BAB 18 - Obat Seumur Hidup

Kama berdecih, semudah itu Ayas berusaha melepaskan diri. Lebih dari 2M sudah Kama keluarkan demi bisa normal, segala metode pengobatan dan tempat juga sudah Kama jelajahi. Jelas saja dia tidak akan tertarik dengan penawaran Ayas, bahkan diganti 2 kali lipat sekalipun.

"Apa caraku merendahkanmu?"

Sempat berpikir mungkin Ayas tersinggung, barangkali wanita itu juga tertekan dengan tindakannya. Kama berusaha mengikuti kehendak Ayas, tapi tidak bisa merelakan andai wanita itu pergi dari sisinya, tidak akan.

Ayas menggeleng, walau memang sebenarnya pekerjaan semacam itu cukup sulit diterima akal sehat Ayas. Namun, dia tidak merasa Kama memperlakukan dirinya bak budak sekss, tapi justru sebaliknya.

"Hanya ingin berhenti saja ... aku tidak sanggup menjalaninya terlalu lama, Kama."

"Yas tunggu!!"

Melihat Ayas yang hendak berlalu keluar kamar, Kama bergegas menahan pergelangan tangan wanita itu. Pembicaraan mereka belum selesai, agaknya Kama harus mengakui apa yang terjadi sebenarnya.

"Seumur hidup, aku membutuhkan kamu ... milikku hanya bisa bereaksi ketika bersama jodohku, dan itu kamu."

Detik itu juga Ayas mengerutkan dahi, baru kali ini dia mendengar sebuah penyakit yang hanya bisa diobati jodoh sendiri. Entah berobat dimana Kama, seketika Ayas penasaran dibuatnya. "Jodoh?"

"Hm, jodoh."

"Kamu berobat dimana memangnya?"

Pertanyaan sulit, jujur saja Kama malu mengakui jika dia mempercayai dukun. Namun, hendak bagaimana lagi, begitulah adanya dan memang benar dia berhasil sembuh di tangan orang pintar. "Mbah Joko."

"Dukun?"

Kama menggigit bibir, Ayas yang tampak menahan tawa membuat Kama malu seketika. Benar saja, siapapun memang akan memperlihatkan reaksi yang sama begitu mendengar jika dia berobat di dukun, sama seperti papanya.

Satu-satunya orang yang tidak mengangapnya lucu hanya Yudha, mungkin karena dukun itu kenalan Yudha atau bagaimana, tapi yang jelas selain dari sana menganggap Kama sedikit gila.

"Kamu percaya dukun?"

"Awalnya aku juga tidak percaya, tapi buktinya sudah nyata dan dia cuma bisa berdiri ketika bersamamu ... kalau sampai kau berhenti, lalu bagaimana denganku? Seumur hidup dia hibernasi, Yas."

Membayangkannya saja Kama sudah sakit kepala, dan Ayas yang mendengar juga tampak berpikir keras. Keduanya terdiam beberapa lama, hingga kemudian Ayas kembali bersuara. "Ya sudah, kemarikan buku tabungannya."

Setelah cukup lama menimbang, Ayas seolah memberikan jawaban yang membuat Kama berseru yes seketika. Persetan dengan langkah selanjutnya, terpenting gadis itu bersedia untuk berada di sisinya.

Sebelum Ayas berubah pikiran, cepat-cepat Kama meraih buku tabungan dan debit card tersebut. Wajahnya yang tadi tampak frustrasi kini berbinar bahkan senyumnya mengembang begitu lebar.

"Tidurlah, kalau butuh apa-apa ambil saja sendiri ... jangan sungkan."

Sedikit mengecewakan, padahal Kama ingin wanita itu menawarkan bantuannya, tapi ternyata malah disuruh ambil sendiri. Kendati demikian, Kama tidak mungkin meminta lebih, diperlakukan dengan baik dan Ayas mengurungkan niatnya untuk berhenti saja sudah lebih dari cukup, lantas mau apa lagi.

"Laras."

Kebiasaan sekali, bukan sekali dua kali Kama kerap kali menghentikan langkahnya setiap kali dia hendak keluar. Ayas menoleh, entah apa lagi yang akan dia lakukan di akhir malam ini, mungkinkah Kama bermaksud membuatnya tidak bisa tidur seperti yang kerap terjadi selama ini? Ayas tidak tahu juga.

Hanya saja, dari gelagat dan tatapannya pria itu memang akan melakukan sesuatu. Benar saja, begitu tiba di depan Ayas, pria itu tiba-tiba menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Sehat-sehat ya cantik, kamu obatku seumur hidup," ucap Kama begitu lembut, selembut usapan ibu jarinya di pipi Ayas.

Diperlakukan seperti itu, Ayas justru terisak. Niat hati hanya untuk memberikan semangat, nyatanya hati rapuh Ayas yang memang tengah butuh kasih itu luluh begitu saja. "Masih mau nangis? Peluk sini." Kama merentangkan tangan dan memberikan penawaran untuk Ayas.

Siapa sangka, gadis itu mendekat dan melingkarkan tangan di tubuh Kama. Melihat Ayas yang selemah ini, seketika kebencian terhadap Marzuki kian menjadi. Sungguh dia tidak rela, kesetiaan gadis sepolos Ayas dimanfaatkan begitu saja. "Akan kupastikan kau akan menangis darah setelah ini, Marzuki."

.

.

Pagi pertama di kamar yang berbeda, udara di sini begitu dingin bahkan hingga pagi hari. Kama menggeliat dan meregangkan otot-ototnya, tubuhnya sedikit sakit lantaran perjalanan kemarin cukup menguras tenaga.

Tidak jauh berbeda dengan kebiasaannya di rumah, begitu terjaga yang Kama cari sudah tentu Ayas. Apapun alasannya, tapi memang begitu rutinitas Kama sebagai majikan.

Begitu keluar kamar, dia disambut oleh Dania yang baru saja hendak menyuapi anaknya. Baru Kama sadari jika dia bangun kesiangan, padahal menurutnya masih tergolong pagi.

"Laras di belakang ... airnya sudah disiapkan."

Kama takjub, padahal dia yang tamu tapi masih diperlakukan bak majikan di sini. Tak ingin berlama-lama, Kama menuju ke belakang. Bak ditimpa durian runtuh, mata Kama dibuat membola kala melihat Ayas mengenakan kain dengan rambut dicepol ala gadis rumahan yang kini tengah menimba air.

Terlihat amat menyenangkan, dan hal itu cukup menjadi alasan Kama untuk mendekatinya. Sudah tentu hal pertama yang Kama lakukan adalah mengganggunya. "Aku sendiri bisa, memang sudah terbiasa ... kamu mending mandi, airnya sudah kusiapkan di sana," ucap Ayas menunjuk sebuah tempat rahasia yang dikelilingi kain dan tentu saja membuat Kama menatapnya bingung.

"What? Mandinya di situ?" tanya Kama sekali lagi, dia berharap semua itu mimpi buruk, tapi sialnya hal itu terlalu nyata untuk disebut mimpi.

"Iya, kenapa memangnya?"

"Ti-tidak apa, iya aku mandi sekarang."

Tidak ingin wanita itu tersinggung atau semacamnya, Kama segera membersihkan diri walau jujur saja dia geli. Bayangan akan ada hewan lunak dan melata lainnya berperang dalam diri Kama.

Dia yang biasanya mandi sampai 30 menit, kini dia persingkat tak sampai lima menit. Mandi kilat, padahal air yang Ayas siapkan adalah air hangat, dan dia menjadikan dingin sebagai alasan.

Ayas hanya tersenyum, dia memaklumi andai majikannya buru-buru karena besar kemungkinan memang tidak nyaman dibandingkan dirinya. "Coba sini, rambutnya masih berbusa ... kamu buru-buru kenapa sih?"

Tidak terbiasa pakai gayung dan buru-buru lantaran takut ada cacing dan sebagainya adalah alasan utama kenapa Kama mandi sampai masih meninggalkan busa di rambutnya.

Keduanya sama-sama tidak sadar jika adegan semacam itu justru menjadi awal dari segala malapetaka yang mengintai mereka.

"Laras!!"

"Lihat, 'kan? Pak Kades lihat sendiri laki-laki yang semalam bukan orang baik, Pak."

"Ya ampun, Laras ... Marzuki kurang apa? Sabar ya bu Dewi, ini sebabnya saya tidak mengizinkan anak saya nerantau ke kota."

Entah mulut siapa yang menyebarkan pertama, tapi semakin lama semakin banyak yang berdatangan hingga Ayas gemetar dan memilih berlindung di belakang Kama. "Kama, mereka salah paham."

"Apa yang salah? Akan lebih baik jika kita mengaku saja? Iya, 'kan?"

"Me-mengaku? Mengaku apa?"

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

Juan Sastra

Juan Sastra

nah kan iya sekalian biar cepat di nikahkan, kan ibunya marzuki juga yg gerebek,emang ggak pengen punya mantu orang miskin

2025-03-02

0

Halimah

Halimah

di mbah jambrong/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2024-12-19

0

Halimah

Halimah

karna km sm yudha sm gilanya/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2024-12-19

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Hari Pertama
2 BAB 02 - Dijual
3 BAB 03 - Obat Yang Sesungguhnya
4 BAB 04 - Pengakuan Terbuka
5 BAB 05 - Jangan Sentuh Milikku
6 BAB 06 - Good Night
7 BAB 07 - 33 Bulan
8 BAB 08 - Calon Istri (Orang)
9 BAB 09 - Calon Suami(Ku)
10 BAB 10 - Kamu Pulang Saja
11 BAB 11 - Taktik Merebut Calon Istri (Orang)
12 BAB 12 - Sleep Call
13 BAB 13 - Anggap Saja Pacar
14 BAB 14 - Salah Posesif
15 BAB 15 - Tidak Bisa Marah
16 BAB 16 - Lepaskan Saja
17 BAB 17 - Aku Ingin Berhenti
18 BAB 18 - Obat Seumur Hidup
19 BAB 19 - Tak Terduga
20 BAB 20 - Kamu Jodohku
21 BAB 21 - Ini Istriku
22 BAB 22 - Mulutmu Bau
23 BAB 23 - Kami
24 BAB 24 - First Kiss
25 BAB 25 - Istrinya Siapa?
26 BAB 26 - Panas
27 BAB 27 - Ngantukmu Pura-Pura
28 BAB 28 - Segitu Dulu
29 BAB 29 - Bete Deh
30 BAB 30 - Nggak Dicicil
31 BAB 31 - Teman Hidup
32 BAB 32 - Ada Obatnya
33 BAB 33 - Bukan Modus Belaka
34 BAB 34 - Berlagak Panik
35 BAB 35 - Maunya Apa?
36 BAB 36 - Akan Akan Menunggu
37 BAB 37 - Jangan Terbalik
38 BAB 38 - Tahan!!
39 BAB 39 - Sedikit
40 BAB 40 - Salah Guru
41 BAB 41 - Introgasi Pihak Berwajib
42 BAB 42 - Santai Saja
43 BAB 43 - Tugasnya Apa?
44 BAB 44 - Laki-Lakinya Gimana?
45 BAB 45 - 18 Detik
46 BAB 46 - Tidak Cemburu
47 BAB 47 - Bertanyalah, Selagi Diizinkan
48 BAB 48 - Berdua Saja
49 BAB 49 - Mau Yang Hangat?
50 BAB 50 - Cabut Ubi?
51 BAB 51 - Dia Hanya Shock
52 BAB 52 - Senjata Makan Tuan
53 BAB 53 - Legit?
54 BAB 54 - Dikeluarkan Dari KK
55 BAB 55 - Salah Minum Obat
56 BAB 56 - Sembuh Total
57 BAB 57 - Gigit Tawon
58 BAB 58 - Banyak Tanya
59 BAB 59 - Esok Atau Lusa
60 BAB 60 - Karmamu Belum Dimulai
61 BAB 61 - BTS
62 BAB 62 - Beda Versi
63 BAB 63 - Dia Yang Bertanggung Jawab
64 BAB 64 - Sudah Ada?
65 BAB 65 - Ada Cinta
66 BAB 66 - Masih Cinta?
67 BAB 67 - Tidak Ingin Diganggu
68 BAB 68 - Tak Terduga
69 BAB 69 - Cashback
70 BAB 70 - Tidak Lucu
71 BAB 71 - Jalan Pintas
72 BAB 72 - Jangan Kebanyakan Bercanda
73 BAB 73 - Bawel
74 BAB 74 - Aku Tidak Bisa Membantumu
75 BAB 75 - Awasi Dia
76 BAB 76 - Takut
77 BAB 77 - Miss You
78 BAB 78 - Janji Kama
79 BAB 79 - Hampir Satu Bulan
80 BAB 80 - Gendutan
81 BAB 81 - Maafkan Aku, Mas
82 BAB 82 - Malam Pertama?
83 BAB 83 - Mau Pulang
84 BAB 84 - Bayi Besar
85 BAB 85 - Masih Sama
86 BAB 86 - Mau Kamu
87 BAB 87 - Harus Bagaimana?
88 BAB 88 - Maafkan Aku
89 BAB 89 - Jangan Tambah Lukanya
90 BAB 90 - Tak Terduga
91 BAB 91 - Bukan Ngidam
92 BAB 92 - Terkuak
93 BAB 93 - Bodoh, Kama.
94 BAB 94 - Menyiksa Diri
95 BAB 95 - Permintaan Terakhir
96 BAB 96 - Iya, Aku Pulang!!
97 BAB 97 - Jangan Sakiti Suamiku!!
98 BAB 98 - Tidak Mau
99 BAB 99 - Tetaplah Bersamaku
100 BAB 100 - Tidak Akan Diam
101 BAB 101 - Apa Pentingnya?
102 BAB 102 - Sang Penggoda
103 BAB 103 - Happy Mensiversary
104 BAB 104 - Dirayakan
105 BAB 105 - Tamat
106 BAB 106 - Sensory Play
107 BAB 107 - Kecil Sekali
108 BAB 108 - Ancaman Kama
109 BAB 109 - Pergilah
110 BAB 110 - Miss Communication
111 BAB 111 - Sampai Kembali Ke Tanah
112 BAB 112 - Minta Apa?
113 BAB 113 - Minta Maaf
114 BAB 114 - Lupakan
115 BAB 115 - She's My Wife
116 BAB 116 - Di Balik Layar
117 Promo Karya Baru - Istri Rahasia Dosen Killer
118 BONUS CHAPTER
119 BONUS CHAPTER II
120 BONUS CHAPTER III
121 BONUS CHAPTER IV
122 BONUS CHAPTER V
123 BONUS CHAPTER VI
124 BONUS CHAPTER VII
125 BONUS CHAPTER VIII
126 VISUAL CAST
127 BONUS CHAPTER IX
128 BONUS CHAPTER X
129 BONUS CHAPTER XI
130 BONUS CHAPTER XII
131 BONUS CHAPTER XIII
132 BONUS CHAPTER XIV
133 THE LAST BONUS CHAPTER - END
134 Promosi Karya Baru - Malam Panjang Bersama Dosenku
135 PROMOSI KARYA BARU - ISTRI PILIHAN MOMMY
Episodes

Updated 135 Episodes

1
BAB 01 - Hari Pertama
2
BAB 02 - Dijual
3
BAB 03 - Obat Yang Sesungguhnya
4
BAB 04 - Pengakuan Terbuka
5
BAB 05 - Jangan Sentuh Milikku
6
BAB 06 - Good Night
7
BAB 07 - 33 Bulan
8
BAB 08 - Calon Istri (Orang)
9
BAB 09 - Calon Suami(Ku)
10
BAB 10 - Kamu Pulang Saja
11
BAB 11 - Taktik Merebut Calon Istri (Orang)
12
BAB 12 - Sleep Call
13
BAB 13 - Anggap Saja Pacar
14
BAB 14 - Salah Posesif
15
BAB 15 - Tidak Bisa Marah
16
BAB 16 - Lepaskan Saja
17
BAB 17 - Aku Ingin Berhenti
18
BAB 18 - Obat Seumur Hidup
19
BAB 19 - Tak Terduga
20
BAB 20 - Kamu Jodohku
21
BAB 21 - Ini Istriku
22
BAB 22 - Mulutmu Bau
23
BAB 23 - Kami
24
BAB 24 - First Kiss
25
BAB 25 - Istrinya Siapa?
26
BAB 26 - Panas
27
BAB 27 - Ngantukmu Pura-Pura
28
BAB 28 - Segitu Dulu
29
BAB 29 - Bete Deh
30
BAB 30 - Nggak Dicicil
31
BAB 31 - Teman Hidup
32
BAB 32 - Ada Obatnya
33
BAB 33 - Bukan Modus Belaka
34
BAB 34 - Berlagak Panik
35
BAB 35 - Maunya Apa?
36
BAB 36 - Akan Akan Menunggu
37
BAB 37 - Jangan Terbalik
38
BAB 38 - Tahan!!
39
BAB 39 - Sedikit
40
BAB 40 - Salah Guru
41
BAB 41 - Introgasi Pihak Berwajib
42
BAB 42 - Santai Saja
43
BAB 43 - Tugasnya Apa?
44
BAB 44 - Laki-Lakinya Gimana?
45
BAB 45 - 18 Detik
46
BAB 46 - Tidak Cemburu
47
BAB 47 - Bertanyalah, Selagi Diizinkan
48
BAB 48 - Berdua Saja
49
BAB 49 - Mau Yang Hangat?
50
BAB 50 - Cabut Ubi?
51
BAB 51 - Dia Hanya Shock
52
BAB 52 - Senjata Makan Tuan
53
BAB 53 - Legit?
54
BAB 54 - Dikeluarkan Dari KK
55
BAB 55 - Salah Minum Obat
56
BAB 56 - Sembuh Total
57
BAB 57 - Gigit Tawon
58
BAB 58 - Banyak Tanya
59
BAB 59 - Esok Atau Lusa
60
BAB 60 - Karmamu Belum Dimulai
61
BAB 61 - BTS
62
BAB 62 - Beda Versi
63
BAB 63 - Dia Yang Bertanggung Jawab
64
BAB 64 - Sudah Ada?
65
BAB 65 - Ada Cinta
66
BAB 66 - Masih Cinta?
67
BAB 67 - Tidak Ingin Diganggu
68
BAB 68 - Tak Terduga
69
BAB 69 - Cashback
70
BAB 70 - Tidak Lucu
71
BAB 71 - Jalan Pintas
72
BAB 72 - Jangan Kebanyakan Bercanda
73
BAB 73 - Bawel
74
BAB 74 - Aku Tidak Bisa Membantumu
75
BAB 75 - Awasi Dia
76
BAB 76 - Takut
77
BAB 77 - Miss You
78
BAB 78 - Janji Kama
79
BAB 79 - Hampir Satu Bulan
80
BAB 80 - Gendutan
81
BAB 81 - Maafkan Aku, Mas
82
BAB 82 - Malam Pertama?
83
BAB 83 - Mau Pulang
84
BAB 84 - Bayi Besar
85
BAB 85 - Masih Sama
86
BAB 86 - Mau Kamu
87
BAB 87 - Harus Bagaimana?
88
BAB 88 - Maafkan Aku
89
BAB 89 - Jangan Tambah Lukanya
90
BAB 90 - Tak Terduga
91
BAB 91 - Bukan Ngidam
92
BAB 92 - Terkuak
93
BAB 93 - Bodoh, Kama.
94
BAB 94 - Menyiksa Diri
95
BAB 95 - Permintaan Terakhir
96
BAB 96 - Iya, Aku Pulang!!
97
BAB 97 - Jangan Sakiti Suamiku!!
98
BAB 98 - Tidak Mau
99
BAB 99 - Tetaplah Bersamaku
100
BAB 100 - Tidak Akan Diam
101
BAB 101 - Apa Pentingnya?
102
BAB 102 - Sang Penggoda
103
BAB 103 - Happy Mensiversary
104
BAB 104 - Dirayakan
105
BAB 105 - Tamat
106
BAB 106 - Sensory Play
107
BAB 107 - Kecil Sekali
108
BAB 108 - Ancaman Kama
109
BAB 109 - Pergilah
110
BAB 110 - Miss Communication
111
BAB 111 - Sampai Kembali Ke Tanah
112
BAB 112 - Minta Apa?
113
BAB 113 - Minta Maaf
114
BAB 114 - Lupakan
115
BAB 115 - She's My Wife
116
BAB 116 - Di Balik Layar
117
Promo Karya Baru - Istri Rahasia Dosen Killer
118
BONUS CHAPTER
119
BONUS CHAPTER II
120
BONUS CHAPTER III
121
BONUS CHAPTER IV
122
BONUS CHAPTER V
123
BONUS CHAPTER VI
124
BONUS CHAPTER VII
125
BONUS CHAPTER VIII
126
VISUAL CAST
127
BONUS CHAPTER IX
128
BONUS CHAPTER X
129
BONUS CHAPTER XI
130
BONUS CHAPTER XII
131
BONUS CHAPTER XIII
132
BONUS CHAPTER XIV
133
THE LAST BONUS CHAPTER - END
134
Promosi Karya Baru - Malam Panjang Bersama Dosenku
135
PROMOSI KARYA BARU - ISTRI PILIHAN MOMMY

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!