Kama berdecih, semudah itu Ayas berusaha melepaskan diri. Lebih dari 2M sudah Kama keluarkan demi bisa normal, segala metode pengobatan dan tempat juga sudah Kama jelajahi. Jelas saja dia tidak akan tertarik dengan penawaran Ayas, bahkan diganti 2 kali lipat sekalipun.
"Apa caraku merendahkanmu?"
Sempat berpikir mungkin Ayas tersinggung, barangkali wanita itu juga tertekan dengan tindakannya. Kama berusaha mengikuti kehendak Ayas, tapi tidak bisa merelakan andai wanita itu pergi dari sisinya, tidak akan.
Ayas menggeleng, walau memang sebenarnya pekerjaan semacam itu cukup sulit diterima akal sehat Ayas. Namun, dia tidak merasa Kama memperlakukan dirinya bak budak sekss, tapi justru sebaliknya.
"Hanya ingin berhenti saja ... aku tidak sanggup menjalaninya terlalu lama, Kama."
"Yas tunggu!!"
Melihat Ayas yang hendak berlalu keluar kamar, Kama bergegas menahan pergelangan tangan wanita itu. Pembicaraan mereka belum selesai, agaknya Kama harus mengakui apa yang terjadi sebenarnya.
"Seumur hidup, aku membutuhkan kamu ... milikku hanya bisa bereaksi ketika bersama jodohku, dan itu kamu."
Detik itu juga Ayas mengerutkan dahi, baru kali ini dia mendengar sebuah penyakit yang hanya bisa diobati jodoh sendiri. Entah berobat dimana Kama, seketika Ayas penasaran dibuatnya. "Jodoh?"
"Hm, jodoh."
"Kamu berobat dimana memangnya?"
Pertanyaan sulit, jujur saja Kama malu mengakui jika dia mempercayai dukun. Namun, hendak bagaimana lagi, begitulah adanya dan memang benar dia berhasil sembuh di tangan orang pintar. "Mbah Joko."
"Dukun?"
Kama menggigit bibir, Ayas yang tampak menahan tawa membuat Kama malu seketika. Benar saja, siapapun memang akan memperlihatkan reaksi yang sama begitu mendengar jika dia berobat di dukun, sama seperti papanya.
Satu-satunya orang yang tidak mengangapnya lucu hanya Yudha, mungkin karena dukun itu kenalan Yudha atau bagaimana, tapi yang jelas selain dari sana menganggap Kama sedikit gila.
"Kamu percaya dukun?"
"Awalnya aku juga tidak percaya, tapi buktinya sudah nyata dan dia cuma bisa berdiri ketika bersamamu ... kalau sampai kau berhenti, lalu bagaimana denganku? Seumur hidup dia hibernasi, Yas."
Membayangkannya saja Kama sudah sakit kepala, dan Ayas yang mendengar juga tampak berpikir keras. Keduanya terdiam beberapa lama, hingga kemudian Ayas kembali bersuara. "Ya sudah, kemarikan buku tabungannya."
Setelah cukup lama menimbang, Ayas seolah memberikan jawaban yang membuat Kama berseru yes seketika. Persetan dengan langkah selanjutnya, terpenting gadis itu bersedia untuk berada di sisinya.
Sebelum Ayas berubah pikiran, cepat-cepat Kama meraih buku tabungan dan debit card tersebut. Wajahnya yang tadi tampak frustrasi kini berbinar bahkan senyumnya mengembang begitu lebar.
"Tidurlah, kalau butuh apa-apa ambil saja sendiri ... jangan sungkan."
Sedikit mengecewakan, padahal Kama ingin wanita itu menawarkan bantuannya, tapi ternyata malah disuruh ambil sendiri. Kendati demikian, Kama tidak mungkin meminta lebih, diperlakukan dengan baik dan Ayas mengurungkan niatnya untuk berhenti saja sudah lebih dari cukup, lantas mau apa lagi.
"Laras."
Kebiasaan sekali, bukan sekali dua kali Kama kerap kali menghentikan langkahnya setiap kali dia hendak keluar. Ayas menoleh, entah apa lagi yang akan dia lakukan di akhir malam ini, mungkinkah Kama bermaksud membuatnya tidak bisa tidur seperti yang kerap terjadi selama ini? Ayas tidak tahu juga.
Hanya saja, dari gelagat dan tatapannya pria itu memang akan melakukan sesuatu. Benar saja, begitu tiba di depan Ayas, pria itu tiba-tiba menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Sehat-sehat ya cantik, kamu obatku seumur hidup," ucap Kama begitu lembut, selembut usapan ibu jarinya di pipi Ayas.
Diperlakukan seperti itu, Ayas justru terisak. Niat hati hanya untuk memberikan semangat, nyatanya hati rapuh Ayas yang memang tengah butuh kasih itu luluh begitu saja. "Masih mau nangis? Peluk sini." Kama merentangkan tangan dan memberikan penawaran untuk Ayas.
Siapa sangka, gadis itu mendekat dan melingkarkan tangan di tubuh Kama. Melihat Ayas yang selemah ini, seketika kebencian terhadap Marzuki kian menjadi. Sungguh dia tidak rela, kesetiaan gadis sepolos Ayas dimanfaatkan begitu saja. "Akan kupastikan kau akan menangis darah setelah ini, Marzuki."
.
.
Pagi pertama di kamar yang berbeda, udara di sini begitu dingin bahkan hingga pagi hari. Kama menggeliat dan meregangkan otot-ototnya, tubuhnya sedikit sakit lantaran perjalanan kemarin cukup menguras tenaga.
Tidak jauh berbeda dengan kebiasaannya di rumah, begitu terjaga yang Kama cari sudah tentu Ayas. Apapun alasannya, tapi memang begitu rutinitas Kama sebagai majikan.
Begitu keluar kamar, dia disambut oleh Dania yang baru saja hendak menyuapi anaknya. Baru Kama sadari jika dia bangun kesiangan, padahal menurutnya masih tergolong pagi.
"Laras di belakang ... airnya sudah disiapkan."
Kama takjub, padahal dia yang tamu tapi masih diperlakukan bak majikan di sini. Tak ingin berlama-lama, Kama menuju ke belakang. Bak ditimpa durian runtuh, mata Kama dibuat membola kala melihat Ayas mengenakan kain dengan rambut dicepol ala gadis rumahan yang kini tengah menimba air.
Terlihat amat menyenangkan, dan hal itu cukup menjadi alasan Kama untuk mendekatinya. Sudah tentu hal pertama yang Kama lakukan adalah mengganggunya. "Aku sendiri bisa, memang sudah terbiasa ... kamu mending mandi, airnya sudah kusiapkan di sana," ucap Ayas menunjuk sebuah tempat rahasia yang dikelilingi kain dan tentu saja membuat Kama menatapnya bingung.
"What? Mandinya di situ?" tanya Kama sekali lagi, dia berharap semua itu mimpi buruk, tapi sialnya hal itu terlalu nyata untuk disebut mimpi.
"Iya, kenapa memangnya?"
"Ti-tidak apa, iya aku mandi sekarang."
Tidak ingin wanita itu tersinggung atau semacamnya, Kama segera membersihkan diri walau jujur saja dia geli. Bayangan akan ada hewan lunak dan melata lainnya berperang dalam diri Kama.
Dia yang biasanya mandi sampai 30 menit, kini dia persingkat tak sampai lima menit. Mandi kilat, padahal air yang Ayas siapkan adalah air hangat, dan dia menjadikan dingin sebagai alasan.
Ayas hanya tersenyum, dia memaklumi andai majikannya buru-buru karena besar kemungkinan memang tidak nyaman dibandingkan dirinya. "Coba sini, rambutnya masih berbusa ... kamu buru-buru kenapa sih?"
Tidak terbiasa pakai gayung dan buru-buru lantaran takut ada cacing dan sebagainya adalah alasan utama kenapa Kama mandi sampai masih meninggalkan busa di rambutnya.
Keduanya sama-sama tidak sadar jika adegan semacam itu justru menjadi awal dari segala malapetaka yang mengintai mereka.
"Laras!!"
"Lihat, 'kan? Pak Kades lihat sendiri laki-laki yang semalam bukan orang baik, Pak."
"Ya ampun, Laras ... Marzuki kurang apa? Sabar ya bu Dewi, ini sebabnya saya tidak mengizinkan anak saya nerantau ke kota."
Entah mulut siapa yang menyebarkan pertama, tapi semakin lama semakin banyak yang berdatangan hingga Ayas gemetar dan memilih berlindung di belakang Kama. "Kama, mereka salah paham."
"Apa yang salah? Akan lebih baik jika kita mengaku saja? Iya, 'kan?"
"Me-mengaku? Mengaku apa?"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Juan Sastra
nah kan iya sekalian biar cepat di nikahkan, kan ibunya marzuki juga yg gerebek,emang ggak pengen punya mantu orang miskin
2025-03-02
0
Halimah
di mbah jambrong/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-19
0
Halimah
karna km sm yudha sm gilanya/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-19
0