"Ap-apa? Bisa diulangi?"
Agaknya telinga Ayas tidak normal siang ini, padahal sebelum datang dia sudah mempersiapkan diri bahkan corat-coret di kertas kosong andai nanti diwawancara secara langsung. Nyatanya, hal semacam itu tidak berguna karena pada faktanya dia yang justru butuh penjelasan tentang pekerjaan yang akan dia geluti selama waktu yang tidak dia ketahui kapan berakhirnya.
"Aku yakin kamu belum tuli, jadi aku rasa tidak perlu diulangi."
Sama sekali tidak berniat memberikan penjelasan lebih lanjut, Kama meminta kembali surat perjanjian konyol tersebut. Ayas yang masih butuh penjelasan jelas saja perlahan mundur dan menolak permintaan Kama mentah-mentah. "Anda sedang berusaha melecehkan saya?"
Ayas memang masih muda, tapi bukan berarti dia sepolos itu dan tidak paham apa yang tengah Kama bicarakan. Sedikit banyak dia mengerti, berita kriminal dan dan banyaknya pengalaman tak mengenakan teman-temannya yang juga terjebak dunia malam atau semacamnya sudah cukup untuk menjadi kacamata Ayas.
Juga, dia sama sekali tidak pernah melakukan hal semacam itu. Sekalipun sudah memiliki calon suami, tapi Marzuki sama sekali tidak pernah mengajaknya macam-macam walau mereka sudah berpacaran sejak dua tahun lalu.
Kini, begitu dihadapkan dengan Kama yang begitu misterius dan tak terbaca, jelas saja Ayas takut. Terlebih lagi, cara pria itu memandangnya, bukan hanya di mata, tapi seolah setiap inci tubuhnya menjadi sasaran Kama. "Melecehkan?"
Setelah membuat Ayas ketar-ketir, dengan santainya Kama bicara disertai seringai tipis, licik sekali. Ayas yang punya pendirian dan merasa tugasnya terlalu sulit diterima akal masih berusaha melindungi dirinya. "Anda jangan macam-macam ... Om Saya polisi tahu?"
Kama menunduk dan tersenyum tipis begitu Ayas berani menunjuk wajahnya. Dia tahu gadis di depannya ketakutan, bahkan kakinya terlihat bergetar, tapi tidak bisa dipungkiri gadis ini terlalu menggemaskan di mata Kama.
"Fine, jika memang tidak mau," ucap Kama yang seketika membuat Ayas menghela napas lega.
Dia memejamkan mata, dan mengusap dada berkali-kali. "Tapi, kembalikan 2M yang sudah kuberikan pada ibumu detik ini juga," tambah Kama lagi, sontak mata Ayas membulat sempurna dan jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Du-dua M?"
Sejenak Ayas butuh waktu untuk berpikir, dia bingung, takut sekaligus panik bercampur jadi satu. Dia yakin telinganya sama sekali tidak salah dengar, pria yang berdiri di depannya telah memberikan uang dengan nilai fantastis pada ibunya.
Seketika, Ayas merasa dirinya tengah dijual tanpa sepengetahuannya. Ayas memandangi tandatangan di surat perjanjian, jantungnya seolah remuk dan merasa tidak punya harga diri hingga kekecewaan pada sang ibu membuat Ayas nekat merobek surat perjanjian itu di hadapan Kama.
Dia tidak mau, dia tidak ingin dan sama sekali dia tidak tahu tentang ini. Sedikit pun tidak dia duga, jika ibunya akan tega melakukan hal semacam ini hanya demi uang. Isak tangis tak bisa dia sembunyikan kali ini, jika faktanya sudah seperti itu sama halnya dengan dia dijual pada seorang pria mengharapkan sesuatu darinya.
"Robek saja, itu hanya salinan ... yang asli aku simpan."
Ayas yang tadi sudah menangis, semakin frustrasi mendengar ucapan Kama hingga dia duduk dan memeluk lututnya. Di posisi ini dia tidak bisa lagi memilih, melainkan harus mau hingga kepalanya terasa begitu sakit.
Dia merobek surat perjanjian itu bukan karena mampu membayar 2M yang telah Kama keluarkan, tapi bentuk kekesalannya pada sang ibu. Cukup lama Kama biarkan, sejak tadi dia hanya memandangi gadis belia yang tak berdaya dan tengah dalam kebingungan hendak berbuat apa.
Tak hanya sampai di sana, tampaknya Ayas mencoba menghubungi seseorang beberapa kali dan berakhir dengan decakan kesal, mungkin karena kecewa tidak mendapat jawaban.
Melihat hal itu seharusnya Kama kasihan, tapi anehnya justru dia suka. Perlahan, Kama turut berlutut demi berusaha melihat wajahnya. Bisa dipastikan akan sangat merah dan air mata mungkin bercucuran di wajahnya. "Sanggup?"
Suasana hati Ayas sedang kacau-kacaunya, dan Kama masih saja bertanya kesanggupan untuk membayar 2M yang dimaksud. Sudah jelas dia takkan sanggup, melihatnya saja tidak pernah dan Ayas dengan polosnya mendongak menatap Kama.
"Kalau dicicil boleh tidak?" tanyanya pelan, entah dari mana keberaniannya sampai nekad menantang Kama.
Kama yang baru pertama kali dihadapkan dengan hal semacam ini jelas saja tak kuasa menahan diri. Susah payah dia manahan senyumnya demi memperlihatkan jika dia serius tentang 2M yang dimaksud, Kama melontarkan jawaban yang membuat harapan Ayas kian pupus.
"Coba katakan? Berapa lama? Setahun? Sepuluh tahun? Atau seumur hidup?"
Pertanyaan Kama seolah menyadarkan Ayas jika dia memang tidak akan mampu mencari gantinya. Tak lagi ingin coba-coba, Ayas tertunduk begitu dalam dan Kama memintanya untuk berdiri.
"Ja-jangan sekarang ... aku tidak tahu caranya!!" pekik Ayas memalingkan muka dan berpikir jika Kama akan melakukan sesuatu dalam waktu dekat.
Jelas saja paniknya Ayas membuat Kama tergelak, pria itu terkekeh dan menggeleng pelan dan hal yang tadinya tak terpikirkan mendadak muncul begitu saja. "Santai, kamu bisa cari tahu dulu di berbagai sumber dulu."
"Kenapa saya yang cari tahu? Bukankah seharusnya Anda?"
Kama tersenyum kecut, sedikit miris mendengarnya. "Jika aku tahu caranya, aku tidak akan meminta bantuanmu," ucapnya seraya menepuk pundak Ayas, menatap lekat wajah polos wanita yang dia yakini sangat suci sebagaimana permintaan Mbah Joko.
.
.
Usai berbicara empat mata bersama majikan yang ternyata akan dia asuh itu, Ayas berdiam diri di tepi kolam seraya menatap bayangannya. Satu jam dia habiskan hanya untuk berpikir, apa alasan ibunya sampai bertindak sejauh ini.
Mirisnya, begitu Ayas hubungi nomor ponsel ibu dan kakaknya tidak aktif lagi, apalagi nomor Hani, wanita yang menawarkan pekerjaan itu padanya. Terpaksa, Ayas tak punya pilihan dan menetap di sini sementara dia bisa benar-benar pergi.
Ditengah lamunan panjangnya, Ayas dibuat terkejut setengah mati kala tubuhnya seolah melayang dan ketika membuka mata tubuhnya sudah berada di dalam kolam. Ayas sempat berteriak kencang dan semakin dibuat terkejut begitu sadar jika dirinya berada dalam gendongan Kama, majikannya.
"Kenapa? Kaget?" tanya Kama santai seraya mengulas senyum tipis tanpa melepaskan tangan di pinggang Ayas.
Ayas sedikit berontak dan meminta Kama untuk melepaskannya. Sesuai permintaan Kama benar-benar melepaskannya hingga Ayas yang pada dasarnya tidak bisa berenang dan kakinya tidak mampu mencapai dasar kolam tenggelam.
Beruntung saja Kama bergerak cepat dan kembali mendudukannya ke pinggir kolam. Ayas terbatuk, dan Kama yang tidak tahu jika tindakannya akan membahayakan berkali-kali minta maaf seraya memijat tengkuk lehernya.
"Sorry, kupikir bisa berenang."
Untuk yang kali ini, Ayas marah dan menepis tangan Kama. Dia menatap tajam pria itu seketika, tapi di luar dugaan Ayas justru menangkap sesuatu yang tak biasa ketika Kama berdiri.
"Tu-tunggu, katanya impoten, tapi kok?" tanya Ayas terang-terangan seraya menunjuk sesuatu yang tampak menyembul dari balik celana majikannya.
.
.
- To Be Continued -
Hai, buat yang masih punya vote ... votenya boleh dilempar ke Kama - Ayas ya, thingkyu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
hanie tsamara
🤣🤣🤣🤣
kocakk..kocakk..
ayas bingung..katany impoten..kpna bs berdiri🤣🙊🙊
2025-01-23
0
Halimah
mbah joko siapa ini😂😂😂😂😂
2024-12-16
0
Tiffany_Afnan
Lah kamu pawangnya yaass.. punya khodam mak erot mungkin. 🤣🤣🤣🤭
2024-11-27
1