"Tu-tunggu, katanya impoten, tapi kok?"
Pertanyaan Ayas tak mampu Kama jawab, pria itu mengatupkan bibir dan melirik ke bagian yang Ayas tunjuk. Jujur saja malu, bahkan dia sampai berlari meninggalkan Ayas tanpa kata. Dalam keadaan basah kuyup melewati Ida yang baru saja mengepel ruang makan akibat kopi Kama yang tumpah beberapa saat lalu.
Beruntung saja statusnya anak majikan, jika bukan sudah pasti pengepel itu mendarat tepat di kepala Kama. Tujuan utamanya begitu masuk kamar ialah ponsel, dengan tangan gemetar dan gelagapan Kama mencari nomor seseorang di sana.
"Berdiri, Mbah!! Dan saya sudah pastikan sendiri ... dia bereaksi, padahal belum diapa-apakan."
Kama hampir tak percaya, dia berdebar dan deru napasnya sampai tak beraturan. Tubuhnya yang masih basah kuyup seakan tidak dia pedulikan, pria itu santai saja duduk di tepian tempat tidur sembari menjelaskan apa yang terjadi pada Mbah Joko, seorang supranatural yang sempat dia datangi dua bulan lalu.
Lelah melakukan segala cara, bahkan pengobatan terakhir sampai di Tokyo dan tidak berhasil juga, Kama pada akhirnya melakukan hal yang paling mustahil dan tidak dia percayai. Ya, mendatangi dukun di sebuah desa terpencil atas saran adik iparnya, Yudha.
Tanpa terduga, tenyata dibalik Kama yang terlihat sempurna dia memiliki cacat yang mungkin bisa dibilang aib bagi kaum pria. Sejak remaja sebenarnya, Kama tidak seperti teman-temannya dan hal itu semakin parah ketika dewasa.
Sedikit memalukan, tapi memang dia adalah seseorang yang mengalami disfungsi ereksi, impoten. Kama tak mengerti apa penyebabnya, dia juga baru mengakui hal itu satu tahun lalu di depan papanya.
Selama bertahun-tahun, dia menyimpan rahasia itu rapat-rapat dan mecoba berusaha sendiri karena ketidaksempurnaan itu cukup menyiksa dirinya sendiri. Kama merasa hidupnya tak adil, tapi demi menutupi itu semua dia bersikap arogan hingga siapapun tidak dapat menampik pesonanya.
Tidak hanya itu, Kama juga sama sekali tidak pernah menerima seorang wanita dalam hidupnya. Bukan tidak laku, tapi yang menawarkan diri terlebih ketika dia dewasa itu banyak sekali. Tapi apa hendak dikata, Kama tidak tertarik dan miliknya sama sekali tidak bereaksi tak peduli bagaimanapun cara wanita itu menggodanya.
Hingga, tepat dua bulan lalu di titik putus asanya, Kama meminta pendapat pada adik ipar yang sejak dahulu kerap dia juluki banci dan kemayu itu. Jika ditanya malu atau tidak, jelas saja malu bahkan rasanya Kama tak lagi punya muka.
Namun, hal itu tidak sia-sia dan pengakuannya pada Yudha ternyata membuahkan hasil yang luar biasa. Lihat, hari ini dan detik ini, Kama menuai hasil dari sekian banyak perjuangan yang di coba.
Sesuai penjelasan Mbah Joko, penyakit Kama sudah terlalu lama dan tidak bisa disembuhkan secara medis, oleh karena itu yang bisa menyembuhkannya hanyalah jodoh Kama sendiri. Dan, Ayas satu-satunya wanita yang berhasil membuat miliknya bereaksi tanpa perlu dielus atau digigit seperti kata adik iparnya.
"Jadi dia jodoh saya, Mbah?" tanya Kama kini beralih ke balkon kamar.
Dari tempat itu dia dapat memandang Ayas yang masih berdiri di pinggir kolam. Sepertinya ada sesuatu yang berusaha dia ambil di dasar kolam dan dibantu Ida di sana.
"Bisa jadi, buktinya berdiri 'kan?"
"Iya sih, tapi saya yang susah ini nidurinnya gimana, Mbah?" Setelah bahagia bisa berdiri, kini Kama justru bingung sendiri bagaimana cara menidurkannya.
Dia mungkin pernah coba-coba melakukan tindakan seperti pria lain di luar sana, tapi untuk benar-benar sampai keluar agaknya belum sama sekali. Dan, itu dari Mbah Joko semakin membuat Kama bingung, mana mungkin dia berani jika harus kembali pada Ayas lagi.
"Mbah? Masa harus begitu?"
"Bukankah dia tahu tujuanmu membawanya ke rumah untuk apa? Jika begitu saja kau malu bagaimana hendak melanjutkan pengobatannya?"
Benar juga, Kama meneguk salivanya pahit sebelum kemudian mengakhiri panggilannya bersama Mbah Joko. Tanpa pikir panjang, pria itu turun dan kembali mencari keberadaan Ayas, masih dengan penampilannya dengan pakaian lembab itu.
Sial, ketika tiba di bawah Ayas sedang di dalam kamar hingga Kama harus menunggu beberapa waktu di luar. Semakin lama dia tunggu, ternyata kesabaran Kama tidak seluas itu hingga dia mengetuk pintu kamar Ayas beberapa kali.
"Yas, buka ... kita perlu bicara," ucapnya baik-baik, padahal sudah jelas bukan untuk bicara biasa.
Ayas tidak segera keluar, mungkin memang ganti baju hingga dia yang tidak kuasa untuk sedikit lebih sabar, mendorong pintu kamar Ayas hingga gadis itu memekik ketakutan.
Bak ditimpa durian runtuh, mata Kama dibuat membola kala melihat penampilan Ayas yang baru mengenakan underwear saja. Hampir polos, dan teriakan Ayas tak mengurungkan niatnya dan kini justru mengunci pintu kamar itu.
"Ma-mau ngapain? Katanya disuruh belajar dulu, aku belum belaj_"
"Tidak perlu belajar, kamu cukup diam saja," ucap Kama yang kemudian menarik tangan Ayas menuju kamar mandi.
Tak pernah dia melakukan hal segila ini, terlebih lagi bersama pembantu di rumahnya. Kama sengaja meghidupkan shower demi menyamarkan suaranya, sementara Ayas yang berdiri dengan posisi terkunci di sudut kamar mandi hanya diam saja lantaran tak kuasa berbuat apa-apa.
"Sini tanganmu," titah Kama menuntun tangan Ayas untuk mengalung di lehernya, senyuman tipis itu tetap menakutkan walau sebenarnya sangat manis.
"Tatap mataku, dan jangan berteriak selama aku belum selesai ... aku tidak akan menyakitimu, Ayas paham?" Bak bicara pada keponakannya, begitu lembut suara Kama hingga Ayas mengangguk pelan.
.
.
Ayas tak pernah berada di posisi ini, jika ditanya bagaimana perasaaannya jelas saja takut. Seiring dengan napas Kama yang menggebu, disertai dengan lenguhan berat itu jujur Ayas merinding.
Namun, sesuai perintah dia hanya boleh diam dan membalas tatapan sendu Kama yang sama sekali tidak bisa dia jelaskan dengan kata. Cukup lama Kama melakukannya, hingga cairan kental yang tak pernah dia lihat sebelum ini berhasil berceceran di atas lantai.
Kama yang berbuat, tapi Ayas yang ikut lelah hingga ketika pria itu menyembunyikan wajah di ceruk lehernya, Ayas semakin lemas rasanya. Ayas bingung hendak bagaimana, apa harus dipeluk atau diam saja hingga wanita itu memilih mengalihkan tangannya.
"Thanks."
Lamunan Ayas buyar kala Kama mengulas senyum dan menepuk pundaknya. Pria itu berlalu lebih dulu dari kamar mandi dan bermaksud pergi dari sana. Namun, baru saja hendak keluar teriakan Ida dari luar mulai terdengar hingga Kama panik sendiri.
"Laras!! Bukain dong."
"Shiitt!! Mana muat aku di jendela itu."
Merasa tidak punya jalan lain, dia kembali masuk ke kamar mandi hingga tak sengaja menabrak Ayas. "Kenapa masih di sini?"
"Anu ... itu!! Mbak Ida ngetuk pintu!! Mati, aku harus bagaimana?"
Jika Kama saja panik lantas bagaimana dengan Ayas? Sama saja, dia juga panik hingga keduanya sudah persis pasangan kumpul kebo yang berusaha melindungi pasangannya. "Ja-jangan dikunci, aku takut gelap!!" tolak Kama kala Ayas hendak mengunci lemari tempatnya bersembunyi.
"Ck, nanti ketahuan sana masuk!!" desak Ayas sampai mendorong wajah Kama lantaran khawatir sampai ketahuan Ida di hari pertamanya. "Kasar juga dia."
"Ayas!! Buruan buka, Nyonya mau ketemu sama kamu!!"
"What? Ma-mama? Mama pulang?"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Rahmi Miraie
oalah sarannya yudha...pinter"masa percaya sama dukun siih😀
2023-10-02
45
Halimah
yudha emang sengklek/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-17
0
hanie tsamara
🤣🤣🤣🤣
kocaakkk..
kenapa gk nikah aja sihh..
jd kan halal😂🙊
2025-01-23
0