Kama ingin merasakan lagi, persis yang tadi siang dan dia masih penasaran. Perlahan, Kama mengikis jarak dan tekadnya untuk benar-benar mencuri kesempatan itu sudah amat matang. Kebetulan sendirian, targetnya tidur dan bibir mungil itu tampak ranum.
Semua menggoda, semakin lama Kama pandangi panas di tubuhnya seolah makin menggelora. Dia tidak kuasa menahan lebih lama, tidak lagi ada kata kasihan masih belia atau semacamnya, Kama mendadak hilang jati diri dan pikirannya mendadak kotor seketika.
Sayang, hari sial itu memang tidak ada di kalender. Belum sempat Kama merasakan lembutnya bibir Ayas sebagaimana adegan di film semi yang kerap dia tonton, sebuah pukulan kembali mendarat tepat mengenai batang hidungnya.
"Mau ngapain?!!"
Kejadiannya begitu cepat, Kama tidak tahu kapan Ayas membuka mata, tapi yang jelas saat ini dia mendengar gadis cerewet itu berceloteh dan mengutuknya tanpa henti. Kama tidak kuasa lagi menatap lawan bicaranya, sakit di hidungnya terlalu menyiksa bahkan Kama sampai memejamkan mata.
Seumur hidup, tidak ada satu orang wanita pun berani memukulnya. Sementara Ayas? Baru di hari pertama sudah dua kali menyakiti Kama, dan jelas tidak hanya sekadar tangan yang bertindak, tapi bibirnya juga.
"Buka pintunya!! Ancamanku tadi siang tidak bercanda ... siap-siap besok viral di sosial media."
Dalam keadaan gemetar dan tangan yang memeluk tubuhnya, Ayas kembali melontarkan ancaman untuk majikannya. Beruntung saja dia terbangun, jika saja terlambat mungkin malam ini Ayas akan berakhir di tangan Kama dengan cara yang tak biasa.
Memang salah dia begitu percaya, Ayas lupa jika Kama adalah pria dewasa yang membutuhkannya, jelas saja dia tidak boleh lengah. Sungguh terpaksa dia melakukan kekerasan, jika saja tidak terkejut lantaran wajah Kama sudah sedekat itu, Ayas tidak akan menyakitinya.
Kini, setelah mendapat serangan darinya, sang majikan justru masih diam sembari menutup hidung dan mulutnya dengan tangan. Entah patah atau hanya sekadar bergeser, Ayas tidak tahu juga. "Ya Tuhan, bisa-bisanya mba Hani ngasih lowongan kerja semacam ini ... kalau tahu majikannya sepertimu, lebih baik aku ternak bebek sambil nunggu Mas Juki merantau tahu?!"
"Diem bawel!!"
Sejak tadi Kama diam, dan kali ini dia bersuara demi menghentikan omelan Ayas. Pria itu meraih beberapa lembar tisu dan mengelap hidungnya. Ya, Ayas tak salah lihat, akibat ulahnya sang majikan mimisan dan itu tidak sedikit, melainkan banyak.
Melihat Kama sudah dalam keadaan itu, jujur saja dia khawatir. Seolah tidak jera walau hampir saja menjadi santapan Kama, Ayas melepas seatbelt demi bisa membantunya. "Bukan begitu caranya ... biar aku saja."
Berbekal pengalaman sebagai anggota palang merah remaja (PMR) di sekolahnya, Ayas yang sejak dulu bercita-cita menjadi dokter mengambil tindakan atas apa yang terjadi pada Kama. Begitu serius dia lakukan, dan Kama tampak menurut saja begitu Ayas minta ini dan itu.
Kekerasan yang tadinya terjadi dan sampai menumpahkan darrah agaknya damai tanpa permintaan maaf atau semacamnya. Ayas sangat bertanggung jawab, dan Kama tak melepaskan wajah cantik itu dari tatapannya.
"Sudah."
Sepuluh menit berlalu, dan sama sekali tidak berasa. Kama tersadar jika sudah selesai setelah Ayas menepuk wajahnya, jika tidak mungkin hingga subuh Kama rela sekalipun tidak bernapas lewat hidung.
"Apa nanti tidak akan ada darrah susulan, Yas?"
"Tidak." Walau pertanyaannya terdengar lucu, tapi Ayas masih menjawab serius karena apa yang Kama alami tidak bisa dianggap bercanda.
Setelah di mobil, Kama pikir Ayas akan meninggalkannya begitu saja. Nyatanya, ketika di masuk rumah Ayas masih mengekor di belakang Kama. Dia tak segan menemani Kama untuk cuci muka dan memastikan benar-benar tidak ada darrah di hidungnya.
Walau tanpa bicara, Kama terus memandangi Ayas lewat ekor matanya. Hingga mengantarkan Kama ke atas tempat tidur dan menata bantal juga tetap Ayas sanggupi walau tindakan semacam ini bisa saja membahayakan dirinya.
"Maaf, tadi aku kaget, bukan sengaja."
Kama mengangguk, dia mengerti tindakannya memang salah. Siapapun pasti akan marah, dan apa yang Ayas lakukan hanya demi menjaga dirinya. "Kamu bisa potong gaji_"
"Eheem, bisa tolong hidupkan AC-nya? Panas."
Kama tahu arah pembicaraan Ayas kemana, dan dia tidak ingin membahas hal itu. Memotong gaji untuk menebus kesalahan bukanlah gaya Kama, lagi pula dia tidak marah walau hidungnya sampai berdarah. "Ada lagi?" tanya Ayas setelah mengikuti perintah majikannya.
Agaknga dia tengah berusaha membujuk Kama agar tidak marah. Penawaran untuk memotong gaji jelas tidak serius, dalam hati Ayas yang paling dalam juga kurang ikhlas jika gajinya sampai dipotong.
Kama tak segera menjawab, dia menggeleng pelan karena memang tubuhnya lemas seketika usai mendapat serangan dadakan dari Ayas. Bukan hanya dia, tapi juniornya turut ciut bahkan percikan gairah yang tadi menggebu seolah lenyap sudah.
"Ayo tidur, hari sudah malam."
Mendengar ajakan Kama, Ayas kembali mati kutu lantaran salah tangkap. Dia yang tadinya sudah tenang, kini berdegub tak karu-karuan dengan mata yang menatap ke sisi kosong di sebelah Kama.
"Aku tidur dimana?" tanya Ayas seraya menoleh sekeliling kamar, ada sofa di sudut ruangan, tapi rasanya tidak cukup untuknya saja.
Hal itu jelas tertangkap oleh Kama, sejak awal Ayas celingukan pria itu sudah menggigit bibir, sungguh menggemaskan. "Ida belum kasih kamu kamar?"
Pertanyaan Kama sukses membuat Ayas memerah, dia gelagapan lantaran salah tingkah. Tak ingin semakin terlihat memalukan, Ayas segera pamit pergi meninggalkan Kama yang terus memandanginya.
"Ayas!!"
Detik ini tidak ada yang ingin Ayas lakukan selain menghilang dari hadapan Kama. Namun, baru saja hendak membuka pintu pria itu kembali memangil namanya. "I-iya? Lampunya mau dimatiin ya?" tanya Ayas berusaha bersikap biasa saja walau malunya tak dapat diungkapkan dengan kata.
Kama tersenyum tipis sembari mengeleng pelan sebagai jawaban. "Good night, tidur yang nyenyak, Larasati."
.
.
- To Be Continued -
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 135 Episodes
Comments
Halimah
kapok km kama/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
2024-12-17
0
hanie tsamara
reflek kama...
makany jgn coba2 nyosor🤣🤣🤣
2025-01-23
0
Halimah
cieèeeeeee
2024-12-17
0