Part 4

"Gimana Qis? Tadi Nak Gibran sudah menceritakan niatnya untuk melamar kamu ke Ayah. Ayah sih terserah kamu aja, kan nantinya kamu yang jalanin."

"Iqis nggak mau Yah. Dia ini playboy, ceweknya dimana-mana. Emang Ayah mau anak gadisnya yang cantik paripurna begini, disakitin?"

Wajah Gibran terlihat sedikit kecewa karena Bilqis mengumbar masa lalunya.

"Mungkin dulu aku memang seorang playboy. Tapi aku punya alasan untuk itu. Aku menyeleksi mana yang paling cocok untukku, sampai akhirnya pilihan jatuh ke kamu."

"Qis, Ayah nggak pernah ngajarin kamu buat menjelek-jelekkan orang lain. Setiap orang pasti punya masa lalu. Dan tak semua masa lalu itu baik, kamu harus tetap menghargai tanpa perlu menghakimi. Mungkin Nak Gibran memang sudah berubah."

Tiba-tiba Ibu datang dengan membawa makanan. Ibu langsung ikut duduk di samping Bilqis.

"Gimana jawaban kamu Qis? Diterima, kan? Kapan lagi kan Ibu punya mantu seganteng ini. Lumayan bisa Ibu pamerin kalau Ibu lagi ke pasar."

"Ibuuuu!" Bilqis merengek saking malunya dengan kelakuan ibunya. Masa iya dia harus menerima Gibran supaya bisa dipamerkan oleh ibunya.

"Kalau boleh tau apa kerjaan kamu Nak Gibran? Ayah emang nggak terlalu mempermasalahkan soal ekonomi karena Ayah yakin rezeki itu sudah diatur."

"Saya cuma punya usaha sambel kecil-kecilan Om. Alhamdulillah, setiap bulannya selalu laris."

"Cuma usaha sambel Yah, masih mending jadi istri kedua dari si Ben, tukang sayur itu," bisik Ibu ke Ayah yang jelas saja ucapan itu terdengar sampai ke telinga Gibran karena sangat jelas.

Gibran tersenyum tipis sementara Bilqis ingin pergi saja rasanya dari sana. Karena Bilqis sudah tahu, usaha sambel seperti apa yang dikerjakan oleh Gibran. Bukan kecil-kecilan seperti yang dibayangkan Ayah dan Ibu nya. Gibran ini pengusaha sukses yang sambelnya sudah sampai di ekspor ke luar negeri. Bahkan cabangnya ada dimana-mana. Bilqis tahu, karena sering stalking media sosial dari Gibran.

"Emang penghasilan saya nggak seberapa. Tapi saya pastikan, saya nggak akan pernah buat Bilqis merasakan apa itu namanya kekurangan. Saya sudah memiliki 118 cabang sambel di Indonesia."

Ayah yang awalnya menyerahkan keputusan ke Bilqis langsung menerima lamaran dari Gibran.

"Lamaran kamu Ayah terima. Jadi mau kapan nikahnya? Bulan depan aja gimana?"

"Ayaaaahhhh! Aku ini putri Ayah satu-satunya loh. Masa iya semudah itu nerima lamaran laki-laki buat anaknya tanpa dites-tes dulu."

"Udah nurut aja sama orang tua Qis, Ayah jamin, kamu akan bahagia. Ayah sudah menerawang kalau dia ini sudah tobat dari pencariannya."

"Iya Qis, udah terima aja. Kalau kamu nggak mau terima, buat ibu juga nggak papa."

"Ibuu!"

Bilqis lagi-lagi berteriak karena kedua orang tuanya yang tiba-tiba mendukung Gibran. Apalagi kelakuan kedua orang tuanya yang seperti mata duitan.

"Masa iya, ayah baru Iqis seumuran sama Iqis, yang bener aja dong Bu. Yah, tolonglah."

"Qis, Qis, Ayah loh sudah sangat menolong kamu. Menolong biar nanti keturunan kamu itu jadi bibit unggul. Lihat wajahnya Nak Gibran, matanya, hidungnya, bibirnya, rahangnya, semuanya sempurna. Terus pas lihat kamu, semuanya minimalis Qis."

"Ayahhh! Katanya nggak boleh menjelek-jelekkan orang lain, kenapa Ayah menjelekkan putri Ayah sendiri?"

"Itu bukan menjelekkan Qis, tapi fakta."

Bilqis jadi manyun. Dia benar-benar tak habis pikir dengan ayah dan ibunya. Kalau saja dia bisa kabur sekarang, dia ingin kabur rasanya. Apalagi sedari tadi Gibran seperti menahan tawa melihat pemandangan di hadapan laki-laki itu.

"Terus ini Nak Gibran, putri ayah itu orangnya ceroboh, masa iya tiap hari kerjaannya itu nabrak tukang sayur terus. Sampai-sampai Ibu suka marah gara-gara uang bulanan dipake buat ganti rugi tukang sayur. Ya semoga nanti pas sama Nak Gibran, Iqis udah nggak begitu, walaupun Ayah sih nggak yakin."

Bilqis benar-benar ingin kabur rasanya. Untuk menatap Gibran saja saat ini ia merasa malu. Lagian ayahnya ini benar-benar aneh, bukannya memuji anaknya malah terus menjelekkan.

"Nggak papa Om, saya siap terima segala kekurangan Bilqis."

"Tuh, dengerin Qis. Dimana lagi coba kamu dapat calon suami spek dewa kek begini. Kamu yang banyak kekurangan aja diterima."

"Iya Qis, seneng banget Ibu sebentar lagi bisa pamerin calon mantu ke tetangga."

Bilqis menepuk tangannya sendiri. Malu, malu banget rasanya.

"Jadi, gimana Qis?"

Kali ini Gibran yang bertanya. Laki-laki itu terlihat sangat senang ketika mendapat dukungan dari kedua orang tua Bilqis.

"Beri aku waktu dua minggu. Aku nggak bisa memutuskan dengan cepat masalah kelangsungan hidupku."

"Baiklah, aku akan menunggu selama yang kamu inginkan."

"Ih, gimana sih kamu Qis. Padahal Ayah maunya kalian langsung nikah aja bulan depan."

"Ayahhh!"

Gibran terkekeh melihat itu.

Beberapa menit kemudian, Gibran pun pamit pulang. Ayah dan Ibu meminta Bilqis untuk mengantar Gibran sampai ke depan rumah. Mau tak mau Bilqis pun menurut daripada aibnya terus dibongkar oleh kedua orang tuanya. Ia sudah sangat malu, dan tks ingin dipermalukan lagi apalagi di depan orang yang dicintainya. Walaupun cinta, logika harus tetap jalan.

"Sebelumnya kita pernah seperti ini Qis. Aku yang berjalan di belakang kamu."

Bilqis membalikkan badannya dan sedikit menaikkan alisnya.

"Kapan? Emang pernah?"

"Pernah, dan kamu tak menyadari itu."

"Ah, bodo amat. Intinya aku masih belum bisa percaya ini semua. Rasanya begitu aneh dan tiba-tiba. Sebenarnya apa yang kamu suka dari aku? Kita mengobrol pun cuma sekali. Aku bahkan tidak sesuai tipe idaman kamu. Pokoknya beda 180 derajat."

"Tipe idaman itu bisa berubah Qis. Semua yang ada di kamu aku suka," ucap Gibran sambil tersenyum sangat manis.

Ah, bisa gila aku! Senyumnya terlalu manis. Nggak baik buat kesehatan jantung.

"Ucapan itu pasti sering kamu gunakan untuk menaklukan hati para wanita," ucap Bilqis.

"Cuma kamu Qis," jawab Gibran lagi yang membuat Bilqis rasanya ingin menarik ucapannya yang tadi akan memikirkan selama dua Minggu. Tapi kalau mengingat gimana masa lalu Gibran, dia jadi waras lagi.

"Minta nomor kamu, Qis. Bagaimana aku tahu jawaban kamu kalau kita tak saling berkomunikasi?"

Seketika Bilqis tertawa. Rasanya benar-benar aneh. Gibran bisa sampai datang ke rumahnya padahal Bilqis tak pernah memberitahukan alamat rumahnya sama sekali. Tapi, Gibran sama sekali tak memiliki nomor teleponnya.

"Sepertinya kita bukan jodoh. Aku akan jawab sekarang juga."

"Jodoh atau bukannya, bukan kamu yang tentukan. Aku akan tetap menunggu jawaban kamu dua Minggu lagi. Jadi, cepat beritahu nomor kamu. Atau aku bisa saja datang kesini tiap hari."

Mau tak mau Bilqis pun akhirnya memberikan nomor ponselnya.

Tiba-tiba Tania lewat dan menggoda Bilqis dan Gibran.

"Cie, cie, yang udah punya calon suami. Mana ganteng lagi Mba. Mas kok mau sih sama Mba Iqis, dia ini kan ... "

Belum juga selesai bicara, Tania langsung dibungkam mulutnya oleh Bilqis. Keluarganya itu sangat suka menjelekkan dirinya.

"Sudah kalau mau pulang, silahkan pulang."

"Assalamualaikum, calon istri," ucap Gibran yang membuat pipi Bilqis bersemu merah.

"Awww!"

Telapak tangan Bilqis digigit oleh Tania.

"Mba pake pelet apa?"

*

*

TBC

Yuk ramaikan dengan komentar-komentar kalian

Terpopuler

Comments

🍌 ᷢ ͩ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦 ~ Ꮢнιєz ~

🍌 ᷢ ͩ🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦 ~ Ꮢнιєz ~

wkwkkk ayah ibu somplax..
udah qis terima aja demi kelangsungan hidup kamu n juga perbaikan generasi penerus, upppzz🤭

2023-10-04

1

Farida Wahyuni

Farida Wahyuni

nih gibran beneran? aku sperti bilqis sperti ga percya gitu sama gibran.
semoga gibran bener2 serius yah.

2023-10-04

1

Nar Sih

Nar Sih

bnr2keluarga kocak bagettt ,😂😂

2023-10-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!