun akan menuai keributan, Kama mendekat dan sengaja menarik punggung pria yang hendak mencuri kesempatan untuk mencium wajah Ayas.
"Kama? Hai ... kenapa? Apa ada masalah?"
"Jangan sentuh milikku, kau cari yang lain saja, Gery," tegas Kama menatap tajam pria yang juga merupakan kenalannya.
Sama-sama tertarik pada kecantikan Ayas, jelas saja pria itu tidak akan mengalah begitu saja hanya karena gertakan Kama. "Aku tidak suka kekerasan, katakan saja dengan scandal mana karirmu mau kuhancurkan," ancam Kama sekali lagi yang membuat pendirian Gery goyah.
Tak ingin karirnya berakhir hanya karena wanita, Gery berlalu pergi dan meninggalkan Ayas yang terjebak dalam keadaan tangan yang semakin dingin. Tatapan tajam Kama yang tadinya tertuju pada Gery, kini tertuju pada Ayas hingga wanita itu ciut seketika.
Belum juga Kama bertanya, tapi Ayas sudah menyiapkan berbagai jenis alasan kenapa dia bisa berada di sini. Sudah pasti karena ajakan Ida, sama sekali tidak dia kira jika senang-senang malam minggu yang Ida maksud bukan di pasar malam, melainkan bar.
Jika dia tahu akan dibawa ke tempat semacam ini, Ayas juga takkan berani, sungguh. Dia masih menunduk seraya meremmas jemarinya, Ida juga belum segera menghampiri dan justru menikmati dunianya sendiri.
"Maaf ak_"
"Pulang, aku tidak mengizinkanmu pergi ke tempat semacam ini, Ayas."
Ayas baru saja hendak meminta maaf, tapi di luar dugaan Kama justru memotong pembicaraannya dan mengajak wanita itu untuk pulang segera. Tak lupa Kama melepas jaket dan memakaikannya pada Ayas sebelum kemudian merangkul gadis itu untuk pergi.
"Bro, temennya gimana? Bawa sekalian lah!!" teriak Samuel dari belakang hingga Ayas mengerti bahwa pria yang seolah sengaja mengalihkan perhatian Ida adalah teman dekat Kama sendiri.
Tanpa pikir panjang, dan tanpa keraguan Kama berucap dengan begitu santai dan tenang. "Buat lo aja, jangan diapa-apain tapi, si Ida ada lakinya!!"
"Suee lo!!"
Kama terkekeh dan terus menuntun Ayas untuk meninggalkan tempat itu. Sungguh tidak habis pikir, kenapa bisa Ayas sampai berani masuk. Beruntung saja dia sadar, andai yang melihat hanya Samuel saja, bisa gila Kama karena jodohnya digarap teman sendiri.
Selama di samping Kama dan pria itu belum bicara, Ayas juga masih diam saja. Rok mini yang Ida pinjamkan sukses membuatnya malu malam ini, bahkan sudah dimobil Ayas masih terus menunduk dan menarik ujung roknya berharap bisa sedikit lebih panjang.
"Lain kali jangan pakai apa-apa, bughil sekalian," sindir Kama tak diduga-duga, Ayas mengangkat wajahnya dan benar Kama masih terus menatap tajam ke arahnya.
Jujur saja Ayas takut, bukan takut dinodai, tapi takut kali ini seperti takut dimarahi karena berani bertindak di luar batas. Persis seperti rasa takut Ayas ketika tidak sengaja pulang malam pasca kerja kelompok oleh mendiang ayahnya dahulu, kira-kira begitu.
"A-aku tidak tahu kalau mbak Ida ngajak kesini."
"Apapun alasannya, kamu pakai begituan sudah salah!! Masih bocah juga, kalau kamu dibungkus gimana?" gertak Kama seketika membuat Ayas bergetar, tapi walau sudah setakut itu dia masih berani dengan polosnya bertanya lantaran tidak mengerti maksud Kama. "Dibungkus pakai apa?"
Kama memejamkan mata, agaknya gadis di hadapannya ini tidak mengerti dengan istilah yang dia maksudkan. "Bungkus selimut!! Paham?"
Ingin Kama menjawab dibungkus daun pisang, hanya saja nanti pembicaraan mereka semakin panjang dan Ayas juga tetap tidak akan mengerti. Mungkin untuk gadis yang memang belum tercemar seperti Ayas, menegaskan bahwa dia akan dibawa dan dinikmati pria di sana tidak bisa secara gamblang.
"Oh, diajak tidur begitu?"
"Hm, kira-kira begitu," jawab Kama menghela napas lega lantaran gadis itu tidak terlalu bodoh juga.
Ayas hanya mengangguk pelan seraya menunggu keputusan kapan Kama akan jalan. Jujur saja kehadiran Kama yang tiba-tiba mengajaknya keluar adalah suatu hal yang patut dia ucapkan terima kasih.
Bibir Ayas sudah sebisa mungkin untuk bungkam dan tidak bicara. Namun, perutnya yang justru angkat bicara hingga Kama menoleh dan menatap perut dan wajah Ayas secara bergantian. "Kamu belum makan?" tanya Kama mengerjap pelan.
"Sud_" Belum selesai Ayas bicara perutnya kembali berontak seolah sengaja cari perhatian dan menegaskan jika dia lapar.
Sungguh memalukan, Ayas seketika ingin menggali kuburannya sendiri. Sudah tidak mampu lagi menjawab apa-apa, Kama juga sudah menarik kesimpulan bahwa dirinya memang belum makan.
.
.
Benar saja, setelah berselang cukup lama Kama berhenti di sebuah restaurant yang paling terdekat lantaran khawatir Ayas mati lemas nanti di rumah. Masih tampak malu-malu, Ayas tak pernah berpikir jika keluar malam pertama kali di Jakarta akan berakhir makan di satu meja bersama pria setampan Kama.
Makan sendiri jatuhnya, karena Kama hanya menikmati ice cream seraya menontonnya makan. Sejenak Ayas menutup mata akan rasa malu yang mencekamnya, pura-pura buta dan menganggap Kama sebagai gapura kecamatan adalah hal yang paling baik.
Tidak dibuat-buat, Ayas makan seperti biasa dan masih berusaha mempertahankan kesopanan karena bagaimanapun pria di hadapannya ini adalah seorang majikan. Hingga selesai makan, dia tidak lupa mengucapkan terima kasih layaknya anak jalanan yang diajak makan om-om baik hati.
"Kenyang? Yakin mau pulang?" Kama akan memesan lagi andai Ayas mengatakan belum kenyang atau belum ingin pulang.
Namun, sebagai manusia yang amat tahu diri Ayas menolak dan Kama jelas iya-iya saja. Malam ini dia lewatkan begitu saja, janji bersenang-senang karena kedatangan DJ internasional itu gagal sudah.
Namun, bagi Kama sama sekali tidak masalah dan hal itu tidak membuatnya merasa rugi. Justru baik, karena Ayas ada dalam genggamannya, sesuai permintaan Ayas dia hanya ingin pulang dengan alasan mengantuk, ya Kama bisa menangkapnya tanpa Ayas bicara.
Cukup lama perjalanan yang mereka tempuh, karena memang jaraknya jauh. Begitu tiba, Kama sudah disambut pak Somad yang sempat hormat seolah menyambut pimpinan negara. Hingga mobil terhenti, Kama baru menyadari jika penumpang di sebelahnya tidak lagi bersuara dan sudah pasrah dengan mata yang tertutup sempurna.
"Ayas? Hm dia tidur?" Kama menghela napas panjang, dalam keadaan dia berusaha menjaga diri saja Kama sudah berdesir, dan kini dia tampak pasrah dan kaki yang tadi Ayas tutup rapat-rapat kini sedikit terbuka hingga Kama merasakan sesuatu persis tadi siang dalam dirinya. "Kebetulan cuma berdua, cobain dikit tidak masalah, 'kan ya?"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Halimah
itu pembantu keren jg maen y
2024-12-17
0
hanie tsamara
ada yaa..
pembantu main di bar🤣🙊🙊
2025-01-23
0
Halimah
kama sableng/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-17
0