Waktu telah menunjukkan pukul 20.00, Naina pun sudah lelah dan kini sudah Gibran letakkan di kursi mobilnya dengan sabuk pengaman.
"Aku sudah lama tak pernah merasakan suasana ramainya meja makan ketika bersama keluarga. Namun, semua berbeda ketika aku bertemu lagi dengan kamu Qis. Terima kasih untuk semuanya."
Bilqis jadi malu-malu kucing mendengar ucapan Gibran tersebut, tapi kalau dipikir-pikir lagi itu kan cuma hal sederhana.
"Ngomong-ngomong aku mau tanya sesuatu, kenapa kamu langsung melamarku ketika kita bertemu lagi?"
Gibran hanya tersenyum lalu menjawab pertanyaan Bilqis.
"Di lain waktu aku akan jawab, tapi tidak sekarang. Sudah terlalu malam Qis. Pasti Naina tidak nyaman tidur sambil terduduk. Aku pamit dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Bilqis lalu melihat Gibran yang masuk ke dalam mobilnya.
Mobil Gibran perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. Bilqis pun masuk ke dalam rumah.
Di dalam rumah, Ibu dan Ayah sudah menunggunya dengan sama-sama menyilangkan kaki dan menyilangkan tangan di dada.
"Apalagi ini sekarang Bu, Yah? Aku lelah, mau istirahat."
"Gibran sekaya apa sih Qis? Tadi ibu searching-searching di internet, gedung yang dikasih tahu Nak Gisel itu harganya mehong banget. Biasanya yang suka sewa itu artis-artis terkenal."
Bilqis menghela napasnya sejenak lalu menjawab ucapan ibunya.
"Ibu pikir aja sendiri, bukannya dulu Gibran pernah bilang dia punya cabang produksi sambel 100 lebih di seluruh negeri."
"Oh, iya juga ya, Ibu lupa Qis," ucap Ibu sambil mengusap-usap kepalanya sendiri.
"Udah ya Bu, Yah, Iqis ke kamar dulu."
*
*
Hari telah berganti, pagi pun sudah menyingsing. Bilqis sudah sarapan dan tengah menunggu Gibran datang di ruang tamu. Baru juga menunggu sebentar, mobil Gibran sudah parkir di depan rumahnya. Gibran tampak turun dari mobilnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," jawab Bilqis.
Terdengar suara langkah kaki dari belakang, siapa lagi kalau bukan Ibu.
"Aku datang untuk mengantar Bilqis ke sekolah Bu," ucap Gibran.
"Iya, Ibu udah tahu kok. Kalau bisa mah tiap hari aja begini Nak Gibran. Jadi Bilqis terhindar dari masalah."
Bilqis manyun mendengarkan ucapan ibunya. Ia malah mengajak Gibran untuk langsung berangkat saja daripada terus meladeni ibunya yang nantinya malah akan membuat dirinya malu.
"Kami berangkat dulu Bu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Bilqis masuk ke dalam mobil Gibran yang disana sudah ada Naina. Naina memang sengaja tak mau ikut turun tadi.
"Tante," panggil Naina dengan senyumnya yang mengembang.
Bilqis pun membalas panggilan itu dengan senyuman sambil mengelus kepala Naina.
"Aku antar Naina dulu baru kamu ya Qis. Soalnya sekolah Naina lebih dekat."
Bilqis pun mengangguk karena tak mau Gibran malah kerepotan bolak balik mengantarnya dulu.
Setelah mengantarkan Naina ke sekolahnya, kini cuma mereka berdua di dalam mobil. Suasana berubah jadi horor karena terlalu sepi berbeda ketika masih ada Naina tadi yang rame, karena gadis kecil itu terus bertanya banyak hal.
"Untuk pertanyaan kamu semalam, aku akan jawab saat kita fitting baju pengantin. Karena kalau sekarang waktunya tak akan cukup," ucap Gibran memulai obrolan.
Bilqis mengangguk saja.
"Di saat itu, kamu boleh tanyakan apapun yang ingin kamu tahu. Tidak perlu buang-buang energi dengan jadi detektif abal-abal seperti yang kamu lakukan waktu itu bersama teman-teman kamu."
Bilqis yang merasa tersindir langsung mengalihkan pandangannya yang tadinya menatap lurus ke depan jadi ke samping.
Tanpa Bilqis sadari, Gibran melihatnya dengan penuh senyuman.
*
*
Baru saja tiba di sekolah, Miska sudah seperti seorang polisi yang lagi menginterogasi seorang tersangka. Bilqis dicecar banyak pertanyaan dari wanita itu.
Bilqis yang mulai jengah, hanya bisa menjawab, iya, tidak, bisa jadi dan jawaban singkat lainnya.
"Ya ampun Qis, pelit amat ceritanya. Sumpah aku penasaran banget, habis Gibran itu orangnya sok misterius banget sekarang. Tentang dia yang tiba-tiba lamar kamu aja, terasa misterius bagiku. Sejak kapan coba dia menyukai kamu."
"Mis daripada kamu mati penasaran menunggu jawaban dari aku. Kenapa kamu nggak tanya langsung aja ke Gibran?"
Seketika wajah Miska berubah jadi cemberut.
"Aku bertanya karena yakin kalau Gibran tak akan menjawabnya Qis."
"Ya udah, nggak usah kepo. Pikirin aja rumah tangga kamu sendiri. Udah ya, aku mau kerja dulu. Kamu tahu sendiri banyak ibu-ibu yang protes akhir-akhir ini. Aku butuh tenaga ekstra untuk menghadapinya."
Bilqis pun berjalan pergi dari hadapan Miska ke ruangannya. Disana Bilqis sudah dihadapkan dengan dunianya yang penuh hitungan dan aduan dari para ibu-ibu yang mengaku sudah bayar melalui anak mereka. Padahal mah uang itu tak pernah sampai kepadanya.
Tetttttt
Suara bel istirahat telah tiba, Bilqis pun keluar dari ruangannya untuk membeli minuman dan jajan. Dia mengecek ponselnya yang ramai oleh isi pesan di grup chat dengan sahabatnya.
Uki :
Nongki-nongki yuk! Suntuk banget nih sama rutinitas yang sama terus tiap harinya.
Maisa :
Ayok! Aku juga bosen liatinnya angka terus. Mau liat cowok ganteng.
Uki :
Qis, muncullah. Ayok nongki! Ajak Gibran sekalian ya, hihi.
Bilqis :
Males!
Uki :
Hih! Nggak boleh gitu Qis.
Bilqis :
Boleh kok!
Bilqis pun meletakkan ponselnya ketika pesanan minumnya telah ada di hadapannya. Terdengar lagi notifikasi pesan dari ponselnya, awalnya Bilqis mengira itu dari grup chatnya ternyata dari Gibran. Seketika Bilqis langsung membuka pesan itu dan membacanya.
Aku habis beli kue di toko kue depan kantorku, tapi aku teringat sama kamu. Jadi aku belikan satu dan sudah aku kirim lewat aplikasi. Apa sudah kamu terima?
Karena memang belum menerima kuenya, Bilqis segera menghabiskan minum dan jajannya lalu pergi ke pos satpam. Ternyata, kiriman dari Gibran baru aja tiba. Bilqis pun langsung menerima kiriman kue itu dengan senyuman yang terus mengembang dari bibirnya.
Bahkan ketika kue itu sudah Bilqis buka bungkusnya, bukannya langsung dimakan, Bilqis malah memfotonya dan melihatnya seolah-olah enggan memakannya.
Sudah aku terima kuenya, terima kasih 😊
Tak lama kemudian, Bilqis mendapat balasan dari Gibran.
Sama-sama. Bilang aja kalau kamu mau apapun lagi. Aku akan belikan.
Membaca balasan itu saja membuat pipi Bilqis bersemu merah. Baru kali ini dia merasa diperhatikan seorang pria. Dia benar-benar merasa beruntung.
"Kalau sikapnya seperti ini terus, bisa-bisa aku makin cinta."
Bilqis sadar, Gibran tak pernah mengungkapkan secara langsung tentang perasaannya. Namun, Gibran langsung mengungkapkannya dengan perbuatan dengan langsung melamarnya. Itu sudah lebih dari cukup untuk Bilqis.
"Aku harap, kita bisa melewati masa-masa sebelum menikah ini dengan tanpa gangguan dari pihak manapun, aamiin."
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments
Dwi Rustiana
tak ada lanjutannya kah
2025-03-26
0
Maria Kibtiyah
ini gak da kelanjutanya lagi apa
2023-12-20
0
Chu Shoyanie
Duh kangen Bilqis...penasaran ma jawaban Gibran...🤔🙏
2023-12-15
1