Terkesan licik, tapi begitulah cara Kama mengambil hati Larasati secara baik-baik. Dia tahu gadis ini cukup sulit disadarkan hanya dengan melihat uang karena memang tidak mata duitan.
Terbukti dengan hadiah-hadiah yang dia berikan hari ini seolah berat sekali Ayas terima. Padahal, hal semacam itu wajar saja dan tidak semahal harga tanah. Begitu tiba di rumah, Ayas tak henti memandangi ponselnya, bukan bahagia, tapi dia terlihat bingung hendak memulainya.
"Kenapa? Bingung?"
Ayas mengangguk, jujur saja dia bingung karena memang cara pengoperasiannya sedikit berbeda. Untuk kategori gadis desa yang memang tidak begitu mengikuti perkembangan wajar saja dia bingung, dan Kama tidak pernah menganggapnya kampungan atau semacamnya.
Begitu sabar Kama mengajarinya, pria itu sengaja duduk di sisi Ayas agar penjelasan lebih mudah dicerna, begitulah pikirannya. Begitu seksama Ayas menyimak, walau sebenarnya nanti akan tahu sendiri, tapi pada dasarnya Ayas adalah anak yang suka belajar hal baru.
"Paham?"
"Paham," ucap Ayas menerima ponsel yang Kama ulurkan itu.
Bertahun-tahun terbiasa dengan ponsel jadulnya, bahkan ukurannya saja jauh berbeda membuat Ayas begitu hati-hati menyentuh ponsel barunya. "Suka?" tanya Kama seolah tengah bertanya pada anak kecil.
"Suka, tapi hp lamaku mana?"
Kama merogoh saku celananya, tapi celaka benda itu tidak lagi ada di sana. "Astaga, hilang sepertinya," ucap Kama enteng sekali, jelas saja hal itu membuat Ayas mengerutkan dahi.
"Hilang? Kok bisa hilang? Pasti kamu buang ya?" tuduh Ayas yakin betul karena memang mereka sempat berdebat di mall dan Kama merampas ponsel Ayas saat itu juga.
Tanpa sedikit pun rasa takut, Kama mengiyakan tuduhan Ayas hingga gadis itu marah besar. "Ikhlaskan saja, lagian sudah darurat begitu ... lcd kena, kameranya berembun, hp zaman kerajaan majapahit buat apa masih disimpan?"
"Lcd kena? Itu karena kamu yang jatuhin!!" kesal Ayas ingin sekali menarik bibir Kama yang sesantai itu dalam bicara.
"Ya maaf, itu sudah kuganti kenapa lagi?"
"Banyak yang penting di sana, foto-fotonya terutama." Dia marah, tapi suaranya masih lemah lembut dan setakut itu menyakiti hati Kama.
Bukan karena cari muka lantaran baru saja diberikan hadiah, tapi memang sejak dahulu Ayas sangat berusaha menjaga perasaan siapapun dan tidak menggebu dalam menyelesaikan masalah.
"Foto? Foto apa memangnya? Bughil ya?" tanya Kama penasaran yang pada akhirnya membuat Ayas lelah sendiri.
Tidak ingin masalah tersebut semakin panjang, Ayas memilih pergi ke kamar dengan membawa beberapa paper bag yang Kama paksakan barus turut dibawa itu. Sudah pasti tindakannya tertangkap oleh mata Ida yang sejak tadi pura-pura mengepel padahal tujuannya hanya untuk menguping pembicaraan majikannya.
Sebagai manusia nornal, Ida dapat menyimpulkan ada sesuatu di antara mereka. Hanya saja, dia yang tahu jika Kama paling tidak suka dicampuri urusan pribadinya memilih diam saja.
.
.
Semakin hari, kedekatan mereka semakin intens di mata Ida. Bukan lagi sebagai pembantu biasa, tapi sudah melewati batasnya. Dua belas tahun mengabdi di keluarga Wijaya sudah sangat cukup untuk Ida mengenali Kama.
Tuan mudanya itu bukanlah pria peramah pada orang baru, walau secantik apapun biasanya Kama tidak sampai bicara empat mata. Anehnya, sejak Ayas masuk menggantikan tugas bi Rosma, Kama terlihat betah di rumah, bahkan rela terjun ke dapur demi melihat mereka menyiapkan makan malam.
"Yas, boleh mbak tanya sesuatu?"
Sejak lama Ida menahan diri, tapi baru kali ini dia memiliki keberanian untuk bertanya pada Ayas secara langsung. Itu pun karena Kama sedang kembali ke kamarnya. "Boleh, tanya apa, Mbak?"
"Tugas kamu sebenarnya apa?"
Untuk hal ini, Ayas masih belum berani berkata jujur pada Ida, sungguh. Karena itu, dia hanya bisa menjawab seadanya dan mengatakan hal yang sekiranya wajar saja. "Masa sih, Yas? Tapi kamu benar pengasuh bayi bangkotan itu, 'kan?" tanya Ida sekali lagi.
Tentang Ayas yang menjadi pengasuh Kama memang dia ketahui. Tidak dapat dipungkiri hal itu mungkin saja karena sejak kecil tidak pernah mandiri dan butuh didampingi, tapi caranya memperlakukan Ayas sangatlah berbeda hingga Ida jelas saja menaruh curiga.
"Iya, mbak kenapa sampai nanya begitu?"
"Tanya saja, perlakuan tuan muda sangat berbeda dan aku sempat berpikir bahwa kamu adalah istrinya," pungkas Ida seraya memasukkan buah anggur ke dalam mulutnya sebagai kode mengakhiri pembicaraan mereka lantaran langkah Kama mulai terdengar menghampiri mereka.
"Istri?"
.
.
Pertanyaan Ida sebelum makan malam nyatanya terngiang hingga detik ini. Ayas sejenak menatap pantulan wajahnya di cermin, dia sudah terlihat cantik dan sangat siap untuk bertemu tunangannya malam ini.
Setelah malam kemarin gagal akibat hujan, malam ini dia kembali mencoba keberuntungan kedua kalinya. Namun, di saat seperti ini Ayas justru memikirkan pertanyaan Ida.
Sejenak dia terdiam membisu, memang benar bahwa cara Kama memperlakukannya sangat berbeda. Sebenarnya bukan hanya baik, tapi juga mulai mengekang dan Kama membatasi ruang geraknya.
Bahkan, malam ini dia harus mengendap-endap demi bisa keluar rumah untuk menemui tunangannya. Bukan karena melawan pada majikan, tapi hal itu terpaksa Ayas lakukan karena akhir-akhir ini Kama sangat posesif, padahal yang hendak Ayas temui adalah calon suaminya sendiri.
Perlahan Ayas berjalan menuju gerbang utama. Sayangnya, baru juga berhasil keluar suara Kama terdengar dari belakang. Ayas menoleh, menyembunyikan tas dan bersikap seolah tidak ada apa-apa.
"Mau kemana?" tanya Kama dingin seraya memasukkan tangan ke saku celananya.
Seperti biasa, Ayas yang tidak bisa berbohong itu tampak bingung dan gelagapan menjawab pertanyaan Kama. "Masuk, laki-laki mana yang mengajak keluar jam segini?"
"Jam segini? Ini masih jam delapan, apa salahnya?"
"Tetap saja salah! Dimana-mana wanita itu dijemput, bukan pergi sendiri sepertimu," cerocos Kama yang berhasil membuat Ayas bungkam, sial semua itu benar semua.
"Apa? Mau membantah? Bela saja terus calon suamimu yang tidak seberapa itu," tambah Kama terang-terangan yang membuat Ayas mulai merasa Kama berlebihan.
"Bisakah kamu tidak menghinanya sekali saja? Bagaimanapun, dia tetap calon suamiku, Kama." Ayas menyeka air matanya sebelum kemudian berlalu pergi meninggalkan Kama yang masih terpaku di tempatnya.
Kama membuang napas kasar, dadanya terasa sakit dan melihat air mata Ayas tumpah hanya karena Marzuki dihina, sungguh Kama benar-benar tidak rela. Pertama kali dalam hidup, Kama merasa tak berharga hingga pria itu mengepalkan tangan dan merogoh ponselnya segera, "Jemput gue, sekarang."
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
anita
emang kamu seberapa bang kama??????😠😠😠
2024-12-13
0
Halimah
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-12-19
0
jumirah slavina
lebih tepat'y bayi udzur🤣🤣🤣🤣🤣
2024-09-01
1