Bilqis langsung menatap tajam ke arah Uki karena kesalnya. Dia kira si cewek beneran mau nyosor ke Gibran, ternyata cuma omong kosong dari Uki supaya Bilqis terus memperhatikan Gibran.
Uki cuma senyum tanpa dosa sambil memperlihatkan kedua jarinya membentuk huruf 'V' yang artinya damai.
"Lagi nungguin orang ya?" tanya wanita itu.
Gibran mengangguk.
Kalau dulu Gibran pasti akan menatap lawan bicaranya, apalagi yang seksi-seksi matanya kadang suka nggak berkedip, tapi kini dia tampak melihat ke arah lain.
"Liatin apa disana Mas? Di depan mata ada orang cantik loh!"
"Yang paling cantik di mata saya, yang menutup auratnya Mba," jawab Gibran.
"Ah, itu mah terlalu kolot penampilannya. Sayang banget, punya rambut indah tapi nggak diperlihatkan."
"Justru yang seperti itu yang terlihat indah Mba. Seorang wanita mampu menjaga dirinya dari pandangan orang-orang yang melihatnya dengan tatapan penuh n*fsu. Permisi Mba."
Gibran tampak berdiri dan akan pindah ke tempat duduk yang lain.
"Eh, eh, Mas kok pergi sih? Sini aja Mas, yang janjiannya juga belum dateng loh ini!"
Si wanita itu mendekat lagi ke Gibran sambil membawa minumannya. Entah disengaja atau tidak, tiba-tiba saja dia terjatuh dan air minumnya tumpah di kemeja Gibran yang berwarna putih.
"Aduh, ya ampun, maaf, maaf banget Mas. Saya nggak sengaja, sumpah!" ucap wanita itu lalu mendekat ke Gibran ingin membantu menghilangkan noda kopi di kemeja Gibran.
"Nggak usah Mba terima kasih," tolak Gibran secara halus.
Yang namanya kesempatan, si wanita malah tak mau menyia-nyiakannya. Wanita itu dengan sengaja mengusap-usap kemeja Gibran yang kotor itu hingga keduanya terlihat seperti berpelukan dari pandangan Bilqis.
Bilqis sudah tak kuat kalau harus melihat itu semua. Dia pergi diam-diam dari Uki dan Maisa. Tak jauh dari sana sih, Bilqis cuma duduk sambil terdiam cukup lama. Suasana hatinya sudah buruk. Dia sudah tak berniat lagi untuk bertemu dengan Gibran.
Tiba-tiba tangannya ditarik oleh Maisa.
"Ngapain main pergi-pergi segala. Belum selesai ini misi kita."
Gibran yang merasa risih langsung mendorong wanita itu dari hadapannya.
"Maaf ya Mba, saya bisa sendiri. Permisi."
Gibran pergi ke kamar mandi yang ada di cafe.
Drtt drtt
Ponsel Bilqis berdering lagi, Gibran menelpon rupanya.
"Kamu udah sampai mana? Udah lebih dari 10 menit loh."
"Bilang kalau kamu nggak jadi datang, Qis. Ada urusan mendadak," bisik Uki.
"Maaf Gib, kayanya kita batalin aja pertemuan hari ini. Aku minta maaf banget ya. Tiba-tiba aku ada urusan."
Terdengar suara helaan napas dari arah seberang.
"Ya sudah, nggak papa Qis. Semoga urusan kamu lancar ya. Lain kali jangan kasih harapan palsu begini ya Qis."
Seketika Bilqis langsung terdiam. Sejujurnya dia pun tak enak sudah membuat Gibran datang dan janji temu mereka malah batal. Kalau dia di posisi Gibran pun, pasti sakit hati dan kecewa sih.
Ah, ini semuanya gara-gara Uki pokoknya.
Namun, mengingat pemandangan yang terlihat mesra tadi, membuat hati Bilqis sakit juga. Nyatanya, Gibran cuma lolos di ujian pertama, di ujian keduanya tidak.
Walaupun Bilqis diajak untuk melihat lagi ke arah target. Bilqis tetap melihat ke arah lain. Bilqis bahkan tak tahu kalau Gibran mendorong wanita itu sampai terjatuh. Tau-tau Gibran nggak ada disana.
"Udah, ayok pulang! Kalian udah puas kan sekarang? Hati aku jadi sakit nih!" gerutu Bilqis yang patah hati.
"Ya ampun Qis, ini semua juga demi kebaikan kamu. Misi ini udah berhasil dia lewati Qis. Dia benar-benar udah tobat," ucap Maisa sambil menyusul Bilqis yang udah jalan duluan.
"Mana ada dia tobat, dia masih sama tuh! Kaya keenakan aja dipeluk-peluk cewek t*ngt*pan. Harusnya kalau dia masih kaya gitu, nggak usah kasih harapan ke aku. Kalau kaya gini jadinya, aku yang sakit hati. Huh! Bikin kesel aja."
"Sabar Qis, sabar. Orang sabar jidatnya lebar," ucap Maisa yang langsung ditatap tajam oleh Bilqis.
Selain suka bercanda dan omongannya absurd, kesabaran Bilqis juga terkadang bisa setipis tisu. Apalagi kalau mengahadapi dua sahabat laknatnya itu.
"Kayanya, aku bakalan jadi perawan tua deh. Niat hati pengen nikah buat menyempurnakan agama. Eh, malah yang ada menyempurnakan rasa sakit yang jadi semakin sakit. Ngenes banget sumpah."
"Kok kalian tiba-tiba diem nggak nanggepin ucapan aku?" tanya Bilqis yang keheranan.
Uki dan Maisa nunjuk-nunjuk ke belakang seolah ada sesuatu di belakang. Bilqis pun menoleh dan terkejut ketika Gibran sudah ada di belakangnya.
"Dari kapan dia di belakang kita?" bisik Bilqis.
"Mana ada dia tobat, dari sana Qis," jawab Maisa.
Ya Allah, rasanya Bilqis ingin menghilang sekarang juga. Dia merasa malu dan takut Gibran tersinggung akan ucapannya yang terdengar tak enak di hati.
"Kenapa nggak bilang dari tadi sih?" bisik Bilqis lagi dengan sedikit kesal.
"Dilarang sama si onoh," jawab Uki.
"Katanya ada urusan, kok jadi datang kesini? Urusannya udah kelar?"
Seketika, Bilqis jadi gelagapan sendiri, bingung mau jawab apa.
"U-dah kelar kok, tapi kayanya aku mau langsung pulang aja, nggak enak badan," ucap Bilqis beralibi.
"Ah gitu, padahal aku mau traktir kamu makan sama temen-temen kamu."
"MAU!" jawab Uki dan Maisa serentak.
Astaghfirullah, teman macam apa mereka? Bukannya bantu aku buat kabur. Kenapa malah mau pas diajak makan sama Gibran. Oh, ya Allah, kenapa aku harus punya temen kaya mereka?"
"Tuh, Uki sama Maisa aja mau, Qis. Kamu juga mau ikut makan, kan? Lagipula nggak ada gunanya kamu main detektif-detektifan kaya gini. Aku bener-bener udah bukan Gibran yang dulu Qis. Kamu harus percaya itu."
Bilqis tak percaya ternyata Gibran sudah tahu apa yang dilakukannya dengan teman-temannya.
Ahh, dasar ceroboh!
"Ya ampun, ternyata kamu tahu namaku dan Maisa? Ahhh, seneng banget!" ucap Uki dengan antusiasnya.
"Apapun yang berhubungan dengan Bilqis, aku tahu."
"Ih, so sweet," ucap Uki.
"Udah lah ayok gas aja makan. Perutku ini udah keroncongan juga nih."
"Pulang, ayok pulang aja," bisik Bilqis ke Uki.
"Rezeki nomplok nggak boleh ditolak Qis. Lagipula ini kesempatan aku buat interogasi Gibran secara langsung. Kamu tulis aja nanti lewat pesan, pertanyaan apa yang mau kamu ajukan," bisik Uki.
"Gimana Qis?" tanya Gibran sekali lagi.
Bilqis melihat ke arah Uki dan Maisa yang terlihat seperti memohon ke Bilqis.
"Baiklah, ayok!"
Mereka berempat pun berjalan kaki menuju ke restoran jepang yang berada tak jauh dari Cafe Hijau.
Di sepanjang jalan, Gibran tampak terus memperhatikan Bilqis sampai Bilqis jadi gugup dan salah tingkah sendiri.
"Apapun yang ingin kamu tanyakan, tanyakan saja Qis. Aku akan jujur," ucapnya dengan tersenyum membuat Bilqis seakan kehilangan kesadarannya karena senyum itu terlalu manis. Bahkan kayanya melebihi manisnya gula.
*
*
TBC
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 20 Episodes
Comments
Chu Shoyanie
Nanti buat rumtang Bilqis seindah mgkn ya Thor,kalahin rumtang kedua sobatnya itu yg maen uji seenaknya.....🤔😉
2023-10-13
1
Farida Wahyuni
itu teman2nya bukan mau nguji kali, mau gagalin rencana baik aja deh kayaknya. maisa uki jangan jadi setan ya, setan itu membisik manusia jadi jahat, apalagi dia mau melangkah ke arah yg baik.
2023-10-13
1
Sani Srimulyani
syukurlah gibran bisa lewatin ujiannya.
2023-10-13
1