BAB 07 - 33 Bulan

"Good night, tidur yang nyenyak, Larasati."

Dia yang berucap, tapi dia pula yang terus terngiang sepanjang malam, ya begitulah Kama. Wajah lugu Ayas tadi ketika dia melontarkan ucapan itu teramat membekas. Sialnya, terlalu lama membayangkan Ayas pikirannya justru kemana-mana hingga sesuatu dalam dirinya kembali bereaksi tanpa Kama kehendaki.

Aneh memang, hanya dengan mengingat dan tanpa melihat sudah mampu membuat miliknya terbangun, jika terus begini agaknya Kama juga tersiksa sendiri. Memang benar kata mamanya, salah-satu hal yang terlarang dalam hidup ialah melamun di kamar mandi.

Harusnya dia bergegas mandi saja, tanpa perlu mengingat Ayas pagi ini. Telanjur basah, hendak bagaimana lagi mau tidak mau Kama harus menuntaskan keinginannya jika tidak ingin sakit kepala.

Namun yang jadi menjadi masalah sekarang ialah, dia butuh Ayas. Kepala Kama seperti akan pecah, dia bergegas keluar kamar mandi dan dengan rambut yang masih berbusa. Khawatir sampai ketahuan Ida yang kemungkinan besar sedang sibuk di dapur pagi ini, Kama menghubungi Ayas lewat nomor telepon yang dia dapatkan dari Hani beberapa waktu lalu.

"Ke atas, i need you, please."

Permintaan Kama bersifat mutlak, dia tidak menerima alasan apapun dan yang dia inginkan saat ini hanya Ayas seorang. Keringat sudah mengucur, bercampur tetesan air ditubuhnya. Percayalah, tubuh Kama masih basah, tapi dia teramat gerah.

Penantian beberapa menit terasa sangat lama, dia tidak sabar dan sengaja menyambut Ayas di dekat pintu, sudah tentu tanpa menggunakan apa-apa. Bibirnya sudah mulai komat-kamit, Kama tak sesabar itu hingga ketika mendengar ketukan pintu tanpa pikir panjang dia membukanya segera.

"Kenapa lam_"

"Aaarrrgghhh!!"

Ayas memekik seraya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Siapa yang tidak terkejut andai dihadapkan dengan keadaan semacam ini. Ketika bangun pagi seharusnya melihat yang hijau-hijau, nasib sial bagi Ayas karena kini mendapati pemandangan yang berhasil membuat bulu kuduknya meremang. "Ya Tuhan, mataku!!!"

"Biasa saja, semua laki-laki di dunia ini punya, Yas." Seentang itu Kama menanggapi ketakutan Ayas, padahal hal itu wajar-wajar saja.

Bagaimana tidak disebut wajar? Sejelas itu tubuh Kama terpampang, lebih nyata dan Ayas melihat keseluruhannya. Berbeda dengan kemarin, pagi ini mata Ayas benar-benar ternoda yang membuat napas wanita itu sesak seketika.

Kendati demikian, Kama mana peduli soal itu. Melihat Ayas yang justru terpaku di depan pintu, pria itu menarik pengelangan tangannya segera. Tidak lupa dibumbui sedikit ancaman agar tidak berteriak, Ayas patuh saja dan menunduk mengikuti langkah Kama.

Selucu ini takdirnya, julukan siswi berprestasi di sekolah seolah tak berguna. Alih-alih berhasil meraih cita-cita sebagai dokter spesialis penyakit dalam, Ayas justru berakhir di kamar mandi dengan tugas yang tak biasa.

Agaknya, dulu doanya kurang maksimal, Ayas hanya meminta pada Tuhannya agar diberikan izin dapat menyembuhkan orang-orang yang datang padanya. Tanpa terduga, semua seolah terkabul lebih cepat dan saat ini Ayas tengah menjalani misi untuk menyembuhkan Kama dari penyakitnya.

Entah sampai kapan dia harus menemani Kama melakukan hal semacam ini. Memang dia tidak diminta melakukan apa-apa, Kama tidak memberikan tugas yang terkesan menggelikan seperti informasi yang Ayas dapatkan di artikel.

Pria itu melakukannya sendiri dan dia hanya minta ditemani, Kama butuh Ayas berada di depan mata seraya mengalungkan tangan di lehernya, itu saja. Entah karena masih baru, atau memang selamanya hanya begitu, Ayas tidak tahu juga.

Tak jauh berbeda seperti kemarin, bedanya hari ini Kama mengakhirinya dengan pelukan. Baju Ayas jelas saja terasa lembab akibat ulahnya, padahal pagi-pagi sekali Ayas sudah mandi.

Selesai menuntaskan kepuasannya, Ayas dipersilakan untuk keluar. Hanya keluar kamar mandi, bukan benar-benar pergi karena tugas Ayas juga merangkap menyiapkan pakaian sang majikan di luar tugas utama.

.

.

"Tenang, Ayas ... bukankah setiap pekerjaan ada resikonya? Lagi pula kan dia bilang semua laki-laki di dunia ini punya, t-tapi kenapa harus punya dia yang aku lihat pertama kali." Ayas membenturkan kepalanya beberapa kali ke lemari.

Niat hati menenangkan diri, nyatanya semakin gila. Ayas benar-benar mengutuk diri seraya mengusap matanya berulang kali. Agaknya, dia berharap kesucian matanya akan kembali lagi, tapi sialnya semakin dilupakan justru semakin terbayang bagaimana bentuknya.

Ayas terus saja menggerutu dan meratapi kebodohannya hingga tanpa sadar jika dia sudah terlalu lama. Suara Kama tiba-tiba mengejutkannya, entah sejak kapan pria itu berada di belakang, tapi dari caranya memandang jelas menunjukkan jika sudah memantau sejak tadi.

"Kenapa?"

"Serius baru pertama kali? Wajar tantrum," sarkas Kama seraya mengulas senyum tipis yang membuat Ayas seketika merah padam.

Seolah tak habis cara Kama membuatnya malu, padahal yang harusnya malu adalah pria itu. Ayas tidak lagi menjawab, melainkan menyerahkan pakaian yang tadi dia ambil sembarang tanpa melihat lebih dulu lantaran pikirannya terlalu jauh melayang.

"Ini hari senin, aku biasanya pakai warna putih." Ucapan itu sama halnya dengan sebuah penolakan. Kama memang tidak mengatakan secara gamblang, tapi dari tatapannya ke arah kemeja biru itu sudah menjelaskan apa maksudnya.

Sesuai dugaan Kama, jodohnya itu memang pintar, tanpa perlu diminta dan dijelaskan hingga ke akarnya, Ayas tahu apa yang dia mau. Kemeja putih sesuai kehendak, dan sudah tentu kali ini Kama terima dengan baik.

Tugas Ayas tak berhenti di sana, gadis itu belum diperbolehkan keluar dan harus menunggu sementara Kama mengenakan pakaian. Selama diminta menunggu, Ayas sesekali memerhatikan kamar mewah itu. Cukup rapi, dan dari penampilannya benar-benar kamar lelaki.

Nuansa kamar yang didominasi warna cokelat itu cukup menenangkan mata Ayas, berbeda jauh dengan penghuninya. Tidak ada sesuatu yang aneh di kamar Kama, hanya saja figura yang terletak di atas nakas cukup menarik perhatian Ayas.

Untuk pertama kali, dia menyentuh barang Kama tanpa izin. Senyum Ayas tak sengaja terbit kala memandangi foto Kama yang masih menggunakan seragam sekolah bersama gadis manis di sana, tampak seperti foto usang dan bukan editan.

"Lucu, dia manis sekali sewaktu kecil."

Sedikit pun Ayas tidak sadar jika dia sedang memuji majikannya. Namun, senyuman Ayas seketika pudar kala Kama mendekat. Secepat mungkin dia kembali meletakkan figura itu ke tempatnya.

Tanpa bicara, Kama menyerahkan handuk lembab itu pada Ayas. Benar-benar manja dan tidak dapat mengurus diri sendiri, wajar saja butuh pengasuh, batin Ayas sembari melakukan tugasnya. Walau Kama tidak mengenalkan diri, tapi sedikit banyak Ayas sedikit banyak tahu beberapa fakta tentang Kama dari Ida.

Menurut penjelasan Ida, sebenarnya Kama memang masih diasuh hingga dewasa oleh bi Rosma, wanita yang merawat Kama sejak kecil. Setelah wanita itu meninggal dunia Kama dipaksakan mandiri.

Namun, dua tahun berselang ternyata Kama kembali mencari seseorang yang bersedia menggantikan peran Bi Rosma, tapi dengan tugas yang sedikit berbeda dan kata pengasuh hanya kedok untuk membuatnya bebas membawa Ayas ke rumah.

"Kok bisa ada orang seperti itu? Dia tidak sadar umur atau bagaimana? Berasa 33 bulan kali ya," omel Ayas menggeleng pelan, kepalanya sampai sakit lantaran tak habis pikir dengan kehidupan pria 33 tahun itu.

"Bilang apa barusan?"

Bukan main terkejutnya Ayas, hampir saja dia terjatuh dari balkon lantaran Kama yang tiba-tiba muncul dari belakang. "Ti-tidak, tidak bilang apa-apa."

"Alasan, siap-siap ... ikut aku kerja hari ini."

.

.

- To Be Continued -

Terpopuler

Comments

anita

anita

looh yas kamu beneran jd dokter spesialis pnyakit dalam lho...dalam cd mksudnya...🤣🤣🤣n pasiennya cm satu doang

2024-12-13

0

Halimah

Halimah

/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2024-12-17

0

Halimah

Halimah

/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/

2024-12-17

0

lihat semua
Episodes
1 BAB 01 - Hari Pertama
2 BAB 02 - Dijual
3 BAB 03 - Obat Yang Sesungguhnya
4 BAB 04 - Pengakuan Terbuka
5 BAB 05 - Jangan Sentuh Milikku
6 BAB 06 - Good Night
7 BAB 07 - 33 Bulan
8 BAB 08 - Calon Istri (Orang)
9 BAB 09 - Calon Suami(Ku)
10 BAB 10 - Kamu Pulang Saja
11 BAB 11 - Taktik Merebut Calon Istri (Orang)
12 BAB 12 - Sleep Call
13 BAB 13 - Anggap Saja Pacar
14 BAB 14 - Salah Posesif
15 BAB 15 - Tidak Bisa Marah
16 BAB 16 - Lepaskan Saja
17 BAB 17 - Aku Ingin Berhenti
18 BAB 18 - Obat Seumur Hidup
19 BAB 19 - Tak Terduga
20 BAB 20 - Kamu Jodohku
21 BAB 21 - Ini Istriku
22 BAB 22 - Mulutmu Bau
23 BAB 23 - Kami
24 BAB 24 - First Kiss
25 BAB 25 - Istrinya Siapa?
26 BAB 26 - Panas
27 BAB 27 - Ngantukmu Pura-Pura
28 BAB 28 - Segitu Dulu
29 BAB 29 - Bete Deh
30 BAB 30 - Nggak Dicicil
31 BAB 31 - Teman Hidup
32 BAB 32 - Ada Obatnya
33 BAB 33 - Bukan Modus Belaka
34 BAB 34 - Berlagak Panik
35 BAB 35 - Maunya Apa?
36 BAB 36 - Akan Akan Menunggu
37 BAB 37 - Jangan Terbalik
38 BAB 38 - Tahan!!
39 BAB 39 - Sedikit
40 BAB 40 - Salah Guru
41 BAB 41 - Introgasi Pihak Berwajib
42 BAB 42 - Santai Saja
43 BAB 43 - Tugasnya Apa?
44 BAB 44 - Laki-Lakinya Gimana?
45 BAB 45 - 18 Detik
46 BAB 46 - Tidak Cemburu
47 BAB 47 - Bertanyalah, Selagi Diizinkan
48 BAB 48 - Berdua Saja
49 BAB 49 - Mau Yang Hangat?
50 BAB 50 - Cabut Ubi?
51 BAB 51 - Dia Hanya Shock
52 BAB 52 - Senjata Makan Tuan
53 BAB 53 - Legit?
54 BAB 54 - Dikeluarkan Dari KK
55 BAB 55 - Salah Minum Obat
56 BAB 56 - Sembuh Total
57 BAB 57 - Gigit Tawon
58 BAB 58 - Banyak Tanya
59 BAB 59 - Esok Atau Lusa
60 BAB 60 - Karmamu Belum Dimulai
61 BAB 61 - BTS
62 BAB 62 - Beda Versi
63 BAB 63 - Dia Yang Bertanggung Jawab
64 BAB 64 - Sudah Ada?
65 BAB 65 - Ada Cinta
66 BAB 66 - Masih Cinta?
67 BAB 67 - Tidak Ingin Diganggu
68 BAB 68 - Tak Terduga
69 BAB 69 - Cashback
70 BAB 70 - Tidak Lucu
71 BAB 71 - Jalan Pintas
72 BAB 72 - Jangan Kebanyakan Bercanda
73 BAB 73 - Bawel
74 BAB 74 - Aku Tidak Bisa Membantumu
75 BAB 75 - Awasi Dia
76 BAB 76 - Takut
77 BAB 77 - Miss You
78 BAB 78 - Janji Kama
79 BAB 79 - Hampir Satu Bulan
80 BAB 80 - Gendutan
81 BAB 81 - Maafkan Aku, Mas
82 BAB 82 - Malam Pertama?
83 BAB 83 - Mau Pulang
84 BAB 84 - Bayi Besar
85 BAB 85 - Masih Sama
86 BAB 86 - Mau Kamu
87 BAB 87 - Harus Bagaimana?
88 BAB 88 - Maafkan Aku
89 BAB 89 - Jangan Tambah Lukanya
90 BAB 90 - Tak Terduga
91 BAB 91 - Bukan Ngidam
92 BAB 92 - Terkuak
93 BAB 93 - Bodoh, Kama.
94 BAB 94 - Menyiksa Diri
95 BAB 95 - Permintaan Terakhir
96 BAB 96 - Iya, Aku Pulang!!
97 BAB 97 - Jangan Sakiti Suamiku!!
98 BAB 98 - Tidak Mau
99 BAB 99 - Tetaplah Bersamaku
100 BAB 100 - Tidak Akan Diam
101 BAB 101 - Apa Pentingnya?
102 BAB 102 - Sang Penggoda
103 BAB 103 - Happy Mensiversary
104 BAB 104 - Dirayakan
105 BAB 105 - Tamat
106 BAB 106 - Sensory Play
107 BAB 107 - Kecil Sekali
108 BAB 108 - Ancaman Kama
109 BAB 109 - Pergilah
110 BAB 110 - Miss Communication
111 BAB 111 - Sampai Kembali Ke Tanah
112 BAB 112 - Minta Apa?
113 BAB 113 - Minta Maaf
114 BAB 114 - Lupakan
115 BAB 115 - She's My Wife
116 BAB 116 - Di Balik Layar
117 Promo Karya Baru - Istri Rahasia Dosen Killer
118 BONUS CHAPTER
119 BONUS CHAPTER II
120 BONUS CHAPTER III
121 BONUS CHAPTER IV
122 BONUS CHAPTER V
123 BONUS CHAPTER VI
124 BONUS CHAPTER VII
125 BONUS CHAPTER VIII
126 VISUAL CAST
127 BONUS CHAPTER IX
128 BONUS CHAPTER X
129 BONUS CHAPTER XI
130 BONUS CHAPTER XII
131 BONUS CHAPTER XIII
132 BONUS CHAPTER XIV
133 THE LAST BONUS CHAPTER - END
134 Promosi Karya Baru - Malam Panjang Bersama Dosenku
135 PROMOSI KARYA BARU - ISTRI PILIHAN MOMMY
Episodes

Updated 135 Episodes

1
BAB 01 - Hari Pertama
2
BAB 02 - Dijual
3
BAB 03 - Obat Yang Sesungguhnya
4
BAB 04 - Pengakuan Terbuka
5
BAB 05 - Jangan Sentuh Milikku
6
BAB 06 - Good Night
7
BAB 07 - 33 Bulan
8
BAB 08 - Calon Istri (Orang)
9
BAB 09 - Calon Suami(Ku)
10
BAB 10 - Kamu Pulang Saja
11
BAB 11 - Taktik Merebut Calon Istri (Orang)
12
BAB 12 - Sleep Call
13
BAB 13 - Anggap Saja Pacar
14
BAB 14 - Salah Posesif
15
BAB 15 - Tidak Bisa Marah
16
BAB 16 - Lepaskan Saja
17
BAB 17 - Aku Ingin Berhenti
18
BAB 18 - Obat Seumur Hidup
19
BAB 19 - Tak Terduga
20
BAB 20 - Kamu Jodohku
21
BAB 21 - Ini Istriku
22
BAB 22 - Mulutmu Bau
23
BAB 23 - Kami
24
BAB 24 - First Kiss
25
BAB 25 - Istrinya Siapa?
26
BAB 26 - Panas
27
BAB 27 - Ngantukmu Pura-Pura
28
BAB 28 - Segitu Dulu
29
BAB 29 - Bete Deh
30
BAB 30 - Nggak Dicicil
31
BAB 31 - Teman Hidup
32
BAB 32 - Ada Obatnya
33
BAB 33 - Bukan Modus Belaka
34
BAB 34 - Berlagak Panik
35
BAB 35 - Maunya Apa?
36
BAB 36 - Akan Akan Menunggu
37
BAB 37 - Jangan Terbalik
38
BAB 38 - Tahan!!
39
BAB 39 - Sedikit
40
BAB 40 - Salah Guru
41
BAB 41 - Introgasi Pihak Berwajib
42
BAB 42 - Santai Saja
43
BAB 43 - Tugasnya Apa?
44
BAB 44 - Laki-Lakinya Gimana?
45
BAB 45 - 18 Detik
46
BAB 46 - Tidak Cemburu
47
BAB 47 - Bertanyalah, Selagi Diizinkan
48
BAB 48 - Berdua Saja
49
BAB 49 - Mau Yang Hangat?
50
BAB 50 - Cabut Ubi?
51
BAB 51 - Dia Hanya Shock
52
BAB 52 - Senjata Makan Tuan
53
BAB 53 - Legit?
54
BAB 54 - Dikeluarkan Dari KK
55
BAB 55 - Salah Minum Obat
56
BAB 56 - Sembuh Total
57
BAB 57 - Gigit Tawon
58
BAB 58 - Banyak Tanya
59
BAB 59 - Esok Atau Lusa
60
BAB 60 - Karmamu Belum Dimulai
61
BAB 61 - BTS
62
BAB 62 - Beda Versi
63
BAB 63 - Dia Yang Bertanggung Jawab
64
BAB 64 - Sudah Ada?
65
BAB 65 - Ada Cinta
66
BAB 66 - Masih Cinta?
67
BAB 67 - Tidak Ingin Diganggu
68
BAB 68 - Tak Terduga
69
BAB 69 - Cashback
70
BAB 70 - Tidak Lucu
71
BAB 71 - Jalan Pintas
72
BAB 72 - Jangan Kebanyakan Bercanda
73
BAB 73 - Bawel
74
BAB 74 - Aku Tidak Bisa Membantumu
75
BAB 75 - Awasi Dia
76
BAB 76 - Takut
77
BAB 77 - Miss You
78
BAB 78 - Janji Kama
79
BAB 79 - Hampir Satu Bulan
80
BAB 80 - Gendutan
81
BAB 81 - Maafkan Aku, Mas
82
BAB 82 - Malam Pertama?
83
BAB 83 - Mau Pulang
84
BAB 84 - Bayi Besar
85
BAB 85 - Masih Sama
86
BAB 86 - Mau Kamu
87
BAB 87 - Harus Bagaimana?
88
BAB 88 - Maafkan Aku
89
BAB 89 - Jangan Tambah Lukanya
90
BAB 90 - Tak Terduga
91
BAB 91 - Bukan Ngidam
92
BAB 92 - Terkuak
93
BAB 93 - Bodoh, Kama.
94
BAB 94 - Menyiksa Diri
95
BAB 95 - Permintaan Terakhir
96
BAB 96 - Iya, Aku Pulang!!
97
BAB 97 - Jangan Sakiti Suamiku!!
98
BAB 98 - Tidak Mau
99
BAB 99 - Tetaplah Bersamaku
100
BAB 100 - Tidak Akan Diam
101
BAB 101 - Apa Pentingnya?
102
BAB 102 - Sang Penggoda
103
BAB 103 - Happy Mensiversary
104
BAB 104 - Dirayakan
105
BAB 105 - Tamat
106
BAB 106 - Sensory Play
107
BAB 107 - Kecil Sekali
108
BAB 108 - Ancaman Kama
109
BAB 109 - Pergilah
110
BAB 110 - Miss Communication
111
BAB 111 - Sampai Kembali Ke Tanah
112
BAB 112 - Minta Apa?
113
BAB 113 - Minta Maaf
114
BAB 114 - Lupakan
115
BAB 115 - She's My Wife
116
BAB 116 - Di Balik Layar
117
Promo Karya Baru - Istri Rahasia Dosen Killer
118
BONUS CHAPTER
119
BONUS CHAPTER II
120
BONUS CHAPTER III
121
BONUS CHAPTER IV
122
BONUS CHAPTER V
123
BONUS CHAPTER VI
124
BONUS CHAPTER VII
125
BONUS CHAPTER VIII
126
VISUAL CAST
127
BONUS CHAPTER IX
128
BONUS CHAPTER X
129
BONUS CHAPTER XI
130
BONUS CHAPTER XII
131
BONUS CHAPTER XIII
132
BONUS CHAPTER XIV
133
THE LAST BONUS CHAPTER - END
134
Promosi Karya Baru - Malam Panjang Bersama Dosenku
135
PROMOSI KARYA BARU - ISTRI PILIHAN MOMMY

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!