Ayas ketakutan, dia gemetar kala orang-orang semakin riuh dan melayangkan tuduhan yang tidak-tidak padanya. Dia tahu apa yang tengah terjadi dan kejadian semacam ini bukan hal aneh, kakaknya sudah jadi bukti.
Karena hal itu pula, warga desa semakin menatapnya hina. Sialnya, di tengah kepanikan Ayas, Kama justru melontarkan sebuah ide gila yang membuatnya ingin menangis.
"Jangan gila kamu ... aku tidak mau, kita tidak sedang melakukan kesalahan." Ayas menggeleng pelan, dia tidak mau berakhir sama seperti kakaknya.
Hidup di atas jalan berduri dengan cibiran yang terus menghampiri bahkan hingga anaknya lahir juga tetap dicaci. Sungguh, ditatap hina dan dianggap penuh noda semacam itu Ayas tidak mau, terlebih lagi dianggap menjual kehormatan seperti yang anggapan beberapa orang di sana.
"Kami tidak melakukan apa-apa, kalian semua salah paham ... tolong jangan asal menarik kesimpulan!!" papar Ayas sebelum Kama berbuat macam-macam.
Kama menatap Ayas dan orang-orang di depan sana bergantian. Sebenarnya ini adalah kesempatan, tapi andai dia memanfaatkannya, besar kemungkinan Ayas akan marah, bisa jadi malah membencinya.
"Halah!! Maling mana ada yang mau ngaku!!" Semakin Ayas berusaha membela diri, semakin buruk pula pandangan orang hingga mulai berani maju dan Kama seketika merentangkan tangan demi melindungi Ayas di belakangnya.
"Ck kampungan," umpat Kama mulai kesal, dia menatap tajam wanita yang berani mendekat demi berusaha menyakiti Ayas. "Jangan hakimi dia!!" teriak Kama tanpa peduli walau yang di hadapannya adalah wanita seusia mama dan omanya.
"Kalian dengar sendiri? Selain tidak punya malu, laki-laki ini juga tidak punya etika."
Kama berdecih, persetan dengan etika dan anggapan mereka. Sejak dulu Kama sopan, tapi selalu melihat siapa dulu yang dia hadapi, tepatnya tergantung cara seseorang memperlakukannya. Jika diperlakukan semacam ini, terlebih lagi wanitanya dicaci jelas saja tidak terima.
Kericuhan itu semakin panas saja, dan Ayas yang sudah mencoba membela diri tidak lagi berani berkutik. Hingga pak Kades yang sejak tadi sudah sakit tenggorokan demi meminta pada warga khususnya ibu-ibu untuk tenang, baru berhasil menerobos gerombolan tersebut dan berdiri di depan warganya.
"Tenang dulu ... ada baiknya hal ini diselesaikan secara baik-baik, kalaupun terbukti Laras dan pem_ siapa namamu?" Ucapan serius pria berpeci hitam itu terhenti lantaran tidak tahu siapa nama yang bersangkutan.
"Kama, Pak."
"Hama?"
"Kama, Pak, pakai K."
"Nah, Kama ini memang melanggar norma dan adat yang berlaku di desa kita maka kita lakukan tindakan sesuai dengan aturan yang berlaku, kan begitu? Saya harap kalian tidak main hakim sendiri, apalagi sampai ingin menyerang Laras, mengerti?" lanjut pria itu dengan harapan warganya agak sedikit lebih tenang.
Syukurlah, Kama dapat menghela napas pelan lantaran pak Kades masih bersikap bijaksana. Walau memang cacian dan hinaan itu tetap saja ada, bahkan Kadesnya jadi ikut dicerca lantaran membela sesuatu yang salah.
"Tapi pak, semalam juga sudah cukup jadi bukti jika mereka memang patut dicurigai ... saya melihat sendiri Laras memeluknya di teras, di depan kita umum mereka begitu apalagi jika di belakang!!"
Setelah sebelumnya suasana sudah berhasil tenang, seorang wanita muda yang tampak seumuran Ayas berani bersuara. Jelas hal itu kembali memancing percikan emosi warga desa hingga kericuhan itu kian menjadi.
"Satu lagi, laki-laki ini tidak lapor ke kepala desa dan saya yakin, mereka tidur di kamar yang sama!!"
Siapa sangka, salah-satu teman dekat Ayas yang semalam pulang paling akhir dengan alasan kasihan dengan keadaannya kini justru mendorong Ayas masuk ke dalam jurang. Habislah sudah, Ayas tidak lagi akan membela diri dan pasrah saja.
Pernyataan wanita itu benar-benar berhasil menggiring opini hingga Kama dan Laras tidak lagi mampu membela diri. Tanpa ada yang melindungi, dan Kama masih bersyukur karena pak Kades bisa bersikap bijaksana dan menghalangi mereka yang hendak menghajar Kama lebih dulu sebagai hukuman atas tindakannya.
Setelah dilakukan sebuah musyarawah kecil dan cukup singkat, menikah adalah adalah jalan keluarnya. Sudah tentu mereka tidak membutuhkan persetujuan baik dari Kama maupun Ayas sebagai calon pengantin.
.
.
Malam itu, kediaman Ayas tampak ramai oleh beberapa warga desa yang penasaran akan pernikahannya. Hanya penasaran, bukan setulusnya datang untuk memberikan doa karena memang kejadian tadi pagi cukup menghebokan, bahkan sampai ke desa sebelah.
Kendati demikian, Ayas sedikit lebih beruntung karena diperlakukan lebih manusiawi dan Kama tidak dipukuli, berbeda dengan kakaknya beberapa tahun kemarin.
Selain itu juga, Kama masih diperlakukan cukup baik oleh Pak Kades bahkan pernikahannya masih dibuat layaknya pasangan normal. Tepat pukul tujuh malam, Ayas resmi menjadi istri Kama dan sah menurut Agama.
Sungguh hal tak terduga dan tidak pernah Ayas kira, kemarin dia dikejutkan oleh kepergian ibunya, dan malam ini justru dikejutkan dengan pernikahannya sendiri. Butuh waktu bagi Ayas memahami keadaan itu, dia termenung cukup lama di kamar sementara Kama masih berada di luar entah apa yang dia bicarakan.
Ayas menarik napas dalam-dalam sebelum kemudian mengembuskannya perlahan, dia menatap cincin pertunangan yang terpaksa dia lepas beberapa jam lalu. Sungguh, bukan niatnya mengingkari janji, tapi memang tidak bisa dipungkiri Ayas merasa jika pria itu tidak mencintainya seperti dulu lagi.
"Laras ...."
Deg
Baru mendengar suaranya, tapi jantung Ayas sudah berdegub tak karu-karuan. Dia yang tadi melamun, mendadak terjaga sejaga-jaganya dan meloncat dari atas tempat tidur.
Setelah satu jam meninggalkannya, Kama kembali. Dan untuk menghadapi Kama yang kini tidak lagi berstatus sebagai majikan, jujur saja Ayas tak siap. Dia mengatur napas, menatap penampilan di kaca lemari tua dan baju tidur khas ala pengantin baru yang diberikan kakaknya beberapa saat lalu berhasil membuat Ayas geli melihat dirinya sendiri.
"Yas, kamu tidur?"
"Bentar, Mas."
Hendak berganti, tapi sudah tidak punya waktu dan terpaksa dia menyambut Kama dengan penampilan semacam itu. Jantung Ayas seperti akan lepas dari tempatnya, bahkan untuk membuka pintu kamar tenaganya seakan habis detik itu juga.
"Kenapa dikun_" Mata Kama seketika tak berkedip, ucapannya bahkan terpotong begitu disambut penampilan Ayas yang begitu seksi di hadapannya. "Sial, perasaan kemarin tidak seperti itu bentuknya."
Kama masuk dan segera mengunci pintu hingga Ayas menunduk dan mencoba membungkuk karena memang bra yang diberikan kakaknya membuat Ayas seolah lebih berisi.
"Kamu nunduk begitu makin kelihatan garisnya," celetuk Kama berlalu lebih dulu dan kini menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Apa tadi dia bilang? Garis?" Ayas membatin dan melihat dadanya, memang salah kenapa mau-mau saja menuruti perintah Dania yang memang sudah berkeluarga.
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Juan Sastra
kama satu versi sama sean dan azka dapat jodohnya,,namun mending kama deh udah kenal duluan dan udah liat duluan meski belum icip icip..😂😂
2025-03-02
0
Halimah
waduhhh pak kades y bolot/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-19
0
Juan Sastra
la kama asistenmu mana , biar kelar deh tu manusia deso,, hadeeeehhh kama kama kenapa ggak bawa
2025-03-02
0