"Eum_"
"Jangan bilang kayak Hani?" Belum selesai Ayas bicara, pria itu sudah memotong pembicaraannya.
Gelagat Ayas yang mencurigaakan dan terlihat bingung ketika dia tanya adalah alasan kenapa Marzuki sampai bertanya. Pria itu menatap Ayas penuh tanya, jelas saja Ayas tidak punya jawaban lain selain mengangguk.
Terpaksa dia berbohong, akan lebih baik mengaku sebagai pembantu rumah tangga seperti Hani. Hendak bagaimanapun, pria itu adalah calon suaminya dan Ayas belum siap berkata jujur lantaran takut Marzuki kecewa, bahkan berakhir menggagalkan pernikahannya.
"Astaga, Laras ... kamu ngapain kerja begituan? Kan sudah mas bilang, cukup tunggu di rumah, kenapa sampai nekat merantau segala?"
Niat hati berkata bohong agar Marzuki tidak marah. Nyatanya, pria itu justru lebih marah lagi begitu mendengar jawaban Ayas, dia menghela napas kasar dan melayangkan tatapan tajam ke arah wanita itu.
Dia marah, tidak suka dan terang-terangan memperlihatkan ketidaksukaannya atas keputusan yang Ayas ambil. "Maaf, Mas, tapi aku tidak ingin terlalu memberatkan kamu ... hampir delapan bulan kamu kerja, tapi tidak ada perkembangan dan aku tidak mungkin berpangku tangan."
"Bisakah kamu tidak bersikap seperti ibumu, Laras? Mas juga sedang berusaha, kerja dan nekat melakukan banyak hal juga demi kamu ... sabar sedikit, jangan didesak."
Ayas terdiam, ucapan Marzuki berhasil membuat lidahnya kelu. Tak bisa dia pungkiri, salah-satu yang membuat Marzuki harus merantau ke kota adalah permintaan ibunya yang memang terkesan cukup memberatkan.
"Aku tidak mendesak, cuma mau bantu kamu, itu saja."
"Sudahlah, jauh-jauh ke kota cuma jadi pembantu lebih baik pulang saja ... ini ongkos untuk pulang, cukup 'kan?"
Baru juga bertemu, bertanya kabar saja tidak, tapi Ayas sudah diminta untuk pulang hanya karena pria itu tidak suka dengan pekerjaannya. Walau mungkin niat Marzuki baik, tapi melihat beberapa lembar uang kertas yang hendak dia berikan itu hati Ayas sedikit terluka.
"Aku tidak bisa pulang, Mas, aku sudah tanda tangan surat perjanjian kontrak sama majikanku."
"Apa?"
Jawaban Ayas membuat Marzuki tampak frustrasi, dia memijat pangkal hidungnya seraya menghela napas panjang. "Perjanjian? Apa benar tidak bisa dibatalkan?" tanya Marzuki beruntut, dia mendesak penjelasan dari Laras selengkapnya.
"Tidak, Mas ... ibu sudah menerima 2M dari majikanku sebagai uang muka, dan aku tidak sanggup mengembalikan uang sebanyak itu," jawab Ayas jujur sejujur-jujurnya dan berhasil membuat Marzuki semakin sakit kepala.
Dia terlihat gusar, gelisah dan berpikir keras bagaimana agar Ayas bersedia pulang segera. Hingga, dengan penuh percaya diri dia justru berani bertanya siapa majikan Ayas dan mengatakan akan mencari jalan keluar terbaiknya.
Sialnya, begitu Ayas memperkenalkan pria yang sejak tadi memantaunya dari kejauhan, Marzuki mendadak bungkam. Matanya membulat sempurna begitu tahu jika calon istrinya bekerja pada seseorang yang sejak dulu ingin dia dekati, tapi benar-benar tak tergapai.
"Pak Kama? Kamu kerja sama pak Kama, Sayang?" Jika tadinya dia terlihat frustrasi, begitu tahu siapa majikan Ayas sikapnya mendadak berubah.
Wajah yang tadinya masam dengan senyum kecut itu pudar seketika, tergantikan senyum ramah yang membuat Ayas bingung sebenarnya. "Iya, kenapa, Mas?"
"Kebetulan, boleh dong minta tolong dia ... siapa tahu karirku bisa melejit seperti Cakra, kamu ingat, 'kan?"
Uang yang tadinya hendak dia berikan pada Ayas kini kembali disimpan rapat-rapat. Begitu tahu siapa majikannya, Marzuki seolah memberikan izin pada Ayas tanpa peduli apapun posisi Ayas di sana.
Sayang, terkait permintaan Marzuki, jelas tidak mampu dia turuti. Ayas menggeleng, hendak bagaimanapun jelas saja dia gengsi. Terlebih lagi, sebelum ini Ayas membanggakan Marzuki sebegitu tingginya di hadapan Kama.
"Kenapa begitu, Yas? Bukankah kamu ingin membantuku? Kalau aku jadi aktor, maka kehidupan kita akan lebih baik, Sayang ... coba kamu pikir baik-baik."
Setelah tadi dimita pulang, kini Marzuki melakukan bujuk rayu agar Ayas membantunya. Sedikit banyak, dia mengetahui siapa Kama dan begitu banyak yang mendadak terkenal atas bantuan pria itu.
Begitu lembut Marzuki meminta, tidak lupa dengan kalimat manis dan ribuan janji manis tentang kehidupan mereka setelah menikah nantinya. "Sejak dulu, Mas tidak punya cita-cita untuk hidup di kampung, Ayas ... mas ingin nasib kita berubah, dan ini adalah salah-satu bentuk usahanya."
Ayas menatap pria itu penuh cinta, dia menggantungkan harapan setinggi-tingginya di pundak Marzuki. Karena memang, sejak dua tahun berlalu hanya pria itu yang menjadi sosok pelindung sesungguhnya untuk Ayas.
Mendengar tekad calon suaminya, hati Ayas yang memang naif dan tidak pernah disakiti itu seketika luluh dan berjanji akan membantunya. "Terima kasih ... mas janji akan membahagiakanmu setelah ini, Laras." Kembali Marzuki mengukir janji bersamaan dengan pelukan erat yang dia berikan di akhir pertemuan.
"Pulanglah, nanti malam Mas telepon ya."
.
.
Sekian lama tak bertemu, dan rindunya justru kian menggebu. Padahal, baru juga beberapa saat lalu, tapi ketika di perjalanan Ayas kembali merindukan calon suaminya sembari memandangi cincin pentunangan mereka.
"Ehem, tadi bahas apa?"
Walau tahu mungkin akan sedikit menyakiti, tapi Kama nekat bertanya. Kama memang tidak mendengar sedikit saja apa yang Ayas bahas bersama calon suaminya, tepatnya sengaja menunggu dari jauh demi menjaga agar makanannya tidak keluar.
Terlebih lagi, dia sempat melihat adegan pelukan di akhir, sedikit kesal dan hassrat untuk memukul kepala Marzuki kembali menggelora, sungguh.
"Banyak, dia tanya apa tujuanku ada di sini, kerja apa, sejak kapan begitu-begitu saja."
Kama mencebik, dia mengangguk pelan kemudian membuang muka. Agaknya dia memang setengah hati bertanya dan bukan poin itu yang dia ingin ketahui. "Terus tadi seperti mau dikasih uang terus diambil lagi? Kenapa memangnya?"
Untuk pertanyaan ini Ayas jawab dengan serius dan agak panjang. Dia juga menceritakan bahwa calon suaminya tak suka dengan pekerjaan yang dia geluti hingga memintanya pulang segera.
"Pulang? Terus kamu mau?" tanya Kama mulai tidak biasa, sedikit meninggi dan menyimpan sedikit ketakutan dalam hatinya jika Ayas justru mengiyakan permintaan Marzuki.
"Tidak, aku sudah jelaskan jika tidak bisa pulang."
Seketika Kama menghela napas lega, pria itu mengelus dada sembari mengulas senyum manisnya. "Baguslah, masih ingat konsekuensinya, 'kan?"
Ayas mengangguk, hal itu juga yang membuatnya sampai menolak perintah Marzuki. Jika saja tidak ada ketentuan denda sebesar 2M tersebut, mungkin Ayas berseeia begitu diminta pulang kampung.
"Oh iya, Pak boleh saya tanga sesuatu?" Pertanyaan Ayas hanya membuat Kama berdecak kesal, pertanda jika dia tak suka hingga Ayas kembali mengulang pertanyaannya. "Aku boleh tanya sesuatu?"
"Boleh, tanya apa, Yas?"
Walau jujur sedikit sebal, tapi demi masa depan Marzuki tidak masalah dia mencari muka dan merayu Kama baik-baik. Sesuai dengan perintah Marzuki, Ayas menyampaikan pesannya dan Kama tampak berpikir keras setelag mendengar permintaan Ayas.
"Ehm, bagaimana ya?"
"Boleh ya? Aku yakin mas Juki pasti berpotensi, dia hanya kurang relasi," tambah Ayas kembali memuji pria yang menurut Kama tidak seberapa itu.
Kama menarik sudut bibir usai lama berpikir, pria itu menepikan mobil dan berhenti tepat di sebuah hotel bintang lima yang membuat Ayas kembali was-was. "Boleh, tapi ada syaratnya," ucap Kama dengan tatapan tak terbaca.
"Syarat? Apa syaratnya?"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
anita
dasar bang kama..sombongnya bak pria paling laku sdunia bgitu ktmu ayas yg notabene sdh terikat janji sm mas juki tercnta dia jd gregeten.
2024-12-13
0
Dj Anisah
ni Marzuki yg ngambil hpnya Ameera bukan SH yg satu desa ma cakra
2024-11-29
0
Nendah Wenda
syaratnya apa ya kira kira
2024-08-28
1