"Lama banget, kamu ngapain?"
"Nyonya mana?"
Ayas gelagapan, dia merapikan rambut yang sedikit berantakan dan juga pakaian yang baru sempat dia pakai secara kilat barusan. Benar-benar tak terduga dan hal ini bisa dianggap gila, sungguh.
Dalam keadaan jantung Ayas sudah segugup itu, Ida justru terlihat santai dan tertawa pelan yang membuat Ayas menghela napas panjang. "Bercyandaa ... bercyandaaaah," ucap Ida dengan sengaja melenggak-lenggok dengan gaya khasnya.
"Ih Mbak Ida!! Bikin kaget," gerutu Ayas kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
Entah kenapa orang-orang di rumah ini aneh semua. Baik pembatu maupun majikannya sama, bahkan security di depan juga tidak jauh berbeda. Agaknya, hidup Ayas terlalu kaku hingga sedikit terkejut begitu masuk ke lingkungan hidup semacam ini.
"Hahah gitu aja kaget, kamu si lama banget ... aku sakit perut, mau setoran dulu ya."
Ayas diam saja awalnya dan membiarkan Ida yang kini bersenandung menuju kamar mandi. Namun, begitu ingat akan suatu hal Ayas sontak berlari dan menghalangi Ida dengan segala cara.
"Ih apaan sih? Udah diujung, Yas!!"
"Ja-jangan di sini!! Di belakang kan ada, kamar mandi yang ini kotor, Mbak." Ayas menoleh, sedikit memastikan dan memang benar masih belum bersih dengan sempurna karena posisinya ada di sudut kamar mandi.
Ida yang melihat gelagat mencurigakan Ayas jelas saja bingung, dia sempat mencoba mendorong Ayas dan sukses membuatnya memekik seolah tengah menyembunyikan aib. "Mbak-mbak!! Sumpah, jangan di sini!!"
"Ayas, kenapa memangnya? Aku sekalian mau ambil pembalut, di kamar man_"
"Aku saja!! Mbak tunggu sini." Begitu sigap Ayas bergerak, dia berlari masuk dan mengambilkan pembalut yang Ida maksud.
Dapat dikatakan saat ini dia juga tengah melindungi Kama, pria yang mungkin sedang sesak dalam lemari. Usai memberikan pembalut, ternyata masih ada yang Ida butuhkan. Sudah pasti kali ini Ayas lebih panik lagi. "Aduh kalau underwear aku malu, Yas, biar Mbak yang ambil sendiri."
"Ih aku aja, kalau datang bulan pasti sakit banget, 'kan? Ya-yang mana, 'Mbak?"
Dalam posisi ini Ayas benar-benar terjepit. Dia membuka lemari yang disitu ada Kama yang sama paniknya, pria itu sengaja masuk ke dalam daster Ida yang digantung rapih di sana. Susah payah Ayas menahan tawa, sebisa mungkin dia mengabaikan penampakan itu walau jujur perutnya mulai sakit menahan tawa.
"Yang mana saja, Yas, ungu boleh, pink boleh," jawab Ida yang kemudian menjadi bekal Ayas memutuskan segala sesuatu.
Tidak ingin terlalu lama, Ayas mengambil asal underwear Ida dan menutup kembali lemari itu rapat-rapat. Demi Tuhan dia tidak pernah segugup ini, rasanya lebih menegangkan dibandingkan ketahuan diapeli tepat dini hari.
Hanya karena mencari benda itu, Ayas sampai keringat dingin dan jantungnya berdegup tak karu-karuan. Beruntung saja, Ida yang memang tampak sudah menahan sejak tadi bergegas pergi begitu selesai dengan keperluannya.
"Huft hampir saja."
Ayas menghela napas lega seraya mengelus dada. Wanita itu kembali menatap lemari pakaian lantaran terpikir akan Kama yang masih berada di sana. Dengan tenaga yang hampir habis, Ayas membuka lemari dan mempersilakan Kama untuk menampakkan diri.
"Keluarlah, Mbak Ida sudah pergi."
"Kamu yakin?" tanya Kama menyingkap daster yang sejak tadi menjadi tempatnya bersembunyi.
Tidak sepenuhnya dia lepas, melainkan masih menutupi kepalanya hingga senyuman Ayas tak kuasa dia tahan. Sialnya, hal tersebut tertangkap oleh mata Kama dan pria itu justru menyimpulkan hal berbeda.
"Kamu mikir apa? Senyam-senyum ... bersihkan otakmu," pungkasnya kemudian berlalu keluar dari lemari tersebut.
Ayas yang mendengar ucapannya sontak mendelik tajam dan tanpa sengaja mendaratkan telapak tangan tepat di pundak Kama. Sungguh, bukan kemauannya, tapi memang sejak dahulu jika kesal begitulah cara Ayas melampiaskannya.
"Woah mancing-mancing ... aku kalau balas bukan pundak loh, mau?" Pertanyaannya memang terdengar biasa, seolah ancaman akan ditampar lebih sadis saja. Namun, yang dia tatap sangatlah tidak biasa hingga gadis itu spontan menyilangkan tangan di bagian dadanya.
"Dasar cabbul," geram Ayas tak lagi dia tutup-tutupi.
Bukannya marah dicap cabbul oleh pembantu barunya, Kama justru tertawa kecil lantaran merasa hal ini terlalu lucu saja. Dia menatap Ayas semakin was-was, sementara Kama kian gemas. "Kecil, paling juga segenggam pakai ditutup segala," celetuk Kama santai hingga semu kemerahan terlihat jelas di wajah Ayas.
Selama bertahun-tahun dia hidup, baru kali ini dia bertemu dengan seseorang yang melontarkan ucapan semacam itu padanya. Entah menghina atau apa, tapi Ayas tetap saja kesal dibuatnya. "Biar saja kecil, penting asli dan berfungsi dengan baik!!"
Tidak hanya sopan, gadis ini juga pemberani dan Kama tidak pernah menemukan seseorang wanita berani menantangnya seperti ini. Padahal, dari gelagatnya saja sudah jelas Ayas takut, tapi sebisa mungkin dia terlihat biasa saja.
"Fungsi dengan baik? Coba kuli_"
"Saya teriakin cabbul nih, Om bisa masuk penjara loh!!" Lagi-lagi, karena gugup dia sampai salah sebut karena biasanya yang tingkah tengil seperti ini adalah tabiat om-om kurang belaian, tapi berdompet tebal.
Bukannya menjauh, Kama justru semakin tertantang hingga sengaja mendekati Ayas. Seolah kacang lupa kulit, usai Ayas selamatkan dari Ida dia justru kembali berulah hingga siang itu Kama berakhir mendapat pukulan pertama tepat di keningnya.
.
.
"Sekali lagi kamu macam-macem!! Aku sebarin aib kamu itu ke media sosial."
Ancaman Ayas usai meninju keningnya masih terus Kama ingat. Kejadian siang tadi benar-benar tak mampu Kama lupakan. Bahkan ketika dia berada di club malam, otaknya hanya tertuju pada Ayas. Gadis sembilan belas tahun yang seolah datang dengan membawa kabar gembira untuknya.
Seketika, perubahan Kama membuat teman-temannya merasa aneh. Tak sedikit dari mereka yang bingung sejak kapan Kama galau, padahal biasanya wanita yang dibuat bak hilang arah karena dia.
"Pak Produser kenapa? Bayangin project baru?" tanya salah seorang temannya di sana, dan pertanyaan itu hanya Kama jawab dengan gelengan kepala.
"Terus mikirin apa?"
Kama tak lagi menjawab, dia hanya memejamkan mata seraya mengulas senyum yang menandakan dia tengah bahagia malam ini. Melihat Kama yang tampak merahasiakan perasaannya, mereka memilih diam saja.
Hingga, perhatian mereka tiba-tiba beralih kala Samuel, playboy kelas kakap yang kerap menjalin hubungan dengan para aktris ibu kota tersebut membawakan kabar menarik untuk mereka.
"Serius, Bro!! Ni cewek seger banget gila!! Belahannya nggak diumbar-umbar, tapi seksinya menembus mata batin gue!!" seru Samuel yang sama sekali tidak menarik perhatian Kama.
Namun, hal itu seketika berubah kala Samuel memperlihatkan foto yang dia ambil secara sembunyi-sembunyi beberapa saat lalu. Walau di bawah gemerlap lampu yang tak terlalu bersinar, Kama masih bisa mengenalinya dan rahang pria itu mengeras seketika.
"Dia dimana?"
"Eh buset!! Tumben nyariin, normal jug_"
"Bilang aja dimana, Samuel!! Gue tonjok lo mau?" desak Kama yang membuat kedua temannya senang dan bingung dalam waktu bersamaan. "Sabar, Pak, kenapa sih? Adek lo atau ...."
"Jodoh gue!!"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Halimah
ehhh ngaku"😂😂😂😂😂
2024-12-17
0
Halimah
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-17
0
Nendah Wenda
makin Deket nih kama tar jatuh cinta
2024-08-28
1