"Good night, tidur yang nyenyak, Larasati."
Dia yang berucap, tapi dia pula yang terus terngiang sepanjang malam, ya begitulah Kama. Wajah lugu Ayas tadi ketika dia melontarkan ucapan itu teramat membekas. Sialnya, terlalu lama membayangkan Ayas pikirannya justru kemana-mana hingga sesuatu dalam dirinya kembali bereaksi tanpa Kama kehendaki.
Aneh memang, hanya dengan mengingat dan tanpa melihat sudah mampu membuat miliknya terbangun, jika terus begini agaknya Kama juga tersiksa sendiri. Memang benar kata mamanya, salah-satu hal yang terlarang dalam hidup ialah melamun di kamar mandi.
Harusnya dia bergegas mandi saja, tanpa perlu mengingat Ayas pagi ini. Telanjur basah, hendak bagaimana lagi mau tidak mau Kama harus menuntaskan keinginannya jika tidak ingin sakit kepala.
Namun yang jadi menjadi masalah sekarang ialah, dia butuh Ayas. Kepala Kama seperti akan pecah, dia bergegas keluar kamar mandi dan dengan rambut yang masih berbusa. Khawatir sampai ketahuan Ida yang kemungkinan besar sedang sibuk di dapur pagi ini, Kama menghubungi Ayas lewat nomor telepon yang dia dapatkan dari Hani beberapa waktu lalu.
"Ke atas, i need you, please."
Permintaan Kama bersifat mutlak, dia tidak menerima alasan apapun dan yang dia inginkan saat ini hanya Ayas seorang. Keringat sudah mengucur, bercampur tetesan air ditubuhnya. Percayalah, tubuh Kama masih basah, tapi dia teramat gerah.
Penantian beberapa menit terasa sangat lama, dia tidak sabar dan sengaja menyambut Ayas di dekat pintu, sudah tentu tanpa menggunakan apa-apa. Bibirnya sudah mulai komat-kamit, Kama tak sesabar itu hingga ketika mendengar ketukan pintu tanpa pikir panjang dia membukanya segera.
"Kenapa lam_"
"Aaarrrgghhh!!"
Ayas memekik seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Siapa yang tidak terkejut andai dihadapkan dengan keadaan semacam ini. Ketika bangun pagi seharusnya melihat yang hijau-hijau, nasib sial bagi Ayas karena kini mendapati pemandangan yang berhasil membuat bulu kuduknya meremang. "Ya Tuhan, mataku!!!"
"Biasa saja, semua laki-laki di dunia ini punya, Yas." Seentang itu Kama menanggapi ketakutan Ayas, padahal hal itu wajar-wajar saja.
Bagaimana tidak disebut wajar? Sejelas itu tubuh Kama terpampang, lebih nyata dan Ayas melihat keseluruhannya. Berbeda dengan kemarin, pagi ini mata Ayas benar-benar ternoda yang membuat napas wanita itu sesak seketika.
Kendati demikian, Kama mana peduli soal itu. Melihat Ayas yang justru terpaku di depan pintu, pria itu menarik pengelangan tangannya segera. Tidak lupa dibumbui sedikit ancaman agar tidak berteriak, Ayas patuh saja dan menunduk mengikuti langkah Kama.
Selucu ini takdirnya, julukan siswi berprestasi di sekolah seolah tak berguna. Alih-alih berhasil meraih cita-cita sebagai dokter spesialis penyakit dalam, Ayas justru berakhir di kamar mandi dengan tugas yang tak biasa.
Agaknya, dulu doanya kurang maksimal, Ayas hanya meminta pada Tuhannya agar diberikan izin dapat menyembuhkan orang-orang yang datang padanya. Tanpa terduga, semua seolah terkabul lebih cepat dan saat ini Ayas tengah menjalani misi untuk menyembuhkan Kama dari penyakitnya.
Entah sampai kapan dia harus menemani Kama melakukan hal semacam ini. Memang dia tidak diminta melakukan apa-apa, Kama tidak memberikan tugas yang terkesan menggelikan seperti informasi yang Ayas dapatkan di artikel.
Pria itu melakukannya sendiri dan dia hanya minta ditemani, Kama butuh Ayas berada di depan mata seraya mengalungkan tangan di lehernya, itu saja. Entah karena masih baru, atau memang selamanya hanya begitu, Ayas tidak tahu juga.
Tak jauh berbeda seperti kemarin, bedanya hari ini Kama mengakhirinya dengan pelukan. Baju Ayas jelas saja terasa lembab akibat ulahnya, padahal pagi-pagi sekali Ayas sudah mandi.
Selesai menuntaskan kepuasannya, Ayas dipersilakan untuk keluar. Hanya keluar kamar mandi, bukan benar-benar pergi karena tugas Ayas juga merangkap menyiapkan pakaian sang majikan di luar tugas utama.
.
.
"Tenang, Ayas ... bukankah setiap pekerjaan ada resikonya? Lagi pula kan dia bilang semua laki-laki di dunia ini punya, t-tapi kenapa harus punya dia yang aku lihat pertama kali." Ayas membenturkan kepalanya beberapa kali ke lemari.
Niat hati menenangkan diri, nyatanya semakin gila. Ayas benar-benar mengutuk diri seraya mengusap matanya berulang kali. Agaknya, dia berharap kesucian matanya akan kembali lagi, tapi sialnya semakin dilupakan justru semakin terbayang bagaimana bentuknya.
Ayas terus saja menggerutu dan meratapi kebodohannya hingga tanpa sadar jika dia sudah terlalu lama. Suara Kama tiba-tiba mengejutkannya, entah sejak kapan pria itu berada di belakang, tapi dari caranya memandang jelas menunjukkan jika sudah memantau sejak tadi.
"Kenapa?"
"Serius baru pertama kali? Wajar tantrum," sarkas Kama seraya mengulas senyum tipis yang membuat Ayas seketika merah padam.
Seolah tak habis cara Kama membuatnya malu, padahal yang harusnya malu adalah pria itu. Ayas tidak lagi menjawab, melainkan menyerahkan pakaian yang tadi dia ambil sembarang tanpa melihat lebih dulu lantaran pikirannya terlalu jauh melayang.
"Ini hari senin, aku biasanya pakai warna putih." Ucapan itu sama halnya dengan sebuah penolakan. Kama memang tidak mengatakan secara gamblang, tapi dari tatapannya ke arah kemeja biru itu sudah menjelaskan apa maksudnya.
Sesuai dugaan Kama, jodohnya itu memang pintar, tanpa perlu diminta dan dijelaskan hingga ke akarnya, Ayas tahu apa yang dia mau. Kemeja putih sesuai kehendak, dan sudah tentu kali ini Kama terima dengan baik.
Tugas Ayas tak berhenti di sana, gadis itu belum diperbolehkan keluar dan harus menunggu sementara Kama mengenakan pakaian. Selama diminta menunggu, Ayas sesekali memerhatikan kamar mewah itu. Cukup rapi, dan dari penampilannya benar-benar kamar lelaki.
Nuansa kamar yang didominasi warna cokelat itu cukup menenangkan mata Ayas, berbeda jauh dengan penghuninya. Tidak ada sesuatu yang aneh di kamar Kama, hanya saja figura yang terletak di atas nakas cukup menarik perhatian Ayas.
Untuk pertama kali, dia menyentuh barang Kama tanpa izin. Senyum Ayas tak sengaja terbit kala memandangi foto Kama yang masih menggunakan seragam sekolah bersama gadis manis di sana, tampak seperti foto usang dan bukan editan.
"Lucu, dia manis sekali sewaktu kecil."
Sedikit pun Ayas tidak sadar jika dia sedang memuji majikannya. Namun, senyuman Ayas seketika pudar kala Kama mendekat. Secepat mungkin dia kembali meletakkan figura itu ke tempatnya.
Tanpa bicara, Kama menyerahkan handuk lembab itu pada Ayas. Benar-benar manja dan tidak dapat mengurus diri sendiri, wajar saja butuh pengasuh, batin Ayas sembari melakukan tugasnya. Walau Kama tidak mengenalkan diri, tapi sedikit banyak Ayas sedikit banyak tahu beberapa fakta tentang Kama dari Ida.
Menurut penjelasan Ida, sebenarnya Kama memang masih diasuh hingga dewasa oleh bi Rosma, wanita yang merawat Kama sejak kecil. Setelah wanita itu meninggal dunia Kama dipaksakan mandiri.
Namun, dua tahun berselang ternyata Kama kembali mencari seseorang yang bersedia menggantikan peran Bi Rosma, tapi dengan tugas yang sedikit berbeda dan kata pengasuh hanya kedok untuk membuatnya bebas membawa Ayas ke rumah.
"Kok bisa ada orang seperti itu? Dia tidak sadar umur atau bagaimana? Berasa 33 bulan kali ya," omel Ayas menggeleng pelan, kepalanya sampai sakit lantaran tak habis pikir dengan kehidupan pria 33 tahun itu.
"Bilang apa barusan?"
Bukan main terkejutnya Ayas, hampir saja dia terjatuh dari balkon lantaran Kama yang tiba-tiba muncul dari belakang. "Ti-tidak, tidak bilang apa-apa."
"Alasan, siap-siap ... ikut aku kerja hari ini."
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
anita
looh yas kamu beneran jd dokter spesialis pnyakit dalam lho...dalam cd mksudnya...🤣🤣🤣n pasiennya cm satu doang
2024-12-13
0
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-17
0
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-17
0