Part 13

Kini mereka sudah duduk di kursi yang telah disediakan, Gibran juga sudah memesan beberapa menu makanan. Di saat pesanan itu tiba, tanpa rasa malu Uki dan Maisa langsung makan aja.

Bilqis jadi malu sendiri punya teman yang seperti itu. Tapi, ya emang gitu, mau digimanain pun susah.

"Gimana makanannya enak?" tanya Gibran.

"Enak Gib, apalagi ini gratis. Wah, enaknya langsung bertambah," jawab Uki.

"Iya, lumayan irit uang, hehe," jawab Maisa.

"Kalau kamu, Qis?"

"Enak kok, cuma belum biasa makan yang begini. Jadi agak gimana gitu rasa enaknya."

"Iya itu bener banget Qis, nggak kaya bakso di tenda biru, walaupun berulang kali kita nambah tetep aja nggak akan bosen sama rasanya."

"Mau makan lagi disana?" tanya Gibran yang paham maksud terselubung dari Uki.

"Mau, mau banget!" jawab Uki yang membuat Bilqis melirik tajam ke Uki yang dibalas cengengesan oleh Uki.

"Kalau gitu, setelah ini kita kesana," ucap Gibran.

"Nggak usah, tempatnya jauh," tolak Bilqis.

"Ih, Qis. Jangan gitu dong, lumayan ditraktir loh Qis," bujuk Uki dengan berbisik.

"Nggak papa jauh juga, kan aku bawa mobil. Kalian bawa kendaraan?"

Uki dan Maisa menggeleng sementara Bilqis mengangguk.

"Gimana kalau kesananya naik mobil aku aja? Nanti kendaraan kamu, ditinggal di cafe tadi aja. Tenang nggak bakalan ilang kok."

"Setuju!" jawab Uki dan Maisa lagi bersamaan.

Kesempatan tidak boleh disia-siakan katanya. Ya, mau gimana lagi, pada akhirnya Bilqis pun manut aja.

Saat ini mereka sudah ada di parkiran Cafe Hijau. Uki dan Maisa duduk di kursi belakang, sementara Bilqis dipaksa untuk duduk di depan.

"Qis di depan aja, kasihan masa ganteng-ganteng gitu dikira supir."

Bilqis nurut aja.

Di perjalanan Gibran mulai bertanya ke Bilqis.

"Bakso tenda biru itu yang waktu aku sama kamu ketemu, kan?"

Bilqis mengangguk.

Gibran sedikit tersenyum, tapi masih bisa dilihat oleh Bilqis.

"Masyaallah gantengnya," ucap Bilqis yang nggak sadar.

"Siapa yang ganteng, Qis?" tanya Gibran.

"Kamu, eh ... " Bilqis lalu menutup mulutnya karena terlalu jujur.

"Aduh, mulut kenapa terlalu jujur sih! Jadi malu kan ini," gumam Bilqis.

Sementara Gibran tertawa kecil mendengarkan jawaban dari Bilqis.

*

*

Ketika sudah sampai di tempat bakso tenda biru, Uki dan Maisa langsung duduk dan memesan baksonya.

"Mang kaya biasa ya, cuma porsinya jadi dua mangkok. Sambelnya harus yang ori pokoknya walaupun saya udah nggak ting-ting lagi."

Bilqis menepuk keningnya sendiri atas kelakuan Uki. Harusnya dia kan nggak malu begini.

"Pesenin buat aku juga, Ki. Sama kaya kamu," pinta Maisa.

"Kalian mau apa?" tanya Uki ke Bilqis dan Gibran.

"Samain aja kaya yang Bilqis pesan," jawab Gibran.

"Masyaallah, belum juga resmi udah mau disama-samain aja nih cowok satu."

"Mang tambah 4 ya, yang dua sama kaya tadi, yang duanya lagi pesanan si Iqis, nggak pake lama ya."

"Siap Mba," jawab Mang Ujang.

"Udah sering makan disini ya? Sampai pesannya aja bilang kaya gitu."

"Sering banget, nih si Bilqis yang paling sering. Kadang malah dia gombalin tukang baksonya saking nggak ada cowok buat ngisi hatinya," ucap Uki meledek Bilqis.

Bilqis mengerucutkan bibirnya karena kesal.

"Sebenarnya apa yang kamu lihat dari Bilqis? Jujur, aku sebagai sahabatnya aja masih nggak percaya. Kamu nggak lagi main-main kan?" tanya Uki yang saat ini sudah ada dalam mode serius.

"Untuk sebuah pernikahan, aku nggak main-main. Mungkin ya, dulu aku terlihat seperti orang yang tidak bertanggungjawab karena banyak mengencani wanita di waktu yang bersamaan, tapi itu tak akan lagi. Seorang playboy pun akan tobat jika sudah menemukan tambatan hatinya," jawab Gibran yang membuat Uki jadi kagum sendiri.

"Qis, kayanya dia beneran udah tobat deh. Dari tadi ngeliatinnya ke kamu terus. Terima aja ya? Biar aku sama Uki bisa lihat cogan terus kalau nanti main ke rumah kamu," bisik Uki.

"Ish! Mana bisa gitu!" jawab Bilqis dengan sedikit keras hingga membuat Gibran keheranan sendiri.

"Kamu kenapa Qis?" tanya Gibran.

"Ah, oh, nggak papa kok, hehe."

"Maklum, dia jadi cosplay jadi kucing. Pura-pura imut padahal mah garang."

"Tetep imut dan manis kok," ucap Gibran yang membuat Uki, Maisa dan Bilqis meleleh.

"Masyaallah Qis, Allah baik banget sama kamu kirim manusia seganteng ini. Buat aku aja gimana?" bisik Uki lagi.

Pluk!

Bilqis sedikit menepuk paha Uki.

"Jangan merebut milik orang lain, itu mamanya pelakor!"

"Dia juga belum jadi milik siapa-siapa Qis, haha," jawab Uki lagi yang membuat Bilqis tersenyum kecut.

Tiba-tiba datang seorang wanita yang langsung menyapa Gibran.

"Eh, Gib ya ampun. Udah lama kita nggak ketemu. Makin cakep aja nih!" ucap wanita itu yang mau cipika-cipiki ke Gibran tapi ditolak oleh Gibran.

"Siapa ya?" tanya Gibran yang tidak ingat.

"Aku Nindi Gib, mantan kamu. Masa lupa sih?"

"Oh, Nindi, iya aku ingat sekarang."

"Kayanya kita jodoh deh Gib. Padahal udah lama banget nggak ketemu, eh malah tanpa sengaja ketemu disini. Kamu beli bakso juga?"

"Iya, sama mereka," jawab Gibran sambil menunjuk ke arah Bilqis dan teman-temannya.

"Kok kamu jadi gini Gib? Gaulnya sama orang yang penampilannya nggak banget. Mereka pasti cuma mau morotin kamu doang," ucap Nindi sambil menatap tidak suka ke arah Bilqis dan teman-teman Bilqis.

"Nggak baik berprasangka buruk sama orang. Mereka ini baik-baik loh."

Bilqis yang udah hilang kesabaran karena si cewek tiba-tiba menggandeng tangan Gibran langsung menggebrak meja.

"Astaghfirullah," refleks Uki dan Maisa.

"Dengerin ya Mba, jangan menilai orang cuma dari penampilannya aja. Nilai juga dari hatinya. Lihat pakaian kita rata-rata panjang-panjang, lah Mba sendiri yang kurang bahan. Jadi, siapa yang mau morotin disini? Saya dan temen-temen saya atau Mba sendiri?"

Nindi berpura-pura takut di hadapan Gibran. Dia bahkan dengan sengaja bersembunyi di belakang tubuh Gibran.

"Aku takut Gib, dia galak banget. Kamu nemu temen dari mana yang kaya dia sih?"

Gibran cuma tersenyum aja yang membuat Bilqis jadi tambah kesal.

Playboy akan tetap jadi playboy! Menyebalkan.

"Minta nomor kamu Gib, kali aja kita bisa balikan lagi. Nanti aku chat kalau udah sampai rumah."

Gibran langsung memberikan nomor ponselnya ke Nindi.

"Biar aku aja yang chat duluan, sekalian kirimin undangan pernikahan, insyaallah kalau diterima lamarannya sama Bilqis."

"Sama dia?" tunjuk Nindi ke Bilqis.

"Iya," jawab Gibran.

"Aku yakin mata kamu lagi bermasalah Gib. Tenang aja aku bakalan buat kamu kaya dulu lagi. Kalau gitu aku pamit Gib. Semoga pernikahan kamu nggak jadi ya," ucap Nindi yang kemudian pergi.

Rasanya Bilqis ingin sekali marah ke Gibran. Kenapa sih harus memberikan nomor ponselnya ke wanita itu? Ya dia senang karena Gibran bilang akan menikah, tapi tetap saja kesal.

"Kok, kamu gitu sih ke Bilqis, Gib? Buat apa juga kamu ngirim undangan ke mantan. Mantan mah masa lalu, pantesnya dibuang ke tempat sampah," ucap Uki.

"Tenang aja, nomor yang tadi bukan nomor aku kok," jawab Gibran sambil tersenyum kemudian menunjuk tiang listrik yang ada iklannya.

Sedot WC 24 jam, silahkan hubungi nomor ini xxxxxxxxxxx.

*

*

TBC

Terpopuler

Comments

Sinta

Sinta

hahaa haaaaa lucu sekalii gibran

2023-10-16

2

ekur71

ekur71

mau dilanjut gak Thor.. aku nungguin updatenya lho..

2023-10-16

1

rindu senja

rindu senja

🤣🤣🤣🤣 lha kaaaann tuh nomer mengatasi masalah tnp masalah 🤭🤭🤭

2023-10-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!