Pertama kali dalam hidup, Givendra Kama Wijaya melampiaskan kekecewaan dengan minuman keras hingga persis manusia hilang arah. Samuel yang mengira Kama datang untuk bersenang-senang sedikit menyesal telah menjemputnya.
Kama terlihat menyedihkan, dia tidak pernah sampai semabuk ini. Seolah tengah berusaha keras melupakan masalahnya, Kama sampai minum begitu banyak hingga kedua temannya sampai bingung hendak berbuat apa.
"Gue kurang apa sih? Lo berdua coba lihat gue baik-baik ... cuma cewek sakit yang nggak terpikat sama gue!!"
Samuel hanya menepuk pundaknya berkali-kali. Tidak pernah patah hati, sekalinya patah seperti akan gila. Kama yang mereka kira tidak mampu jatuh cinta, nyatanya dibuat jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesona calon istri orang, sungguh menyedihkan.
Samuel tidak dapat menyalahkan Kama, wajar saja jika dia patah hati mengingat secantik apa Larasati, gadis polos yang sempat membuatnya terpesona pada pandang pertama beberapa waktu lalu. Hanya saja, sama sekali mereka tidak mengira jika gadis itu sudah ada yang punya.
Melihat kesedihan Kama, pria itu berinisiatif mencarikannya seorang wanita yang bisa menghibur hati Kama. Kama tidak menolak pada awalnya, dia diam saja wanita cantik itu berusaha merayunya.
Bahkan, ketika tangan nakal wanita itu berusaha menelusup ke dalam celananya, Kama juga pasrah saja. Hingga, Kama tersenyum tipis dan mendorong wanita itu sebegitu kasarnya.
"Ini punya Laras, jangan dipegang!"
Samuel dan Rizal yang berada tak jauh darinya jelas saja terkejut. Kama meracau dan terus membandingkan wanita itu dengan Laras. Berkali-kali dia sebutkan, hingga Samuel merasa tidak ada lagi yang bisa menyelamatkan pria itu selain Laras.
"Ayasku mana? Dia ada di sini, 'kan?"
Kegilaan Kama tak berhenti di sana, dalam keadaan ritsleting terbuka dan kemeja yang juga sudah terbuka dia berjalan tanpa arah dan menerobos siapapun yang ada di hadapannya.
"Dia nanya kurangnya apa, yang jelas kurang waras ... woey, settan celana lo nggak usah dibuka!!"
Seketika suasana club malam berubah dan Kama yang menjadi biangnya. Tidak ingin pria itu semakin menggila, tepat dini hari Samuel menyerah dan memilih mengantarkan Kama menuju kediaman utamanya.
Sepanjang perjalanan dia terus saja meracau, tidak ada nama lain yang terlontar dari bibirnya selain Ayas. Permintaan maaf, penyesalan, kekesalan dan menuntut keadilan juga terdengar hingga Samuel menambah kecepatan lantaran khawatir Kama kembali menggila di mobilnya.
Begitu tiba, Kama tak lagi mampu berjalan karena memang sudah mabuk berat. Tubuhnya yang tinggi terpaksa digotong berdua dan tetap terasa berat tentu saja.
Kebetulan, yang kali ini membuka pintu adalah Ayas sendiri hingga mereka tidak perlu berdiri terlalu lama du depan pintu. Mungkin dia memang tidak tidur, karena sebelum Samuel mengetuk pintunya, Ayas sudah lebih dulu bertindak.
Wanita itu tampak khawatir, dia mengekor begitu Samuel dan Rizal membantu Kama ke kamarnya. Sama sekali tidak Ayas duga jika pertikaian kecil beberapa saat lalu membuat Kama melakukan hal semacam ini. Padahal, tidak ada ucapan Ayas dan ditujukan untuk menyakiti Kama.
Melihat keadaannya yang begitu memprihatinkan Ayas tidak mungkin tinggal diam. Perlahan dia mendekat, noda merah di pakaiannya cukup membuat Ayas terkejut. Ditambah lagi, kancing kemeja Kama yang terbuka begitu juga dengan ritsletingnya membuat Ayas berpikir macam-macam.
Apa yang Kama lakukan? Bersama siapa dan sejauh apa? Pertanyaan semacam itu memenuhi pikiran Ayas. Padahal, posisinya saat ini bukan siapa-siapa, tapi entah kenapa dia sakit melihat keadaan Kama yang bisa dipastikan telah dijamah wanita lain.
Ayas berulang kali mengatur napas, berusaha menyadarkan diri dan menegaskan jika sakit hati bukanlah haknya. Sejenak, dia mencoba mengabaikan hal itu dan bermaksud untuk mengganti pakaian Kama.
Namun, baru saja hendak melepas kemejanya, suara parau Kama memecah keheningan dan hingga Ayas mengerjap pelan. Pria itu tidak sepenuhnya mabuk, dia masih sadar apa yang terjadi dan yang tengah dia hadapi.
"Keluarlah, biarkan aku sendiri."
Berbeda dari biasanya, malam ini Kama justru memintanya keluar sekalipun butuh bantuan. Matanya masih terpejam, tapi tangannya menahan jemari Ayas hingga wanita itu terpaksa mengurungkan niatnya.
Agaknya Kama benar-benar marah, dan Ayas tidak bisa melakukan apa-apa kecuali apa yang dia minta. Malam ini untuk meninggalkannya seolah terasa begitu berat, Ayas butuh beberapa waktu sebelum berlalu dari kamar Kama.
.
.
Hingga hari berganti, Ayas masih terus memikirkan Kama. Semalam dia menolak dibantu, dan pagi ini Ayas sedikit gugup begitu hendak mengetuk pintu kamarnya. Setakut itu Ayas jika Kama justru bersikap lebih dingin pagi ini padanya, hingga dia kembali memantapkan hati untuk mengetuk pintu kamar Kama.
Belum sempat terjadi, pintu itu sudah terbuka dan Ayas dikejutkan dengan penampilan Kama yang sudah tampak rapi di hadapannya. Padahal, selama ini Kama seolah tidak bisa berganti pakaian jika belum disiapkan.
"Oh sudah bangun ... kamu baik-baik saja?"
Seakan sengaja memperlihatkan jika dia marah, Kama melewati Ayas begitu saja hingga wanita itu mengerutkan dahi seketika. Bagaimana tidak? Yang seharusnya marah adalah dia, lantas kenapa justru berbalik.
Tidak hanya Ayas yang menjadi sasaran, tapi Ida juga turut kena getahnya. Diamnya Kama ternyata lebih menyeramkan. Jangankan bisa bercanda, bernapas saja harus dikira-kira lantaran khawatir penguasa kerajaan itu marah dan melempar gelas tepat di wajah mereka.
Usai sarapan, Ayas nekat menghalangi Kama karena dia merasa tak tenang jika pria itu masih terus mendiamkannya. Tidak peduli sekalipun dianggap tak sopan, tapi selagi ada kesempatan Ayas menghalau kepergian Kama tepat di pintu utama.
"Minggir," usir Kama baik-naik bahasa yang juga sewajarnya untuk seorang Kama.
Ayas menggeleng, dari caranya menjawab semakin yakin jika Kama memang marah besar akibat ulahnya. "Kita perlu bicara," sergah Ayas berusaha sebisa mungkin menghalangi majikannya untuk pergi.
"Nanti saja, aku sibuk hari in_"
"Soal tadi malam, seharusnya aku memang tidak pergi ... maaf."
Secara tiba-tiba, dengan begitu berani Ayas memotong pembicaraannya dan meminta maaf tentang semalam. Apa yang terjadi? Kama sedikit penasaran, tapi sejak tadi malam dia sudah bertekad untuk menjaga sikap di hadapan Ayas hingga dia tidak akan banyak tanya walau ingin tahu sejelas-jelasnya.
Beruntungnya, tanpa diminta, Ayas bercerita dengan sendirinya. Walau tahu Kama mungkin menertawakannya, tapi fakta bahwa Marzuki tidak memenuhi janjinya cukup membuat Ayas muak sebenarnya.
"Berapa jam nunggunya?"
Sialnya, walau sudah bertekad bersikap dingin dan membatasi diri, tetap saja Kama tidak kuasa menahan diri untuk peduli. Mendengar bahwa Marzuki membuat jodohnya ini menunggu sendirian dan ternyata tidak datang, Kama benar-benar marah.
"Du-dua jam."
Kama menghela napas panjang, walau mungkin posesifnya semalam membuat Ayas risih, tapi sungguh ada alasan kenapa dia sampai tidak rela Ayas pergi semalam. "Sampai sini masih berani membantah ucapan suami?"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Juan Sastra
lah kapan ijabnya kama,,sadar woyy
2025-03-02
0
Halimah
heeeh maen ngaku" aja....ijabsah dl kamaaa😂😂😂😂
2024-12-19
0
Halimah
bengekkkk/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-19
0