Benar saja, esok harinya, Maisa datang ke rumah Bilqis dengan membawa ustadz untuk me-ruqyah Bilqis. Ayah dan Ibu Bilqis yang melihat itu jadi keheranan sendiri.
"Sa, ngapain bawa-bawa ustadz kesini? Kan disini lagi nggak ada pengajian ataupun syukuran."
"Begini, Bude, aku mau ustadz ini me-ruqyah Bilqis. Habis semalam halunya tinggi banget. Aku takutnya dia itu kesurupan Bude. Sudah mah langka orangnya, nanti kalau keterusan jadi tambah langka Bude."
Bude adalah panggilan dari Maisa dan Uki ke Ibu Bilqis.
Ibu langsung panik ketika mendengarnya.
"Emangnya Iqis ngehalu apa Sa? Kok Bude jadi takut juga ya? Soalnya akhir-akhir ini Iqis emang agak beda. Suka tiba-tiba marah sendiri, bicara sendiri, ketawa sendiri, emang aneh kelakuannya."
"Lah, Iqis mah, kan emang udah aneh dari dulu, Bu. Udah bukan rahasia lagi itu mah," sahut Ayah yang tiba-tiba muncul dari dapur.
Bilqis mengelus dadanya untuk mengontrol emosinya. Kalau dia sudah meledak, bisa gawat bumi ini jadi luluh lantah olehnya.
"Gini loh Bude, masa Bilqis bilang dia dilamar sama Gibran, laki-laki paling guanteng seantero kampus dulu. Kan bener-bener halunya tingkat tinggi itu."
"Itu mah bukan halu Sa, emang bener kok. Baru kemarin kejadiannya."
Seketika Maisa langsung membelalakkan matanya tak percaya kemudian tubuhnya jatuh ke lantai.
"Bude nggak salah lihat kan?"
"Nggak Sa, Pade juga tahu itu kok."
Tubuh Maisa yang awalnya cuma terjauh dalam posisi duduk kini jadi terbaring di lantai. Tangannya terangkat di atas kepalanya.
"Ini pasti cuma mimpi. Ini pasti nggak beneran terjadi. Aku nggak percaya," ujar Maisa.
Plak!
Seketika sebuah tamparan melayang ke pipi Maisa. Tidak keras sih, tapi cukup membuat Maisa jadi sadar kalau apa yang didengarnya memang nyata.
"Gimana? Berasa kan? Mau tambah lagi nggak?" tanya Bilqis.
"Qis, amalan apa yang kamu lakuin sampai bisa dilamar sama Gibran? Atau jangan-jangan kamu pakai pelet ya? Bilang dong, pakai dukun mana, aku juga mau pake jasanya."
Plak!
Sebuah tamparan melayang lagi ke pipi Maisa untuk menyadarkan sahabatnya itu.
"Makanya jadi anak sholehah kaya aku. Rajin sholat, rajin menabung sama rajin habisin uang ayah sampai bikin ibu marah."
"Nggak, nggak mungkin cuma karena itu doang Qis."
"Bentar aku mikir dulu," jawab Bilqis sambil memikirkan apa saja yang sering dia lakukan.
"Aku sering jajan bakso habis pulang kerja, sering nabrak tukang sayur sama sering pulang terlambat ke rumah."
Kini giliran Bilqis yang mendapatkan pukulan di lengannya dari Maisa.
"Itu mah bukannya dapat rezeki nomplok malah rugi bandar Qis, keluar duit semua."
"Ya abis itu yang biasa aku lakuin. Nggak ada sesuatu yang istimewa. Mungkin Allah tahu, kalau aku masih jomblo makanya Allah kirimin pangeran tampan padaku. Makanya jangan suka ceng-cengin temen sendiri jomblo. Taunya yang jomblo malah dapet yang spek dewa."
"Yeee! Kaya kejatuhan rezeki nomplok kamu mah Qis."
"Harusnya sih gitu, Sa. Tapi si Iqis ini bodoh, masa dia mau jawab lamaran itu setelah dua Minggu. Keburu jamuran itu Nak Gibran nungguin."
Maisa langsung menatap ke Bilqis seolah meminta penjelasan.
"Bude, aku ke kamar Iqis dulu ya. Ada urusan Intel. Jangan lupa siapkan cemilan enak sama es jeruknya."
Maisa menarik Bilqis masuk ke dalam kamar wanita itu. Dia mendudukkan Bilqis di ranjang, sementara Maisa berdiri dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.
Belum juga bicara, tiba-tiba Ibu berteriak.
"Sa, ini gimana sama ustadz nya, kasian dia nungguin."
Maisa langsung menepuk jidatnya sendiri. Ia lupa akan satu hal itu.
Beberapa menit berlalu, setelah mengurus ustadz itu, Maisa langsung menginterogasi Bilqis lagi.
"Sudah aku bilang di grup chat kita, kalau aku sendiri masih belum bisa percaya. Makanya, aku mau menyakinkan diri dulu. Walaupun sebenarnya hatiku udah condong untuk menerima, hehe," jawab Bilqis dengan cengiran khas nya.
"Jangan! Pokoknya jangan, kita harus selidiki dulu Qis. Kamu tahu sendirilah gimana pergaulan dia di masa kuliah dulu. Hampir tiap bulan ceweknya ganti, Qis. Aku nggak rela aja sahabat absurd ku ini jadi korbannya. Meskipun kamu nggak secantik aku dan seseksi Uki, tapi kamu itu yang paling gesrek di antara kita bertiga. Kalau tiba-tiba kamu sakit hati, terus kegesrekan kamu hilang. Dunia terasa sepi, Qis. Soalnya nggak ada lagi yang bisa aku dan Uki ledekin."
Di antara mereka bertiga, Uki lah yang memang tak berhijab. Makanya Maisa bilang Uki yang paling seksi.
Bilqis manyun mendengarkan perkataan Maisa. Padahal dia berharap sekali dirinya akan dipuji paling baik atau paling perhatian gitu, ternyata orang-orang emang lebih suka menjelekkan dirinya.
"Ya gimana, masa kita selidiki ini berdua dulu tanpa Uki gitu?"
Maisa mengangguk.
"Biar aja si Uki fokus sama buat dede nya. Kita disini urus masalah kamu. Masalahnya ini hidup dan mati, Qis."
Bilqis mengangguk-angguk setuju. Karena dia pun berpikir begitu.
Tiba-tiba ponsel Bilqis berbunyi tanda notifikasi pesan masuk. Wajah Bilqis langsung memerah ketika menerima pesan itu.
Biar kamu percaya kalau aku beneran serius, besok bisa nggak kita ketemu? Tenang aja bukan sama aku aja kok, tapi sama kakak perempuanku juga. Mau ya?
Bilqis menunjukkan pesan itu ke Maisa. Kini Maisa sudah percaya kalau Bilqis memang tak bohong. Apalagi gambar foto profil di nomor itu benar-benar Gibran.
"Qis, sumpah ya, aku iri banget sama kamu. Bagi-bagi info dong!"
Bilqis menaruh jari telunjuknya di kening Maisa.
"Inget, kamu itu udah punya pacar. Mau dikemanakan itu si Rifki yang kamu bilang, cinta matimu."
Maisa langsung dibuat manyun.
BIlqis menjawab pesan Gibran itu dengan mengiyakan. Lalu Bilqis mendapatkan balasan lagi tempat dan waktunya. Untungnya emang pas banget di hari libur.
"Intinya, besok aku ikut Qis. Aku akan awasi kamu dari jauh. Mengamati gerak-gerik si Gibran. Apa beneran dia udah tobat apa belum."
Bilqis mengangguk lagi, karena jujur, ia pun ingin memastikan itu agar tak salah mengambil keputusan nantinya.
"Tapi kalau dipikir-pikir lagi ya Qis, apa coba yang Gibran sukai dari kamu? Body udah kaya triplek, hidung minimalis, alisnya kurang cetar, mata kamu pun kurang belo, tapi untungnya nggak sampe sipit sih. Kalau sipit mah pas ketawa matamu jadi nggak keliatan, haha."
"Terus! Terus aja terus! Semua orang hobi banget jelekin aku. Padahal aku yang dikatain jelek begini malah dilamar cowok ganteng. Apa nggak bikin pingsan satu kampung? Mereka yang sering perawatan sampe pori-pori nggak kelihatan, kalah sama aku yang cuma modal sabun batang doang."
Maisa tertawa cekikikan mendengarkan curahan hati Bilqis. Inilah yang dia sukai dari Bilqis, orangnya apa adanya dan kalau bicara ya apa adanya juga, ceplas-ceplos tapi masih memikirkan hati orang lain.
"Iya deh, yang cuma modal sabun batang doang, haha."
*
*
TBC
Yuk ah, ramaikan dengan komentarnya. Jangan lupa kasih kembang biar tambah semangat updatenya
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments
Risa Patimah
menghibur sekali di kala lagi penat ama keseharian ini/Smile/
2023-12-13
0
Sani Srimulyani
kasih ujian dulu qis jangan langdung terima aja.
2023-10-11
0
Chu Shoyanie
Iya Qis,aku juga penasaran apa yg disukai Gibran dari kamu...maav ya Qis,jangan tersinggung 🤔🙏👍🥰
2023-10-05
1