"Bukan begitu juga maksudnya."
Ayas tidak bermaksud seperti itu, dia hanya sedikit terkejut demgan cara Kama memperkenalkannya sebagai calon istri orang. Terdengar lucu saja bagi Ayas, padahal Kama bisa mengatakan asisten atau semacamnya, dan terkesan lebih masuk akal saja.
"Sejak dulu mereka tahu, aku tidak pernah punya asisten perempuan ... kalau sampai jawab begitu, pasti mikirnya lebih aneh lagi." Pandai sekali dia beralasan, padahal memang mulutnya saja yang berucap tanpa pikir panjang.
Jawabannya juga memiliki makna tersirat, dan mungkin tidak akan sampai di otak Ayas. Lagi pula tak ada yang salah dengan kalimat itu, memang betul Ayas istri orang, dan dia juga termasuk orang. Lantas apa yang perlu dipermasalahkan? Pria itu membantin seraya menatap Ayas yang tampak celingukan memerhatikan tempat itu.
Dia berdecak kagum, datang ke tempat semacam ini adalah hal yang tak pernah Ayas duga. Matanya sedikit terhibur, dari kejauhan Ayas menatap wanita cantik yang dia yakini sebagai pemeran utamanya.
Sedikit gambaran tentang kehidupan aktris, mereka terlihat lebih cantik aslinya. Tanpa dia sadari, senyumnya mengembang kala aktris yang dia kagumi sejak lama itu tersenyum ke arahnya. Hampir saja Ayas melambaikan tangan, tapi Kama yang tiba-tiba merangkulnya membuat lamunan Ayas buyar seketika.
"Kamu mau seperti dia?" tanya Kama terus menatap ke depan, pria itu mengangguk pelan seraya mengulas senyumnya.
Sial, ternyata Ayas kepedean, aktris cantik itu bukan tersenyum pada dirinya, melainkan Kama. Beruntung saja tidak sampai melambaikan tangan seperti niatnya, jika tidak sudah pasti malunya luar biasa.
Ayas menunduk, dia tak segera menjawab pertanyaan Kama. Yang dia pikirkan saat ini hanya ingin pergi, mana ada pikiran untuk menjadi aktris atau apapun itu. "Kalau mau, bisa kita bicarakan ... kamu cantik, soal bakat bisa diasah nanti."
"Tidak, aku tidak percaya diri di kamera."
"Woah sayang sekali, tapi apa boleh buat? Mana mungkin aku memaksamu iya, 'kan?"
Percayalah, tawaran itu hanya sekadar basa-basi. Mana mungkin dia akan mengorbitkan Ayas untuk terjun ke dunia entertain. Tidak bisa Kama pungkiri, gadisnya ini memang sangat cantik, dia masih polos dan Kama tidak ingin kerasnya dunia hiburan mengubah hidup Ayas.
Sesuai dengan perjanjian di awal, mereka tidak akan lama karena masih begitu banyak yang harus Kama tangani. Tanpa melepaskan rangkulannya, Kama menuntun Ayas untuk meninggalkan tempat itu.
Sama sekali tidak terlihat jika mereka adalah majikan dan pelayan, melainkan pasangan dengan Kama sebagai pemimpinnya. Jika ditanya risih atau tidak, sebenarnya iya. Hanya saja, untuk menepis tangan Kama, dia khawatir jika pria itu akan tersinggung atau semacamnya.
"Tinggi kamu berapa sih?"
"Entahlah, 160 CM kalau tidak salah." Sekalipun pertanyaan tiba-tiba itu agak sedikit mengejutkan, Ayas tetap menjawabnya secara baik-baik.
Padahal, sudah tentu tujuannya apa. Pria itu tampak menggangguk pelan sebelum kemudian kembali bersuara. "Wajar, berasa rangkul bocah SMP."
Selain harus terbiasa dengan tugasnya yang cukup mengerikan, agaknya Ayas juga harus terbiasa dengan lidahnya yang tajam. Seakan tidak puas menghina miliknya kecil kemarin, kini Kama juga membahas fisiknya dan disamakan dengan bocah SMP.
"Keturunan, ayahku tidak terlalu tinggi apalagi ibu."
"Mungil semua dong ... makanya nikah sama yang tinggi."
Ayas bersedekap dada, agaknya pria ini memang paling pandai dalam meremehkan segalanya. "Mas Juki tinggi kok, kurang lebih segini!!" ucapnya mengira tinggi badan Marzuki yang bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan Kama.
"Berlebihan, mana mungkin ada yang lebih ting_"
Celotehannya terhenti, pria itu terdiam begitu Ayas terpaku dan melepaskan rangkulan Kama tiba-tiba. Senyuman di wajah Ayas kali ini sedikit berbeda, bukan ke arahnya, tapi menatap ke depan dan entah kenapa firasat Kama mendadak buruk saja.
Perlahan, Kama mengikuti arah pandangan Ayas. Benar saja, dunia Kama mendadak gelap dan petir seolah bergemuruh di atas kepalanya. Dia tidak bisa menjamin dugaannya benar, tapi besar kemungkinan pria yang baru datang dari arah berlawanan itu, adalah seseorang yang Ayas maksud sebagai calon suaminya.
"Mas Juki!" seru Ayas tampak terkejut dan menutup mulutnya dengan kedua tepalak tangan. "Ya Tuhan, ketemu juga akhirnya."
Kama mengerutkan dahi, perasaannya semakin tidak enak jujur saja. "Dia orangnya?"
"Iya, itu calon suamiku!!"
Benar, habis sudah dan Kama hanya bisa menghela napas pelan. Hendak bagaimana lagi, hal itu wajar saja terjadi. Seolah tak terima dengan keadaan, fakta bahwa Ayas adalah calon istri orang mendadak membuat kepalanya sakit saja.
Sempat merasa seakan paling tampan, Kama terdiam sesaat kala melihat sosok Marzuki secara langsung. Nyatanya, Ayas tidak sedang menghayal dan ketampanan pria yang menjadi calon suaminya, sial hal itu sedikit menyebalkan bagi Kama.
Terlebih lagi, melihat bagaimana Ayas menghampiri pria lain di hadapannya. Sedikit gengsi untuk mengakui, tapi ini adalah adegan romantis pertama yang berhasil membuat jiwa Kama berhasil terbakar.
Entah harus dengan cara apa Kama mengalihkan perhatian, tapi jurus pura-pura tidak melihat seolah tak berlaku hari ini. "Huft, seharusnya tidak perlu kuajak saja," gumam Kama memijat pangkal hidungnya.
Niat hati membawa Ayas untuk mendekatkan diri, nyatanya justru sakit hati pada hal yang bukan hak Kama sama sekali. Entah apa kesalahannya, hingga dihadirkan mimpi seburuk ini.
.
.
Bagi Kama hal ini memang mimpi buruk, tapi bagi Ayas jelas saja berbeda. Dia berbinar dan menghampiri Marzuki bak anak kecil melihat ayahnya di perantauan. Memang sejak tadi pria itu belum melihatnya, mungkin sibuk lantaran terus fokus pada layar gawainya.
Hingga, setelah mendengar teriakan Ayas, tatapan mereka sempat bertemu beberapa saat. Layaknya pasangan yang sudah lama tidak bertemu, Ayas mencium punggung tangan calon suaminya sebagai bentuk sopan karena memang lebih tua.
"Laras? Ka-kamu ngapain di sini?"
"Aku kerja, Mas," jawab Ayas ragu, khawatir Marzuki justru tidak setuju begitu tahu apa pekerjaannya.
"Kerja?"
Ayas mengangguk, senyumnya masih terus mengembang dan kebahagiaan begitu jelas di wajahnya. Berbulan-bulan tidak bertemu, bahkan menghubungi saja jarang dengan alasan sibuk, Ayas dibuat terpana akan perubahan fisik calon suaminya.
Sejak dulu memang sudah paling tampan di desa, tapi dengan pakaian yang agaknya lebih bermerk itu ketampanannya seolah berkali lipat. "Mas, aku kangen ... ibu nanyain kamu, kok hanphone-nya gak aktif? Kamu sibuk banget ya?"
Ayas bertanya sebegitu lembut dengan tatapan penuh kerinduan. Sayangnya, Marzuki tidak melakukan hal yang sama. Wajahnya tak sebahagia Ayas, dan tampak jelas jika kini gadis itu tengah merasakan rindu sendirian.
"Ah, iya akhir-akhir ini aku memang sangat sibuk. Aku mulai casting, bosen kerja di tempat lama ... oh iya? Kamu bilang kerja, kerja dimana, Sayang?"
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Halimah
jgn" marzuki punya cewek lg selain ayas
2024-12-18
0
Halimah
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
2024-12-18
0
Nendah Wenda
apa juki punya wanita lain kasihan juga ayas rindu sendirian semoga ada celah untuk kama bersatu dengan ayas
2024-08-28
2